Yuuki’s Present

.

.

BUTIRAN DEBU

.

.

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi

Aku tenggelam dalam lautan luka dalam

Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang

Aku tanpamu…

Aku tanpamu…

.

.

PART  THREE

.

.

“Aku ke kekelas dulu ya?”

Rangga tak menjawabku. Terang saja, dia sedang sibuk meneguk air mineralnya.  Keringat membasahi wajah bahkan seluruh badannya. Kaos basketnya yang basah sudah di tanggalkannya dari tadi, mengekspos badannya yang atletis itu.

Uuuuwwwaaaa~

“He-em, kamu ke kelas aja dulu, Dit. Aku mau mandi dulu. Keringetan neh, bauuu…” ujarnya sambil menyodorkan ketiaknya padaku.

“Hiiiii~” aku segera menghindar dan memasang wajah ngeri. Rangga tertawa lebar. Aku hanya cemberut menatapnya.

Tanpa berpamitan untuk yang kedua kalinya, aku segera mengambil langkah seribu. Sementara itu masih ku dengar tawa Rangga dari kejauhan.

Dasaaaarrrrr!!!!

.

.

Aku menepuk keningku sendiri. Baru kuingat kalau buku catatan bahasa jepang ku masih ada di tas milik Rangga. Aku memang menitipkannya tadi saat kami berangkat.

Segera saja aku berlari lagi menuju ke ruang ganti tempat team basket. Memang benar mata pelajaran Bahasa Jepang hanya pelajaran tambahan di jam terakhir nanti. Harusnya aku tak perlu repot-repot mengambilnya karena aku tahu Rangga akan mengembalikannya padaku. Apalagi aku juga yakin Rangga tak bakal tahu apa yang ku tulis di buku itu. Dia memang tak begitu tertarik dengan Nihongo, berbeda denganku  yang sudah terbiasa dengan bahasa dari negeri sakura itu. Aku dan Kakak kandungku sudah terbiasa menggunakan bahasa jepang dalam percakapan sehari-hari kami. Terang saja, Kakak kuliah di Sastra Jepang. Ketertarikannya pada budaya jepang sedikitnya mempengaruhiku juga.

Beruntung di SMU ini ada Mata Pelajaran Bahasa Jepang dan bisa di pastikan akan terdengar suara dengkuran Rangga setiap kali Indah-sensei menerangkan mengenai tata bahasa jepang maupun penggunaan partikelnya.

Meskipun begitu aku tak mau mengambil resiko. Aku tak ingin Rangga membaca isi buku itu. Aku tak mau Rangga sampai tahu bahwa diam-diam banyak ku tulis namanya di lembaran-lembaran halaman paling belakang di buku itu.

Belum saatnya Rangga tahu kata-kata itu.

Rangkaian kata, mengenai perasaanku padanya.

.

.

“Ra-rangga mana?” tanyaku saat melihat salah satu teman Rangga keluar dari ruang ganti. Aku mengatur nafasku yang sedikit terengah. Berlari dengan keadaanku  yang sekarang memang lumayan merepotkan.

“Masih di dalem kayaknya, masuk aja,” jawabnya.

Setelah mengucapkan terimakasih aku segera masuk ke ruangan ganti milik team basket.

Aku tersenyum tipis saat melihat Rangga sedang berganti pakaian. Dia hanya sendiri, mungkin yang lain sudah selesai atau memilih tak mandi. Ya Ampun, pasti bau… hehehe…

Aku yakin Rangga tak menyadari keberadaanku karena posisinya yang sedang membelakangiku saat ini. Saat hendak menghampirinya, aku melihat Kak Ferdi yang tiba-tiba muncul dari kamar mandi di ujung ruangan. Entah kenapa aku malah mengurungkan niatku dan  bersembunyi di balik lemari besar di ruangan ini.

Jelas kudengar mereka terlibat pembicaraan yang serius.

“Buat apa sih Kakak ngomong gitu ke dia?!” nada suara Rangga terdengar gusar.

“Aku ga mau dia manfaatin kamu,”

“Dia ga gitu Kak, semua itu juga mau ku kok!”

“Rangga! Aku ini sepupumu, aku tahu banget kenapa kamu deket banget sama dia!” kali ini volume suara Kak Ferdi sedikit meninggi. Dia seperti orang yang sedang ngamuk saja.

Tapi, tunggu! Apa itu tadi?! Kak Ferdi sepupu Rangga?

“Kamu masih merasa bersalah karena kecelakaan itu kan? Jangan nyangkal ‘Ga, aku tahu kamu selalu inget kejadian itu, aku selalu lihat gimana kamu selalu terbangun di tengah malam karena mimpi burukmu itu, kamu selalu mengigau meminta maaf padanya dan itu ga cuma sekali aja ‘Ga! Sudah setahun ini kamu berubah dan kurasa itu sudah cukup!”

“Tapi, Kak…”

“Denger, ‘Ga! Aku ga mau kalau kamu terbebani gini. Jalan kamu masih panjang, sekolah bahkan basket yang kamu suka. Kamu juga bebas memilih teman sapa aja yang kamu mau atau cari pacar sekalipun. Jalani hari-harimu dengan normal tanpa dihantui rasa bersalah itu. Aku ga mau kamu di manfaatkan dan terbebani karena Adit.”

DEG!

Karena aku?

Mataku terbelalak. Entah kenapa debar jantungku lebih cepat dari biasanya.

Mereka membicarakan aku?

Jadi ini yang dimaksud Kak Ferdi waktu itu. Dia yang memintaku untuk membebaskan Rangga karena mengganggapku hanya tumpukan beban yang membuat Rangga tak lagi memiliki ruang gerak, begitu?

Apa Rangga juga berpikir yang sama?

Aku sedikit memberanikan diri untuk mengintip kearah Rangga dan Kak Ferdi.

Tampak Rangga sedang terduduk di bangku kayu. Menunduk dengan rambut  yang menutupi sebagian wajahnya. Aku tak  tahu ekspresi seperti apa yang dia punya saat ini.

Kak Ferdi menepuk bahu Rangga pelan.

“Rangga…” panggilnya pelan, kali ini nada suara Kak Ferdi terdengar lebih lembut.

Rangga bergeming masih tak bersuara.

Hingga kata-kata itu keluar dan membuatku terpaksa mengepalkan tanganku  menahan emosi.

“Aku capek, Kak!”

Ku coba mengatur nafasku yang tiba-tiba memburu.

Cukup. Ini sudah cukup.

.

.

Langit di kota ini sudah mulai berubah warna, namun aku belum juga beranjak dari tempatku. Taman ini justru bertambah ramai seiring perginya matahari, namun aku justru terduduk menyendiri di sudut bangku semen yang sudah mulai retak ini. Hanya sebotol coca cola yang kubeli tadi sebagai teman pendampingku.

Cukup lama aku di sini. Bahkan untuk yang pertama kalinya kutorehkan kata Alpha di rapor ku nanti. Tak kupedulikan puluhan miscall bahkan puluhan sms yang masuk ke Handphone ku. Aku yakin itu pasti Rangga. Hampir 12 Jam dia tak menemukanku sejak pagi tadi.

Taman ini terletak di bagian selatan kota. BersebErangan dan jauh dari letak sekolah dan tempat kos ku. Rangga pasti tak akan mengira aku ada di tempat ini.

Aku belum memiliki keberanian untuk menemuinya. Aku takut.

Takut kembali membebaninya.

Kata-katanya masih terpatri jelas di ingatanku.

Sungguh, lelahkah dia padaku?

Hhhhh….

Entah ini yang keberapa kalinya aku menghela nafas seperti ini.

Ku timang HP jadulku sebentar.

Segera saja kuhubungi seseorang di seberang sana.

“Moshi-moshi,” sapaku.

(“Halo,”)

“Eh~ Moshi-moshi  Ototou-chan, Woooaaaahhh~ Ohisashiburi da ne… Genki ka Omae?”

(Eh~ Hallo Adikku, Woooaaaahhh~ sudah lama sekali ya… apa kabarmu?”)

Aku tersenyum lemah begitu mendengar suara yang familiar itu.

Kak Panji. Kakak kandungku.

“Genki desu, Niichan wa?”

(“Aku baik-baik saja, Kakak bagaimana?”)

“Huft~ BT banget ‘Dit, kayaknya Sensei ku itu demen banget bikin muridnya stress, Essai yang harus kukerjakan benar-benar numpuk. Udah empuk banget ntu buat dijadiin bantal, hahahaha….” tawa renyah Kak Panji terdengar merdu di telingaku.

Entah kenapa aku benar-benar rindu padanya saat ini. Padahal baru tiga bulan yang lalu aku pulang dan bertemu dengannya.

“Tumben kamu telpon? Mana Rangga? Kamu lagi sama dia?”

Aku tak menjawab.

“Bilangin ama dia supaya jangan suka molor sembarang tempat lagi. Bahaya. Dulu aja dia pernah kedapetan tidur di bawah tempat cucian piring di rumah kita, Hahahaha… parah ntu anak,”

Aku ikut tertawa pelan mengingat kejadian itu. Saat itu liburan sekolah, Rangga memutuskan ikut berlibur di kampung halamanku, Jogja.

“Dia… lagi ga sama aku, Kak.” kataku.

“Oh…”

“Niichan…” panggilku pelan.

(“Kakak…”)

“Hmmm…”

Lama kami terdiam.

“Uchi ni kaeru, ii no ka?” tanyaku pelan

(“Aku ingin pulang, apa tidak apa-apa?”)

“Loh? Kamu lagi libur? Memang ada apa kok  mau pulang?”

“Bu-bukan, Kak.  Aku…  Aku  mau pindah,”

“Eh, Nande? Doushita no?”

(“Eh, kenapa? Apa ada masalah?”)

Aku kembali terdiam. Bingung harus menjawab bagaimana.

“Kamu kenapa, Dit? Apa ada masalah? Kamu baik-baik saja kan? Kakimu… tidak ada masalahkan? Kamu sehat kan, Dit?”

Kak Panji malah terdengar khawatir sekarang. Aku jadi merasa sedikit tak enak.

“Be-betsuni, tada…”

(“Bu-bukan apa-apa sih, hanya…”)

Aku tak melanjutkan kalimatku.

Memangnya apa yang harus kukatakan pada Kakak? Bahwa  selama ini ternyata aku hanya beban bagi Sahabat karibku dan aku memutuskan untuk kembali ke kampung halamanku? Begitu?

Kudengar Kak Panji hanya menghela nafasnya berat.

“Mo ii,”

(“Sudah cukup,”)

“…”

“Kaeru!”

(“Pulanglah!”)

Suara Kak Panji berubah begitu serius. Aku tahu banyak yang harus kujelaskan padanya nanti. Banyak yang harus kukatakan pada ayah dan ibu agar mereka mau mengerti.

Ku tatap langit yang mulai pekat.

Ya… sudah cukup lama aku di sini. Aku harus segera pulang.

.

.

.

Tsuzuku ^^