Yuuki’s Present

.

.

BUTIRAN DEBU

.

.

.

.

PART TWO

.

.

Pagi ini aku menemani Rangga latihan.

Sahabatku itu benar-benar lincah kalau melakukan Steal. Defense nya pun sulit ditembus lawan dan jarang sekali tembakan three pointnya meleset. Tak heran jika dia langsung dimasukan ke pemain inti.

Rangga benar-benar menyukai basket.

Aku juga.

Kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi dan kaki kananku masih berfungsi dengan baik mungkin aku bisa bersama Rangga di lapangan itu, bermain basket yang ku suka.

Suara sorakan team basket sedikit membuyarkan pikiranku yang sempat teralihkan. Rangga tampak menyengir lebar saat lagi-lagi tembakannya berhasil melewati ring. Mereka tampak mengelu-ngelukan Rangga. Aku tersenyum tipis saat melihat Rangga mengedipkan matanya padaku. Tak sengaja pandanganku menangkap sosok Kak Ferdi di sisi lapangan basket yang berseberangan denganku.

Dia menatapku lama.

Apa dari tadi dia melihat ke arahku ya?

Kak Ferdi memutuskan kontak mata kami, berbicara sebentar ke Pak Danang, pelatih team basket mereka, lalu dia berjalan ke arahku.

Aku mencoba tersenyum ramah padanya. Tapi Kak Ferdi tak membalasnya, wajahnya terlihat datar tanpa emosi.

Ya Ampun…

“Kamu di sini juga?” bukan sebuah kalimat tanya tapi lebih mirip penegasan. Dia berdiri tepat di sampingku sekarang.

“I-iya Kak, maaf ya kalau ganggu,” ucapku sopan.

“Ga apa-apa,” ujarnya singkat.

Lama kami terdiam. Pandangan kami sudah beralih ke Team basket yang mulai terlihat asyik berlatih lagi.

“Kamu, udah lama temenan sama Rangga, ya?” Aku terkejut ketika Kak Ferdi tiba-tiba bertanya.

“Eh?! Iya Kak, kita udah lama Sahabatan dari kelas satu,”

Diam lagi.

Tapi tampaknya Kak Ferdi belum mau mengakhiri pembicaraan kami.

“Aku dengar kakimu cacat juga karena Rangga ya?”

“Eh?!”

Aku tertegun sejenak.
Pandangan kami kembali bertemu. Kali ini Kak Ferdi menatapku dalam.

Memang tak ada yang banyak tahu mengenai kecelakaan yang menimpaku. Mereka hanya mendengar kabar kalau aku tertabrak mobil saat hendak menyebrang dan terpaksa absen selama tiga bulan untuk menjalani perawatan. Aku kehilangan moment-moment sebagai siswa baru saat itu. Mereka tak tahu kalau Rangga juga ada di tempat itu. Dia ada di sana saat kecelakaan na’as itu merenggut impianku. Aku harus menghapus keinginanku untuk dapat bermain basket. Kalau saja keadaan berbalik. Mungkin aku yang berada di lapangan basket sekarang.
Bukan Rangga.

“Kalau kamu ga cacat, mungkin kamu yang ada di sana menjadi pemain inti bagi team SMU kita, bukan Rangga. Iya kan, Dit?!” kata Kak Ferdi.

Aku hanya tertunduk, terdiam tanpa berniat membalas perkataannya.

“Tapi kamu jangan membebani Rangga, Dit,”

Sontak aku menatapnya lagi.

“Maksud Kakak?!”

Kali ini kami berhadapan.

Kak Ferdi sedikit mengurangi jarak di antara kami. Meski sedikit berbisik dapat ku dengar dengan jelas kata-katanya.

“Jangan jadikan kecelakaan itu sebagai senjatamu untuk mengikat Rangga, jangan terus membebaninya dengan rasa bersalah,”

Tanganku mengepal erat. Sedikitnya, rasa emosi mulai menguasaiku.

“Bebasin Rangga, Dit! Dia punya kehidupannya sendiri,”

Tanpa menunggu reaksiku. Kak Ferdi kemudian berlalu meninggalkanku yang hanya mampu terpaku.

Masih ku proses semua perkataannya tadi di benakku.

Suara ramai di lapangan seakan tenggelam dalam duniaku yang mendadak hening.

.

.

“…Dit…Adit…Woi Adityaaa!!! Kamu dengerin aku ngomong ga sih?!”

Aku hanya mengangguk saat lirih ku dengar Rangga berteriak kesal. Entahlah dia tahu atau tidak kalau aku mengangguk tadi. Pandangannya masih fokus ke jalanan. Itu lebih baik ketimbang motor yang kami kendarai oleng karena dia meléng.

“Kamu kenapa sih? Habis latihan basket pagi tadi kok jadi beda? Kamu sakit?” tanyanya.

Kali ini aku menggeleng.

“Woi aku tanya nih, dijawab dong! Kamu lagi ada masalah ya? Kenapa? Kos-kos’an mu belum bayar?”

Kalimat terakhirnya membuat tinju manisku mendarat di punggungnya yang bidang. Rangga terkikik geli.

Sebenarnya perjalanan dari sekolah ke tempat kos hanya memakan waktu 15 menit saja. Tapi Rangga mengendarai motornya seperti siput. Sengaja dia.
Hadeh!

“Kalau ada masalah cerita dong?! Kalo diem geto mana aku tahu kamu kenapa, sakit gigi ya? Apa Sakit hati?” Rangga masih penasaran rupanya.

Memang ku akui sejak pagi tadi setelah perbincanganku dengan Kak Ferdi, aku menjadi sedikit diam dan tak banyak bicara seperti biasanya. Rupanya Rangga menyadari hal itu. Mungkin ucapannya barusan ada benarnya.
Aku sakit hati.

Ah, tidak! Lebih tepatnya tak enak hati.

Kata-kata Kak Ferdi masih terngiang-ngiang di benakku.

Apakah benar aku adalah beban bagi Rangga, ya?

Huft…
Memang sih kalau di ingat lagi, kami memang selalu bersama. Sejak kelas satu, aku sudah akrab dengan Rangga.
Dia menjemput aku di kos, mengantar aku pulang. Membawakan martabak telur kesukaanku malam-malam.
Bahkan Rangga juga yang panik kesana-sini saat aku sakit. Intinya, Rangga mau merepotkan diri demi aku.
Apakah selama ini, semua hal yang dilakukannya untukku dianggapnya beban? Hanya sebatas penebusan atas rasa bersalahnya karena kecelakaan yang menimpaku?

“…Dit…Adit…Adityaaa~!!! Ya Allah, ini anak kesambet apa ya? Woiii!!!” teriakan keras Rangga membuat lamunanku buyar.

Dia menoleh ke arahku. Menatapku lekat-lekat. Aku mengernyit heran.

“Kenapa?” tanyaku polos.

“Ya ampun ini anak, udah nyampe ntu, mau turun ga?”

Pandanganku beralih ke bangunan tua di samping kananku.

Benar kata Rangga, kami sudah sampai di kos-kos’an tempatku tinggal.

“Oh,” hanya itu yang keluar dari mulutku, namun belum juga beranjak dari motor yang kunaiki ini.

Ku dengar Rangga menghela nafas pelan. Dia berbalik dan kembali memunggungiku.

“Kamu kenapa sih, Dit?” bisiknya pelan, tapi masih bisa kudengar.

Tanpa ragu, aku malah memeluknya. Erat.
Rangga sedikit terkejut tapi tak berusaha melepaskan pelukanku.

“Makasih ya…”

“Eh?”

Diam sejenak.
Aku menyandarkan kepalaku di punggungnya. Begitu nyaman hingga tak ada keinginanku untuk beranjak dari sana.

“Makasih udah mau jadi sahabatku,” ucapku lirih.

Rangga kembali menghela nafasnya. Dia lalu memegang tanganku yang melingkari pinggangnya. Mengusapnya pelan.

“Kamu kok ngomongnya aneh banget sih,” kata Rangga “Lagian ini kok pakai peluk-peluk segala, ntar kita dikira Gay loh, lepasin nggak?!” kali ini Rangga berusaha melepaskan pelukanku.

“Ogah! Biarin aja orang mau bilang apa, aku ga mau ngelepasin kamu,”

“Woi! Yang bener aja, malu tau dilihat orang, lepasin ga?!” Rangga sedikit meronta.

“Ogah!”

“Lepasin!”

“Ga!”

“Adityaaaaa~!!!”

“Weeekkk!!!”

Aku tak mengindahkan permintaan Rangga. Kali ini aku malah semakin mendekapnya erat.

.

.
Tsuzuku ^^