Yuuki’s Present

.

.

BUTIRAN DEBU

.

.

Namaku Cinta
Ketika Kita bersama…

.

.

PART ONE

.

.

“Ayo cepetan! Aku harus latihan pagi ini!” seorang pemuda sebaya denganku tampak terburu-buru meletakkan helm di jok motornya.

Dengan sigap dia menenteng tas ranselnya yang kelihatan berat.

“Iyaaa~sabar dikit ngapa! Kamu duluan aja dech kalau geto, ntar aku nyusul aja,” ujarku sembari mencopot helm yang masih bersarang di kepalaku.

“Aku nggak mau ninggalin kamu, Aditya. Ayoooo~” rengeknya sembari berlari-lari kecil.

Sesekali ditengoknya aku yang masih ketinggalan dibelakangnya. Padahal ini masih pukul enam lebih seperempat. Jam pelajaran baru akan dimulai sekitar empat puluh lima menit lagi tapi sahabatku itu sudah kayak orang kesetanan saja. Maklum persiapan menuju final pertandingan basket antar SMU di kota ini sudah semakin dekat. Sebagai pemain Inti, Rangga sahabatku itu harus menambah porsi latihannya. Team sekolah kami akan maju ke babak final sekitar seminggu lagi.

“Ayo, Adit!” seru Rangga lagi.

Padahal jarak lapangan basket sudah tak jauh lagi. Dia kan tinggal ninggalin aku kalau mau cepetan.

Huft…dasar anak ini!

“Iya iya, aku di belakangmu kok,”

Ya ampun, apa dia lupa kalau kakiku…

BRUKKK!!!

“Aduh!” pekikku.

Aku mengernyit sakit.

Dengan tergopoh-gopoh Rangga berbalik dan menghampiri aku yang kini tersungkur di jalan.

“Ka-kamu nggak apa-apa?” raut wajahnya terlihat khawatir ketika menanyaiku.

Rangga lalu membantuku berdiri dan membersihkan celana abu-abuku yang sedikit kotor.

“Ga kok, aku…”

“Rangga! Ayo cepat latihan!”

Belum sempat aku menjawab, suara teriakan dari tengah lapangan itu membuat aku dan Rangga menoleh cepat. Kak Ferdi, senior kami dari kelas 3 IPA 1 tampak memandang tajam kearah kami.

“Eh, kapten, tapi…”

“Yang lain udah datang pagi-pagi banget, dan sekarang mesti nunggu kamu lagi? hargai mereka dong!”serunya keras dan tegas.

Pantas saja dia didaulat menjadi Kapten di team basket mereka. Selain otaknya encer, permainan basketnya pun tak bisa diremehkan. Sudah berkali-kali Team Basket sekolah kami menang dalam perlombaan ataupun sekedar pertandingan persahabatan, semua itu tak lepas dari Shoot-shoot luar biasa dari Kak Ferdi. Rasanya gelar MVP memang cocok buat dia.

Meskipun ada yang kurang dari kak Ferdi. Sepertinya…
Dia kurang bersahabat.

Ah, mungkin cuma perasaanku saja.

“Ugh…” Rangga terlihat bingung.

Dia menatap kearah kak Ferdi lalu menatapku. Begitu seterusnya hingga membuatku geleng-geleng sendiri dengan sikapnya itu.

“Udah, cepetan kelapangan gih! Ntar aku nyusul,” ujarku.

Aku tahu sekali kenapa dia bingung seperti ini.

“Tapi…”

“Rangga… aku ga apa-apa,” kataku berusaha menenangkannya.

Rangga hanya menghembuskan nafasnya pelan.

“Ntar aku pasti nemuin kamu, Oke?!” ucapnya seraya mengacungkan ibu jarinya padaku.

Aku hanya tersenyum dan melepasnya pergi.

.

.

“Aduh, perih juga,” keluhku.

Dari jendela ruangan ini aku bisa melihat teman-teman sudah banyak yang berangkat. Mereka tampak berlari-lari di sepanjang koridor, sebagian malah terlihat melenggang dengan santai. Mbak-mbak yang biasanya jaga di UKS belum juga kelihatan batang hidungnya. Tadi, setelah berusaha dengan sekuat tenaga akhirnya aku bisa nyampe di UKS ini dengan selamat sehat wal’afiat (Lebay ^^)

Luka dilutut kananku sudah kubersihkan. Masih terasa sedikit perih karena kutetesi obat merah tadi, sengaja tak ku plester biar lukanya cepat kering. Tiba-tiba pintu UKS didobrak keras. Untung saja dia benda yang padat dan keras. Kalau tidak, pasti sekarang sudah benjol-benjol. Poor Pintu.

“ADIT, KAMU NGGAK APA-APA KAN?!” teriakan histeris itu benar-benar memekakan telinga.

“Ya Allah Rangga, jangan teriak-teriak! Aku bisa jatungan, Baka*!” (*Baka = Bodoh)

Rangga menghampiriku, dia duduk disampingku dan mulai terlihat sibuk memeriksa lutut kananku yang memerah.

“Sakit ya?”

Aku tersenyum tipis.

“Ga kok, ga apa-apa… aku kan laki-laki, ini mah luka kecil. Gimana latihannya tadi?”

“Hoho… benar-benar memeras keringat, tahu sendirikan Kapten bagaimana? Dia itu lebih sadis dari Pak Bambang a teacher killer itu,”

Aku terkikik geli. Rangga kembali memperhatikan luka di kakiku.

“Maaf ya…” bisiknya.

Aku hanya menepuk pelan bahunya dan menyunggingkan sebuah senyum kecil. Rangga menatapku sendu.

Aku bangkit dan bermaksud meninggalkan ruangan kesehatan ini. Lima menit lagi pelajaran jam pertama akan segera dimulai. Sedikit kuseret kaki kananku ketika melangkah.

Sebenarnya bukan karena luka tadi. Kaki kananku memang sedikit bermasalah dari dulu, tepatnya setahun yang lalu.

Aku cacat.

“Masih sakit ya?” tanya Rangga yang dari tadi ternyata memegang lenganku. Mungkin maksudnya ingin membantuku berjalan.

“Hadeh… kamu itu terlalu overprotektif ya sama aku,” meski sedikit manyun karena sikapnya namun diam-diam aku senang dengan perhatian sahabatku ini.

“Ummm… perlu aku gendong sampai kelas ga?” godanya.

“Dasaaarrrrr~!”

“Hahahahaha!

.

.

Tsuzuku ^^