Yuuki’s Present

.

.

RURI NO AME

Goodbye comes along like a squall
The faint warmth is because of you
You say it’s for our sake, and wave your hand
The rain of emotion streams down my cheek

.

.

Aku mengujimu. Aku hanya ingin tahu, apakah aku orang yang special untukmu?

“Ayo, kuantar saja!” tawarmu.

“Sudahlah tidak apa-apa, kau pergilah dengan Rere dulu!”

Aku sudah berkali-kali menolak namun kaupun tetap tak mau mengalah.

“Bodoh! Katamu kau tak bawa payung. Ayo, sekalian saja,”

“Aku tak apa-apa, sudah cepat sana! Rere menunggumu!”

“Bodoh, kau bisa sakit tahu!”

Kekhawatiranmu yang sedikit berlebihan.  Aku suka itu.

“Dasar cerewet! Pergi sana!”

Kau mengerutkan keningmu, wajahmu tampak kesal. Namun sepertinya kau sudah lelah membujukku.

“Ck, bodoh! Berhati-hatilah di jalan, Ren…”

Aku hanya mengangguk dan akhirnya kaupun melangkah pergi. Kau berbincang dengan Rere sebentar. Gadis manis berambut panjang itu menoleh kearahku dan melambaikan tangannya. Kau tersenyum kecil. Aku membalas kalian dengan cengiran khas milikku.

Lalu kalian berdua menghilang. Meninggalkanku yang berdiri mematung berteman gerimis yang masih saja turun. Hehehe… padahal aku harap kau mencegahku. Menarik tanganku dan membawaku serta untuk pergi bersamamu.

Saat itu aku sadar, mungkin… aku tak begitu special dimatamu seperti Rere.

.

.

What should I have said, what should I have tried to tell you?
I couldn’t have noticed
.

.

Gerimis.

Sebenarnya aku menyukainya.

Saat titik-titik air serupa embun itu menerpa wajahku.

Indah namun Sendu.

“Datanglah Ren!”

“Sudah kubilang aku tak mau!”

“Ayolah… sekali ini saja. Temani aku,”

Seperti biasa Prasetya yang keras kepala.

Duh!

“Kau bodoh ya, Pras? Inikan kesempatanmu untuk berdua dengannya. Kenapa mesti mengajakku, heh?”

“Pesta kejutan ini tak akan seru tanpamu,”

Jika aku bisa melayang. Mungkin sekarang, aku tak bisa lagi turun menginjak bumi.

Tapi, apakah arti kehadiranku begitu berarti bagimu?

Hmm… akan kusimpan pertanyaan itu rapat-rapat.

“Ayolah, Ren. Kumohon…” bujukmu lagi.

BLUSH!

Kupikir, wajahku pasti memerah saat ini.

“I-iya… limabelas menit lagi aku datang,”

Bisa kurasakan kau tersenyum lebar penuh kemenangan saat ini. Ck, dasar!

.

,

Dan bukannya aku tak bahagia.

Sungguh aku begitu senang melihat wajah Rere yang berbinar ceria. Kau buat rencana pesta kejutan kecil di hari ulang tahunnya.

Diam-diam kuambil foto kalian, saat Rere sedang meniup lilin dan kau memegang cake coklat besar yang sengaja kau siapkan sebelumnya. Aku pun ikut tertawa saat kau torehkan sedikit cream putih di  pipinya. Membuat wajah gadis yang kau sukai itu merona karena malu.

Lalu akupun mulai berangan, kalau saja Aku diposisi Rere saat itu.

Hei… Hei… apakah kau akan memberikan kejutan yang sama di hari ulang tahunku nanti? Mungkin kalau itu terjadi, kurasa kaupun menganggap aku orang yang special sama seperti Rere.

Ya… Mungkin.

Tapi, aku bukan Rere. Bukan orang yang kau anggap berharga.

Gerimis kecil turun, rinainya terlihat dari jendela. Prasetya dan Rere tampak sesekali tertawa, entahlah apa yang mereka bicarakan.

Kau dan dia di dunia kalian saja. Dan aku sendiri.

Rasanya aku ingin melompat keluar dari jendela. Keluar dan menghilang bersama hujan.

Aku iri, Pras.

Karena jauh di dalam hati, aku ingin berarti untuk seseorang sepertimu.

Seseorang yang diam-diam aku sayangi.

.

.

The rain that fell from the cloudy sky, these drops
Are they for hiding my sadness and teary eyes? 

.

.

“Aku ditolak, Ren…” bisikmu lirih.

Aku memandangmu lekat-lekat.

“Rere tak memilki perasaan yang sama denganku. Dia menyayangiku hanya sebatas sahabat saja,”

Aku masih terdiam dan kau menghela napas panjang.

“Yeah… setidaknya aku sekarang sudah lega.” Ujarmu.

Seulas senyum kecil tampak menghiasi wajahmu yang pucat.

Lalu, perlahan gerimis mulai turun.

“He-Hei! Ke-kenapa kau menangis, Ren?”

Huh?!

Aku… menangis?!

Ku sentuh pipiku pelan. Ada butiran hangat yang kurasa di sana. Tapi, gerimis masih saja turun. Kali ini kutatap wajahmu yang nampak khawatir.

“Kamu kenapa, Ren? Apa kau sakit? Kau baik-baik saja kan?”

Maafkan aku Pras. Aku jahat ya…

Andai kau tahu aku menangis karena aku bahagia, pasti kau akan langsung membenciku.

Kali ini langitpun ikut menangis, air mataku kini telah bercampur dengan dinginnya air hujan yang tiba-tiba turun.

“Hujan, Ren! Ayo kita berteduh!  Jangan diam di sini saja, kau bisa sakit nanti.”

Kau menarik lenganku namun aku enggan beranjak juga.

“Ren! Kau jangan seperti anak kecil! Ayo sini!”

Tak kupedulikan lagi bentakanmu, yang kutahu aku sudah memelukmu. Erat.

Tubuhmu sedikit menegang namun perlahan kau membalas pelukanku.

Isak tangisku pecah.

“Ren, kenapa kau menangis sih? Harusnya aku yang bersedih kan?” bisikmu.

Aku hanya mengeleng pelan namun tak juga menjawabmu.

Sudahlah… kali ini biarkan aku yang menangis untukmu.

Entah kau menganggapku sebagai apa.

Yang jelas bagiku kau adalah seseorang yang special untukku.

Dan kurasa aku mesti bersabar hingga hari itu tiba.

Hari dimana kau akan mengganggapku seseorang yang special buatmu.

Ya… mungkin suatu hari nanti.

Suatu hari saat gerimis turun

Dimana hanya ada kamu dan juga aku.

.

.

OWARI

.

.

Yuuki’s Mail :

Kon Kon ^^

Honto ni Domo Arigato Gozaimasu buat Nayaka-san yang sudah Invite saya untuk ikut ‘coret-coret’ di Blog miliknya. Mo Ichido Arigato Gozaimasu *Bows* m(_,,_)m

Perkenalkan sebelumnya, saya biasa di panggil Yuuki. Saya penulis yang sering ‘Tersesat di Jalan Kehidupan’ LOL dan seorang Fujoshi juga, kekekekekeke XDD

Saya suka menulis tapi karena WB dan –belakangan- waktu yang kurang berpihak menyebabkan draf tulisan saya terabaikan begitu saja. Hiksu TT__TT *Sniff*

Ini salah satu tulisan saya, yang baca mohon komentarnya ya, hehehe😀, tadinya ini adalah FanFiction tapi saya coba ubah jadi Ori Story saja dengan Chara milik sendiri ^^

SP Thanks buat Senpai-Afni yang udah bersusah-susah lagi buat saya, Aishiteimashu Senpai, Hahahaha XDD, Semoga cerita ‘Butiran Debu’ ku juga bisa di Repost di sini, hohoh…

Current Music : Alice Nine – Ruri no Ame

Coba aja dengerin lagu milik Band Vis Kei asal Jepang ini, sendu sendu gimana geto, Hahahahaha XDD

Sore Ja, Mata Ashita ^^