an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

AKU KANGEEEENNNN!!! Sumpah, aku kangen kalian…

(ada yang berpikir kalau judulku kali ini aneh? Jika ada, kita sependapat kawan).

Hehehee, kalian sedang membaca pengantar Nayaka lagi untuk coretan singkatnya yang ke-8 (dan Alhamdulillah ini tetap yang ke-8 yang akan kalian baca –jika mau tentunya.

Tulisan kali ini aku anggap sebagai pelepas kerinduan dan dahagaku untuk menulis cerpen. Sumpah, aku rindu banget untuk membuat one shoot begini. Dan Alhamdulillah lagi, rindu itu sedikit terobati dengan selesainya tulisan yang sedang kalian baca ini.

Aku juga ingin memberitahu kalian, bahwa ini kali pertama aku membuat cerita langsung kuketik tanpa menulisnya terlebih dahulu di kertas buram seperti kebiasaan kuno-ku selama ini. Dan ternyata, cape sekali sodara-sodara, aku sibuk di tombol delete… mungkin karena belum terbiasa ya.

Kalian mungkin akan menemukan sedikit perbedaan pada cerpen ini, gak tahu deh apa itu. Check sendiri aja… yang pasti aku bilang, ini tidak lebih baik dari 7 cerpen yang telah kalian pelototin sebelumnya.

Buat yang sering meninggalkan komen untukku, aku harap kalian meninggalkannya lagi kali ini, ya ya ya! Cacian juga gak apa kok. Aku tetap baca, sukur-sukur bila sempat kucaci balik… kekekekee.

Okeh, itu saja. Semoga kalian menikmati membaca THE RICH MAN AND HIS NEW NEIGHBOUR seperti aku menikmati saat menulisnya –meskipun sempat jungkir balik.

doakan aku sehat.

Wassalam

-n.a.g-

#####################################################

*Satu halaman dari buku catatan Chace Eickhart*

Prinsip orang tua modern; anakku adalah robotku yang remot-nya ada dalam kendaliku. Senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, jika kita lahir dari orang tua yang seperti itu, maka sadarilah kalau hidup kita bukan milik kita sendiri. Betapa pun sempurnanya usaha kita pada jalan yang telah mereka pilihkan –yang menjamin bahwa kita tak akan tersesat, namun tetap, kita bukan kita yang sebenarnya.

Aku anak satu-satunya dari orang tua demikian. Mempunyai MomandDad yang perfeksionis. Jalan hidupku sudah mereka rakit bahkan sejak jenis kelaminku diketahui di kandungan Mom. Kulalui masa kecilku yang terbatasi dengan berbagai aturan, juga masa remaja yang lebih terbatasi lagi. Aku bahkan berani bertaruh, tak ada masa remaja dalam jalan hidupku. Aku kecil lalu dewasa, 27 tahun sekarang. Aku kehilangan masa-masa paling diharapkan oleh seorang anak, aku kehilangan masa-masa antara usiaku 13 sampai 18. Dimana aku di masa itu? masa yang seharusnya aku bersosialisasi, masa aku mencari jadi diri, masa seharusnya aku lebih banyak menghabiskan waktuku di luar rumah, mencoba hal-hal baru, bermain-main dengan hidupku dan menciptakan beberapa kenakalan. Karena aku remaja lelaki. Dimana aku ketika itu?

Jawabannya, aku ada dalam kungkungan tembok rumah Daddy yang tinggi. Yang membuat kita harus mendongak hingga leher sakit ketika melihat puncak temboknya. Aku di kastil Ayah-ku. Berkubang dengan buku dan doktrin yang dijejalkan ke otakku sepanjang masa remajaku. Kuhabiskan banyak hari bersama perpustakaan berwujud orang-orang berkaca mata rantai, master-master yang kata Daddy adalah jembatanku menuju ke kursi kehormatannya, ke puncak tahtanya.

Layaknya seorang Duke, hidupku terstruktur dan terpetakan. Aku,,, dipersiapkan untuk mengganti ayahku. Dan kini sedang kujalani, dengan amat terpaksa sebenarnya tapi lama-lama menjadi darah dan nadiku. Menjadi perwaris tunggal seluruh harta yang melimpah ruah memang membuat hidup bak surga dunia. Aku, pria muda kaya raya yang punya hidup laksana putera mahkota. Begitu anggapan orang. Namun, andai mereka tahu bagaimana aku tertekan di dalam sini, sungguh, mereka akan mengasihani hidupku. Aku terkurung dengan aturan dan kekuasaan yang kupegang, membelenggu gerak dan ruangku. Aku dituntut untuk sempurna. Tidak ada ME dalam jalan hidupku selama ini, yang ada adalah IT. Aku hanya hidup untuk seluruh asset itu, berpikir bagaimana cara menjaga dan membuatnya kokoh, jika bisa malah harus semakin bertumbuh, menumpuk dan diagungkan. Aku menjadi budak harta orang tuaku.

Kebebasanku, keinginanku, hidupku sendiri, semua kesenangan yang kuimpikan saat usiaku remaja, apa yang terjadi dengan hal-hal itu? aku lupa itu semua ketika aku dewasa. Didikan dictator Daddy berhasil membuatku seperti dirinya, menjadi gila kerja. Aku harus turun tangan sendiri seperti Daddy yang selalu terlibat dalam setiap agenda perusahaannya. Aku benci liburan seperti Daddy membencinya dulu. Benci mempercayakan pimpinan pada orang lain. ‘Kita harus jadi satu-satunya raja di kerajaan kita sendiri, Sononeking, foronekingdom. Kelak kau akan menyampaikannya pada puteramu.. ’ Kalimat Daddy yang mendarah daging hingga kini.

Namun nyatanya, akhir-akhir ini aku mulai takut. Pertanyaan siapa yang akan meneruskanku nantinya jika waktuku telah habis seperti Daddy dulu, sering mengusik. Bisakah seorang pria gay punya anak? Tidak, bila yang diinginkan adalah darah daging sendiri. Menitipkan spermaku untuk dikandung wanita lain? Itu cara curang, sains memang penuh kecurangan. Adopsi? Sebesar Daddy membenci anak orang lain dulu –hingga tak diizinkan berteman denganku, maka sebesar itu pula benciku pada anak orang lain. Aku pria kaya jahat, di satu sisi.

Pikiran untuk melepaskan semuanya dan menyongsong kebebasanku bertandang kemudian. Bagaimana jika aku meningalkan tahtaku dan bersiar-siar selayaknya rakyat jelata? Aku mulai rindu hidup tanpa aturan, berprilaku semauku, pergi kemana aku ingin, tidak menutupi kenyataan bahwa orientasi seks-ku berbeda. Salahkah bila aku membayar masa remajaku yang dulu terlewati, menggantinya saat ini? Pertanyaannya, bisakah aku…

***

CHACE baru saja turun dari mobil-nya ketika pelayan memberi tahu kalau dia punya tamu yang sedang menunggu di dalam. Pria itu mengangguk, menyerahkan tas jinjingnya pada si pelayan lalu berjalan masuk.

Chace mengganti setelan kerjanya –yang mulai membuatnya depresi ke kantor sejak setahun terakhir, sejak gadis-gadis di perusahaannya berlomba mengincar posisi sebagai istri pemilik perusahaan. Bagaimana jika status seks-ku terkuak? Akankah perusahaan itu ikut hancur seiring kehancuranku? Chace membatin kalimat tanya serupa lagi ketika membuka dasinya di depan cermin. Selanjutnya dia ke bath room, mandi. Dia sadar kalau dia punya tamu yang mungkin sudah menunggu sejak pagi tadi, tamu selalu menunggu. Itu yang diyakini Chace, sejauh ini dia tak pernah berhadapan dengan tamu yang pulang karena lelah menunggu.

Chace berpakaian, menatap bayangannya lagi di depan cermin dan meyadari kalau dia kurang tidur akhir-akhir ini. Lingkar matanya nyaris menyerupai Panda. Ahh… haruskah aku mencari orang kepercayaan untuk mengurus perusahaan itu? Daddy pasti akan bangkit dari tidurnya jika itu terjadi.

Dia turun dan menuju ke ruang makan, siap menyendok menu makan malam saat sisi kemanusiaannya terusik. Hilangkan sifat buruk ini Chace, tidak selamanya kamu kedatangan tamu yang mau duduk manis menunggumu selesai memberi makan cacing-cacing di perutmu. Chace menaruh sendok dan garpunya lagi di sisi piring, lalu melirik pelayannya.

“Dimana tamu itu menunggu, Maddy?” Tanyanya.

“Saya mempersilakannya menunggu di perpustakaan.” Si Ketua Pelayan, Madeline –yang sudah bekerja sejak Chace kehilangan masa remajanya- bersuara.

“Sudah berapa lama?”

“Dari jam enam tadi…” Jawab Madelaine.

Chace melirik arlojinya, 17 menit bergeser dari angka 8. Tidak lama, tamunya baru menunggu 2 jam lebih. “Pria, wanita?” Tanyanya lagi.

“Pria, Sir…”

Chace bangun dari kursinya dan meninggalkan ruang makan. Sekarang, dia sudah di depan pintu ruang perpustakaannya. Perlahan Chace menguak daun pintu, tanpa suara. Seingat Chace, semua pintu di rumah ini memang tak pernah berdecit ketika ditutup dan dibuka. Di balik pintu dia menemukan seorang pria sedang ‘mengusik’ koleksi buku di perpustakaannya yang semuanya tidak tipis. Pria itu bergerak dari satu rak ke rak lain. Mencomot satu buku, melihat sampul depan dan belakangnya lalu menyimpannya kembali sebelum menarik buku berikutnya dari rak. Cukup lama Chace memperhatikan tingkah pria yang belum menyadari kehadiran sang tuan rumah. Chace mulai beralih memperhatikan fisik pria itu –bukan lagi tingkahnya yang masih terus mengeluar-masukkan buku dari rak ke rak. Chace menaksir pria itu minimal berusia sama dengannya, paling tidak 1 atau 2 tahun di atasnya. Pria itu mungkin juga sama tinggi dengannya –lebih tinggi bisa jadi, jangkung atletis, rambutnya gelap bergelombang, dan dari tempatnya berdiri Chace bisa melihat kalau pria itu punya bahu yang bidang, leher kokoh, pinggang yang ramping dan tungkai berbalut jeans yang indah. Lebih dari segalanya pria itu punya bokong yang seksi. Chase merasa sesuatu dalam celananya mengeliat, pria itu mengusiknya.

“Ehemm…” Chace berdehem. “Tidak menemukan buku bagus di sana, Mister…”

Si Pria kaget dan menjatuhkan buku yang baru saja ditariknya dari rak. Dia menatap ke pintu, Chace mulai berjalan menujunya. “Oh… I am sorry, saya tidak menyadari kehadiran anda Mr. Eickhart…” Ujar Si Pria.

Chace tersenyum, lalu merunduk mengambil buku yang baru saja dijatuhkan tamunya. DEVIL INSIDE ME, itu tulisan di sampul depannya.

Sorry ‘bout this…” Si Pria menatap buku di tangan Chace.

“Karena menjatuhkan bukuku?”

“Karena melihat-lihat buku anda tanpa permisi.” Jawab Si Pria.

Sebelah alis Chace naik, sedetik setelahnya dia tersenyum lalu mengulurkan tangannya melewati bahu Si Pria untuk menyimpan buku yang jatuh itu kembali ke rak. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya, Mister…”

“Levy, Francisco Levy…” Si Pria mengulurkan tangannya pada Chace. “Panggil saya Frisco.”

Chace menikmati suara berat itu, menikmati wajah jantan tamunya ketika berhadapan sedekat itu, terhipnotis sepersekian detik hingga mengabaikan lengan sang tamu yang menggantung dari tadi. Siapa tadi dia menyebutkan namanya? Levy? Ya, Levy.

“Mr. Eickhart…”

Chace tersadar. “Ohh… Chace Eickhart.” Ujarnya sambil menjabat tangan Si Pria bersuara berat.

“Yah, saya tahu anda…”

Kening Chace terangkat sebelah, lalu ingat kalau Pria yang tangannya masih digenggamnya itu sudah menyebut nama belakangnya 2 kali, ketika dia bersuara untuk pertama kalinya dan barusan saja ketika menyadarkan dia dari ke-takjub-an-nya. “Anda mengenalku, Mister… Levy?”

Si Pria tersenyum, oh tuhan, Chace sudah terhipnotis dua kali karena pria ini. “Panggil saya Frisco, jika Mr. Eickhart tidak keberatan tentunya.” Frisco menatap tangannya yang masih digenggam Chace.

Tersadar, Chace buru-buru melerai jabatannya. Sial, mengapa aku bisa se-memalukan ini?

“Sangat sulit untuk tidak mengenal anda, Mr. Eickhart.” Kata Frisco. “Saya yakin, seluruh London pasti mengenal nama anda. EickhartIndustry… semua orang pasti pernah dengar.”

Chace menatap pria di depannya, dan yakin kalau ini adalah kali pertama dia bertemu dengannya. “Siapakah anda Tuan Frisco?”

“Saya tetangga baru anda…” Jawab Frisco datar.

Chace melongo. Tetangga baru?

“Kediaman anda adalah rumah kesembilan yang saya kunjungi hari ini…” Lanjut Frisco.

Chace tambah melongo. Di masa sekarang? Masih ada tetangga baru yang mengunjungi rumah-rumah di sekitar tempat tinggal barunya untuk memperkenalkan diri? Di pelosok mungkin bisa jadi. But, in London? Di tengah hiruk pikuk kota dimana orang-orang terbiasa mengangkat dagunya bila berpapasan dengan tetangganya saat lari pagi? Sulit dipercaya.

“Dan anda orang pertama dari pemilik rumah yang berhasil saya temui sepanjang hari ini.”

Chace patut senang, secara inplisit Frisco mengatakan bahwa dirinya adalah tetangga sekaligus pemilik rumah yang baik. Chace tersenyum canggung. “Well, anda akan jadi tetangga yang baik Tuan Frisco…”

Frisco tersenyum, lagi. “Dan anda benar-benar tuan rumah yang manis, Mr. Eickhart.”

Pasti Chace merona kini. “Rumah mana yang anda tinggali?”

“Di ujung jalan ini. Rumah mungil milik kelurga McCalister, dulunya.”

Tentu saja. Rumah mungil itu yang satu-satunya tidak lagi ditinggali di kawasan elit ini. Keluarga McCalister pindah 2 bulan lalu ke Philadelphia, kembali ke asal buyut mereka, itu rumour yang sempat dipahami Chace dari percakapan-percakapan pelayan. Dan juga rumah mungil itu yang satu-satunya pantas dikatakan sebagai tetangga, jaraknya hanya 50 meter dari kastil Chace –sangat dekat. Sepertinya agen penjualan rumah sudah berhasil membuat Frisco menulis cek untuk menebus rumah mungil tapi berkelas itu.

“Rumah itu cocok untuk anda Tuan Frisco.” Kata Chace. “Anda berkeluarga?” sedetik setelahnya, Chace menyesali kalimat tanyanya barusan. Sunguh tidak sopan dan terkesan melewati garis. Ditambah lagi, dia sangat tidak siap mendengar tamunya menjawab ‘ya’ untuk pertanyaannya.

Tapi Frisco malah tersenyum. Sepertinya dia sadar akan pesona yang dimiliki senyumnya sehingga tak ada keraguan padanya untuk memamerkan senyum itu lebih sering. “Jika saya punya, mereka akan ikut mengerayangi rak buku anda tadi.”

Chace tertawa, gembira tanpa sedikitpun sisa rasa menyesal karena telah bertanya begitu tadinya. “Anda pandai melucu Tuan Frisco.”

“Keberatan jika Frisco saja?” Untuk ketiga kalinya dia minta dipanggil Frisco saja.

Sama sekali tidak. Chace lebih dari sangat mau untuk akrab dengan pria yang bagian belakangnya sempat membuat underware-nya sempit tadi. “Okey… berarti juga Chace saja untukku.” Katanya, lalu kalimat selanjutnya benar-benar meruntuhkan rangka formalitas antara dia dengan Frisco. Chace berdehem. “Frisco, aku baru saja meninggalkan piring-piring yang masih terisi penuh di ruang makan, akan sedikit kesulitan bila aku menghabiskannya sendiri…”

Frisco tahu kemana arah pembicaraan Chace. “Kamu tahu Chace, menunggu dua jam di sini membuatku lapar.”

Chace tertawa. “Sorry… berarti sama sekali tidak keberatan kan untuk makan bersamaku?”

Absoluttly, not…”

Chace menggerakkan kepalanya ke arah pintu, mempersilakan Frisco keluar lebih dulu. Sang tamu menurut, Chace sekali lagi bisa menikmati keseksian lelaki dari sosok Frisco dengan mengekor di belakangnya.

***

Frisco gelisah di ranjangnya. Sudah 4 hari sejak dia bertemu Chace Eickhart dan makan malamnya bersama pria kaya itu. Dia sama sekali tak menyangka dirinya bisa tampil nyaris seperti pria terhormat saat di sana. Latihannya tak percuma, dia tampak selayaknya seorang bangsawan di rumah Chace. Frisco mengerang bangun, meninggalkan ranjangnya yang berantakan karena gerak gelisah tubuhnya tadi. Dia melangkah ke rak botol-botolnya yang baru saja ditatanya pagi tadi, mengambil acak salah satu botol di sana dan menuangkan isinya dalam cawan. Habis dalam sekali teguk. Lalu dia kembali mengingat detil pertemuannya dengan Chace. Tidak, bagaimana aku bisa menipu orang selembut itu? ah, haruskah aku mundur?

Frisco menarik tirai kamarnya, memperhatikan rumah megah di seberang sana. Rumah Chace. Kembali dia terbayang saat makan malamnya di rumah pria itu. menyukai cara makan Chace yang anggun, khas bangsawan –gaya makan berkelas. Menikmati obrolan mereka setelahnya. Terpukau setiap pria itu tersenyum. Dan tutur bahasanya? Chace terlalu ramah untuk ukuran seorang pria kaya. Frisco pamit pada Chace menjelang mid night. Sejak itulah malam-malamnya berubah gelisah. Dia sulit terlelap, sama seperti malam ini. Lalu dia akan berakhir bersama botol-botolnya, berakhir pada kebiasaannya sebelum melangkah gontai ke ranjang dan terlelap saat menjelang pagi.

***

Marvin Burnaby, pria hujung 40-an adik bungsu ibu Chace tiba di ruang kerja keponakannya. Dan dia ternyata sudah ditunggu, Chace diberitahu sekretarisnya.

“Kau tampak tertekan, Chace…” Kalimat pertama Marvin setelah menutup pintu. Sepertinya kalimat sapaan terlalu mahal bagi Marvin.

Chace mengangkat bahunya. “Aku rasa tak ada pimpinan perusahaan yang hidup nyaman selamanya tanpa merasa tertekan…” Responnya santai. “Apalagi bila dibayang-bayangi orang yang menginginkan kursi direkturnya.”

Paras Marvin berubah.

“Kau datang ke sini untuk kembali membicarakan itu kan?” Chace berkata tepat.

Marvin mendesah. “Aku tak bermaksud buruk, hanya ingin meringankan bebanmu. Kau masih muda Chace…”

“Aku dua puluh tujuh tahun, tidak semuda yang kau kira.” Tukas Chace.

Marvin menghembuskan nafasnya. “Itulah yang aku maksud, kau dua puluh tujuh tahun, carilah pendamping dan bersenang-senanglah…”

“Apa hak-mu atasku?” Chace meradang, dia tidak suka didikte. Apalagi menyangkut pribadinya, bahkan oleh adik ibunya sendiri.

“Aku tidak bermaksud demikian, Chace. Aku hanya ingin membantu. Waktumu habis untuk memikirkan perusahaan ini, kau juga perlu masa untuk memikirkan kehidupan pribadimu. Kau bisa memberikan beberapa tanggung jawab padaku, dengan begitu kau dapat sedikit menikmati hidupmu. Cobalah merenung kembali…”

Chace diam. Ditatapnya Marvin, dia sering datang kemari membicarakan perihal ini. Tapi ucapannya kali ini beda. Kau dapat sedikit menikmati hidupmu… begitu kalimatnya. Apakah aku sudah menikmati hidupku? Chace membatin. Kapan terakhir kali aku mendahulukan diriku? Chace tak ingat, karena dia memang tak pernah mendahulukan dirinya di atas pekerjaannya.

Marvin berdehem. “Aku pamanmu, Chace. Aku juga sesayang Lily padamu.” Chace menatap pria di depannya, dia menemukan raut ibunya di sana. “Aku bersedia kapan saja untuk membantumu, son. Kau tahu siapa yang harus kau hubungi bila pikiranmu berubah…” Marvin keluar. Sebelum menutup pintu pria itu masih sempat berucap pada Chace. “Lily pasti ingin kau bahagia dan menikmati hidupmu… seperti itu juga yang kuinginkan….” Lalu pintu menutup.

Chace mengelesoh di kursinya. Kenangan akan Mom melintas, semuanya. Dari sejak dia mampu mengingat sampai kematian orang tuanya. Ingatannya mengembara ke masa 5 tahun lalu…

Hari itu London gelap. Awan hitam bergulung menutup langit. Chace sedang bersama master-nya saat Madelaine mengabarkan kalau Mom and Dad kritis di hospital. Mobil mereka terjungkir di jalan. Tak ada tangis dari Chace saat mendapat kepastian bahwa orang tuanya tak terselamatkan. Dia hanya terpaku di lorong hospital. Begitupun saat upacara pemakaman, dia diam tanpa ekspresi. Namun hatinya terus berucap, tahta itu baru saja diwariskan padaku, tali-tali itu baru saja disimpulkan untukku. Dia sayang ibunya, Mom, satu-satunya sosok wanita yang dicintai Chace. Dia tak menangis saat berhadapan dengan kematian orang tuanya, karena dia dididik untuk itu. Untuk jadi penerus yang kuat dan siap dalam keadaan apapun.

Tapi sekarang, Chace menangis di kursinya. Sangat lama dia sudah tak menangis. Dia tak ingat kapan terakhir kali matanya basah. Lalu dia bangkit menuju pintu ruang kerjanya. Keluar.

***

“Berdoa???”

Chace mendongak. Frisco sedang tersenyum padanya. Sadar matanya berkabut, Chace buru-buru mengerjap dan mengucek matanya. Kemudian dia bangkit berdiri. “Sorry…”

“Karena melihatmu menangis?”

Chace Mendesah, dia tak mampu menatap Frisco.

“Itu wajar.” Sahut Frisco. “Tak ada anak yang tak ingat orang tuanya. Jika si anak berhati lembut tentunya…” Frisco memandang Chace. “Like you, Chace..”

Chace tertawa. “Kau belum mengenalku, Frisco.” Ujarnya sambil menarik tangkai mawar putih dari saku jas dan meletakkannya di atas makam di depannya.

“Memang belum, tapi aku yakin akan segera mengenalmu. Aku punya banyak kesempatan. Kita tetangga kan, remember?” Frisco tertawa pelan.

Chace membalasnya dengan senyum. Dia menyukai sosok Frisco dengan segala pesonanya. “Makam siapa yang kau kunjungi?”

Frisco mendesah. “Aku sedikit beruntung darimu, orang tuaku masih hidup. Itu makam saudaraku, over there…” Frisco menunjuk. “Sangat jelas melihatmu dari sana.”

“Ohh…” Chace mendesah. “Aku sudah selesai…”

Me too….”

Lalu mereka berjalan meninggalkan tanah pemakaman yang penuh tembok-tembok berjejer, tembok orang-orang yang sudah mati. Begitulah, kita pergi dan tembok-tembok itu mengantikan sosok kita, menjelaskan identitas kita pada dunia.

“Bicara tentang kesempatan…” Ujar Chace ketika mereka sudah berada di luar pagar tanah pemakaman. “Aku akan mempermudahmu…”

Frisco sempat berkerut, kemudian ingat kalimatnya ketika di depan makam tadi. Dia tersenyum. “Seperti???”

“Mengajakmu makan siang misalnya.” Jawab Chace.

“Kau baik sekali Mr. Eickhart.”

“Aku hanya berusaha jadi tetangga yang ramah buatmu.” Balas Chace.

“Bagaimana kalau, berusaha jadi teman yang akrab? Kita tidak sedang berada di jalan rumah kita kan?”

“Yah, aku rasa setuju. Kita tetangga saat berada di rumah dan teman ketika berada di pemakaman…”

Frisco terbahak. “Aku tidak tiap hari ke makam, okey! Kita teman bila berjumpa di luar rumah.”

Chace ikut tertawa. “Kau pakai mobil?”

“Aku akan mengikuti jalanmu. Ingat, kau yang mengajakku lunch. Pilihlah tempat yang meninggalkan kesan…”

Chace sempat tercenung mendengar kalimat Frisco sebelum masuk ke limo-nya. Pilihlah tempat yang meninggalkan kesan. Well, sepertinya Chace mulai menaruh harapan pada pria tampan ini.

***

Frisco baru saja menutup teleponnya. Dia telah selesai menjawab beberapa pertanyaan, memberikan laporan kerjanya pada Si Penelepon. Frisco mendesah, entah apa yang membuatnya yakin untuk menerima tawaran ini lebih sebulan lalu. Materi, ya. Tapi sekarang dia meragu, apakah hanya materi? Bagaimana dengan kenyataan bahwa dia penasaran, bukan… lebih tepatnya tertarik mengenal objek kerjanya, bahkan sudah sejak beberapa lembar foto ditunjukkan padanya. Ketertarikan, adalah alasan lain dia mau menerima tawaran itu.

Frisco menatap tempat tidurnya, dering telepon membangunkannya tadi. Mempersingkat waktu tidurnya, seharusnya dia tidak terbangun sepagi ini. Yah, semenjak menempati rumah ini dia mulai terbiasa baru terlelap menjelang pagi. Dia keluar dari kamar, masih bertelanjang dada menuju halamannya.

Sekarang Frisco berada di bawah simbahan matahari jam 8 pagi, bergerak-gerak merenggangkan ototnya. Sejenak kemudian dia mulai berlari mengitari rumah. Entah sudah berapa putaran sampai dia menyadari kalau sekarang Sunday. Frisco sontak berhenti, menyeka keringat di wajahnya. Dengan badan berkilat dia segera masuk rumah, harus segera mandi dan merapikan diri.

***

Chace diberitahu pelayannya kalau tamunya beberapa malam lalu sedang menungu di beranda.

“Sudah kau suruh pelayan membuatkan minum, Maddy?” Tanya Chace pada kepala pelayannya.

“Tuan Frisco menolak disuguhkan minum.”

“Apa dia juga bersikeras untuk tidak mau masuk?”

Madelaine mengangguk. “Yes, sir.” Ucapnya kemudian saat sadar sang majikan tidak sedang memandangnya.

Chace mendesah pelan dan mendongak dari kertas kerjanya memandang Madelaine. “Aku akan menemuinya.”

Si Kepala Pelayan mengangguk sopan lalu keluar dari ruang kerja majikannya setelah menutup pintu lebih dulu. Chace merapikan file kerjanya, menutup monitor-nya dan beranjak keluar dari balik meja.

Frisco tak menyadari kalau dia sedang diperhatikan pemilik rumah. Sudah beberapa menit Chace mematung di dekat pintu. Frisco bersandar di pilar beranda membelakangi pintu utama, seakan memberikan kesempatan bagi Chace untuk mengagumi sosoknya dari belakang. Sexy back, begitu Chace membatin. Frisco pria seksi, bahkan terseksi yang pernah ditemui Chace.

“Maddy memberitahu kau tidak suka minuman di rumahku…”

Frisco sontak berbalik. Memandang takjub pada sosok di depannya, dengan rambut kecoklatan sedikit berantakan -tak disisir klimis seperti saat dia bertemu pertama kali malam lalu juga saat bertemu di pemakaman- Chace tampak lebih cute, dan muda. “Aku hanya tidak mau membuat repot.” Jawab Frisco sambil tersenyum setelah sadar dari mengagumi sosok Chace di hari libur. “Tapi aku yakin, bukan begitu tepatnya kalimat penolakan yang aku katakan pada Maddy-mu tadi.”

Giliran Chace yang tersenyum cerah. “Kenapa tidak masuk?”

“Aku takut bila aku masuk, maka aku akan berakhir di meja makanmu siang ini. Dan itu pasti lebih akan merepotkan ketimbang membuat segelas minuman.”

Chace tertawa. Dia semakin menyukai Frisco. Pria ini istimewa, dan dia jelas pintar mengakrabkan diri. “Aku sedang mengoreksi pekerjaanku.” Kata Chace.

Kening Frisco bertaut. “Di hari minggu?”

Chace menyadari kalau Frisco mulai menangkap keanehan pada pola kerjanya. “I… iya…” Chace tak pernah merasa segugup ini saat berbicara dengan siapapun sebelumnya.

Frisco tersenyum. “Kau pekerja keras ya… seorang boss berdedikasi tentunya. Aku suka orang seperti itu.”

“Trims.”

“Tapi bisakah kamu benar-benar ‘berhari minggu’ hari ini?” Jeda sebentar. “Denganku…”

Chace mekar. Dengannya, Chace akan dengan senang hati menghabiskan sepanjang hari. Tapi… file-file itu???

“Nikmati hari liburmu sesekali, Chace.” Frisco mendekat. “Aku yakin akan menyenangkan.”

Tatapan itu, Chace luluh. “Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan mobil.” Chace siap masuk.

No… tidak hari ini.” Frisco menangkap pergelangan Chace, membuat langkah pria itu terhenti dan berbalik menatap lengannya dalam genggaman Frisco. “Sorry…” Friscomelepaskan genggamannya. “Ehemm, kita akan berjalan-jalan, membuat beberapa keributan di Hyde Park jika sempat, naik taksi ber-argo atau angkutan umum, atau berperahu di kanal. Kau pasti belum pernah mencobanya kan? Pinggiran Sungai Thames kabarnya menarik di hari minggu. Pasti menyenangkan bila kita ke sana…”

Beberapa detik lamanya Chace seperti tersihir. Ucapan Frisco mengusik hasrat terdalamnya, hasrat untuk mencoba hal-hal baru dalam hidupnya. Hasrat masa remaja yang tak pernah disalurkannya. Sedetik kemudian tangan Chace sudah berada dalam genggaman Frisco untuk dibawa berjalan meninggalkan kastilnya.

Chace menjadi liar. Dia lepas dan gembira di sisi Frisco yang selalu menggamit lengannya bila berjalan. Turun dari angkutan umum di pusat kota London dekat London Tower, selanjutnya mereka menyusuri jalanan kota yang ramai di hari minggu. Chace tak suka anak-anak. Tapi bersama Frisco, hari ini dia berlarian bersama banyak anak di taman dengan kembang gula di tangan, makan es krim murahan di pinggir jalan, berfoto ria bersama wisatawan entah dari mana, memborong balon gas dan membaginya pada setiap orang di sana –yang diterima dengan kening berlipat heran.

Frisco membuat Chace tanpa aturan. Mereka makan siang di kafé pinggiran, yang punya meja bundar berkanopi umbrella dengan dua kursi kecil. Memesan menu-menu kelas bawah dan makan lahap tanpa harus menjaga sikap seperti yang biasa dilakukannya saat makan. Chace bahkan memegang langsung potongan dagingnya dan menggigitnya dengan brutal, dia sangat ingin makan dengan cara begini sejak dulu. Frisco tertawa melihat Chace.

Selesai dengan potongan kecil, Chace mengambil potongan yang lebih besar. “Hey…! Itu bagianku.” Seru Frisco sambil berusaha ikut menggigit daging yang tengah digigit Chace.

Mereka tertawa, makan ala bocah yang berebut makanan. Wajah mereka berlengketan saus dan lemak. Jari-jari mereka tak ada yang bersih, garpu dan pisau tergantikan.

“Aku kenyang…” Bahkan Chace mengeluarkan angin dengan suara nyaring dari mulutnya, hal yang pasti akan sangat dikutuk bila dia melakukannya ketika di ruang makannya, Daddy tak akan senang melihatnya sekarang.

Frisco tertawa. Mengambil serbet dan tanpa sungkan mengelap mulut Chace yang kontan membuat pria itu diam dengan mata berkedip-kedip. Frisco tak peduli biarpun Chace memandangnya aneh, dia terus menggerakkan tangannya di wajah Chace. Ketika merasa cukup, Frisco menarik diri kembali bersandar di kursi.

“Ehemm, trims…” Ujar Chace dengan tampang kikuk.

“You’re welcome.” Jawab Frisco, kemudian memanggil pelayan dan membayar bil mereka. Setelahnya dia bangun dan kembali menggamit lengan Chace. “Ayo, Sungai Thames menunggu kita…”

Dan sekarang mereka sudah di dalam boat yang disewa dengan harga murah karena mereka Londoner -warga asli kota London. Berbaur dengan para wisatawan yang berperahu di pinggiran Sungai Thames. Pasangan pengantin baru, pasangan yang baru meresmikan engagement mereka, yang baru memberi dan mendapatkan cincin, yang sedang dimabuk cinta ala Romeo Julliet, mungkin juga pasangan-pasangan selingkuhan, Julliete-Julliete, bahkan Steve dan Steve.

Chace terkapar di bagian belakang boat, dia lumayan lelah. Tangannya di atas matanya, menghalangi sinar matahari menjelang sore yang menyorot. Belum cukup sore untuk matahari agar sinarnya dihalang oleh bangunan-bangunan di pinggir sungai. Chace merasakan haluan boat membelok dan lajunya melambat, Frisco sepertinya masuk ke salah satu cabang sungai. Chace tak peduli, tapi tak urung dia memindahkan tangan dan membuka mata saat menyadari kalau matahari tak lagi menyorotnya.

Dan Chace kaget mendapati Frisco telah condong ke atasnya. Pria itu tersenyum, sama sekali tidak terganggu dengan wajah kaget Chace.

“Untuk sementara kita sembunyi di sini ya!” Ucap Frisco.

Chace memandang berkeliling. Perahu mereka masuk ke bawah jembatan kecil yang dibangun hanya dengan satu cincin beton dibawahnya. Disekitarnya adalah bangunan-bangunan bermenara tinggi, seperti gereja. Sunyi. Tempat yang tepat untuk ‘sembunyi.’ Chace kembali menatap Frisco yang masih belum beranjak dari meneduhi atas tubuhnya. Frisco bertumpu dengan kedua lengan di sisi tubuh Chace. Kenapa dia tidak lebih condong lagi?

 

“Kamu lelah?” Tanya Frisco.

Chace menggeleng. “Aku bahagia…” Jawabnya.

Frisco bergerak ke samping Chace, ikut menyandarkan punggungnya di bagian belakang boat. Mereka rebah berdampingan. Chace mendesah kecewa, seharusnya Frisco menjatuhkan diri diatasnya, bukan di sampingnya.

“Kau harus lebih sering menikmati hari liburmu, Chace. Satu hari saja dalam satu minggu. Seperti sekarang… pangkas sedikit waktu kerjamu, dan bersenang-senanglah.”

Chace terdiam, membuat Frisco menoleh padanya, membuat sisi wajahnya hampir bersentuhan dengan puncak hidung Frisco. “Sometimes.. aku membayangkan bila aku masih remaja.” Chace menutup matanya. “Tapi aku tak melihat apa-apa dalam bayanganku itu selain dari tumpukan buku di ruang didikku. Aku tak melihat hal-hal seperti yang kita lakukan hari ini, Fris. Aku tahu hal itu ada, tapi aku tak mempunyai gambarannya dalam memoriku. Aku… lonely…” Mata Chace mengerjap. “Tapi denganmu hari ini… seperti duniaku baru saja dimulai. My life begins…”

Frisco tersenyum, memalingkan wajahnya lurus kembali. “Aku juga tak punya masa remaja yang meledak-ledak dan menyenangkan. Aku melewati masa itu sewajarnya. Tapi aku senang melihatmu menikmati hari ini. Semoga ini bukan hari liburmu yang terakhir denganku…”

“Jika kau mengajakku untuk membagi balon lagi minggu depan, aku akan ikut dengan senang hati.”

Frisco tertawa. Sesaat kemudian menoleh lagi pada Chace, justru di saat itulah Chace juga sedang berpaling ke arahnya. Tak terelakkan, puncak hidung mereka bersentuhan, tapi tak ada yang berusaha berpaling menghindar. Mereka saling menatap, dalam dan lama. Frisco tewas. Dia tak mampu menahan diri dengan pesona Chace, dia bertekuk lutut di depan manis yang dimiliki Chace. Bahkan sejak melihat cetak kertas Chace dulu, Frisco yakin dirinya akan terbakar sendiri. Tapi dia menerima tawaran itu.

Dan Frisco terbakar sudah, dia nekat mendekatkan bibirnya ke bibir Chace. menempelkan bibirnya dan diam tak bergerak di sana, matanya terpejam. Sekarang justru Chace yang diamuk rasa dan gejolak. Dia sudah merasakan gejolak itu sejak melihat Frisco di pustakanya malam itu. Dan sekarang, saat Frisco sudah sedekat ini, Chace menggila sudah. Dia merangkul leher pria itu dan melumat bibir yang tepat berada di depan bibirnya, perlahan dan menikmati. Chace tak bisa berhenti, bibirnya menghendaki lebih banyak. Gerakan perlahannya berubah menjadi lumatan dalam dan menuntut. Frisco mengerang, sekali tangannya bergerak maka tubuh Chace sudah berada di atasnya. Mereka mencumbu dan terus mencumbu. Bahkan riak perahu serasa menjadi pelengkap yang membuat mereka semakin hanyut.

Chace mengangkangi pinggang Frisco, menekan dirinya di sana sambil mencumbui pria yang telentang di bawahnya semakin liar. Tangan Frisco melingkar di pinggul Chace, seakan mengunci agar Chace tetap di atasnya jangan beranjak. Frisco bahkan sanggup jika harus menjadi alas tidur Chace malam ini. Tapi mereka hanya punya ciuman, untuk sementara ini.

Chace menarik diri dari bibir Frisco. Mereka kembali saling menatap. “A… a… aaku…” Chace tak hanya kikuk, belum ada pria yang membuat Chace kehilangan kata-kata sampai Frisco melakukannya.

Frisco menyentuh bibir Chace dengan jemarinya sambil menggeleng pelan. “Don’t say anything… biarkan ini berjalan sendiri.”

Chace menurut, dia diam. Lagipula, dia telah kehilangan kata-katanya barusan saja. Disentuhnya jemari Frisco dengan ujung lidahnya, mengecup jari-jari itu pelan lalu menggenggamnya. “Sepertinya kita harus pulang Fris, sungai sudah penuh siluet gedung-gedung. Matahari sudah menghilang.” Chace melerai lengan Frisco di belakangnya lalu bangun dari pinggang lelaki itu. Chace takut dan menyadari sepenuhnya, jika dia tidak menarik diri sekarang maka dia bisa hangus terbakar tak bersisa di atas Frisco.

Frisco ikut bangun. “Ya, aku tidak mau disangka membawamu lari.” Ujarnya berkelakar, lalu bergerak ke haluan boat.

Chace ikut berdiri di samping Frisco di dekat kemudi. Boat kecil itu kembali bergerak tenang di permukaan sungai.

***

Dan minggu-minggu selanjutnya mereka semakin intim. Mereka menghabiskan sepanjang hari libur bersama. Mengunjungi tempat-tempat wisata, berbaur dengan turis dan bersiar-siar di Buckingham Palace di satu hari, dan di London Eye pada hari libur lain. Ikut histeris di Madame Tussaud’s saat mengambil gambar bersama patung-patung lilin di sana, dan having fun di Piccadilly Circus di hari minggu selanjutnya. Chace juga sempat bermanja-manja bersama Frisco ketika taksi mereka melaju di London Bridge. Mereka menjelajah kota London berdua dan mereka dimabuk cinta.

Chace lepas bersama Frisco. Dia sadar telah menempatkan kepentingan dirinya di atas pekerjaan dan tetek bengek mempertahankan tahtanya. Chace seperti memperoleh masa remaja di masa dewasanya. Rumus hidupnya berubah menjadi formula baru, kecil dewasa lalu remaja. Banyak hal gila dilakukannya dengan Frisco. Dan dia menyukai setiap kegilaan itu. Chace mulai melupakan statusnya sebagai raja di kerajaannya. Dia mulai membebaskan diri dari jam-jam kerjanya.

***

Frisco menutup telepon. Menatap benda itu lama. Lagi, dia baru saja melaporkan perkembangan kinerjanya. Sekarang jam 2 dini hari. Itu telepon terlarut yang pernah diterimanya dari sang atasan. Seperti biasa, Frisco melangkah ke rak botol setelahnya. Saat mendekatkan mulut gelas ke bibirnya, pandangannya menangkap lembar foto pada dinding di depannya, hanya 3 lembar foto. Fotonya bersama Chace saat sedang di taman, bersama balon-balon mereka. Chace memaksa Frisco mengambil foto itu untuk dibawa pulang. Frisco meletakkan gelasnya yang masih penuh lalu melangkah ke dinding. Disentuhnya foto itu. Aku mencintainya, sungguh. Aku tidak akan pernah siap menjadi orang yang paling dia benci…

 

Frisco melempar tubuhnya ke ranjang, malam ini dia melewatkan isi gelasnya. Frisco mengerang, satu detik kemudian dia bangun dari ranjang. Bergerak cepat mengambil kausnya lalu segera keluar. Aku harus mengatakannya sekarang.

Frisco mematung di depan pintu samping rumah Chace. Tak menyangka dirinya nekat menyelinap kemari, mengendap-ngendap tanpa memicu alarm. Frisco melangkah ke arah kamar Chace. Dia tahu persis dimana letaknya, kunjungan-kunjungannya ke sini membuatnya tahu.

Frisco memanjat. Ya, dia memanjat. Pilar dan pipa membantunya memanjat di dinding untuk menjangkau rangka balkon kamar Chace. Frisco cukup terlatih melakukan hal yang baru saja dilakukannya. Dan sekarang dia sudah berada di depan jendela lebar kamar Chace. Di dalam sana gelap. Chace pasti tengah terlelap di ranjangnya. Frisco mengetuk kaca, dua ketukan pelan. Menunggu beberapa saat sebelum mengetuk lagi. Frisco kini berbisik memanggil Chace di sela bunyi yang ditimbulkannya di kaca Chace.

Frisco berhenti saat mendengar suara rangka ranjang berderit di dalam sana. Chace terbangun. Lalu tirai putih jendela itu tersibak, Chace tidak menyalakan lampu utama di dalam kamarnya saat bangun baru saja. Tampang Chace penuh kejut. Lalu dia segera membuka pengait jendela dan menggesernya ke samping.

Hi…” Bisik Frisco saat dia sudah berhadapan dengan Chace.

Chace tak membalas. Sebaliknya langsung menarik Frisco dan memeluknya erat. Menyerang bibir tetangganya itu dengan hasrat yang mengganas. Chace membawa jemarinya ke rambut gelap Frisco dan mencengkeram di sana. Hasrat membakarnya, panas dan membara. Mereka bergelut di antara tirai jendela yang melambai dihembus angin. Chace membiarkan jendela terbuka. Frisco menggendong Chace di depannya. Balas mencumbu bibir Chace penuh rindu dan hasrat tak kalah hebat, padahal mereka baru berjumpa sore tadi. Dan Chace, baginya tak ada yang lebih membuat bahagia selain berada dalam pelukan Frisco seperti sekarang ini. Dia mengunci tungkainya di pinggang Frisco, bergerak liar di tengah-tengah tubuh Frisco yang keras dan berkarakter. Chace menyelaraskan gerak tubuh dan bibirnya pada lelaki yang berhasil menyelinap ke kamarnya dini hari ini. Bahkan Chace tak mau repot-repot mencari tahu bagaimana Frisco bisa tegak di depan jendelanya. Chace hanya ingin tenggelam bersama pria ini, rela jikalau harus mati lemas sekalipun.

Frisco menarik wajahnya begitu sadar apa tujuan awalnya menyelinap kemari. “Ada hal yang ingin kubicarakan…” Ucapnya sambil menatap mata Chace. “Aku…”

“Ssshhh…” Chace menaruh jarinya di bibir Frisco. “Aku tahu…” Lirihnya.

Frisco menggeleng. “Tidak… kau tak tahu Chace…”

Tapi Chace tak mau mendengar apa-apa, dia kembali mencumbui Frisco. Kembali bergerak dalam dukungan pria pertama yang membuatnya tahu bagaimana rasanya sebuah cinta. Dia tak mau memberi kesempatan pada Frisco, Chace terus mendominasi dalam gendongan Frisco.  Hasrat Chace membuat Frisco kewalahan dan luluh. Chace terlalu manis untuk diabaikan. Sama seperti saat di perahu, Frisco bertekuk lutut.  Lalu Frisco menggendong Chace ke ranjangnya sendiri. Dia mendaki pelan ke pembaringan Chace dan terlentang pasrah membiarkan Chace membakarnya dari atas. Frisco mendekap Chace lebih erat di dadanya, membiarkan Chace menarik lepas kausnya kemudian dan merasakan sentuhan kulit telanjang Chace disana, di badan telanjangnya. Frisco kalah, dia berguling ke atas Chace. Frisco memberi serangan balik pada Chace, mengintimidasi bibir pria yang sekarang terlihat pasrah di bawahnya.

Mereka terbakar. Frisco mengangkat sedikit tubuhnya saat tangan Chace terulur ke bagian bawahnya, jeans-nya tidak boleh ada di sana. Dan Frisco mengerti, dia bangun untuk melucuti pakaian bawahnya sendiri, lalu dengan beringas melakukan hal yang sama pada pakaian bawah Chace. Mereka terbuka kini. Frisco bergerak seperti sepatutnya, menjadikan Chace bagaikan peta. Yang dibentangkan untuk dipelajari seluk beluknya, untuk diselami lembah dan lautnya, juga hutan dan gua-gua di dalamnya. Frisco tak pernah tersesat, dia tahu dimana jalan Chace telah dibangun untuknya. Frisco menjadi petualang di atas peta Chace, entah berapa lama sampai dia mendapatkan Treasure-nya. Petualangannya selesai disaat Chace meringkuk rapuh dalam dekapannya. Seakan harta karun Chace terkeruk habis tak bersisa oleh Frisco. Sang petualang.

Frisco mengecup dahi Chace setelah getaran pada diri mereka lenyap menyisakan bulir-bulir peluh di kulit mereka. Frisco menyingkirkan helai-helai kecoklatan dari dahi Chace sebelum mengecupnya sekali lagi. Chace mendesah dan memperketat rangkulannya di pinggang Frisco, matanya terpejam. Frisco menarik selimut menutupi mereka berdua. Selanjutnya membawa satu lengannya mendekap kepala Chace dan satu lengan lain merangkul pinggang Chace hingga ke punggungnya. Itu membuat Chace melekat ketat di depannya. Dia terlelap seiring nafas Chace yang menghembus teratur di dadanya.

Bersama Chace, Frisco lupa kalau dirinya juga bisa membuat pria yang dicintainya ini akan meradang terluka. Cepat atau lambat.

***

Chace terbagi, dia tak lagi semata-mata fokus pada perusahaannya. 75% pikirannya sekarang tertuju buat Frisco, waktunya lebih banyak dihabiskan bersama pria itu. Tidak terbatas pada hari minggu saja. Chace merasakan hidupnya penuh cinta. Pikiran untuk menyerahkan beberapa tanggung jawab pada pamannya –Marvin mulai melintas akhir-akhir ini. Tidak, bukan beberapa tanggung jawab, Chace mulai memikirkan kemungkinan menjadikan Marvin wakil direktur. Dengan begitu, segala urusan akan ditangani sang paman dan dia bisa lebih banyak lagi menikmati cintanya dengan Frisco.

Chace baru turun dari Limo bersama Frisco di depan beranda, mereka baru pulang dari Candle Light Dinner yangentah ke berapa kali. Chace buru-buru melepaskan tautan jemarinya dan Frisco ketika mendapati Marvin sudah duduk di sofa ruang depan rumahnya. Mengapa Maddy tak memberitahu kalau Marvin datang? Chace mendumel dalam hati, nasib baik dia tak masuk rumah sambil berganyut di bahu Frisco seperti kebiasaannya akhir-akhir ini. Lalu Chace ingat, bukan salah Madelaine yang tak mengabarinya, tapi dia sendiri yang meminta Marvin datang malam ini, untuk membicarakan pelimpahan wewenang. Terbayang di fikiran Chace ketika Marvin datang dan memberitahu Madelaine kalau dia sudah membuat janji dengan keponakannya malam ini, jadi tak perlu repot-repot bagi Maddy untuk mengabari Chace kalau Marvin sudah datang.

Mengapa Chace sampai lupa diri begini? Jawabannya Frisco, pria tampan di sisinya yang berdiri diam saat melewati ruang depan.

Marvin berdehem. “Madeline sudah membawa minum tambahan untukku beberapa menit lalu…”

“Maaf membuatmu menunggu, Marv.” Balas Chace.

Marvin menyeringai. “Kau terlihat bahagia, Son…” Marvin melirik Frisco. “Aku gembira melihatmu bisa sedikit menikmati hidupmu selain bersama kertas-kertas di ruang kerjamu.”

Chace memaksa sebuah senyum. Apa pamannya ini mulai mencium bahwa dia dan pria di sampingnya sekarang ini terlihat tak wajar? Chace jadi ingat saat Marvin menyarankannya mencari pendamping saat ke kantor kali terakhir dulu. “Ehemm…” Dia berdehem canggung. “Fris, kenalkan, ini Marvin Burnaby, pamanku.” Ucap Chace memperkenalkan sang paman pada sang kekasih. “Marv, ini Fransisco Levy…” Ada jeda. “Dia tinggal di ujung jalan sana…”

Marvin menyeringai lalu bangun dan mengulurkan tangannya pada Frisco. “Senang bertemu anda Tn. Levy.” Mereka berjabatan. “Anda tetangga pertama yang dikenalkan Chace padaku.”

Frisco diam. Tak merespon, raut wajahnya tak seperti biasa. Dia melepaskan jabatannya dengan Marvin. Chace menatap dua sosok di depannya dengan alis berkerut. Frisco kaku di depan Marvin.

“Nice to meet you, Mr. Burnaby.” Keluar juga satu kalimat dari mulut Frisco, walau sesudah jeda yang cukup lama dari jabatan tangannya dengan Marvin. Paman Chace itu hanya menyeringai. Frisco lalu berbalik menatap Chace. “Aku ingat harus membeli beberapa barang untuk di rumah…” Ucapnya pada Chace.

Chace mengangguk mengerti. “Okeh… trims sudah menemaniku malam ini.”

Frisco tersenyum untuk Chace, senyum yang dianggap Chace sedikit berbeda, tidak lepas seperti yang biasa dilihatnya pada Frisco.

Good evening Mr. Burnaby…” Lalu Frisco keluar.

“Tetangga yang manis.” Ujar Marvin setelah Frisco menghilang di balik pintu. “Kau tampak begitu akrab dengannya, Chace…” Marvin memandang keponakannya.

Chace tidak merespon. Dia berjalan duduk di sofa yang bersebrangan dengan sofa dimana Marvin duduk tadi. Menghempaskan bokongnya dan duduk selayaknya pemilik rumah, dengan kaki bersilang tinggi dan punggung menyandar rileks. Menegaskan bahwa dialah penguasa di sini. “Aku ingin membicarakan kemungkinan kau akan menjadi wakil pertamaku di Eickhart Industry…”

Dan Marvin tersenyum, janggal dan tak ter-artikan.

***

Chace terbangun jam 4 pagi. Ponselnya berkelip-kelip, Frisco menelepon. Dia memberikan nomor private-nya pada Frisco di hari ketika dia dan Frisco bangun paginya dengan saling memeluk di atas ranjangnya sendiri.

Chace mengeliat dan bersuara serak di corong ponselnya. “Yeah, Fris… nightmare?” Chace menguap, dia disambut hening sejenak. Nafas Frisco terdengar berat. Perlahan Chace bangkit dan duduk di ranjangnya. “Fris, kau baik-baik saja?

Chace mendengar desahan Frisco. “Aku mencoba mengatakan ini padamu setiap ada kesempatan. Tapi aku pengecut, aku terlalu takut. Takut dengan reaksimu, terlebih lagi takut dengan diriku sendiri, ambisiku, keegoisanku. Aku terjebak dalam dilema Chace, dilema antara diriku sendiri dan dirimu…”

Chace tak mengerti satupun kalimat Frisco. “Sayang, kau tidak tidur sejak pulang dari rumahku tadi?” Pertanyaannya dijawab gumam tak jelas dari Frisco. “Fris, aku tak mengerti apa yang kau bicarakan, kau lelah. Aku membuatmu lelah, sepanjang waktu kau berada bersamaku… itu menguras energi dan pikiranmu…”

“Chace, aku…”

“Honey, My dear…” Chace memotong ucapan Frisco. “Aku sudah mengikuti saranmu untuk lebih mengutamakan kebahagianku dan apa yang aku inginkan. Aku ingin bahagia denganmu Fris, jangan bikin aku cemas dengan ucapanmu. Kau bukan pengecut, tidak ada dilema antara kita, okey…!

“Aku tak seperti yang kau fikirkan, Chace…”

“Aku tak peduli.” Chace nyaris berteriak. “Aku mencintaimu, cukup alasan itu yang aku butuhkan untuk menerimamu, apapun dirimu, bahkan jika kau goblin sekalipun.”

Diam, hening merajai antara mereka berdua. Hanya desah nafas yang terdengar. “Sayangnya aku benar-benar goblin.” Ucap Frisco kemudian.

“Dan sayangnya lagi, aku telah jatuh cinta mati-matian pada goblin itu.” Sahut Chace mantap. “Istirahatlah Fris, love you so much…” Chace menunggu Frisco mengatakan kalimat balasan untuk membuat tidurnya kembali indah.

“Apapun yang terjadi nanti…” Frisco menggantung kalimatnya. “Aku ingin kamu ingat satu hal, aku tak pernah bohong tentang perasaanku padamu. Aku tak menipumu dengan cintaku, ini benar-benar tulus, Chace. Aku tak menipu untuk perasaanku padamu. Aku teramat sangat mencintaimu dan tak bisa untuk kehilanganmu…”

Itu cukup. Chace tersenyum sambil merebahkan dirinya di ranjang kembali. Walaupun dia tak mengerti pembicaraan Frisco yang dirasanya aneh, tapi satu kepastian bahwa Frisco tak bisa kehilangannya membuat segala ke-tak mengertian-nya pupus. Chace kembali terlelap.

Sementara di kamarnya, Frisco membanting ponsel hingga beserakan begitu menghantam dinding. Aku tak sanggup, aku tak mungkin sanggup memberitahunya, dia pasti akan pergi dariku. Aku tak bisa kehilangannya. Tapi sampai kapan aku harus membohonginya? Dan botol-botol itu pun berpecahan. Frisco menghancurkan rak minumannya.

***

Chace berseri memegang tiket dan brosur liburannya ke Bali. Ini akan jadi kejutan indah buat Frisco. Sebulan penuh dia dan Frisco akan menikmati keeksotisan pulau yang kabarnya Surga Asia Tenggara, surga cinta baginya dan Frisco. Pantai berpasir putih di Bali akan menjadi saksi kehebatan cintanya bersama Frisco. Chace tak sabar untuk segera sampai di sana, untuk menghabiskan hari-harinya dalam rengkuh Frisco, tanpa diganggu urusan kerja. Ya, Chace telah mempercayakan segalanya pada Marvin. Dia sukses menjadi pria yang bebas, selama dia ingin. Marvin –sang paman akan menguruskan segala urusan menyangkut tahtanya. Ucapan Daddy tentang satu raja untuk satu kerajaan tak lebih dari ngiang tak berarti di telinga Chace sekarang.

Seminggu penuh dihabiskan Chace untuk mencari tahu tempat liburan paling menarik sampai dia menemukan Bali. Jadi sangat wajar jika sekarang dia berlari menuju rumah Frisco, membawa kejutan yang pasti akan membuat Frisco senang. Tangan Chace penuh brosur tentang Bali. Juga satu paket lengkap pelayanan yang telah dibayarnya, dia dan Frisco hanya perlu datang dan bersenang-senang. Chace tak sabar untuk memuntahkan kalimat-kalimat luapan kegembirannya di depan Frisco.

Frisco tak punya pelayan. Chace langsung masuk, dia sudah terbiasa masuk rumah Frisco. Bahkan sampai ke kamarnya suatu waktu dulu. Tapi kali ini langkah Chace tertahan, Frisco tak sendirian di rumahnya.

“Kau hebat. Dan perkiraanku benar. Anak itu tidak terbujuk wanita. Rencanaku dengan menghadirkanmu dalam kehidupannya sukses besar. Tak sia-sia kau tingal di sini. Eickhart Industry tak lama lagi akan jadi kekuasaanku. Aku sudah menunggu saat ini sangat lama sejak Randall dan Lily tewas…”

Chace kenal suara itu. Itu Marvin, pamannya yang sudah terlibat di perusahannya hampir 1 minggu ini. Chace bagaikan dihantam godam ketika mendengar ucapan Marvin selanjutnya.

“Kau berhak atas bayaran itu, Frisco.” Marvin tertawa. “Kau berhasil menipunya, membuatnya lupa diri dan rela mengikuti sugesti-sugestimu untuk meninggalkan pekerjaannya. Aku tak salah memilihmu untuk menjalankan rencana ini. Kita sukses besar. Teruslah membuatnya lena, sementara aku akan menguasai perusahaannya perlahan-lahan. Dan ketika Eickhart Idustry sudah dalam genggamanku, kau akan mendapatkan bagianmu sendiri.”

Chace melihat Marvin tertawa, mereka sedang di ruang tengah. Frisco berdiri membelakangi Marvin dengan kedua tangan dalam saku jeans-nya. Dia diam. Chace merasa ngilu, perih. Hatinya baru saja disayat dan disiram cuka. Matanya berkabut. Frisco tidak benar-benar mencintainya. Semua itu sandiwara, kunjungannya ke rumah sebagai tetangga baru, pertemuan di pemakaman, hari-hari libur mereka dan juga moment indah di kamarnya, semua itu telah diatur. Tak ada yang sungguh-sungguh dari Frisco untuknya, selain kebohongan yang menyakitkan. Semua kebohongan itu, hanya untuk sesuatu yang disebut dengan materi. Ya tuhan, Chace merasa tak berharga kini.

Poor Eickhart…” Marvin masih bernyanyi, tawa tak lepas dari mulutnya. “Hey, Frisco, tidakkah kamu menganggap bahwa Chace adalah anak yatim piatu malang yang bodoh…” Marvin terbahak keras.

Frisco berbalik cepat begitu Marvin selesai dengan kalimat itu, tampangnya mengeras. Dan saat itulah matanya bertentangan dengan mata Chace. Frisco melengak bergetar. Mata Chace sarat duka, perih berjelaga di dalamnya. “Chace…” Hanya itu yang keluar dari mulut Frisco.

Marvin berhenti tertawa. Ikut mengarahkan pandangan ke jurusan Frisco menatap. Marvin langsung pucat.

Chace berusaha sekuat tenaga agar tak terlihat hancur, dia berusaha kuat. “Kau dipecat, Marv…” Ujar Chace buat Marvin. Berusaha setegar mungkin agar suaranya tak bergetar.

Mulut Marvin menganga. Tak ada kalimat yang dapat keluar, kontras dengan sikapnya barusan saja. Rencananya untuk jadi Big Boss di Eickhart Industry gagal sudah. Dia merutuki kebodohannya datang kemari, seharusnya dia membuat janji dengan Frisco untuk bertemu di tempat lain. Marvin bagai penjudi yang kalah di permainan pertamanya saat semua uang sudah dipertaruhkan, membuatnya harus keluar dari Cassino dengan kepala tertunduk.

Chace memandang Frisco kini. “Aku adalah manusia paling bodoh yang rela menyerahkan hati dan jiwanya pada bastard macammu.” Kali ini Chace tak bisa menghilangkan getar dalam suaranya. “Aku begitu bodoh menganggap semuanya sungguh-sungguh. Kau benar, dirimu tak seperti yang kufikirkan…”

Frisco  melihat luka itu, sangat jelas. Dia mengutuk dirinya sendiri yang tak bisa jujur dari awal. Kau jahat Frisco, kau iblis. Apa yang telah kau perbuat? Kau menghancurkan hati pria lembut itu. Kau telah membunuhnya secara tak langsung. Frisco sangat pantas mengutuk dirinya lebih kejam lagi.

“Terima kasih untuk cinta pura-pura-mu…” Chace melempar brosur-brosur itu ke lantai dan bergerak cepat meninggalkan bajingan-bajingan di belakangnya.

Frisco tak mengejar. Dia merasa tak pantas. Dia tak pantas menyentuh Chace lagi dan memelas-melas mengatakan bahwa dia tidak pernah berbohong untuk perasaan cintanya. Bahwa dia sungguh-sungguh mencintai dengan segenap jiwanya. Dia tak pantas. Satu-satunya kepantasan buatnya adalah disakiti balik, disakiti seperti dia menyakiti Chace, langsung ke jantung hatinya. Tapi kemudian Frisco merasakan sakit itu, dia telah kehilangan Chace. Hal yang paling ditakutinya, dia tak bisa lagi memeluk Chace, menjangkaunya pun tak sampai lagi. Frisco mengerang kesakitan. Tak ada yang lebih sakit daripada kehilangan hati yang dicintai.

***

Chace mengamuk. Dia menghancurkan apapun di rumahnya. Puas menerjang benda-benda di ruang depan, Chace beralih ke ruang berikutnya, menghantam apa saja yang dilihatnya. Porselen-porselen megah hancur berderai, jambangan-jambangan berpecahan, meja kaca patah berkepingan. Tidak itu saja, Chace menerjang LCD tv-nya, menghancurkan home theater-nya di ruang tengah, memecahkan aquarium besar di dudut ruang, menghantam semua kaca jendela dengan vas bunga atau benda apa saja yang sanggup dilontarkannya, termasuk kursi kayu cantik mengkilap. Rumahnya porak-poranda. Tak ada pelayan yang berani bersuara, mereka diam selayaknya pelayan. Mengintip takut-takut sang majikan yang sedang menggila. Bahkan Madelaine yang sudah bagai ibu bagi Chace pun tak bisa berkata apa-apa.

Chace berhasil menumbangkan lemari pajangannya yang keseluruhannya adalah kaca, itu benda terakhir yang dilihatnya. Sebelumnya, 2 lemari serupa telah lebih dulu remuk. Lalu pandangannya menyapu seluruh penjuru. Kehancuran di seluruh rumah. Tapi hatinya lebih hancur dari ini. Lalu dia menangis, sesengukan dan jatuh bersujud di lantai penuh beling. Tangannya sudah berdarah sejak pertama masuk tadi, dia sudah lebih dulu meninju jendela depannya sebelum melanjutkan merusak di dalam rumah.

Madelaine memberanikan diri mendekat, dirangkulnya pundak Chace. Madelaine diam, tak bertanya tak bersuara. Chace meraung di riba Madelaine.

“Dia menyakitiku, Maddy… dia menyakitiku…” Rintih Chace pilu sambil berurai air mata di pangkuan Madelaine. “Rasanya sakit sekali… sakit sekali, Maddy…” Chace terisak. “Dia menyakitiku…”

Madelaine tak merespon, dia sangat memahami Chace. perlahan dia membelai kepala Chace di pangkuannya. Sejenak kemudian segera sadar akan tangan Chace yang penuh merah. Madelaine membelalak pada anak buahnya. “APA YANG KALIAN TUNGGU, HAH!” Dia menghardik semua bawahannya yang berdiri mematung di sekitar dirinya dan sang majikan. “DASAR DUNGU!!! Ambilkan kotak medis, BODOH!!!” Dan pelayan-pelayan itu berhamburan ke segala penjuru.

***

Sakit dikhianati paman sendiri tak dirasa oleh Chace. Tapi dengan Frisco? Kian hari rasa sakit itu kian melemahkannya. Dan yang lebih membuatnya perih adalah, kenyataan bahwa Frisco melakukan itu demi materi. Perasaannya sama sekali tak berarti bagi Frisco. Chace hancur bersama perasaannya.

Dua minggu sudah dia terpuruk bersama luka yang tak kunjung mengering. Chace benci dirinya sendiri saat hari-hari sepinya mengusik kesadaran bahwa dia masih teramat mencintai Frisco. Masih berharap kalau Frisco serius dengan ucapannya di telepon awal pagi itu. Tapi mustahil, Frisco adalah iblis. Iblis tak punya apa yang dikatakan cinta. Frisco tak sungguh-sungguh dengan ucapannya di telepon, Chace sangat yakin itu.

Lalu Chace dimamah sepi, nelangsa tak kunjung menjauh, dia terpuruk. Namun perasaannya pada Frisco tak pernah berubah, masih tetap sama. Chace kerap mencari-cari bayang Frisco di biliknya saat malam-malam menjelang, menggapai-gapai berusaha menemukan bayang itu. Namun nihil. Chace mengerang pedih di ranjang sepinya. Sungguh kasihan, sepi dan pedih itu terus berlanjut berhari-hari ke depan.

***

Satu sore di tepian Sungai Thames…

Angin membelai perlahan di kulit Chace, dia duduk menyendiri di pinggiran Sungai Thames, di sebuah bangku kayu panjang di bawah pohok Ek yang berjejer tumbuh di pinggir sungai bagian ini. Chace memejamkan mata meresapi hembus angin di helai-helai rambutnya, merasa nyaman. Lebih tiga bulan sejak hatinya dijungkir-balikkan oleh sesuatu bernama cinta. Ternyata cinta tidak seindah yang diketahuinya.

Dan masa lebih tiga bulan belum cukup bagi Chace untuk membunuh perasaan cintanya. Dia masih sering mengingatnya bersama kursi kayu tempat dia menghabiskan hujung harinya sepanjang bulan ini, masih sering berbisik sendiri bersama desau angin di bawah pohon Ek tua ini, pun masih sering mengerjap membuat bulir bening meluncur di sisi wajahnya untuk kemudian disambut rumput hijau di bawah sana. Chace hanya cukup mendesiskan satu nama saja untuk membiarkan semua itu menderanya, satu nama saja semisal ‘Frisco.’

Chace membuka matanya dan menoleh ke samping saat dalam pejamnya dia menyadari bahwa ada sosok lain yang duduk di bangku yang sama, di sampingnya. Dia membuka mata karena serasa mengenal harum segar yang masuk indera penciumannya, merangsang saraf di sana untuk kemudian mengirimkan pesan ke hati dan pikirannya bahwa sudah sangat lama dia merindukan harum itu. Harum Frisco.

Chace terpana lama ketika sudah menoleh. Sosok itu bergeming di sampingnya, duduk tegak menatap lurus ke depan, ke perahu-perahu kecil penuh berisi pasangan-pasangan yang sedang diamuk cinta di atas sungai sana. Kedua tangan dalam kantong jaketnya. Tak bersuara, juga tak menoleh.

Chace masih menatap sisi wajah sosok kokoh di sampingnya. Menatap penuh rindu dan cinta. Matanya pun lupa untuk berkedip. Ini bukan mimpi, Chace tahu ini nyata. Pria di sampingnya benar-benar ada di sampingnya. Chace bergetar dan nyaris menggelepar saat gelombang rasa rindu itu menghantam pilar-pilar hatinya. Dia rindu berganyut pada pria ini, rindu berada dalam dekapannya, rindu untuk kembali bisa menyentuhnya. Meski sakit pernah diciptakan untuknya, Chace tak pernah benar-benar membuang cintanya pada pria ini. Tak pernah berhenti berharap kalau suatu saat dia akan menemukannya. Dan sekarang lah saat itu.

“Aku ingin kamu tahu satu hal, aku tak pernah bohong tentang perasaanku padamu. Aku tak menipumu dengan cintaku, ini benar-benar tulus… Aku teramat sangat mencintaimu dan tak bisa untuk kehilanganmu…” Wajah itu tak menoleh.

Chace dapat melihat dengan jelas gerak bibir itu saat kalimat yang pernah didengarnya dulu diulang kembali, begitu lirih. Beberapa detik setelah berucap demikian, sosok itu menoleh. Chace menemukan luka dan kesakitan yang sama pada bola mata yang sekarang tampak berkabut itu. kesakitan serupa yang ada pada dirinya. Frisco sakit karena kehilangan. Lalu Chace yakin, dia telah mengharapkan pria yang tepat.

“Aku tak sanggup menahan derita lebih lama lagi karena kehilanganmu… aku tak sanggup, Chace…”

Itu saja yang diperlukan Chace, kepastian bahwa yang didengarnya dulu adalah kesungguhan tak terbantahkan. Dia rela ditipu berkali-kali asalkan dia tak ditipu tentang cinta, Chace rela kehilangan segala tahtanya demi menemukan satu cinta. Cukup satu cinta saja. Lalu dia melabuhkan kepalanya di bahu pria ini. Mereka menangis.

“Aku tak tahu bagaimana caranya hidup ketika tak lagi menemukanmu di sisiku, Fris. Aku tak tahu caranya hidup tanpa cintamu… sungguh aku tak tahu bagaimana caranya…” Bisik Chace seakan mengurai segala perih yang sempat tercipta untuknya dan Frisco.

Frisco membawa satu lengannya merangkul pinggang Chace dan tangan yang lain mendekap kepala Chace di dadanya. Di kecupnya puncak kepala Chace penuh rindu, lama dan dalam. Cairan bening menggenang di sudut matanya. “Aku rela menukar apapun yang kumiliki demi bisa mendekapmu seperti sekarang, aku rela mati untuk ini, Chace…”

Chace mendongak dari dada Frisco. Dibingkainya wajah Frisco dengan dua tangannya. Jarinya menyeka sudut mata Frisco, sedangkan matanya sendiri tidak kering. “Kau tak perlu menukar apapun, Fris. Kau hanya perlu memberiku cinta setulus ini, dan aku akan dengan rela menempatkan hatiku selamanya berdampingan dengan hatimu. Aku akan rela berada dalam dekapanmu hingga maut memisahkan…”

Frisco tersenyum lalu membalas menyeka mata Chace sambil mendekatkan wajahnya pada sang kekasih. Hidung dan kening mereka bertempelan.

“Kau satu-satunya pria tempat aku bersandar Fris…” Bisik Chace penuh rasa. “Please, never let me go…”

“Aku tidak mau jadi manusia bodoh dengan melepaskanmu untuk kedua kalinya…”

Lalu bibir mereka menyatu. Frisco bangkit berdiri. Chace berganyut di leher Frisco sementara tetangganya itu mengayunkan tubuh Chace di depan tubuhnya. Mereka tersenyum, berciuman sekali lagi lalu bergandengan tangan berjalan menyusuri tepian Sungai Thames. Keduanya bergerak bahagia di bawah guguran daun-daun kuning oranye dengan jemari bertaut erat. Angin sore berhembus damai mengikuti langkah mereka…

***

*Halaman terakhir dari buku catatan Chace Eickhart*

 

Aku menemukannya

Dengannya aku menemukan duniaku

Dengannya aku menemukan senyumku

Dengannya aku menemukan kebebasanku

Dengannya aku menemukan jalanku

Dengannya aku menemukan rumahku

Dengannya aku menemukan nyawaku

Dengannya aku menemukan hidup dan matiku

Karena hanya bersamanya,

Aku menemukan cintaku…

Cinta itu bernama Frisco…

 

 

 

Awal April 2012

Sebuah persembahan dari hati kepada hati

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com