an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

SELAMAT BERPUASA bagi yang menjalaninya. Bagi yang tidak menjalani, ayo berperan serta menikmati bulan ini. Caranya? Bangunkan kawan-kawan yang berpuasa untuk sahur. Kekekeke… sungguh, bangunin temen kita untuk sahur itu mengasyikkan loh. Konon lagi yang kita bangunin itu adalah pacar kita, aow aow aow… bayangkan, kita bela-belain set alarm di hape tepat dini hari saat jam sahur trus kita nelpon sang pacar nyuruh dia segera cuci muka dan makan menu sahurnya. Uuhhh, momen indah yang jarang-jarang kan? Yang LDR pasti sangat menikmati tuh yang namanya saling bangunin untuk sahur.

Hehehe. Tanpa ditanya, aku mau ngasih tau kalau playlistku sekarang penuh lagu-lagu nasyid, ini masa yang bagus untuk memanjakan kuping dengan genre musik demikian. Para sahabat pasti juga punya playlist religi kan? Tentu. Ada yang sudah meniatkan untuk hanya mendengar lagu-lagu religi saja sepanjang bulan puasa tahun ini? Kekekekeek, kalau ada, aku kasih jempol banyak-banyak.

Lalu kepada seluruh sahabat yang sempat mampir kemari, aku mohon dimaafkan atas segala salah dan silapku selama berkata-kata di tiap tulisanku. Di pengantar cerita atau di kolom balasan. Berikan aku maaf yang tulus ya, sebagaimana ketulusanku buat sahabat sekalian. Nayaka sungguh-sungguh minta maaf, aku yakin banyak para sahabat yang tersakiti dengan huruf-hurufku. Pasti ada. Tapi aku juga yakin kalau aku pasti dimaafkan (Nay pede gila!)

Yep. Inilah dia. Cerbung keduaku setelah Love Actually. Mudah-mudahan bisa diterima sebaik LA. Judulnya panjang ya, tapi ceritanya gak panjang kok. Aku jadwalkan selesai dalam satu bulan, hanya beberapa kali postingan saja. Semoga aku mampu menulis cepat dan mempublishnya 2 kali seminggu.

Sedikit tentang cerbung ini. Jika kalian mengharapkan konflik yang mengaharu biru, aku jamin kalian gak akan dapat. Tulisan ini datar, gak meledak-ledak (semua tulisanmu kan memang gitu Nay) iya iya, semuanya memang datar. Tapi ini lebih datar lagi. Dari awal aku niatnya hanya sekedar memberi hiburan di tempatku ini, mencoba menemani sahabat di bulan ini dengan tulisanku. Jangan dibawa serius ya, hanya baca saja. Beberapa sahabat sebelum ini ada yang email menanyakan cerbung religi, lucu ya… kayak grup band aja punya album religi. Yah, mungkin aku juga sih yang terlanjur pernah berkoar-koar bilang kalau mau bikin cerbung di bulan puasa nanti dengan tema islami. Tapi tulisan ini gak pantas disebut cerbung islami, temanya masih seputaran kita, hanya saja aku mengambil setting waktu di bulan puasa, jadi ya begitulah.

Udah panjang nih. Sebelum kena sambit sandal jepit, aku akhiri deh. Semoga kalian menikmati membaca RAMADHAN Dan SYAWAL Di MUSIM BEDUG seperti aku menikmati saat menulisnya.

Wassalam

n.a.g

#####################################################

Kalian sepertiku? Of course, kita sama. Remaja, cowok, puber yang aneh, hormon yang sedang meningkat, kelamin yang bertransformasi, bulu tipis dimana-mana, gaya khas, wajah belia, beberapa yang berjerawat, plus orientasi seks yang tak biasa. Keberatan jika aku sebut unique? I hope not. Aku tak mau disebut menyimpang, itu terdengar seperti sebuah pelanggaran dan pelanggaran selalu berakhir dengan sanksi, dan percayalah… tak ada sanksi yang menyenangkan. Sama halnya bahwa tak ada api yang dingin, es yang panas, cabe yang manis atau tebu yang pedas. Begitulah, tak ada sanksi yang indah, sanksi selalu saja tak enak. Jadi, berpredikat sebagai remaja laki-laki yang suka cowok cakep bagiku bukan pelanggaran. Bukan pula sesuatu yang menyimpang. Tapi aku memandang keadaanku sebagai apa adanya diriku. Kamu ingin jadi bagaimana, maka begitulah dirimu. Formula simpelnya, aku adalah apa yang seharusnya diriku menjadi. Semoga kalian setuju.

Lupakan. Aku tak menulis ini untuk memaparkan pandanganku tentang dunia kita. Aku ingin bertutur. Mendongengkan sebuah kisah yang aku niatkan bukan untuk me-ninabobo-kan kalian. Hanya sebuah cerita, sebuah dongeng, tapi bukan dongeng sebelum tidur.

Aku mulai…

Once upon a time, sebuah truk berhenti di depan rumahku. Truk itu penuh barang, ada keluarga baru yang akan jadi tetanggaku. Rumah di depan rumahku bukan lagi rumah kosong sejak hari itu, keluarga pemilik barang-barang dalam truk besar tersebut akan menjadi penghuni barunya. Oh, senangnya punya tetangga baru. Tuhan, kabulkan pintaku… aku ingin keluarga itu punya personel yang seusiaku, satu saja cukup. Harus cowok, harus cute, jika tidak cute…? Hemm… bagaimanapun caranya, Tuhan… ubah dia jadi seperti itu.

Then…

One day in my classroom. New student, tidak… dia tidak seperti new student kebanyakan yang selalu digambarkan sempurna dalam kisah-kisah percintaan romantis. New student dalam kisahku ini tidak begitu, maksudku… tidak sesempurna itu. Dia tak punya mata elang, tidak punya bibir tipis merah saga, tidak punya hidung runcing tinggi, tidak punya rambut spike yang keren, juga tidak punya kulit seputih porselen atau badan berotot kotak-kotak. Tapi dia punya kacamata. What? Kacamata? Apa nilai lebihnya? Tidak ada, hanya saja aku selalu suka bila melihat cowok berkacamata, karena aku juga berkacamata. Silakan cap aku orang aneh, yeah… that’s  me.

Namanya Syawal Rizkiyul Akbar. Jika kalian bilang waow, aku juga bilang begitu saat mendengar dia memperkenalkan namanya di depan kelas. Dia memang tidak punya mata elang, tapi dia punya alis lebat bagus. Tidak punya bibir tipis merah saga, tapi punya senyum manis dari bibir merah muda. Tidak punya hidung tinggi mancung, tapi punya rahang persegi untuk membuat hidung kecilnya tak tampak jelek. Tidak punya rambut spike tapi punya helai-helai keriting bergelung acak di sekitar wajahnya. Tidak punya kulit seputih porselen, tapi punya warna eksotis yang cerah. Tidak punya badan tinggi berotot, tapi punya postur ideal untuk ukuran seorang remaja enam belas tahun. Sembilan, itu nilainya. Andai dia sedikit lebih jangkung lagi dari Yazir -ketua kelasku, pasti nilainya akan jadi sepuluh.

Doaku terkabul. Sejak itulah hidupku adalah dongeng, Syawal menempati sebuah kamar di dalam rumah di depan rumahku. Ya, dialah juga yang jadi tetangga baruku bersama keluarganya. Day after day, tanpa alpa waktu berjalan jauh menambah umur dunia. Seperti halnya sebuah dongeng, tentu saja harus indah. Syawal melihatku -Riyadul Adli Ramadhan- yang juga melihatnya. Aku yakin, dia melihatku karena merasa punya kesamaan, aku adalah satu-satunya cowok berkacamata di kelas selain dia. Atau karena aku satu-satunya orang yang selalu duduk di sampingnya di bangku pada baris paling depan. Duo rabun –begitu mereka menjuluki. Yah, setidaknya ada dua orang bukan? Jadi tak perlu merasa keberatan memikul julukan rabun sendirian.

Lalu karena apalagi? Pasti karena aku satu-satunya orang yang selalu berada di boncengan skuternya tiap pagi menuju sekolah yang jauhnya lima kilometer dari gerbang rumahku dan rumahnya. Juga karena aku jadi satu-satunya orang yang diperbolehkan menganggap kamarnya seperti kamarku sendiri. Satu-satunya alasan yang masih aku sangsikan kenapa dia bisa melihatku adalah… aku yang kata teman-temanku sebagai si-mata-empat-baik-budi-baik-bahasa yang mudah membuat orang jatuh sayang. Si Mata Empat, itu julukan gila dari teman-teman gila di kelasku sebelum dia muncul sebagai murid baru dan mengubah predikat bagiku juga bagi dirinya sendiri.

Mudah membuat orang jatuh sayang? Entahlah, yang pasti Syawal pernah mengaku suka dekat-dekat denganku –selain karena sebagai tetanga tentunya- karena aku punya sifat baik dan tahu caranya bersahabat. Mungkin sifat supelku itu yang diasumsikan oleh teman-temanku sebagai mudah membuat orang jatuh sayang. Yep, aku sangat tahu kalau teman-temanku menyayangiku. Terbukti, aku tak pernah berkasus dengan salah seorang pun dari mereka.

Bukti lainnya jika aku disayang adalah, semua teman-temanku hadir menjenguk ketika aku diopname nyaris dua minggu penuh karena thypus saat masih kelas satu dulu. Aku masih menyimpan buku berisi tanda tangan dan ucapan-ucapan mereka yang mendoakan agar aku cepat sembuh. Teman-temanku sungguh kreatif ya? Buku itu mereka berikan sebagai kado saat menjengukku dulu.

Dhan, cepat sembuh ya… [Mura]; Kamu sakit, seluruh kelas ikut sekarat, buku kas kita juga sekarat, cepat sehat, bantu aku nagih uang kas lagi [Cinta]; Aku dan kelas kita merasa kesepian [Yazir]; Harus cepat sembuh, gak enak piket kalo kamu gak ada [Wardah]; Ohh Dhan, I miss u so much, cepat baikan dan segeralah masuk sekolah [Raiya]; Kangen kacamata kamu, Dhan… salam dari pengurus mading, rubrik OASIS kita kosong edisi bulan ini [Aria]; Lekas sehat bro, pe-er fisikaku salah mulu… [Jun] dan seterusnya, begitulah kalimat-kalimat dalam buku itu. Kalimat-kalimat yang membuktikan kalau mereka menyayangiku. Ahh, aku suka terharu bila ingat itu. Jangan iri denganku.

Kembali ke kisah ini. Tidak butuh waktu lama bagiku dan Syawal untuk jadi karib, sebangku, se-skuter, selorong bahkan sehadapan pintu rumah, dan kadang sebantal saat jatuh lelah setelah mengerjakan tugas. Dan akhirnya cinta menemukanku dan Syawal, cinta menelusup dalam hubungan ke-kariban-ku dan Syawal.

Hanya butuh satu kali saling pandang untuk membuat kalian sama-sama menyadari kalau hati memang bertaut. Satu kali saling pandang dimana isi hati terbaca di dalam mata. Kemudian kalian akan melihat bagaimana mata berbicara untuk menjelaskan semua isi hati itu satu sama lain. Jelas dan terang seterang lentera di tengah pekat.

Begitulah saat cinta memberontak keluar dari satu sudut dalam hatiku dan hati Syawal. Tak ada kalimat ‘Maukah kamu menjadi pelengkap hidupku?’ Atau ‘Bersediakah kamu mengisi hatiku dan jadi belahan jiwaku mulai kini?’ Atau yang khas remaja labil dalam kalimat seperti ini, ‘Gue sayang sama elu, lu mau kan jadi beibeh gue?’ Tak pernah ada kalimat-kalimat tanya serupa itu dariku atau dari Syawal.

First kiss, itu jadi satu-satunya tanda jika cinta memang ada antara aku dan dia. Melepas kacamata, jatuh sebantal di lantai –lagi- seperti selalu, saling menatap, wajah yang mendekat, sama-sama sayu, sama-sama terpejam lalu bibir bertemu. Satu ciuman untuk menjelaskan sejuta rasa atas nama cinta. Lalu kalimat ini menjelaskan semuanya, ‘Dari dulu aku selalu mencita-citakan ciuman pertamaku harus dengan orang yang sungguh-sungguh kucintai dan bersungguh-sungguh mencintaiku…’ dari bibir Syawal. Apalagi yang belum jelas? Jadi, aku hanya mengangguk satu kali waktu itu sebelum menikmati second kiss-ku dan seterusnya bersamanya.

Lalu kisahku dan Syawal melewati musim-musim. Musim semai, musim tanam, musim panen, musim durian, musim rambutan, musim bawang merah, musim kayu manis, musim jeruk purut, musim terung belanda, musim ember anti pecah, musim bulu mata anti badai, musim kawat gigi, musim kawat jemuran, musim hujan, musim kemarau, musim kawin, musim rujuk hingga musim boyband dan marching band. Begitu banyak musim yang sudah kutandai di almanak kisahku, kisah Ramadhan dan Syawal. Yah, meskipun itu hanya musim-musim yang singkat, tapi tetap saja sebuah musim bukan?

Kali ini, aku ingin menulis satu kisah yang sama lagi di musim yang berbeda. Kisah Ramadhan dan Syawal di Musim Bedug. Musim bedug pertama bagi kisah Ramadhan dan Syawal. Ketika kisah ini selesai, maka aku akan menandai satu musim lagi di almanak kisahku… musim bedug, tentu saja.

Aku akan bertutur dimulai dari ambang musim ini…

***

Sepenggal syair untuk Ramadhan sebelum Syawal…

Bulan itu bulan kita para ummat

Bulan baik penuh berkah dan rahmat

Dulu, kini dan nanti

Jika DIA mengizinkan maka akan berzaman setelah ini

Ummat berdendang suka cita menyongsongnya

Islam berhias di wajah-wajah para mukmin

Islam bernafas dalam ruku’ dan sujud para muslimin

Islam berteriak dalam gaung lafas dari bibir-bibir para muazzin

Dalam takbir-takbir para imam

Dalam amin al-fatihah para makmum

Pun dalam ayat-ayat mereka yang tadarus

Begitulah bulan itu

Begitulah lazimnya musim itu

Bedug dan imsak

Berbuka dan ber-saum

Api-api terbelenggu satu musim penuh

Syurga berhias diri dalam wewangian kasturi

Betapa mengagumkannya

Bulan itu sejuk bak telaga kausar

Musim itu teduh bak taman Firdausi

Dan akan memayungi kaum mukminin

Seperti arash yang memayungi eden

Dikhabarkan dosa diampunkan

Diberitakan pahala dilipatgandakan

Alangkah bertuahnya ummat

Lalu…

Dimana posisi kita?

Dimana posisi Ramadhan yang tak terpisahkan dengan Syawal?

Kita hamba

Kita ummat

Laksanakan kodratmu sebagai hamba

Tunaikan ibadahmu sebagai ummat

DIA yang Maha Menentukan

Maha Tahu akan jiwa-jiwa hamba-Nya…

Ramadhan pasti kan bertemu Syawal…

Niatkan dengan hati jernih dan jiwa bersih…

Maka segalanya akan bernilai ibadah..

***

POKET 1

 

Ibu Hamidah masuk kelas dengan setumpuk kertas entah apa di tangannya. Kelas yang tadinya gaduh bak pasar pagi langsung berubah senyap seperti bila kita mengheningkan cipta saat upacara bendera di awal pekan. Sunyi, tapi tidak lagi ketika wali kelas paling ganas di seantero sekolahan bertitah.

“Satu menit untuk membuat kelas kalian seperti saat petugas piket selesai bekerja tadi pagi…”

Wajah-wajah melongo. Diam bak patung dengan tangan terlipat di meja masing-masing. Tanpa melihat pun aku yakin kalau sikap duduk seluruh temanku sama seperti sikap dudukku saat ini.

“BERSIHKAN SEKARANG JUGA!!!”

Semuanya bergerak setelah dikomando Ibu Hamidah. Gumpalan-gumpalan kertas pasca perang saudara yang berserakan di seluruh penjuru ruangan segera lenyap tak berbekas. Sebagian gumpalan-gumpalan itu masuk saku-saku dan sebagian lagi kembali ke dalam laci meja masing-masing, disimpan sebagai amunisi kalau-kalau perang sepakat dikobarkan lagi kapan-kapan. Tak ada yang berani lalu-lalang di depan meja guru untuk sekedar keluar menuju tong sampah di depan kelas.

Ibu Hamidah berdehem, menarik kursi kehormatannya lalu duduk selayaknya tamu agung. “Assalamualaikum anak-anak…”

Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh…” Butuh waktu beberapa lama untuk menjawab salam dalam koor yang panjang seperti itu.

“Yazir, bagikan agenda ramadhan ini satu siswa satu rangkap!” Ibu Hamidah menyodorkan satu bagian dari kertas yang tadi dibawanya.

Yazir, ketua kelas kami bangun dari kursinya menuju meja guru. Tanpa bersura dia mulai melaksanakan perintah.

“Ramadhan, bagikan paper tugas ini satu meja satu!” Kali ini namaku yang disebut Ibu Hamidah.

Aku membetulkan kacamataku lalu mengikuti Yazir melakukan tugasku dari meja ke meja. Kertas yang kubagikan di atasnya bertuliskan KLIPING RAMADHAN. Aku tak sempat membaca deretan kalimat di bawahnya. Hemm, paper tugas, tradisi baru. Seingatku, bulan puasa tahun lalu kami cuma dapat agenda saja. Kelas kembali berdengung setelah aku dan Yazir menyelesaikan pekerjaan masing-masing.

“Seperti biasanya, Ibu yakin kalian sudah tahu tentang Agenda Ramadhan yang dibagikan Yazir. Jadi tak perlu Ibu jelaskan lagi cara mengisinya…”

“Tapi kali ini agendanya sedikit beda, Bu…” Seseorang menginterupsi. Rosinta, bendahara kelasku. Kami sering meledek namanya menjadi Rohcinta. Anehnya, dia malah suka dan minta dipanggil Cinta saja, jangan Sinta. Hemm, cewek memang sukar dimengerti.

“Apa yang membedakan?”

“Kolom tanda tangan imam taraweh dan penceramah, dulu kami tidak punya kolom itu di agenda.”

“Sekarang kalian punya.” Ibu Hamidah menukas cepat. “Ada yang tidak mengerti cara mengisi kolom itu?”

Hening. Kasihan, Rosinta menekuk muka, dia tampak bodoh. Padahal dia adalah bendahara yang pintar. Tapi menyangkut kolom baru di agenda? Tak ada yang tak tahu cara mengisi kolom itu, seharusnya Rosinta tak bertanya.

“Agenda kita masih terbilang sama seperti tahun lalu, tidak ada kolom debet atau saldo di sana. Siswa sekolah dasar pun pasti tahu cara mengisinya.”

Aku mendengar suara kikik tertahan dari deret belakang. Rosinta tentu merasa disinggung dengan kata ‘debet’ dan kata ‘saldo’ yang diucapkan Ibu Hamidah. Kulirik Syawal yang masih menekuri lembar agendanya, bibirnya mengulum senyum, dia sadar kuperhatikan.

“Aku selalu suka karakter wali kelas kita, biar betapapun killernya…” Dia berbisik pelan sambil menoleh sekilas padaku.

“Setidaknya, nilai Fisika-ku tak pernah di bawah delapan…” Aku balas berbisik.

“Itu sudah lebih dari cukup sebagai alasan bagimu untuk menyukai Bu Midah.”

“Aku suka Bu Midah, walau seandainya dia tak mengajar Fisika. Tapi kasihan juga si Cinta, harusnya Bu Midah ngasih penjelasan dikit ya mengapa ada kolom baru di agenda kita.”

Syawal mengangkat bahu. “Ini agenda pertamaku di sekolah ini.”

“Aku lupa trivia-mu yang satu itu…”

“Hemm… Mari kita dengar apa katanya tentang kertas yang kamu bagikan… sepertinya ini juga baru ya?”

“Yap…”

Ibu Hamidah meraih sisa kertas yang kubagikan tadi. “Ini yang baru, untuk pertama kalinya kita dapat tugas dari departemen kerohanian OSIS kita. Terimakasih untuk rohis sekolah kita. Apa ada yang masuk rohis di kelas ini?”

Wardah, satu-satunya cewek berjilbab di kelasku mengacungkan tangan. Tentu saja dia masuk rohis, kalau tidak… malu dong sama jilbabnya.

Ibu Hamidah menatap Wardah sekilas. “Semoga kamu ikut berpartisipasi merealisasikan ide tugas kliping ini.” Semua mata tertuju pada Wardah. Kemudian Ibu hamidah melanjutkan. “ ini penting untuk mendongkrak nilai mata ajar Pendidikan Agama Islam kalian. Yang akan menilai tugas kliping ini nantinya adalah guru agama tiap kelas. Untuk kelas kita, Pak Sazali.” Ibu Hamidah mengambil jeda untuk bernafas. “Satu kliping dikerjakan berdua dengan teman sebangku, ketentuan kliping silakan dibaca di kertas yang sudah dibagikan Ramadhan.”

“Ketentuannya beda-beda, Bu…” Yazir kali ini.

Beda? Aku segera merapat pada Syawal dan menjenguk kertas di tangannya. “Apanya yang beda?”

“Entahlah. Mungkin materi klipingnya, kalau materinya sama gak perlu dibagikan permeja kan? Cukup diumumkan saja.”

“Yang beda hanya tajuk dari isinya saja, ketentuan pengerjaannya sama semua.” Ibu hamidah menjelaskan, asumsi Syawal benar. “Ada selusin tajuk, tiap kelas seperti itu. Kertas yang dibagikan Ramadhan tadi sudah Ibu acak, tak perlu khawatir dapat tajuk jelek atau sukar. Lagipula menurut Ibu, semua tema itu sama menariknya. Jika kalian sungguh-sungguh menggalinya tentu akan jadi kliping yang bagus. Kalian punya waktu sebulan penuh, kliping ini dikumpulkan setelah libur lebaran nanti.” Ibu Hamidah berhenti, memberi waktu bagi seisi kelas untuk berdesas-desus dengan teman sebangku.

Aku memutar badan ke meja Suraiya dan Yantimura di belakangku. “Kalian dapat tajuk apa?” Bisikku.

“Tradisi khas ramadhan dari Sabang sampai Merauke.” Suraiya menjawab. “Not  bad, aku selalu suka tradisi-tradisi unik di seluruh dunia. Kliping kami pasti bakal dapat A.” Suraiya percaya diri tingkat tinggi.

“Ini khusus dalam negeri kita, Raiya.” Yantimura menukas. “Dan jangan lupa, tradisi itu harus khas bulan puasa. Tahu artinya apa? Tradisi tersebut hanya terjadi selama bulan puasa aja…”

Jelas Yantimura mampu membuktikan kalau dia pantas masuk tiga besar tiap bagi rapor, bukan karena contekan. Nalarnya lebih jitu dari Suraiya. Tapi Suraiya juga tak salah kalau terlalu percaya diri, dia percaya kawan sebangkunya akan membuat kliping yang bagus jika ingin tetap mempertahankan peringkatnya. Azas manfaat.

Aku tersenyum untuk mereka berdua. “Tajuk yang bagus.” Ujarku, lalu kembali fokus pada kertasku dan Syawal. “Apa tajuk kita?”

“Kamu tidak akan suka.” Syawal menoleh padaku sambil mempentangkan kertas yang dipegangnya di depanku. “Juadah berbuka unik dan tak biasa di seluruh penjuru dunia.” Syawal menggeleng-gelengkan kepalanya. “Siapa anak rohis yang punya ide mengajukan tajuk sekonyol ini? Semoga bukan Wardah.”

Aku tertawa. “Dan siapa orang bego yang meloloskan tajuk jelek begini?”

“Salah satunya tentu ketua OSIS kita. Pasti mereka yang meng-agendakan tugas ini sebelum disetujui Pak Mubarak.”

Pak Mubarak, Pembina rohis. Tentu saja. Beliau adalah guru agama paling senior di sekolahku. Kharismatik dan disegani, tapi kabarnya cara ngajar beliau terlalu seperti kiai. Serasa nyantri di pondok pesantren deh kalau Pak Mubarak masuk. Kalimat demikian sudah jadi icon-nya Pak Mubarak dari bibir-bibir siswa yang kelasnya dipegang Sang Kiai tersebut. Sayang Pak Mubarak tidak mengajar di kelasku, jika iya, pasti aku sudah hapal tigapuluh juz saat ini. Tapi Pak Sazali juga hebat. Aku suka bila beliau mulai mengajar, selalu ada kabar atau isu-isu terbaru seputar islam yang akan dipaparkannya terlebih dahulu buat kami sebelum masuk ke pokok bahasannya. Islam dan teroris, Quran yang dibakar, mesjid yang diruntuhkan, Palestina, Osama, Fatwa MUI terbaru, juga isu-isu lainnya yang berkaitan dengan islam tak pernah lupa dibincangkan Pak Sazali di kelas.

Aku membaca lagi tajuk kliping yang kami dapatkan. Seharusnya tadi aku membaca dulu sebelum membagikan kertas ini pada Syawal, aku punya peluang memilih tajuk. “Juadah berbuka unik?” Keningku berkerut. “Apa pepes kelamin termasuk di dalamnya? Adakah negara yang punya menu berbuka semisal sup kelamin?”

Syawal terbahak. “Kamu merangsangku, Didan…” Dia berbisik.

Didan, itu sapaanku di rumah. Syawal kerap menyapaku begitu. Ingat, kami tetanggaan, Syawal mengenalku seperti keluargaku mengenalku. Aku juga mengenalnya seperti keluarganya mengenalnya. Syawal juga punya nama kecil, Ibar. Aku juga kerap menyapanya seperti itu.

“Ya kah? Aku baru tahu kamu sangat mudah terangsang dengan kata kelamin.” Aku balas berbisik.

“Tentu saja. Kamu tidak?”

“Huss, lusa udah puasa. Berhenti mikir jorok!”

“Okeh… gak lagi, semoga.”

Aku menyikutnya.

“Ada yang mau bertanya?” Ibu Hamidah buka suara lagi. Seluruh siswa kembali diam. “Jika tidak ada, kita sudahi di sini. Ketentuan libur selama bulan puasa untuk sekolah kita tentu kalian sudah tahu. Jika masih ada yang belum jelas tentang jadwal pembelajaran selama bulan puasa, silakan dilihat di papan pengumuman kelas…”

“Sudaaaah Buuuu…!!!” Koor panjang lagi. Kadang aku merasa kembali ke taman kanak-kanak bila mendengar koor semacam ini.

“Baiklah jika begitu. Berhubung ini hari terakhir kita berjumpa sebelum masuk bulan puasa, Ibu mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa buat kita semua. Semoga ibadah kita di bulan puasa kali ini lebih baik dari bulan puasa tahun lalu…”

“Amiiiin…!!!”

“Dan selamat menikmati liburan. Ibu akhiri, assalamualaikum…”

Waalaikumsalam…”

Ibu Hamidah keluar. Kelas kembali ke suasana pasar pagi, tapi kali ini kami saling salam-salaman, bukan lempar granat kertas seperti sebelumnya. Kemudian bel pulang memekik nyaring. Tak menunggu menit, pintu kelas langsung jadi rebutan.

Syawal menyalamiku. “Didan, maafkan jika selama jadi teman sebangkumu, selama jadi tetanggamu, selama jadi supirmu, dan selama jadi pemilik hatimu aku pernah punya salah…”

Aku segera memutar pandangan ke seluruh penjuru kelas, memastikan kalau tak ada teman lain yang mendenggar kalimat terakhir Syawal barusan, walaupun itu diucapkannya dengan sangat pelan. Aku bernafas lega, hanya bersisa beberapa siswa saja di dalam sini, dan mereka tak ada yang memperhatikan kami. Aku mendecak kesal padanya. Beberapa kali dia pernah hampir membuatku terkena serangan jantung. Dia pernah mencium pipiku di parkiran, pernah menggandeng tanganku di lapangan bola kaki saat jam olahraga, pernah bersandar di bahuku di perpustakaan, bahkan pernah nyaris menciumku di kantin. Sungguh, kadang aku merasa Syawal seakan ingin mendeklarasikan status kami pada seluruh warga sekolah. Tidakkah dia khawatir bila kami ketahuan? Itu horror.

“Dimaafkan?” Tanganku masih digenggamnya.

“Bar, kamu gak punya salah.” Jawabku sambil melepaskan jabatan kami.

“Tentu saja. Aku kan teman, tetangga, supir sekaligus pacar paling baik.”

“Aku tak pernah menganggapmu sebagai supir.” Cetusku. “Dan bisakah berhenti membuatku senam jantung?”

Dia tertawa. “Tak ada yang dengar.”

“Ya, selalu begitu. Tak ada yang dengar, tak ada yang melihat, tak ada yang sadar. Tidakkah kamu berpikir kemungkinan suatu ketika nanti ada yang mendengar? Ada yang memperhatikan? Atau ada yang menyadari saat kita kecolongan satu kali saja?”

I’m sorry… untuk itulah aku minta maaf.” Jari-jarinya bertaut di depan bibir, memberiku maaf yang manis.

Aku tersenyum. “Kamu gak salah, kamu adalah yang terbaik. Seperti yang kamu katakan.” Aku mengeluarkan tas selempangku dari laci. “Ayo pulang, saatnya menyongsong libur sepekan.”

“Aku sudah memaafkanmu…” Ujarnya sambil ikut menarik tasnya dari laci.

Aku tahu dia menyinggungku yang tak balik meminta maaf padanya seperti yang dilakukannya untukku baru saja. Aku meraih tangannya dan kembali bersalaman. “Ibar, aku tahu aku bukan teman sebangku yang sempurna, bukan tetangga yang asik dan bukan kawan boncengan yang menyenangkan…”

“Kamu kawan boncengan yang menyenangkan kok. Aku senang tiap pinggangku dipeluk kamu.” Dia menyerobot. “Untuk ke-tidak-sempurna-an yang kamu maksudkan, ehemm… aku juga tak sempurna. Lihat, kita sama-sama berkacamata.”

“Aku belum habis ngomong.” Ucapku sambil kembali memutar pandangan. Kelas nyaris lengang.

“Maaf, silakan dilanjut.” Dia mempererat salamannya.

“Untuk itulah aku ingin dimaafkan atas segala kekuranganku itu.”

“Kamu menyebut teman sebangku, menyebut tetangga, juga menyebut kawan boncengan, kenapa tak menyebut…” Sekarang dia yang melihat berkeliling. “Kenapa tak menyebut pacar?”

Aku menghembuskan nafas putus asa. Dia masih saja bicara begitu. Ah sudahlah. “Aku tahu aku bukan pacar yang diidam-idamkan, banyak jeleknya, banyak nyusahinnya, atau kadang banyak bikin kamu ngelus dada. Untuk itu aku juga minta diikhlaskan.”

Syawal tertawa lalu dalam gerakan sangat cepat tahu-tahu punggung tanganku sudah berhasil diciumnya. “Ayo pulang…!” Dia berjalan mendahuluiku.

Meski jantungku sempat diserang lagi, tapi aku gembira diperlakukan begitu olehnya. Aku bergerak menyusul Syawal yang sudah mencapai ambang pintu. “Bar, biar aku yang menyetir.” Seruku.

***

Assalamualaikum… Ummi, Didan pulang…!” Hidungku langsung membaui aroma sedap, sepertinya Ummi-ku masak kuah kari siang ini.

“Kok cepat? Pasti bolos kan?”

Itu bukan suara Ummi. Aku berbalik dari rak sepatu. “Masyaallah Kak, kapan tiba…?” Aku kaget, lalu menghambur memeluk sosok Kak Aira, kakak perempuanku, anak gadis satu-satunya Abah dan Ummi. “Kenapa gak kasih kabar sih…? Suka banget bikin kejutan gak jelas.” Aku menyalami tangan Kak Aira.

Kakakku itu tertawa. “Sengaja, kalau aku bilang mau pulang pasti kamu minta ini itu. Kayak puasa tahun lalu, setengah jajan bulananku terkuras buat bawain kamu baju koko.”

“Huuu, gak ikhlas, pake diungkit-ungkit…”

“Bukan ngungkit, tapi ngingatin kalau kakakmu ini baik hati, mau ngorbanin duit jajan untuk belikan adiknya sesuatu.” Ya, semua kakakku memang baik hati. “Trus kenapa jam segini udah pulang? Ponteng ya?”

“Gak ada, aku kan siswa teladan. Haram ponteng kelas.” Jijayku kumat, Kak Aira memutar bola mata. “Ini hari terakhir sekolah, mulai besok libur seminggu. Jadinya cepat pulang deh hari ini.”

“Aku juga libur satu minggu, makanya balik biar sempat ngerasain minggu awal puasa sama keluarga…”

Aku menggumam. Pasti semua anak rantau atau yang kuliah di luar daerah seperti Kak Aira selalu rindu suasana berpuasa di rumah, berada di tengah-tengah anggota keluarga yang lain. Bersahur dan berbuka bersama. Jika aku kuliah di luar propinsi nantinya juga pasti akan bela-belain pulang di awal puasa seperti Kak Aira sekarang.

“Ya sudah, sana ganti baju. Kita makan siang bertiga sama Ummi.”

“Abah belum pulang?”

“Kantor pos bukan sekolahan, Nak…” Kak Aira terdengar seperti Ummi-ku.

Aku geleng-geleng kepala lalu berjalan menuju kamar.

Kak Aira adalah kakakku nomor dua, nama lengkapnya Uliya Nur Khairani. Kuliahnya sudah semester empat di universitas paling diminati yang sayangnya berada 10 jam perjalanan darat dari daerah kami. Dia ambil jurusan sastra melayu, ilmu yang hebat menurutku. Tanpa bermaksud membanggakan kakak sendiri, tapi ini adalah fakta. Kak Aira adalah gadis jelita. Aku ingat, ketika kakakku itu baru tamat SMA sekitar dua tahun lalu, dia pernah hampir dilamar ustadz kampungku. Sebenarnya aku setuju sih Kak Aira punya suami seorang ustadz, apalagi itu adalah Ustadz Mawi. Lulusan pondok pesantren, alim, dewasa dan tentu saja tampan. Masalahnya, Bang Awi –begitu aku memanggilnya- tak mau bertunangan terlebih dulu, dia ingin langsung nikah. Atau bila tidak menikah saat itu juga, Bang Awi bersedia menunggu beberapa tahun dengan catatan Kak Aira tetap di kampung, gak boleh kuliah ke luar daerah. Pemahaman Bang Awi mungkin begini, wanita tidak sepatutnya berada jauh dari rumah tanpa muhrim. Entahlah, dia lebih paham tentang itu. Nah ini masalahnya, abahku tak setuju. Pertimbangannya, selain Kak Aira masih sangat belia untuk dikawinkan, Abah juga sangat menomorsatukan pendidikan. Jadi, Abah menolak Ustadz Mawi. Kasihankan Bang Awi? Aku rasa-rasa tika itu Kak Aira juga mengidolakan sosok Ustadz Mawi. Tapi Kak Aira juga cinta sastra, akhirnya dia mengejar ilmu ke luar rumah. Namun sampai saat ini, Bang Awi masih sendiri. Apakah dia masih menunggu Kak Aira?

Kakak sulungku laki-laki. Bang Ikhwan. Lengkapnya Mirza Ikhwanul Hakim. Dia seorang polisi, pangkatnya Briptu. Sekarang Bang Ikhwan berdinas di polres kabupaten. Abangku ini gak banyak ngomong, terkesan kalem dan sederhana. Tanpa baju dinas, dia sama sekali tak terlihat seperti seorang polisi. Sebenarnya aku punya seorang adik laki-laki –jika masih hidup. Adikku itu meninggal dua jam setelah dilahirkan, dia prematur. Usiaku enam tahun waktu itu, padahal saat itu aku sangat bersuka-cita menyambut kelahiran seorang adik. Namun tangan tuhan berbicara lain. Abah dan Ummi-ku pasti masuk surga. Hehehe, tahu kan? Di pengajian aku mendapat tahu, anak yang meninggal saat bayi atau kanak-kanak kelak di hari kiamat akan jadi penyelamat kedua ibu bapanya. Saat Tuhan menyeru mereka –anak-anak itu- untuk masuk surga, mereka tidak akan masuk tanpa membawa serta kedua ibu bapanya. Hemm…

Kita tinggalkan anggota keluargaku. Aku selesai mengganti seragam saat hapeku memanggil. Nama ‘Ibar’ tertera di layar. “Iya Bar, kenapa?”

“Ikal minta ke rumahmu nih…”

“Ya udah datang saja, gak musti ngasih tau segala. Biasanya juga langsung nyebrang jalan kan…”

“Okeh, aku bawa dia ya!”

Klik.

Aneh, kenapa mesti ngasih tahu kalau Haikal minta ke rumah? Selama ini rumahku sudah bagai rumah sendiri juga buat Haikal. Ummiku bahkan sudah nganggap Haikal anak sendiri saking seringnya bocah itu berada di sini.

Aku segera ke pintu saat mendengar Syawal memberi salam. Haikal tegak di ambang pintu dalam gandengan kakaknya. Wajahnya sembab.

“Halo… jagoan Kak Idan kenapa?” Aku segera mengambil alih lengan Haikal dari gandengan Syawal. “Dimarahin Mbak Mai ya?” Haikal mengangguk. “Duh… kacian Ikal-nya Kak Idan kena marah. Mari sini…” Aku membawa Haikal berjalan, lalu aku ingat Syawal yang masih di luar. “Kamu juga masuk sekalian, tutup pintunya.”

Syawal nyengir. “Mama belum pulang dari pasar, trus Mbak Mai kayaknya makin malas deh. Masa jam segini dia belum masak…”

Aku langsung mengerti. Pasti tadinya Haikal minta makan sama Mbak Mai tapi gak dikasih-kasih berhubung dia belum siap masak.

“Gak tahu deh kenapa Mbak Mai sampai bentak Ikal, gusar kali sama ikal yang terus merengek.” Syawal menutup pintu.

Aku manggut-manggut sambil membelai kepala Haikal, kemudian meneruskan menggandengnya menuju dapur. “Ummi, anak bungsunya minta makan nih…!!!” Seruku begitu masuk dapur, Ummi dan Kak Aira sedang menata meja makan.

“Ehh, anak Ummi datang lagi… sini Nak. Duhh, ditinggal pergi Mamanya ya…” Haikal sudah berada di tangan yang tepat. Ummi langsung mendudukkannya di kursi.

“Maaf Ummi, ngerepotin lagi…” Syawal muncul dari belakangku. “Yah, ada Kak Aira. Kapan tiba?” Syawal segera menyalami kakakku.

“Jam sembilan pagi tadi…” Sahut Kak Aira.

“Ayo, Nak Ibar juga ikut makan sekalian! Ummi masak kuah kari…” Ujar ummi-ku sambil mengisi piring Haikal.

Syawal tertawa. “Iya Ummi, baunya tercium sampe kamar Ibar tuh…”

“Jangan-jangan kamu sengaja lagi, jadiin Ikal sebagai alasan biar bisa nyobain kuah kari Ummi…” Semburku.

“Huss, mulutmu itu Nak…” Ummi memelototiku, Kak Aira melakukan hal yang sama.

Syawal terkekeh. “Kok kamu yang sewot? Ummi yang punya masakan aja gak keberatan aku makan siang di sini…” Tanpa sungkan Syawal segera menarik bangku dan mengambil piring.

“Aku kan gak serius. Lagian bukan sekali ini kamu cari rejeki di rumahku…” Aku ikut menarik kursi di samping Syawal dan mengisi piringku.

“Si Didan mulutnya gak pernah dipagarin, jangan tersinggung Bar. Tau kan mulutnya…” Cetus Kak Aira.

Syawal terkekeh lagi. “Iya, bukan cuma mulutnya Kak, aku tahu semuanya tentang dia…” Syawal melirikku, sempat kutangkap kedipan matanya di balik kacamata.

“Makan yang banyak. Lusa sudah puasa, gak bisa makan siang lagi…” Ujar Ummi sambil mendekatkan mulut gelas untuk Haikal.

“Kan masih ada besok satu kali lagi.” Timpal Syawal.

“Besok Ummi gak masak kari lagi…” Tukasku lalu mulai menyendok.

Syawal terkekeh lagi.

***

-POKET 2, COMING SOON-

-N.A.G-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com

p.s :

silakan dituturkan kekurangannya di kolom balasan, agar Nayaka bisa memperbaiki di poket selanjutnya. trims…