an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Aku ingin memberitahu sesuatu, di antara 5 tulisanku sebelumnya (termasuk yang ini), tema yang paling berat menurutku adalah tulisan ini, daya imajinasiku benar-benar diuji di cerpen kelima ku sekarang. Lumayan lelah, dan juga butuh proses sedikit lebih lama dari 4 ceritaku sebelumnya. Namun ketika selesai, aku sedikit merasa terpuaskan. Ujianku sudah kunyatakan lulus dari diriku sendiri. Yah, meskipun hasilnya tak sesuai bayanganku sebelum menulisnya, jelek. Selanjutnya kalian yang akan menilai, apakah aku cukup berhasil menulis cerita dengan tema begini atau aku gagal total.

Itu saja yang ingin kuberitahu, semoga kalian belum jemu dengan hasil jerih payah jemariku. Untuk sahabat-sahabat yang menyayangiku, doakan aku sehat sejahtera. Tulisan ini untuk kalian yang menghargai lelah dan penatku saat menulis, juga bagi kalian yang menganggap Nay adalah penulis gila dengan tulisan-tulisannya yang serampangan. Siapapun kalian yang membaca ceritaku, ketahuilah… aku mencintai kalian teramat sangat. Jangan lupa mengetik komen.

Last, semoga kalian menikmati membaca MESSAGE IN A BOTTLE seperti aku menikmati saat menulisnya.

Wassalam

n.a.g

#####################################################

Yang melakukan ini pasti seseorang yang mengenalku, bisa jadi dia adalah orang yang amat sangat dekat denganku. Pria atau wanitakah dia? Jika pria, dari mana dia tahu aku juga sepertinya? Dan jika wanita, sayang sekali. Usahanya membuat surprise ini bakal sia-sia karena aku tak mungkin melibatkan perasaanku lebih dalam untuknya. Tapi siapa dia? Si Tampan Misterius Luke, Si Kekar Menggairahkan Damien? Atau Naomi yang jelas-jelas menunjukkan ketertarikannya padaku di office.

Bukan mustahil ada psikopat yang menguntitku sepanjang hari selama 4 bulan terakhir. Tuhan, jika dia psikopat berarti ini jebakan. Sejenak babak dalam film-film thriller seperti Lovely Bones, Wrong Turn atau Saw membayang di pikiranku. Rasa menyesal mulai hinggap, seharusnya aku tak datang kemari.

Lalu pintu di belakangku terbuka, terlambat untuk lari. Satu sosok berdiri di sana dalam siraman silau matahari senja yang tepat berada di belakangnya, aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. “Welcome in my castle. kuharap kamu puas melihat-lihat, My Prince…”

BRAAKK

***

AKU mematikan shower kamar mandi, meraih handukku dan segera keluar dari sana. Kuhabiskan 20 menit di depan cermin memastikan penampilanku sudah sempurna untuk ke kantor. Selesai di sana aku menuju dapur mungilku, yah tak tepat disebut dapur sebenarnya. Selain amat sangat kecil, aku juga tak memiliki apa-apa di sini selain satu lemari gantung berisi beberapa benda, satu meja kecil dengan 2 kursi berhadapan dan juga satu freezer. Tak ada gas di sini, aku tak memasak. Oh ya, aku juga punya bak cuci kecil di sudut dapur. Shit, aku lupa menutup kerannya lagi semalam.

Aku melangkah ke sana, menutup keran lalu mengambil peralatan makan yang semalam kucuci dan memasukkannya dalam lemari gantung. Roti sandwich selai kismis jadi menu sarapanku pagi ini, itu yang kupunya. Freezer-ku nyaris kosong, pulang nanti aku harus sempat mampir ke market di seberang jalan sana untuk membeli beberapa barang. Kuteguk habis sisa kopi susu dan keluar dari dapur.

Time to work. Aku mengambil tas sandang di kaki sofa depan tivi lalu menuju pintu. Dan di sanalah benda itu kudapati, ini yang ke-6 kalinya sejak 4 bulan lalu aku menempati flat di pinggiran Manhattan ini. Sejenak aku termangu di muka pintu menatapi sesuatu itu di depan kakiku. Damien pernah berucap untukku beberapa hari lalu. ‘Hati-hatilah kawan, bukan mustahil yang memberimu botol-botol itu adalah psycho.’ Damien, rekan jogging hari mingguku terlalu banyak mengonsumsi drama thriller seperti Scream atau I Know What You Did Last Summer misalnya. Bagaimana mungkin ada psycho yang bisa mengirimku pesan seindah dalam botol itu.

Aku tersenyum, merunduk mengambil botol putih bening sejengkal di depan sepatuku itu. Sama seperti 5 botol sebelumnya, ada gulungan kertas di dalam botol tak bertutup yang ada dalam genggamanku sekarang. Aku mengedarkan pandangan ke sepanjang lorong di kiri dan kanan pintu flat-ku. Lengang, tak ada satu manusia pun. Hari ini aku akan telat sampai di kantor. Kututup pintu untuk kembali masuk ke dalam. Di atas sofa, aku duduk dan menuangkan isi botol itu ke telapak tanganku.

‘Semalam aku melihat bulan sabit dan terbayang lengkung senyum bibirmu. Tapi saat menyadari bahwa aku sedang membandingkan lengkung bulan itu dengan lengkung bibirmu, aku jadi benci diriku sendiri yang telah berfikir bahwa bulan itu sama indahya dengan bibirmu. Benci karena tega menyamakannya. Padahal aku tahu bahwa segala yang ada pada dirimu lebih indah dari apapun sesuatu indah yang dilihat mataku. My Prince, aku tak sabar melihatmu bersama botol-botolku…’

Pesan itu lagi-lagi sukses membuat suasana hatiku sehangat siang. Walau aku tak tahu maksud kalimat terakhirnya. Kalimat penutupnya selalu bernada sama seperti 5 botol terdahulu yang sekarang berdiri berjejer di bawah rak tivi-ku. ‘Tak sabar melihatmu bersama botol-botolku…’ Selalu begitu. Aku menggulung kertas itu seperti semula dan memasukkannya kembali ke dalam botol. Pengagum rahasia, itu kesimpulanku sejauh ini. Semoga saja dia seorang pria. Kulirik jam di lenganku, sial. Aku akan benar-benar telat hari ini. Buru-buru aku menyimpan botol itu bergabung dengan kawannya yang sudah lebih dulu berada di bawah tivi lalu segera berlari ke pintu.

***

Naomi Blast, wanita cantik usia awal 25 tahun rekan kerjaku sepertinya sangat gigih dalam usahanya menaklukkan hatiku. Hari ini lagi-lagi dia meletakkan satu cup coklat panas untukku di samping layar-ku. Aku melirik Naomi sambil mengangkat gelas coklat itu mengisyaratkan terimakasih. Dari mejanya di seberang sana, Naomi menyunggingkan senyum terindah yang dia punya.

Sebenarnya aku kasihan padanya. Dia amat sangat pantas mengejar pria yang lebih segalanya di atasku. Seperti Shawn misalnya, atasan kami di sini. Shawn Harper, pria lajang tampan putra pemilik Harper Corporation yang beberapa kali hadir saat aku mendesah-desah di sela gerakan tanganku di kamar mandi. Naomi sangat pantas berlomba bersama wanita lainnya di office ini dalam menarik perhatian Mr. Harper Muda. Andai Naomi mau lebih agresif dan sedikit lebih liar, aku yakin Shawn akan mengajaknya ke St. Marion untuk berjanji di depan pendeta.

Namun nyatanya Naomi tidak jeli memanfaatkan peluang. Dia tetap bertahan dalam keanggunannya yang tak banyak tingkah dan membuang-buang waktu serta energinya untukku. Seharusnya dia lebih sering datang ke kantor dengan blus berdada rendah dan belahan panjang di paha. Seharusnya dia berimprovisasi pada rambut pirangnya. Sekali-sekali mungkin dia bisa menatanya lebih berani agar menarik perhatian pria-pria berdasi di sini, tidak selalu dengan kepang ekor kuda ala Angelina Jolie di babak awal film SALT. Dan kebodohan terbesar Naomi adalah, tidak pernah melibatkan diri dalam pesta-pesta kecil Mr. Harper Muda. Pesta dimana gadis-gadis cantik seksi berjalan lenggak-lenggok dalam balutan minidress mereka untuk memikat Sang Putra Boss.

Poor Naomi. Haruskah aku jujur padanya mengatakan jika aku bukan pria heteroseksual? Rasanya bukan masalah bila aku jujur. Aku tidak di Denpasar sekarang, tapi New York. Tidak akan ada yang mempermasalahkan status kejantananku di sini.

Menyinggung Denpasar membuatku teringat masa kecilku, di tanah indah Kuta. Mengingat ibuku yang sisa abunya masih ada di sana, di rumah orang tuanya. Mom, gadis bali yang terpikat pesona turis Amrik, atau sebaliknya turis itu yang memuja ke-eksotisan Si Gadis Bali. Mom menikah dengan turis itu, Daddy. Terhitung 4 tahun sejak bisa berucap, aku berbicara bahasa Daddy-ku di Los Angeles sebelum perceraian mengharuskan Mom untuk pulang ke Tanah Dewata. Daddy cukup baik dengan membiarkanku dibawa Mom ke Indonesia meski sebenarnya aku ikut kewarganegaraannya. Tapi hubungannya denganku selama 11 tahun lebih aku di sana tak pernah putus. Daddy menghabiskan banyak uang untuk membiayai segala dokumenku di Indonesia.

Mom meninggal saat aku hampir selesai SMA, memberi peluang bagi Daddy untuk mengambilku kembali. Aku dewasa di Amerika, tercukupi dalam hidup glamour berkat Daddy, ikut menyandang nama besarnya, Ashmore. Tapi semenjak pernikahannya 6 bulan lalu, perasaan ingin mandiri dan jiwa juangku merasuk sangat kuat. Itu adalah titik dimana aku sadar sepenuhnya bahwa aku pria dewasa, 25 tahun.

Maka aku menolak jabatan berkelas di perusahaannya yang membuat wajahnya tampak terpukul. Menolak fasilitasnya dan tawaran modal usaha baru jika aku tak berminat jadi orang kantoran sepertinya. Daddy pasrah saat aku bilang ingin mencoba bagaimana rasanya berjuang untuk hidupku sendiri. Aku membuatnya yakin, jika aku sudah puas bermain-main dengan keberuntunganku di luar sana maka aku sudah siap jadi penerus untuk menggantikannya di balik meja ruang kerjanya. ‘Pulanglah saat kamu ingin pulang, My Son… itu kalimatnya saat aku meninggalkan kemewahan rumah 5 bulan lalu.

New York, sasaranku untuk memulai karier. Kuhabiskan 1 bulan untuk memasukkan lamaran kemana saja hingga akhirnya aku menerima panggilan interview dari Harper Coorporation. Dan di sinilah Naomi bagaikan menemukan lelaki pujaannya ketika hari pertama melihatku training. Lalu hari-hari selanjutnya gelas coklat panas, traktiran makan siang, kartu valentine, kado hari jadi, kado entah dalam rangka apa atau sentuhan kecil untuk merapikan dasiku mulai kuterima darinya. Walau menyiksa aku tetap tak mengutarakan keberatanku atas perhatiannya itu. Bagaimana kalau Naomi tahu bahwa penis-ku tak akan pernah bisa berdiri walau didongkrak sekalipun bila bersamanya? Bagaimana pula bila dia tahu spermaku mustahil menyemproti wajahnya seperti adegan klimaks di film-film porno straight yang mungkin sering disaksikannya? Naomi pasti akan bunuh diri.

“Aaron…”

Aku mendongak dari file-file yang sedang kukoreksi. Wajah cantik Naomi sudah berada tepat di atas layar-ku.

Lunch…?” Ucapnya. “Kamu tak akan melewatkan waktu makan siangmu bersama file-file itu kan?” Naomi tersenyum. “Kuharap kamu tak keberatan menemaniku makan siang… aku yang bayar.”

Kupaksakan sebuah senyum. “Untuk pertama kalinya, hari ini dompetku yang akan bertindak…”

Naomi tertawa. Aku keluar dari balik meja dan mulai berjalan di sampingnya. 30 menit ke depan aku akan berpura-pura antusias menikmati makan siangku bersamanya. Di dalam lift kami bertemu Shawn dalam setelan jas super mahalnya. Shawn memberiku dan Naomi seulas senyum, dia makin tampan saja. Oh Shawn, my Boss, sepertinya kamu akan hadir lagi di bathroom-ku sore nanti. Sepanjang gerakan lift menuju lobi, aku beberapa kali berhasil mencuri lirik ke arah selangkangan Shawn yang tercetak padat. Aasshh, make me wanna.

***

“Aku mendapatkan botol itu lagi…” Ujarku ketika hari minggu ini kembali berpapasan dengan Damien Greenberg saat jogging.

Sejak tinggal di lingkungan ini dan rutin lari keliling jalan di dekat taman tiap pagi minggu, Damien langsung jadi kawan akrabku. Pertemuan kami memang hanya seminggu sekali, tapi sikap dan pribadi menyenangkan Damien membuatku bercerita banyak padanya. Menuturkan kisah hidupku hingga memilih terasing di sini. Tentang apapun yang menyangkut diriku, juga tentang pesan dalam botol-botol itu yang sejauh ini sudah 6 kali menyambangi pintuku.

“Mulailah menganggap serius anggapanku tempo hari, Aaron. Ada psycho yang sedang mengintaimu. Tidakkah kamu berpikir begitu?” Damien berhenti lari dan menyapu dahinya yang berkeringat. Kausnya melekat ketat di badan kekarnya.

Aku tersenyum dan ikut berhenti di sampingnya. “Kalau benar pengirimnya seorang psycho, berarti dia adalah psycho yang romantic. Aku bisa jatuh cinta padanya.”

“Jatuh cinta?” Alis Damien terangkat. “Kamu yakin dia wanita?”

Aku menelan ludah. Jujur sejauh ini aku menganggap bahwa yang mengirimiku botol-botol itu adalah seorang pria. “Kamu berpikiran kalau yang memberiku pesan botol itu adalah laki-laki?” Aku balik bertanya untuk menutup kemungkinan Damien menelisik lebih jauh terhadap orientasi seksualku.

Psycho lebih banyak adalah pria…” Jawabnya. “Dan dia menyukaimu sepertinya.”

Aku tertawa. “Jika ada yang mencintaiku sedahsyat itu, aku akan jadi pria paling beruntung, dan bila bertemu aku akan menghambur memeluknya.”

Kini Damien yang tertawa. “Tak kira biar dia wanita atau pria?”

Glek, aku terjebak, padahal aku berusaha menghindari topik begitu tadi. Aku terdiam beberapa saat tak tahu harus menjawab apa.

Tawa Damien semakin keras. “Heyy, tak perlu merasa bingung begitu.” Dia menatapku. “Jadi biseks justru lebih menyenangkan.”

Ucapannya membuatku kaget. Oh, jadi dia mengira bahwa aku biseks? Aku merasa masih sedikit punya muka dengan pemikiran Damien tentang status seks-ku. Kuberi dia sebuah cengiran.

So, apa pesan Mr. Psycho Romantis kali ini?” Tanyanya kemudian.

Mr. Psycho, dia sangat yakin pengirimnya adalah laki-laki. “Hemm… menurutnya, senyum di bibirku lebih indah dari bulan sabit yang dilihatnya malam hari.”

Damien terkekeh. “So romantic. Tak salah kamu ingin memeluknya.” Dia melangkah sambil mengibas-ngibaskan kaus tanpa lengan di badannya. “Haruskah aku menginap di Flat-mu dan melakukan pengintaian?”

Damien? Menginap? Aku bisa terangsang untuk menguji bagaimana rasa kejantanannya bila dia benar-benar menginap. Damien adalah tipe pria yang tak akan ditolak oleh pria manapun dengan radar seks special sepertiku untuk bercinta di ranjang. Fisik sempurna, wajah tampan dan tentu dia memiliki penis luar biasa yang punya banyak stok sperma untuk dikeluarkan semalam suntuk. Tapi sungguh mengecewakan, Damien sepertinya bukan biseks, apalagi pria dengan radar seks special sperti yang kubilang. Tapi bila memang dia jadi menginap, aku akan memberinya obat tidur dosis tinggi agar bisa membuatnya telanjang di ranjangku. Dengan begitu, aku bisa melakukan apa saja yang kuinginkan dengan fisik seksinya itu.

“Bagaimana? Usulku layak kamu pertimbangkan, Aaron.” Dia menatapku.

Aku mendesah. “Aku rasa kamu terlalu khawatir. Tidak ada psycho yang ingin membunuhku, okey. Yang ada hanya pengagum rahasia super romantis yang nyaris membuatku jatuh cinta.” Ucapku padanya. “Lagipula, dia mengirimiku botol sewaktu-waktu tak tentu kapan. Tidak mungkin kan kamu akan mengintai teus-terusan. Dan itu sama sekali tidak perlu.” Aku mulai lari lagi.

“Semoga saja begitu…” Damien menjajari langkahku untuk kembali lari keliling taman.

***

Aku pulang larut malam ini, ada party kecil di istana Shawn. Semua pegawai hadir di sana. Naomi? Untuk pertama kalinya dia mau ambil bagian. Aku rasa itu lebih karena aku yang kelepasan basa-basi mengajaknya. Ah, aku menyesal. Coba tebak, apa yang dilakukan Miss Evelyn Salt versi Naomi Blast di sana? Yep, tepat sekali. Sepanjang pesta dia sukses membuatku kehilangan mood untuk bertahan selama mungkin di sana seperti biasanya. Naomi mepet terus padaku, sempat nyaris mencium selangkanganku ketika merunduk mengambil hiasan rambutnya yang entah bagaimana bisa jatuh di lantai di antara pahaku yang sedang duduk di sofa Shawn. Naomi ternyata cukup nakal juga, tapi hanya jika sedang bersama pria yang membuatnya bercermin lebih lama bila ke kantor. Dengan adanya Naomi, aku tak bisa bebas memperhatikan puncak tinggi di bawah pusar pria-pria berdasi itu yang pasti sedang keras dirangsang beer dan gadis-gadis seksi di sekitarnya. Aku yakin, di sini pasti ada beberapa pria sepertiku, tapi mereka juga terlalu berhati-hati menjaga imej mereka.

Saat merasa ambang batasku untuk menanggapi tingkah Naomi habis, aku mengajaknya pulang. Hal yang tak pernah kusukai, aku harus se-taxi dengannya dan hampir kehabisan akal untuk menolak tawaran Naomi yang mengajakku singgah di apartemennya saat taxi mengantarnya lebih dulu. Jika tidak, maka bencana akan jadi bagianku malam ini karena Naomi pasti akan berusaha sekuat tenaga merayuku agar mau mendemokan gerakan pinggulku di atas tempat tidurnya. Jika itu sampai terjadi, berarti malapetaka juga buat Naomi, karena dia hanya akan frustasi saat mendapati aku tak bisa menyarungkan salah satu kondomnya ke penisku.

Aku sampai di gedung flat-ku. Keluar dari lift di ujung lorong, aku terus menuju pintuku dan langsung  menemukan seorang pria sedang berdiri kikuk tepat di depannya. Kadang dia mengintip lewat lubang kunci, kadang terlihat seperti ingin mengetuk. Secret admirer, pasti dia, pikirku. Dia akan meletakkan botol itu lagi. Tapi kali ini dia salah perhitungan, aku masih berada di luar pintuku dini hari ini.

“Heyy…!” Seruku.

Pria jangkung di depan pintu terkejut dan sontak berbalik. God, ternyata dia Luke Bradford, fotografer lepas yang tinggal tepat di sebelah flat-ku. Apakah dia yang punya botol-botol itu? Aku tak begitu akrab dengan Luke. Dia amat sangat tertutup untuk ukuran seorang fotografer. Agak kaku dan dingin. Pendiam dan sedikit punya aura misterius menurutku. Apakah aku sudah menyebutkan fakta kalau Luke Bradford punya wajah setampan aktor Paul Walker?

Tapi sebagai tetangga tentu saja kami saling mengenal. Beberapa kali aku sempat sama-sama dengannya di lift, beberapa kali pernah bertemu di market seberang jalan dan beberapa kesempatan pernah keluar dari pintu masing-masing bersamaan, juga pernah sekali bertemu di restoran saat makan malam. Sejauh ini hubungan kami sebatas melempar senyum saja atau sesekali melontarkan kalimat singkat seperti ‘Dapurku kosong’ dari mulutnya saat berjumpa di market, atau ‘Aku kira kamu tak di dalam, flat-mu sangat diam’ dari bibirku ketika kebetulan keluar bersamaan dari pintu. Hanya pada kesempatan pertama aku dan Luke pernah berjabat tangan dan menyebut nama masing-masing.

“Mr. Ashmore, kamu punya masalah dengan bathroom-mu? Aku seperti mendengar suara kucuran air dari dalam sini.” Ucap Luke setelah kagetnya hilang saat berbalik tadi dan menemukan aku di depannya.

“Oh benarkah.” Buru-buru aku memasukkan kunci dan mendorong daun pintu. Kubiarkan pintu tetap terbuka karena Luke masih di sana sementara aku menerobos ke dalam.

Sial. Flat-ku kebanjiran. Bodoh, aku menemukan keran bak cuciku mengucur pelan. Aku ingat tadi pagi mencuci apel di sana. Salurannya sumbat ternyata, dan lagi-lagi karena kebodohanku yang tak membuang sisa makanku malam kemarin ke tong sampah saat mencuci alat makan. Aku menutup keran sambil mengeluarkan sumpah serapah. Kakiku basah, aku kembali ke pintu sambil menggulung lengan kemejaku. Luke masih mematung di sana, menatapku dengan wajah tanpa ekspresi. Andai dia lebih ramah pasti dengan tampang keren seperti itu Luke akan mudah membuat siapapun bertekuk memujanya. Kenyataannya, Luke adalah tetangga tertampan yang kukenal. Si Pendiam misterius.

“Emm, flat-ku basah…” Ujarku sedikit kikuk karena Luke terus memandangku tak berkedip. “Tapi aku yakin masih bisa memanaskan air dan mengaduk dua cangkir kopi.” Oh, mengapa kalimat itu yang keluar? Apa aku sedang mencoba mengakrabkan diri dengannya? Aku menelan ludah. “Belum terlalu larut untuk bertamu kan?” selorohku.

Luke tersenyum. Hey, mengapa dia bisa terlihat 180 derajat kebalikan dari sifat kakunya bila sedang tersenyum begitu? “Rasanya sudah cukup pagi untuk minum kopi. Aku tak perlu lagi menyeduhnya esok di dapurku.” Luke melangkah ke dalam melewatiku. “Wow, kamu benar-benar kebanjiran Mr. Ashmore.” Lanjutnya saat kakinya menginjak latai basah.

“Aaron…” Sela-ku sambil menutup pintu. Seorang pria asing berada dalam flat-ku untuk pertama kalinya.

Okey. Aaron… kamu benar-benar butuh kawan untuk membereskan kekacauan ini.” Dia memungut surat kabar basah dari lantai.

Aku tertawa. “Itulah kenapa aku menerima tamu dini hari begini.”

Shit, aku tertipu cangkir kopimu…”

Ternyata Luke menyenangkan. Kami minum kopi di dapurku yang kebasahan sambil bicara tentang pekerjaan masing-masing. Setelahnya dia tak langsung pamit, tapi benar-benar membantuku mengeringkan lantai. Menggulung ambal Persia di depan tivi-ku dan membawanya ke pagar balkon, memungut benda-benda kecil lain yang basah dan menempatkannya di sudut ruang tamu lalu bergantian denganku menggerakkan gagang pel dan memerasnya dalam ember. Kami melakukan itu sambil bercanda seperti anak kecil, kadang berebutan mengambil benda yang sama, atau tarik-tarikan gagang pel. Benar-benar childish. Lebih satu jam kemudian kami tergeletak kelelahan di atas satu-satunya sofa yang kupunya.

Thanks Luke, bahuku pasti akan lepas bila mengerjakannya sendirian.”

Anytime…” Sahutnya. “Kamu jadi tahu siapa yang harus kamu cari bila flat-mu kebanjiran lagi.”

Aku tertawa. “Semoga ini tak terulang.”

Luke melihat botol-botolku. “Apa itu? Hobi baru?” Dia turun dari sofa dan jongkok di depan tivi. “Apa isi gulungan di dalamnya?” Dia membolak-balik salah satu botol.

Aku ikut jongkok di sampingnya. “Seseorang mengirimiku itu…”

“Seseorang?” Luke menatapku lekat. “Kamu tak tahu siapa yang mengirimnya?”

Aku menggeleng. “Pengagum rahasia mungkin.” Ujarku

Luke meninggalkan botolku dan berjalan ke pintu. “Di film-film banyak pengagum rahasia yang akhirnya malah menjadi peneror menakutkan…” Dia jadi terdengar seperti Damien.

Aku mengikuti ke pintu. “Tapi botol-botol itu sama sekali tidak menerorku.”

Luke menyeringai. “Yah, mungkin belum. Tapi semoga saja tidak. Jika kamu merasa diteror, kamu bisa mengetuk pintuku.” Luke menarik handle. “Trims untuk kopi paginya…” Lalu dia menghilang di balik daun pintu yang menutup.

Setelah Damien, Luke jadi orang kedua yang menganggap botol-botol manis itu adalah ancaman. Entah mengapa aku merasa sikap misterius Luke muncul lagi setelah melihat botol-botol itu. Padahal saat membantuku tadi dia cukup friendly.

***

Botol ke-7 di awal bulan ke-5 aku di flat ini. Seperti biasa, tergeletak di depan pintu dan seperti biasa juga, aku tersenyum cerah saat membawanya ke dalam.

‘Semuanya hampir rampung, aku sudah mempersiapkan botol-botol indahku untuk menyambut keindahanmu. My Prince, tak lama lagi kamu akan bersama dengan mereka. Botol-botolku yang menakjubkan untuk dirimu yang lebih menakjubkan dari apapun. Tak sabar aku ingin melihatnya…’

Begitu bunyinya kali ini. Satu sisi aku bahagia ada pengagum romantis seperti ini, tapi satu sisinya rasa penasaran dengan kalimat akhir di tiap suratnya membuat keningku berkerut. Aku mengeluarkan semua surat dari 6 botol sebelumnya dan membacanya lagi satu persatu.

‘Saat melihatmu, aku langsung yakin bahwa kamu ditakdirkan untuk jadi bagianku. Insan paling indah yang pernah kulihat. Sadarkah dirimu betapa kamu telah membangunkan hasrat itu jauh dalam batinku? Hasrat yang kian menggebu seiring bertambah terpikatnya diriku pada sosokmu. Ahh, My Prince… betapa indah dirimu di antara botol-botolku nantinya, aku tak sabar ingin segera melihatmu di antara mereka botolku itu…’

Itu botol pertama setelah 2 minggu aku di sini. Kubuka gulungan kertas dari botol ke-2 yang kuterima genap 5 minggu aku hidup di New York.

‘Semua yang ada di dirimu memikatku dengan amat sangat. Tadi malam aku terbangun dan setengah mati menahan agar tak menjeritkan namamu, namun akibatnya? Aku menggigil ditikam hasrat menggebu-gebu untuk merenggut semua indah di dirimu. My Prince, aku tak sabar lagi. Segera, kamu akan berada di antara botol-botolku…’

Aku menarik napas panjang sebelum membaca pesan dari botol ke-3 yang tak bisa kuingat kapan tepatnya dia dikirim untukku.

‘Kadang aku seperti orang gila, bicara sendiri seakan sedang bersamamu. Menyebut dirimu tak tentu waktu. Kadang aku terlihat benar-benar seperti orang gila, menganggap kamu benar-benar ada di sisiku tak pernah jauh melalui gambar-gambar ini. Bicara sendiri, termangu sendiri dan meracau AKU INGIN. Semua itu membuatku benar-benar tak sabar ingin memandangmu bersama botol-botolku…’

Juga kalimat akhir yang nyaris sama. Lalu dari botol ke-4.

My Prince, sepanjang minggu ini ingatanku selalu padamu. Kamu hadir setiap aku memejamkan mata. Kamu ada di setiap helaan nafasku. Kadang aku menghayalkanmu sepanjang sore minggu sebagai efek melihat indahmu di pagi hari. Ahh, makin tak sabar melihatmu bersama botol-botolku…’

Lalu pada kertas di dalam botol ke-5 dia menulis begini;

‘Kemarin aku memetik mawar merah, dan aku menghayalkan dirimu berdiri sambil berkata padaku –kamu tak perlu mawar merah jika bisa memiliki hati merahku. Andai kalimat itu langsung aku dengar dari bibirmu, pasti aku akan sangat menikmati saat-saat akan memiliki hatimu. Percayalah, kamu akan segera bersama botol-botolku My Prince…’

Juga pesan di botol ke-6 yang aku dapatkan 3 minggu lalu ikut aku baca lagi. Uhh, kapan sih aku bisa melihat botol-botol indahnya? Bukan hanya dia yang tak sabar, aku juga mulai hilang sabar jika begini terus.

***

“Coba tebak…” Ujarku sambil merentangkan tangan dan menghirup udara pagi dalam-dalam. Suasana hatiku sedang gembira sejak kemarin. Damien sedang melalukan sit-up di tanah berumput taman tempat kami biasa jogging.

“Kamu baru saja dipromosikan untuk jabatan lebih tinggi di kantormu?” Dia duduk sekarang, rasanya makin hari pria ini semakin manis saja.

Aku menggeleng.

“PsyIcho itu baru saja mengirimmu botol lagi?”

Stop menyebutnya psycho… dia orang yang paling ingin kulihat saat ini!”

“Ya ya ya.” Ujar Damien. “Kapan?”

“Pagi kemarin.” Aku duduk di sampingnya. “Aku pastikan dalam waktu dekat ini kami akan bertemu.”

“Bagaimana kamu bisa seyakin itu?” Tanya Damien.

“Pesan dalam suratnya mengisyaratkan demikian. Dia sudah mempersiapkan segalanya untuk bertemu denganku.”

Damien tersenyum. “Semoga kamu siap menghadapi psycho itu…”

Aku menonjoknya. “Damien, dia bukan psycho, okey!

“Bagiku dia tetap psycho!”

Refleks aku menonjok bahunya, cukup keras. Aku segera bangun dan berlari lagi sambil tertawa-tawa sementara Damien mengumpat di belakangku sambil mengelus bahunya. Yahh, aku memang amat geram tadi hingga sungguh-sungguh memukulnya.

***

Aku bertemu Luke di lift. Dia menyetop di lantai 5, masuk ke dalam lift sambil menjinjing kantong belanjaan warna hitam yang tampak penuh di tangan kanannya. Dia memberiku seulas senyum.

“Baru pulang Aaron?” Tanyanya, kami hanya berdua di lift.

“Yep…” Jawabku sambil mengangguk. “Punya kenalan di lantai lima?” Kenapa aku perlu tahu?

Luke tersenyum lagi. “Kenalan lama, baru menempati salah satu pintu di lantai lima. Ini semacam kunjungan selamat datang dan selamat bergabung dari orang yang pernah dekat dengannya dulu.”

Pernah dekat dulu? Apakah penghuni baru itu mantan pacarnya? Aku menatap Luke. Sungguh bodoh Si Mantan itu mau melepaskan pria se-charming Luke Bradford. Jika aku jadi Si Mantan, aku akan melumuri diriku dengan lem super lengket di dunia lalu melekatkan diriku sendiri ke Luke. Tunggu, mantanya pindah kemari? Ke gedung flat yang sama dimana Luke juga berada? Bukan mustahil dia ingin memikat Luke kembali, dan bukan tidak mungkin juga kalau dia sudah mencium ide ‘lem super lengket di dunia’ itu.

“Orang yang pernah dekat???” Satu alisku terangkat menatap Luke, aku benar-benar ingin tahu.

Actually… mantanku.”

Ohh, ternyata benar. Sendi-sendiku melemas.

Kami keluar dari lift dan sampai di pintu Luke lebih dulu.  “Ingin mampir?” tawarnya sambil meletakkan kantongnya di kaki dan merogoh kunci dari saku kanan jeans-nya. Lalu dia mulai fokus ke lubang kuncinya.

Kantong yang ditaruh asal-asalan di dekat kakinya itu oleng dan roboh, aku terlambat menjangkaunya. Hanya sampai membungkuk saja dengan tangan terulur sebelum kantong itu menumpahkan isinya. Sebuah botol bening mengelinding dari dalamnya. Luke segera memungut dan memasukkannya kembali. Sekilas melihat tadi, botol itu mirip dengan botol-botol di bawah tivi-ku. Aku melongo beberapa saat, mungkinkah dia???

“Sebaiknya kamu mampir dulu.” Ternyata Luke sudah membuka pintu.

“Ohh… mmh. Mungkin lain kali.” Tolakku. “Luke,,,”

“Ya?”

“Botol itu…” Aku menunjuk kantongnya. “Apakah…”

“Mantanku punya banyak botol unik.” Ucapnya memotong kalimatku. “Aku tertarik untuk memiliki beberapa sebagai botol hias dalam aquarium-ku.” Luke membuka pintu lebar-lebar, sempat kulihat sebuah aquarium besar di sudut ruang tamunya. “Aku yakin kamu akan suka aquariumku… belum terlalu larut untuk bertamu kan?” Dia mengulang kalimatku dulu.

“Ohh, aku pasti akan melihatnya kapan-kapan. Good night Luke.” Aku menuju pintuku sendiri.

Bagaimana mungkin aku punya pikiran kalau Luke yang mengirimku pesan-pesan botol itu. Untuk apa? Tidak mungkin dia menyukaiku seperti yang tertulis dalam surat-surat itu. Luke akan segera kembali ke pelukan mantannya, persetan mantannya itu laki-laki atau perempuan. Aku tak perlu tau lagi.

***

Hari ini Sabtu. Aku menghabiskan sorenya di taman. Memperhatikan anak-anak berlarian kesana kemari bersama anjing mereka sementara si orang tua duduk mengawasi. Aku sangat sering ber-sore Sabtu di taman. Dulu malah beberapa kali aku ikut berlarian bersama sebagian dari anak-anak ini dan anjing mereka. Bahkan aku masih ingat beberapa anak dan anjingnya. Dulu ada Tyler, bocah dengan rambut keriting yang punya anak anjing berbulu sama seperti rambutnya. Maxwell, bocah Afro-Amerika dengan anjing pudelnya bernama Bob. Lalu ada Vivianne, gadis cilik pirang yang punya anak anjing sekecil kelinci. Malah dulu aku sempat mengira itu adalah kelinci. Vivianne sampai berdebat dengan Mommy-nya saat aku meyakinkan bahwa yang ada dalam gendongannya saat itu adalah kelinci. Sang Mommy langsung menatapku galak saat Vivianne membanting anak anjingnya sambil meraung I wanna a puppy… not rabbit. Aku benci Mom, Mom tukang tipu… F*ck you Mom! Sorry, untuk 3 kata luar biasa terakhir itu adalah tambahanku, aku sebal dengan sikap kurang ajar Viviannes Mom waktu itu yang berlalu menyeret anaknya dan anak anjing mirip kelinci itu menjauh dariku sambil memberiku jari tengahnya. Dasar mommy-mommy sedeng, seharusnya dia membelikan anaknya seekor anjing sejenis herder atau anjing pelacak yang benar-benar anjing. Apakah waktu kecil dulu Luke punya anak anjing ya?

Kemanapun pikiranku mengembara, ujung-ujungnya selalu kembali pada Luke. Pasti saat ini dia sedang hanyut dalam pelukan penghuni baru di lantai 5 sialan itu, atau sedang mengabadikan tubuh telanjang mantannya itu dengan kameranya. Padahal aku sudah mulai menyukai Luke sejak dia mengepel flat-ku dini hari itu. Saat melihat botol itu ada bersamanya, setitik harapanku muncul  bahwa dialah insan romantis yang memberiku message in a bottle. Namun begitu dia menjelaskan, harapan itu hancur berpatahan.

Mengapa aku bisa se-frustasi ini mencari cinta? Padahal ini Paman Sam. Banyak pria gay di luar sana yang siap dengan batang liat mereka kapan saja, yang bersedia dengan senang hati mengeluarkan simpanan sperma mereka untuk dirasai, yang tak akan marah bila penisnya di cakar dan digigit, yang pasrah membiarkan bagian belakangnya diserang membabi buta, yang dengan perkasa juga bisa menyerang balik dan mengobrak abrik lebih dahsyat dengan kejantanan mereka yang sekeras kayu ulin. But, aku tak mau yang seperti itu. Free seks amat sangat menakutkan. Tapi sekarang kan ada kondom??? Pasti begitu kalimat solusinya. Baiklah, aku berikan filosofi menarik mengenai kondom; Bercinta dengan penis bersarung kondom sama seperti mandi tapi memakai jas hujan. Cerna sendiri maknanya. Aku ingin mendapatkan pria yang menempatkan cinta sebagai alasan dia ingin bercinta denganku, pria yang cintanya juga timbul karena mengagumi dan tertarik satu sama lain, seperti si pengirim botol itu.

Huh, ini lagi satu. Sudah hampir 3 minggu aku tak mendapatkan pesan botol itu. Mana buktinya dia tak sabar ingin melihatku bersama botol-botolnya? Aku bangkit pulang saat matahari sudah tak terlihat lagi, melangkah cepat melewati market menuju gedung flat-ku.

***

Sunday lagi. Aku malas jogging hari ini, bahkan aku malas turun dari ranjang. Aku masih bergelung di bawah selimut hingga menjelang siang. Aku bangun malas-malasan saat jam digital di kamarku menunjukkan angka 13:13, angka jelek. Kemudian berendam dalam bathtub penuh busa hampir satu jam lamanya dan hampir tertidur lagi di sana jika saja perutku tidak berbunyi nyaring. Aku lapar.

Setelah berpakaian, aku mengacak-acak isi freezer-ku dan menemukan kotak cake yang kubeli awal bulan kemarin, nyaris terlupakan. Cukuplah siang ini cake itu menjadi pengganjal perutku. Setelah itu aku nonton tivi kabel sambil mendengar pesan-pesan dari kotak suaraku. Kebanyakan pesan dari Naomi yang mengingatkan ini itu sok perhatian. Beberapa dari rekan kantorku yang lain dan satu pesan dari daddy yang mengabari kalu dia dan istrinya akan berlibur ke New Zealand. Whatever, tak satupun dari pesan itu yang menarik minatku.

Bosan, pukul 4 aku bermaksud keluar ke taman. Dan surprise, botol itu menyambutku di muka pintu. Aku tersenyum, di saat hampir putus asa menunggunya, botol itu hadir hari ini. Segera kubaca di situ juga, tidak kubawa masuk ke dalam lebih dulu seperti biasanya.

‘Aku tahu kamu sudah lama menantikan hari ini, begitu juga aku. Kamu pasti tahu padang sabana di barat daya New York, 1 kilo ke selatan dari kawasan Chaterine High School. Aku sudah membangun istana kecil kita di sana, bersama botol-botolku. Jika kamu pergi sekarang, menjelang sore kamu akan tiba di istanaku. Semakin kamu bergegas, makin cepat kamu bisa menemui aku dan botolku, My Prince…’

Akhirnya aku akan bertemu juga dengan secret admirer-ku. Chaterine High School, sekolah Inggris yang mengusung bidang seni, tak begitu digemari di sini. 1 jam dari sekarang pasti aku akan tiba di sana. Mengapa dia memilih tempat sejauh itu? Mungkin dia punya alasan indah mengapa aku harus menemuinya di sana. Siapapun dia nantinya –pria atau wanita, aku tak terlalu peduli lagi. Yang utama adalah rasa penasaranku terjawab.

Aku mengelindingkan botol itu ke dalam dan mentok di kaki sofa. Kemudian mengunci pintu dan berjalan penuh semangat menuju lift. Ketika melewati pintu flat Luke, aku mendengar bunyi gerendel pintu yang dibuka dari dalam. Sepertinya Luke juga akan keluar. Aku mempercpat langkahku menuju lift, terlalu enggan bila sempat bertemu dengan pria itu. Tapi Luke masih sempat melihatku bahkan juga sempat memberiku seringai sebelum pintu lift di ujung lorong menutup, sengaja aku tak menahannya. Luke akan pergi memotret, kamera tersampir di bahunya. Who cares?

Perkiraanku meleset, aku baru tiba di kawasan Chaterine High School hampir 2 jam sejak mendapatkan taksi di depan Flat. Chaterine High School tampak lengang. Tak ada satu orangpun di halaman sekolah yang bengunannya bergaya Victoria ini. Bodoh, ini kan hari minggu, tak ada siswa yang mau sekolah walau dibayar sekalipun di hari ini. Taksi membawaku menyusur jalan ke selatan gedung sekolah seperti yang kuminta. Aku turun dari taksi setelah membayar argonya yang tidak sedikit. Tapi tak apa, demi berjumpa pengagum rahasia rekening bank-ku pun akan kubobol. Taksi melaju kembali meninggalkanku sendirian di bahu jalan.

Aku memandang hamparan padang ilalang sabana, tua dalam warna oranye bercampur hijau. Angin membuatnya bergerak-gerak gemulai. Pengagumku tak salah memilih tempat, ini benar-benar indah. Bunga ilalang tua, putih dan ringan berhamburan di udara dan semakin banyak bila angin keras bertiup. Aku menyipitkan mata memandang sebentuk pondok kecil jauh di tengah padang. Akhirnya aku tiba juga.

Tak sabar aku mulai menyeberang pembatas jalan, menapakkan kakiku di antara ilalang tua berdaun tajam itu untuk sampai ke tengah-tengah tempat pondok kecil berada. Beberapa kali lenganku tergores daun ilalang dan membuat perih. Semakin dekat ke pondok semakin lebar ayunan langkahku.

Aku sudah berada di depan pintunya. Pondok ini bukan baru dibuat, pasti sudah ada sejak dulu. Lantai papannya mengeluarkan suara berderak ketika kupijak. Dengan hati mantap aku mendorong daun pintu yang kali ini menimbulkan decitan nyaring saat daun pintu itu terkuak hingga merapat ke dinding. Aku melangkah masuk ke dalamnya dengan mata bersinar menyaksikan keadaan di dalam ruang kecil ini. Tak ada siapa-siapa di dalamnya, mungkin pengagumku ingin aku tiba lebih dulu dan menikmati view dalam pondok sebelum dia menampakkan diri. Aku melangkah lebih ke dalam setelah terlebih dahulu menutup pintu.

Menakjubkan sekali. Siapa dia yang bisa berbuat seindah ini? Pondok kecil penuh sesuatu indah di padang sabana yang baru kali ini kudatangi kerena petunjuk memo botol itu. Lama aku terpukau menyaksikan jejeran botol putih bening berisi kertas bertuliskan namaku menggunakan tinta merah dalam berbagai ukuran gambar hati, semuanya bergeletakan di lantai pondok. Jariku kiri kanan sibuk membolak-balikkan belasan botol serupa yang bergantungan setentang wajahku. Keadaannya sama seperti botol di kakiku, berisi kertas putih. Bedanya, jika kertas dalam botol di bawah sana bertuliskan namaku, maka yang bergelantungan dari atap ini bertuliskan kalimat yang membuatku panas dingin. AKU INGIN MEMILIKIMU SELAMANYA DI SINI, MY PRINCE. Begitu tulisannya.

Tidak hanya botol itu, di tengah ruangan aku menemukan kejutan lain. Ada 3 benda tipis persegi yang berdiri di sana. Foto dalam bingkai sederhana.

Aku melangkah lebih ke dalam. Melihat lebih dekat 3 fotoku dalam bingkai kayu tanpa kaca, bingkai buatan sendiri sepertinya. Aku yang sedang tertawa di taman dengan anak-anak di sekitarku, aku yang sedang berjalan dalam balutan jas di keramaian jalanan menuju kantor dan aku di balik jendela kamar flat-ku yang terbuka dengan rambut kusut baru bangun tidur. 3 bingkai itu berdiri tegak di atas meja kecil di tengah ruangan, pada tiap depannya berdiri masing-masing 1 botol dan sebuah lentera minyak dengan api kecil menjadikan pondok ini dalam remang cahaya saat senja. Yah, di luar memang hampir senja.

Yang melakukan ini pasti seseorang yang mengenalku, bisa jadi dia adalah orang yang amat sangat dekat denganku. Pria atau wanitakah dia? Jika pria, darimana dia tahu aku juga sepertinya? Dan jika wanita, sayang sekali. Usahanya membuat surprise ini bakal sia-sia karena aku tak mungkin melibatkan perasaanku lebih dalam untuknya. Tapi siapa dia? Si Tampan Luke, Si Kekar Damien? Atau Naomi yang jelas-jelas menunjukkan ketertarikannya padaku di office?

Aku membungkuk memandang 3 bingkai itu lebih seksama. Ternyata dia juga mengambil gambarku dan aku tak pernah menyadarinya. Dalam pondok ini semakin gelap karena di luar sana matahari juga hampir terbenam. Aku membesarkan nyala salah satu lentera dan langsung terbelalak menyaksikan keadaan dinding di depan dan samping kiri-kananku yang tadi tak terlihat jelas, tepatnya aku yang kurang jeli melihat tadi. Kecuali dinding di belakangku dimana pintu berada, 3 bagian dinding lainnya penuh bertempelan dengan foto-foto berbagai size, fotoku. Aku membawa lentera itu mendekat ke dinding. God, ini seperti diary bergambar selama hidupku 5 bulan terakhir ini. Seluruh aktivitasku terekam semua dalam potret itu. Aku mulai panik menyusuri tiap jengkal dinding ini, menatap nanar fotoku sendiri yang terdapat tulisan YOU ARE MINE di setiap lembarnya. Berlembar-lembar fotoku di depan lift, di market, di jalan, di restoran, di depan kantor, di bank, di taman, di jendela flat, di dalam taksi, di pintu flat, berlembar lembar fotoku saat jogging pertama kali, aku yang sedang menyetop taksi, aku yang sedang menjinjing belanjaan, semuanya ada dalam foto. Lalu perasaan ngeri mulai merayapiku. Kembali terngiang ucapan Damien ataupun Luke padaku suatu saat dulu.

Bukan mustahil ada psikopat yang menguntitku sepanjang hari selama 5 bulan terakhir. Tuhan, jika dia psikopat berarti ini jebakan. Sejenak babak dalam film-film thriller seperti Lovely Bones, Wrong Turn atau Saw membayang di pikiranku. Rasa menyesal mulai hinggap, seharusnya aku tak datang kemari. Seharusnya aku tak menganggap remeh omongan Damien dan Luke yang mencoba memperingatkanku.

Tunggu, aku mulai menyadari sesuatu. Foto-foto ini pasti hasil bidikan fotografer handal, hasil jepretannya mengindikasikan demikian. Luke, pasti dia orangnya. Dia seorang fotografer. Keyakinanku akan dia pelakunya makin pasti saat ingat pada botol yang pernah kulihat keluar dari kantongnya, dia juga pernah mengendap-endap di depan pintu flat-ku satu malam dulu, pasti kebetulan saja keran-ku menyala saat itu dan dia bisa berkelit dari prasangkaku padanya. Aku harus segera keluar dari sini sebelum dia datang. Kuletakkan lentera itu di tempatnya semula. Siap-siap untuk melesat keluar.

Lalu pintu di belakangku terbuka, terlambat untuk lari. Satu sosok berdiri di sana dalam siraman silau matahari senja yang tepat berada di belakangnya, aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. “Welcome in my castle…! kuharap kamu puas melihat-lihat, My Prince…”

BRAAKK

Pintu dibanting menutup. Satu seruan melesat dari mulutku. Betapa tidak, orang yang berdiri dengan tatapan liar mengerikan di depanku sekarang ini adalah orang yang amat dekat denganku, kawan di hari mingguku. Dia tampak sangat mengancam dengan jaket kulit bertudung dan rantai kecil dalam genggaman tangannya yang ber-gloves. Aku tak pernah melihat dia semenakutkan sekarang, seringainya sama persis seperti yang dimiliki psycho saat akan menghabisi mangsanya yang tak berdaya di film-film thriller itu.

“Tidak ingin memelukku, My Prince?” Dia berucap dingin. “Bukankah kamu pernah bilang begitu?” Dia tertawa. “Bagaimana tepatnya? Aku akan menubruk memeluknya, aku bisa jatuh cinta padanya.” Dia mengutip kalimat-kalimatku. “ Ayo, berikan pengagum rahasia romantismu ini sebuah pelukan.”

Aku benci tawanya. Dia bukan lagi sosok manis yang menemani minggu pagiku selama ini. Dia menimang rantai tipis di tangannya. Rasa takut semakin membungkusku.

“Kamu tak ingin bertanya, My Prince???” Dia bergerak selangkah.

Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caranya aku keluar dari sini. “Apa yang kamu inginkan, Damien?” Aku berhasil bertanya dengan sisa keberanian yang masih kupunya. Suaraku jelas bergetar.

Damien tertawa keras sebelum menjawab. “Aku ingin hati merahmu Aaron. Aku ingin melihatmu terbaring bersama botol-botolku yang sebentar lagi akan basah merah…”

Aku merinding. Hati merah, dia pernah menyebut begitu dalam salah satu suratnya. Juga kalimat ‘bersama botol-botolku.’ Betapa dulu begitu bodohnya aku menganggap itu adalah surat yang romantis. Lalu mengapa dia selalu memperingatkan aku bahwa ada psycho yang mengincarku jika ternyata dia sendiri orangnya? Kedok, ya. Dia ingin rencananya berjalan sesuai bayangannya, dia menikmati permainannya ini. Menikmati statusnya sebagai kawan akrab calon mangsanya, bermain-main bersamaku sebelum menjeratku.

Satu persatu kalimatnya dalam surat melintas di kepalaku. ‘Saat melihatmu, aku langsung yakin bahwa kamu ditakdirkan untuk jadi bagianku…  Kamu telah membangunkan hasrat itu jauh dalam batinku… Aku menggigil ditikam hasrat menggebu-gebu untuk merenggut semua indah di dirimu… Kamu benar-benar ada di sisiku tak pernah jauh melalui gambar-gambar ini… Aku menghayalkanmu sepanjang sore minggu sebagai efek melihat indahmu di pagi hari… Kamu akan segera bersama botol-botolku My Prince…’

Sekarang, semua kalimat itu baru kusadari mengandung isyarat akan siapa sebenarnya dan apa yang diinginkan oleh penulisnya, Damien. “Why…” Desisku, masih kentara getarannya.

Damien kembali menyeringai. “Hanya kerena aku ingin memilikimu untukku sendiri. Aku benar-benar terobsesi denganmu sejak pertama kali melihatmu berdiri di jendela saat pagi pertamamu di flat itu…”

Aku di jendela, fotoku saat di sana ada di atas meja sekarang. Damien benar-benar psycho.

“Kamu membangkitkan sesuatu yang buas dalam diriku. Sesuatu yang sudah lama kutahan agar tak kulakukan pada siapapun. Tapi denganmu, aku tak bisa menolak hasrat itu. Aku akan merasa terpuaskan dan menikmati saat-saat merenggut jiwamu…’”

“KAMU SAKIT JIWA!!!” Pekikku menggelegar.

Meja kecil itu melayang ke arah Damien yang terus tertawa, lentera jatuh kelantai dan segera menyala merah. Aku segera berlari ke pintu dan mendapati tak ada jalan keluar di sana. Pintu itu sudah bergembok rantai.

“Selamatkan nyawamu, Aaron… larilah. Itu hanya akan semakin membuatku bernafsu.” Damien tertawa lagi. Entah kapan benda berkilat itu berada di tangannya, mendampingi rantai yang sudah lebih dulu ada. Kini dia juga punya pisau.

“Bangsat…” Keberanianku mendadak muncul. “Kamu ingin membunuhku, hah!!! Tunggu apa lagi!”

Damien mendekat dengan pisau terhunus. Aku segera merenggut botol-botol di depan mukaku, juga yang ada di antara kakiku kemudian melemparinya secara membabi-buta. Beberapa diantaranya berhasil bersarang telak di tubuh Damien, tapi dia seperti tak merasa kesakitan. Damien terus merangsek menutup jarakku yang kian terpojok. Dan…

CRAASS

Aku meringis, lengan kiriku teriris berdarah. Belum sempat aku menyingkir dan beradaptasi dengan rasa nyeri di lukaku, satu hantaman di wajah membuatku terjengkang di lantai penuh botol. Kurasakan ada beling yang menembus kulitku. Hidungku berdarah, bibirku juga berdarah. Lalu hantaman sepatu kerasnya di perutku membuat teriakanku tertelan kembali diganti semburan darah pekat. Perutku melilit sakit. Aku terbatuk sambil memeluk pinggangku.

Damien tertawa. “Aku sangat menikmati ini, My Prince.”

Tawanya semakin keras. Aku punya cukup waktu untuk meraih botol di lantai dan menghantamkan ke tulang keringnya. Dia berteriak mundur sambil terpincang-pincang. Aku bangun penuh kesakitan, pondok ini mulai membara panas. Api kian membesar bahkan sudah merambat ke atap. Dengan kakiku, aku menendang-nendang dinding untuk menjebolnya sebagai jalan selamat. Tapi sebelum dinding kayu itu hancur, rantai di tangan Damien sudah lebih dulu menjerat leherku.

“Jangan pernah berpikir kamu akan bisa lari dariku…” Ucapnya.

Damien menyeretku mundur, rantai itu semakin ketat menjepit. Tanganku kalah kuat untuk berusaha melonggarkannya. Kakiku mulai melejang-lejang. Aku hampir kehabisan udara di paru-paruku. Tuhan, mati itu ternyata sesakit ini. Damien mulai memperdengarkan tawanya kembali. Aku benci tawa itu. Tanganku menyentuh sesuatu, botol itu lagi. Dengan sisa tenaga aku mengayunkan botol itu serampangan ke atas. Suara tawa berubah menjadi erang kesakitan. Botol itu sukses menghantam keningnya. Jeratan di leherku lepas dan tubuhku kembali melesoh di lantai panas. Aku terbatuk keras, leherku perih. Aku berjuang keras memasukkan udara ke paru-paruku, namun tak banyak berhasil. Udara berasap malah membuatku semakin sesak. Hanya itu jeda yang kumiliki sebelum dengan penuh geram Damien kembali berhasil menjerat leherku, lebih kuat kali ini.

“Say goodbye pada hidupmu, My Prince!”

Kali ini pasti aku tak punya kesempatan melepaskan diri lagi, aku sudah sangat lemah. Banyak luka bersarang di tubuhku, dadaku juga sesak di ruangan pekat berasap ini sementara Damien semakin berkuasa dengan rantainya, lidahku akan mulai terjulur.

Saat aku sudah memasrahkan ajalku di tangan bajingan ini, dinding di sampingku jebol. Lalu dalam pekat asap dan api yang kian berkobar, satu jotosan melintas di sisi wajahku untuk kemudian bersarang di pelipis Damien.

“LEPASKAN DIA, ASSHOLE!!!”

Aku mengenal suara berat itu, Luke Bradford.

Damien melenguh kesakitan bercampur geram. “Bangsat, kau akan jadi mayat pertama di tempat ini!” Teriaknya penuh amarah pada Luke.

Saat jotosan melanda Damien, aku jatuh terjerembab di antara nyala api di lantai pondok, kulitku rasanya panas dan perih. Aku tak sanggup lagi bergerak, hanya pandanganku yang nyalang memperhatikan pergelutan Damien dan Luke –dewa penolongku.

Suara derak kayu termakan api meningkahi perkelahian Luke dan Si Bajingan Damien. Bahu Luke sudah berdarah. Sepertinya Damien berhasil menempatkan pisaunya di sana. Namun kondisi Damien tak lebih baik, mukanya nyaris hancur dimakan puntung kayu menyala yang menghantam cepat dari tangan Luke.

Damien berang dan melompat menyergap Luke, mereka jatuh bergulingan. Damien bertubi-tubi menghantamkan tinjunya di wajah Luke yang tertindih di bawahnya. Aku ingin bangun menolong Luke, tapi tubuhku kembali jatuh. Kemudian tubuh Damien terlempar dari atas Luke, sepertinya tetangga flat-ku itu berhasil menendang perut Damien. Dia terhuyung-huyung ke belakang, darah menyembur dari mulutnya.

Luke bangun sambil memadamkan api yang sempat membakar bajunya saat bergulingan tadi. “Satu-satunya yang akan jadi mayat di tempat terkutuk ini adalah kau sendiri, bangsat!!!” Luke bergerak ke hadapan Damien yang tampak kepayahan untuk berdiri tegak. “Go to hell…!” Lalu tendangan Luke menghantam dada Damien yang tak mampu berkelit.

Kembali tubuh Damien terlempar ke dinding membara di belakangnya. Raungan dahsyat keluar menggidikkan dari mulutnya ketika satu bagian atap runtuh tepat di atasnya dan langsung membara bersama dinding yang sudah lebih dulu menyala. Aku menutup mata ngeri. Lalu kurasakan tubuhku diangkat, Luke menggendongku dan langsung menerobos api untuk kemudian menjauh dari pondok yang semakin berkobar. Api juga mulai merambat ke padang ilalang.

Raung sirine mobil NYPD terdengar di kejauhan. Pasti Luke terlebih dulu menghubungi 911 sebelum melabrak dinding pondok untuk menyelamatkanku tadi. Di kejauhan aku juga bisa melihat mobil tangki petugas pemadam kebakaran dan mobil medis mengekor di belakangnya. Semuanya begerak cepat beriringan menuju ke arah padang sabana ini.

Luke menurunkanku jauh dari pondok. Petugas NYPD langsung sibuk bersama awak penjinak api. Seorang petugas, sepertinya yang punya jabatan paling tinggi datang memberiku dan Luke selimut.

“Semua telah berlalu, kalian akan baik-baik saja…” Ujarnya sambil memberikan selimut itu pada Luke lalu segera berlalu ke arah pondok yang tinggal puing-puing menyala.

Polisi sialan. Mudah sekali dia berkata seperti itu. Aku nyaris mati di dalam sana dan dia mengatakan aku akan baik-baik saja. Sialan betul. Aku tidak baik-baik saja dengan wajah lebam, luka bakar di telapak kakiku, luka gores di lengan, tusukan beling di badan dan dada sakit. Aku tak baik-baik saja dengan bekas rantai tercetak merah di leherku. Belum lagi Luke yang tertusuk di bisepnya dan juga hidung yang berdarah. Aku mendongak menatap wajah Luke. Dia menatapku balik sambil tersenyum.

“Ada saat aku mengira bahwa hidupku akan berakhir ketika di dalam sana…” Ujarku parau.

“Jika aku tak menguntitmu sejak menyetop taxi di depan flat, mungkin perkiraanmu itu benar-benar akn terjadi.” Jawabnya.

Luke menarik kepalaku bersandar di bahunya lalu membungkus tubuh kami dengan selimut. Petugas medis mulai mengerubungiku dan Luke. Sebuah brankar lewat di depan kami, satu sosok tubuh hangus mengerikan teronggok di atasnya. Damien benar-benar terpanggang.

***

1 month later…

Nice Sunday. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruang flat-ku sambil tersenyum. Ruang tamunya baru kudekor ulang, aku juga baru saja menambahkan satu sofa lebar lagi di ruang tamuku. Rak tivi-ku juga sudah ku ganti 3 hari yang lalu. Begitu diperbolehkan pulang dari hospital, hal yang pertama kulakukan ketika sampai di flat adalah memusnahkan botol-botol jahanam itu. Ternyata itu tidak cukup, aku sangat terganggu dengan rak tivi-ku yang lama. Karenanya aku juga melenyapkan rak tivi itu dan menggantinya dengan yang baru. Aku tak ingin bila nanti setiap melihat rak itu akan mengingatkanku betapa dulu aku pernah begitu senang menyusun botol-botol sialan itu di bawahnya.

Kini, aku siap menyongsong hidup normalku lagi. Okey, semuanya perfect. Flat-ku kembali menjadi milikku sendiri tanpa sesuatu apapun lagi yang mengingatkanku pada kejadian buruk sebulan lalu. Saatnya keluar, freezer-ku harus segera diisi. Aku menarik daun pintu dan rasa takut itu langsung menyergapku, membuat perutku melilit. Kurasakan darah pergi dari wajahku.

Di ambang pintu, tepat di ujung sepatuku tergeletak sebuah botol dengan kertas bergulung di dalamnya. Botol yang sama, di tempat yang sama, dengan keadaannya yang juga tak bertutup. God, apa Damien belum benar-benar mati? Atau sebenarnya dia tak sendiri selama ini, tapi ada orang lain yang bekerja bersamanya untuk membunuhku. Atau… ada orang yang terobsesi melakukan kegilaan yang sama seperti yang Damien lakukan. Seorang psycho copycat yang ingin mengulang scenario Damien. Kasus yang menimpaku memang sempat hangat di media 1 bulan yang lalu, hal baik bahwa kehidupan pribadiku tidak digali lebih dalam. Dan sekarang, dengan botol itu lagi di depanku, cukup masuk akal jika aku beranggapan bahwa ada orang yang setelah melihat beritaku di media menjadi terobsesi untuk mengulang hal serupa. Aku mulai gemetar.

“Ehemm,,, Damien tak mungkin keluar dari peti matinya untuk metakkan botol itu di depan pintumu.”

Aku menoleh ke ujung lorong, ke asal suara berat itu.

CEEKREEK… DDDRRRRTTTT…

Luke menjepretkan kamera Polaroid-nya padaku. Aku memandangnya dalam bingung. Dia mengibas-ngibaskan lembar polaroid itu lalu memperhatikan hasilnya sambil tersenyum.

“Foto pertamamu yang aku ambil…” Ujarnya. “Sedang bingung pun kamu tetap tampan layaknya pengeran.”Luke berjalan mendekatiku dan berdiri kira-kira 3 langkah di depanku.

Aku diam menatapnya, apa yang sedang diperankannya di sini?

“Tidak ingin mengetahui isi surat botolmu?” Bibirnya lagi-lagi melengkung manis. “Yah, isinya memang tak seromantis buatan Damien. Tapi aku pastikan walau isinya sama sekali tak romantis, kamu pasti akan menyukainya…”

Aku tersenyum, rasa takutku menguar sudah. Kubungkukkan badanku meraih botol itu lalu menuangkan isinya ke telapak tangan. Aku membuka gulungannya.

‘Akhir-akhir ini aku merasa kalau flat-ku terlalu besar untuk kutempati sendirian. Maukah kamu tinggal di sana dan membuat flat itu tak terlalu besar lagi untukku? Aku janji, tak akan pernah keberatan membagi ranjangku denganmu, aku juga janji gak akan menuntut bagian ranjang lebih lebar saat waktu tidur tiba…’

Aku tersenyum membaca tulisan itu. Ada inisial L di sudut bawah kertas. Kuangkat wajahku menatap Luke yang tampak bahagia. “Apa kapan-kapan kita juga bisa pindah ke flat-ku? Aku baru saja membeli sofa baru, kasihan jika tak sering kugunakan…”

Luke tertawa. “Kemarilah.” Dia menarikku ke dalam pelukannya lalu dengan penuh cinta mengecup bibirku.

CEEKREEK… DDDRRRRTTTT…

Hasilnya adalah wajahku dan wajah Luke dengan hidung dan bibir yang menyatu. Kami tertawa. Lalu aku memeluknya erat sambil merasakan tekstur tubuhnya di tubuhku. Luke menyelempangkan kameranya ke belakang lalu kembali membawa bibirnya merajai bibirku. Luke pandai mencium ternyata. Apakah dia juga cukup pandai untuk membidik lalu menembak?

“Bagaimana kalau kita mencoba sofa baru-mu lebih dulu? Sekarang?” Ujarnya dengan nada nakal sambil menekan pinggangnya padaku.

Aku tak menjawab, sebaliknya menarik tubuh Luke masuk ke dalam flat-ku. Luke menutup pintu di belakangnya lalu menggendongku di depannya. Tak lama setelah itu, aku meleleh di bawah Luke di atas sofa baru-ku.

***

Okey, that’s it. Aku kehabisan kata-kata untuk menulis lebih banyak lagi. Luke sudah membuka tutup botol itu. Aku membaca kalimat yang kutorehkan di kertas kecil ini, LUKE-AARON dalam gambar hati bersayap dan tulisan TRUE LOVE di antara dua sayap itu. Aku menggulung kertas yang baru selesai kutulisi dan memasukkannya dalam botol. Luke menutup botol itu dan melemparkannya ke air laut. Aku tersenyum di pelukannya. Kapal motor kecil yang disewa Luke bergerak seirama riak permukaan laut. Botol itu terus bergerak mengapung. Suatu saat pasti akan ada tangan yang mengambilnya dan melafaskan nama kami yang tertulis indah di dalamnya. Luke menciumku dan berbisik “Hidupku sempurna sekarang. Aku tak butuh apa-apa lagi selama kamu masih memelukku seperti ini…” Lalu dia membenamkan wajahnya di leherku.

Aku sampai di Februari 2012

Dari jari-jari hebat yang pernah kupunya

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com