an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Akhirnya selesai juga. Tulisan ini sudah cukup panjang, tak perlu lah aku menambah halamannya dengan cuap-cuapku yang tak berbobot ini.

Intinya, aku ingin menyampaikan rasa terimakasih-ku yang tak terhingga kepada seluruh sahabat yang sudah bersedia membaca tulisanku walaupun hanya satu paragraph saja. Aku sangat menghargai waktu yang kalian habiskan percuma untuk membaca coretanku yang masih sangat jauh dari kata bagus apalagi sempurna. Lalu,

Well, ini adalah cerpen ke-9 ku setelah The Rich Man And His New Neighbour yang kutulis awal April kemaren. Aku sendiri tak menyangka bakal sampai ke angka ini. Tapi kenyataannya aku memang telah mengantongi SEMBILAN. Hihihii… bahagia, tentu saja. Apalagi aku suka angka 9.

Baiklah, biar kalian gak mencap Nayaka cerewet bagai Beo lagi kasmaran (tapi aku belum pernah lihat Beo kasmaran itu gimana, kekekekekekk) -karena terus mengoceh ngawur dan gaje, baiknya aku akhiri seperti yang sudah-sudah. Ini dia, kalimat favorit-ku, harapanku tentunya. Semoga kalian menikmati membaca DANCING IN THE SILENCE seperti aku menikmati saat menulisnya. Kekurangannya, silakan koar-koar di kolom komen.

Wassalam

-n.a.g-

#####################################################

Dulu dunianya bersuara

Berkata-kata dan berbicara

Suara tawa, suara tangis, suara perasaan

Sungguh, dulu dunia dalam suara

Sekarang?

Dunianya diam mengatup

Bisu

Tak bersuara

Namun dunia tak pernah sunyi

Gaungnya masih terdengar sepanjang lorong

Menitnya masih berdentang pertanda dunia masih berderak

Walau kadang terseok

Langkah-langkah itu masih menapak

Meski kadang tersengal

Nafas-nafas itu masih berhembus

Membawa berita bahwa hidup masih harus dilakoni

Hingga tiba masanya nanti untuk pamit

Walaupun dalam diam

Meskipun dalam kebisuan

Dan cinta ternyata tak mengenal suara

Dalam senyap dunianya ia datang

Dalam bisu hidupnya ia bertandang

Dan dalam diam…

Dia menari…

***

“INI kamarnya, Nak Kur. Silahkan dilihat dulu.”

Aku masuk ke dalam kamar yang kuperkirakan berukuran 6×5 meter ini, lumayan luas untuk ukuran kamar kost-an, lumayan besar untuk ditempati sendiri. Aku sangsi Ibu Nur salah menyebut harganya tadi. Kamar ini terlalu bagus untuk harga semurah itu, jauh lebih murah dari tempat kost-ku sebelumnya. Apalagi fasilitas utamanya sudah lengkap, ada single bed berkasur tinggi lengkap dengan bantal dan guling, buffet kecil di samping kepala ranjang, lemari baju dua pintu lumayan tinggi, dan sebuah meja kecil merangkap rak buku –agak mirip seperti meja belajar jaman dulu dimana bagian yang menyerupai rak hanya dibuat kecil dan rendah di salah satu sudut. Ada bangku kayu bulat tanpa sandaran di depan meja tua itu. Kipas angin model klasik dengan lampu berkelopak tepat di pertengahan baling-balingnya menggantung di langit-langit kamar. Aku melangkah ke jendela besar, menyibakkan tirainya. Ada balkon sempit memanjang di luar jendela. Kamar ini tak menghadap jalan raya seperti kamarku yang dulu, lewat jendela sini aku langsung bisa melihat halaman samping rumah Ibu Nur yang penuh perdu tanaman hias. Kamar ini terkesan teduh. Kekurangannya, tidak ada kamar mandi di dalam sini.

“Ada dua kamar yang masih kosong, yang ini salah satunya, mungkin Nak Kur ingin melihat kamar yang satunya lagi?”

Aku menoleh pada Ibu Nur. “Kapan saya bisa menempati kamar ini, Bu?” Ya, aku sudah memutuskan pindah kost kemari. Jaraknya memang lumayan jauh dari kampus, tapi tak mengapa, aku punya motor sebagai alat transport-ku. Apalagi kamar ini terlalu murah dan terlalu bagus untuk dilepaskan begitu saja.

Ibu Nur tersenyum, membetulkan kain kerudungnya dan menyodorkan kunci kamar ke tanganku. “Mulai sekarang Nak Kur boleh memegang kuncinya. Dalam bulan ini kapan saja ingin masuk silahkan, tapi sewanya tetap terhitung awal bulan depan.”

Ini kali pertama aku bertemu juragan kost sebaik Ibu Nur. Beda dengan dua juragan kost-ku terdahulu yang tak pernah telat menagih uang sewa. Ibu Nur bahkan meliburkan uang sewa untuk sisa hari di bulan ini, jika aku masuk besok seperti niat dalam hatiku sekarang, berarti aku punya 17 hari ekstra tanpa bayar. Kuambil kunci di tangan Ibu Nur

“Eh, tapi tunggu. Apa Ibu sudah menjelaskan kamar mandinya?”

Aku menggeleng. “Apa di kamar kosong yang satunya lagi ada kamar mandi di dalam?”

Ibu Nur yang sekarang menggeleng. “Dua kamar yang punya kamar mandi di dalamnya sudah lebih dulu terisi. Nak Kur boleh pakai kamar mandi mana saja yang di luar kamar. Di atas sini ada dua kamar mandi, dia bawah juga ada dua, tapi yang dekat dapur sering dipakai keluarga ibu.”

Aku mengangguk-angguk. Rumah kost ini memang bukan khusus disewakan semua, bukan kost-kost-an besar. Ibu Nur dan keluarganya juga ikut menempati rumah besar ini. Di awal tadi Ibu Nur sempat bilang kalau hanya ada 5 kamar yang disewakan, 3 di atas dan 2 di lantai bawah. 3 diantaranya sudah terisi, aku satu-satunya penyewa berstatus mahasiswa, sedangkan 3 orang yang menyewa lebih dulu kabarnya adalah orang bekerja. Wajar memang, mengingat kawasan ini jauh dari kampus jadi tak banyak mahasiswa yang memilih kawasan ini sebagai tempat kost. Aku sendiri menemukan rumah Ibu Nur karena kebetulan melewati jalan di depannya 2 hari lalu dan membaca papan bertuliskan ‘DISEWAKAN KAMAR’ yang dipaku di samping gerbang. Hari ini, pulang kuliah aku langsung mencari kepastian kemari dan memang berjodoh dengan kamar bagus ini.

“Saya masuk besok, Bu. Paling telat mungkin lusa…”

Ibu Nur mengangguk. “Kapan saja bisa. Jika Nak Kur perlu bantuan ketika masuk nanti atau ibu sedang tak di rumah, jumpai Pak Bas atau Mbak Pur saja.”

Aku mengiyakan, aku sudah berjumpa dengan dua nama yang disebutkan Bu Nur ketika tiba tadi, mereka bekerja di rumah ini. Ibu Nur melangkah ke pintu, aku mengikutinya keluar kamar. “Apa kamar di sebelah saya ini terisi Bu?” Aku bertanya sambil menunjuk pintu kamar yang tepat bersisian dengan pintu kamar yang baru saja kututup.

“Oh, iya. Kamar ini ditempati Keponakan kami.” Ibu Nur tersenyum, senyuman putus asa. “Dia bisu…”

***

Aku menata barang-barangku. Menyusun buku di meja, memasukkan baju-baju dalam lemari, menempatkan benda-benda kecil lain sebagai pelengkap kamar baruku, menempelkan koleksi posterku yang kebanyakan adalah penyanyi manca dan football star di bagian dinding yang kuinginkan, mengganti seprei dan sarung bantal berikut selimutnya dengan punyaku sendiri yang bercorak Barca, merakit rangka besi tempat menyampirkan sarung dan sajadah atau kadang tuala, dan mengatur letak music player-ku berikut perangkat sound mini di atas buffet di samping ranjang. Aku memandang laptop dan printerku yang masih teronggok di sudut kamar belum aku putuskan akan kuletakkan dimana. Tak mungkin muat di meja belajar itu. Lalu aku memandang toples akuarium-ku yang di dalamnya terdapat kantong berisi satu-satunya ikan hias yang kupunya. Kuhabiskan sedikit masa dengan toples akuarium dan dudukannya itu. Terakhir sekali aku berusaha menggantung penyegar ruangan di kipas angin. Pekerjaan terakhir ini sulit kulakukan sendiri. Aku berdiri bingung sambil menatap bergantian antara meja belajar yang sekarang penuh buku dan peralatan kuliah dengan baling-baling kipas angin yang lumayan tinggi. Kemasan pengharum ruangan jenis gantung masih kutenteng di tangan. Ah, kenapa aku harus beli yang model gantung begini sih. Yah, alasanku karena model gantung begini yang paling murah.

Aku membuka pintu kamar, bermaksud mencari donatur tenaga untuk menggeser meja buku-ku ke bawah kipas agar aku bisa naik ke atasnya dan menjangkau dudukan lampu kipas untuk mengikat penyegar-ku. Begitu pintu terbuka aku langsung mendapatkan donatur yang kuinginkan. Seorang pria baru saja bergerak menuruni tangga, membelakangiku.

“Hey…!” Aku memanggil. Si pria tak berhenti dari geraknya di anak tangga. “Hey, kamu yang di tangga…” Si Pria berhenti. “Bisakah menolongku? Aku perlu bantuan di sini…”

Pria itu berbalik. Kami bertatapan. Lama. Aku kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan bagaimana menawannya pria ini. Tidak, dia belum pantas disebut pria, mungkin cowok. Ya, cowok remaja. Wajah belianya mengindikasikan demikian. Aku yakin dia masih SMA, kelas 1 atau kelas 2. Aku mencoba mengingat-ingat, apakah kemarin Ibu Nur sempat memberitahuku kalau di sini ada siswa SMA yang ngekost? Tapi rasanya tidak ada.

Aku kesulitan menelan ludahku. Mata cowok SMA itu masih terus menatapku, tak berkedip. Aku memperhatikan sesuatu dalam genggamannya, pisau dapur. Untuk apa dia bawa-bawa pisau dapur begitu? “Emm… bisakah menolongku menggeser meja? Aku tak bisa menggesernya sendiri…” Ucapanku menggantung terabaikan beberapa lama. Aku sampai kikuk sendiri.

Lalu cowok itu mengangguk. Kembali menapak menaiki beberapa anak tangga yang sudah dilangkahinya tadi. Wow, ternyata dia jangkung juga. Kami nyaris sama tinggi saat dia sudah berdiri di lantai sama rata denganku. Bila melihat postur jangkungnya, jelas dia dalah cowok dewasa. Namun wajahnya imut bagai wajah remaja SMA. Cowok itu menaruh pisau-nya di dekat tangga lalu berdiri memandangku lagi. Seperti menunggu.

Aku mempentangkan daun pintu. “Mejanya di dalam sini.” Kataku sambil menyisi memberi jalan masuk buatnya. Cowok itu melangkah ragu-ragu melewati pintuku. Kubiarkan pintu tetap terbuka. Tanpa bersuara, dia langsung menuju satu-satunya meja di dalam kamar, memegang pinggiran pada salah satu sisinya. Siap untuk memindahkan meja itu. Dia menungguku memegang sisi yang satunya.

Aku tertawa dalam hati. Cowok ini cute sekali, sikapnya manis. Talk less do more banget deh. “Emm… bukunya harus kupindahkan dulu.” Ujarku lalu mulai menurunkan buku dan peralatan kuliah yang sudah terlanjur kususun tadi. “Aku ingin menggeser meja ini di bawah kipas, untuk menggantung penyegar itu.” Lanjutku sembari menunjuk kantung penyegar-ku di atas ranjang yang pengaitnya sudah kusambung tali raffia.

Si Cowok menjawab dengan anggukan.

Meja sudah tepat berada di bawah kipas. Aku mengambil kantung penyegar lalu naik ke atas meja, mencoba menjangkau dudukan lampu. Tak sampai. Andai aku lebih tinggi 5 atau 10 senti lagi. Aku menghembuskan nafas putus asa, menoleh ke bawah ke arah cowok cute yang berdiri menatapku. Aku nyengir. “Gak sampai ternyata.”

Untuk pertama kalinya cowok itu tersenyum. Oh shit… tak tanggung-tanggung, dia punya lesung pipi di kedua pipinya. Aku terpana hingga melongo bodoh beberapa saat sampai dia meletakkan bangku kayu tanpa sandaran di atas meja tepat di depanku. Kesadaranku kembali.

“Ide bagus.” Aku mengangkat kaki kiriku untuk menapak di kursi kayu itu. Tapi dasar aku yang bodoh, atau memang ini hari sialku. Saat mulai bergerak untuk mempercayakan bobot tubuhku pada kursi, tiba-tiba saja benda itu terjungkal. Aku terlempar dari meja.

“WAAAAAA…!!!”

BRUUGGHHH

Aku jatuh menghantam dada Si Cowok yang sejak tadi setia berdiri tanpa bersuara di dekat meja. Dia terhuyung-huyung sambil menangkap pinggangku. Kami saling mengunci lengan, menghindar dari jatuh bergedebukan di lantai. Kami masih bagai saling merangkul beberapa lama setelah keseimbangan kami kembali. Aku terbius dalam bola matanya, terperangkap di bawah tatapannya yang membuatku beku. Baru ketika cowok itu melepaskan pegangannya di sikuku aku kembali terjaga.

“Ehemm… maaf.” Pasti wajahku memerah kini.

Si Cowok tak merespon, sebaliknya dia mengambil kursi yang tergeletak terbalik di lantai, bermaksud meletakkannya kembali di atas meja.

“Tidak tidak tidak… gak usah aja.” Cetusku. “Aku tak ingin naik lagi, biar kantung itu kuikat di jendela saja.”

Tapi Si Cowok cute seakan tak mendengar ucapanku. Dia melanjutkan meletakkan kursi itu di atas meja, memungut penyegar yang tadi ikut terbaling di lantai saat aku jatuh, kemudian dengan gesit dia menaikinya. Tak butuh waktu lama untuknya menyimpulkan tali raffia di dudukan lampu berkelopak itu.

Aku menatapnya terkagum-kagum. Dia lelaki sekali, gerakannya naik turun dari meja sungguh sangat pria -macho. Aku mulai ragu kalau usianya se-belia wajahnya. “Trims…” Ujarku ketika dia sudah berada kembali di bawah, siap untuk memindahkan mejaku kembali.

Dia tersenyum saja.

Mengapa dia tak bersuara sepatah katapun sejak tadi? Apa dia bisu? Aku berpikir dalam hati. Tuhan, aku ingat sesuatu. Kutatap wajah cowok di depanku. “Kamu keponakannya Ibu Nur?” Aku bertanya hati-hati.

Cowok itu menunduk. Air wajahnya berubah, seperti langit tersaput awan mendung. Apa aku menyinggungnya dengan pertanyaanku? Padahal aku sudah sangat hati-hati memilih kalimat tanya. Bagaimana jika kalimat ‘Kamu keponakan Ibu Nur yang kabarnya bisu itu ya?’ yang keluar dari mulutku? Sungguh aku tak akan bisa memaafkan kekurang-ajaranku jika sampai mengeluarkan kalimat tipe ke-2.

“Maaf…” Ujarku.

Cowok itu mengangkat wajahnya, seakan mengatakan kalau tak ada yang harus dimaafkan. Dia menatapku.

“Maaf karena aku terus mengoceh sejak tadi… seharusnya aku tahu lebih awal dan bisa lebih peka…”

Untuk pertama kalinya dia mengerak-gerakkan jari-jarinya di udara. Gerakan cepat dan menakjubkan.

Aku bingung, sekaligus kagum dengan kecepatannya menggerak-gerakkan kedua jari tangannya. Keningku mengernyit. Di akhir gerak jarinya, cowok itu tersenyum padaku. Kubalas dengan senyum yang sama. Lalu dia menepuk-nepuk meja. Aku tahu, kami harus memindahkan meja ini kembali.

***

Aku mulai sering mencari-cari sosoknya bila aku sedang berada di rumah. Aku ingin melihatnya lagi, sepertinya aku sudah mulai mengikutkan rasa padanya. Namun hingga lewat seminggu setelah momen ‘penyegar ruangan’ itu, aku tak sekalipun lagi melihat sosoknya. Aku tahu dia ada di kamarnya, tepat di balik dindingku. Tapi tak mungkin aku mengetuk pintunya, apa yang akan aku katakan nantinya? Mengatakan bahwa penyegar-ku terlepas dan aku butuh bantuannya untuk memasangkan lagi? Sungguh tak tahu malu, terkesan menyusahkan orang. Terlebih lagi, penyegarku masih tersangkut di tempat dia mengikatnya dulu. Apa aku harus naik ke meja dan kursi untuk melepaskan ikatannya? Bodoh, sebelum naik dan melaksanakan niat itu, aku masih butuh pertolongan untuk menggeser meja terlebih dahulu ke bawah baling-baling kipas. Sungguh gila.

Beberapa kali aku berusaha mendengar bunyi atau suara dari kamarnya, apapun itu. Namun tak pernah kudapatkan. Kamarnya sangat sunyi. Apa yang dilakukannya sepanjang waktu di dalam sana? Mengurung diri? Belum pasti dia mengurung diri. Mungkin saja jam keluyurannya adalah bersamaan dengan jam kuliahku, jadi aku tak pernah bertemu dengannya. Lalu bagaimana dengan hari libur? Aku tak kuliah. Pernah aku berjaga-jaga sepanjang hari di balik pintuku, berusaha mendengar bunyi derit pintu kamarnya yang dibuka atau ditutup, tetap tak kuperoleh. Apakah dia berusaha menghindariku? Mungkin aku yang terlalu mendramatisir, untuk apa dia menghindariku? Pentingkah?

Dan jawabannya kuperoleh dari Ibu Nur saat suatu pagi aku tak sengaja berbincang dengannya. Okeh, bukan tak sengaja. Yang benarnya adalah, aku memang sengaja mengajak Ibu Nur mengobrol, karena aku sangat ingin tahu banyak tentang keponakan tampannya itu. Tentang sekolahnya –jika dia memang bersekolah, tentang kegiatannya sehari-hari, mengapa dia jarang terlihat –untuk hal ini aku masih mikir-mikir apakah perlu kutanyakan, tentang asal-usulnya hingga bisa tinggal bersama Ibu Nur, dan beberapa hal kecil tentangnya yang mungkin mau dibagi Ibu Nur padaku –jika Ibu Nur tak tersinggung tentunya. Lebih dari segalanya, aku bahkan sangat ingin tahu siapa nama cowok itu.

Pertanyaan pura-pura iseng-ku ketika membuka percakapan dengan Ibu Nur adalah; sejak kapan Ibu Nur sudah membuka kost-kost-an ini, lalu berlanjut hingga menyinggung bahwa aku sudah bertemu keponakannya tempo hari.

“Dia tak mendapatkan cacat itu sejak lahir, Nak Kur…”

Ibu Nur masih saja memanggilku dengan penggalan suku kata namaku, mungkin memang KUR itu yang paling mudah diingatnya –ada dua penggalan begitu di namaku depan belakang. Padahal aku sudah memintanya memanggil nama depanku saja di awal obrolan kami tadi, Al saja atau Rahman saja. Kur terdengar kurang familiar di kupingku sendiri, kedengaran seperti jenis tali –tali kur. Tapi bisa jadi Ibu Nur suka memanggilku begitu karena terdengar nyaris sama seperti namanya. Maybe. Aku ingat, Ibu Nur juga memanggil Mbak Purwaningsih dengan Pur saja. padahal Ningsih lebih terdengar keren. Ah, itu tak penting. Aku kembali fokus mendengar penuturan Ibu Nur.

Ibu Nur menarik napas, seakan berat. “Orang tuanya meninggal saat dia baru masuk SD, dia anak tunggal. Sejak orang tuanya tiada, dia tinggal bersama keluarga Ibu. Ibu menganggapnya anak sendiri. Sama seperti ketiga putera Ibu. Ketika masuk kelas lima sekolah dasar, dia sering mengeluh kalau suaranya serak.” Ibu Nur menatapku. “Mungkin kami yang salah, Nak Kur. Kami kurang menanggapi keluhannya. Saat itu, kami mengira kalau suara seraknya karena dia kelelahan atau memang suara khasnya demikian…”

Aku mendengarkan penuturan Ibu Nur tanpa meningkahi. Sesekali aku mengangguk-angguk saja.

“Hingga suatu pagi, kami dikejutkan suara gaduh di kamar Pram…”

Satu keingintahuanku terjawab. Namanya Pram. Pramadi kah namanya? Aku ingat saat SMA punya kawan bernama demikian.

“Kami menemukan dia sedang menendang kesana kemari, membaling benda apa saja dalam kamarnya sambil membuka mulutnya tiada henti seperti hendak berteriak. Dia panik, kami dibuat terkejut. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Pram menangis dan berlari memeluk Ibu… Ibu ingat, dia demam tinggi pagi itu, badannya menyengat di telapak tangan Ibu… ”

Aku menatap Ibu Nur yang tampak sedang mengesat matanya dengan ujung kerudung.

“Maaf, entah mengapa tiap mengingat itu Ibu merasa sedih sendiri. Ibu merasa bersalah kepada Pram, seharusnya Ibu lebih peduli.”

Aku mengerti perasaan Ibu Nur.

“Dokter mengaku kalah. Kami terlambat. Mereka tak dapat melakukan apa-apa dengan pita suara Pram. Sejak itu Pram divonis bisu… namun, adalah kasih tuhan bahwa Pram masih bisa jelas mendengar. Indera pendengarnya sama sekali tak terganggu seperti kebanyakan orang bisu pada umumnya. Banyak penyandang tunawicara yang juga ikut menyandang cacat pendengaran, tapi sungguh anugerah… Pram masih memiliki indera pendengarnya itu.” Ibu Nur menatapku. “Tentang dia yang tertutup dan sering mengurung diri… Ibu rasa Nak Kur bisa mengerti…”

Aku mengangguk. Ya, aku mengerti. Kebanyakan penyandang cacat -apapun cacatnya- merasa minder dan rendah diri terhadap keadaanya. Apalagi dalam kasus Pram, tentu dia merasa malu dengan keadaannya, dia masih muda.

“Pram tak punya teman. Anak-anak ibu sudah dewasa semua dan tak tinggal di sini. Mereka sudah menikah dan mandiri. Di sini mungkin hanya Nak Kur yang bisa dianggap sebaya dengannya…”

Aku tahu maksud ucapan Ibu Nur, secara tersirat dia mengharapkan aku bisa menjadi teman Pram. Pasti, aku memang bertekad untuk menjadi temannya. Sejak dia melewati pintu kamarku hari itu, aku sudah berjanji pada hatiku. Bahwa aku akan menjadi temannya.

***

Aku tersenyum saat dia muncul di ambang pintu. Sore ini aku nekat mengetuk pintunya, bersorak girang dalam hati ketika kenop pintunya bergerak. “Aku bosan sendirian di kamar, gak mud untuk jalan juga. Keberatan bila aku mengganggumu sebentar?” Ucapku begitu wajah rupawannya melongok di balik daun pintu kamarnya.

Pram berkedip satu kali, lalu menguak daun pintu lebih lebar. Aku melangkah ke dalam kamarnya. Kudengar bunyi pintu menutup kembali. Aku masih mematung tak tahu harus bergerak kemana. Setelah menutup pintu tadi, Pram tidak melintas di depanku. Aku menoleh ke belakang, ternyata dia malah menyender di pintu sambil melipat tangannya di dada dan memandangku tak berkedip. Aku merasa seperti dinilai.

“Ehem… kamarmu rapi ya…” Sungguh bukan kalimat yang tepat untuk memulai obrolan. Aku mengabaikan Pram yang masih menyender tanpa merespon lalu mulai menyapu seluruh kamarnya dengan mataku. Sama seperti kamarku juga, dia punya single bed, buffet kecil, lemari dan kipas angin yang sama, ada meja juga –tapi tak serupa dengan mejaku- yang ditaruh dekat lemari. Di atas meja itu bertumpuk buku-buku yang kelihatan usang, sekilas pandang seperti tumpukan novel. Di kolong meja ada satu kardus kecil, entah apa isinya. Yang menarik perhatianku, di satu sudut kamar, dekat jendela, ada kursi kayu tua bersandaran tinggi agak rebah, seperti sandaran kursi goyang. Di samping kursi ada meja bundar rendah dimana di atasnya bertebaran alat tulis, kebanyakan adalah pensil berbagai ukuran. Ada satu papan jepit juga di sana –seperti papan yang digunakan saat mengisi lembar jawaban komputer ketika ujian, berbahan tripleks dan kelihatan tua. Aku juga menemukan pisau dapur di antara benda-benda di mejanya. Pada dinding di dekatnya terdapat sandaran flip-chart atau sandaran kanvas mungkin, di sana terjepit beberapa kertas putih tidak begitu lebar. Apa Pram seorang pelukis? Tapi tak ada cat atau kuas di atas mejanya. Sepertinya sudut kamar itu adalah pusat aktivitas Pram.

Aku memandang ke belakang, Pram masih di pintu. “Bolehkah?” Aku menunjuk ke sudut yang membuatku penasaran dan tertarik ingin melihatnya lebih dekat, bukan… aku teringin untuk menyentuhnya.

Pram mengangguk dalam posisinya yang tak berubah. Aku segera mendekati begitu mendapat izinnya. Obyek pertama yang menjadi sasaran tanganku adalah sandaran flip-chart-nya. Dan aku langsung terbelalak begitu menyibak kertas putih paling atas. Bagaimana tidak, ternyata kertas yang di atas adalah semacam sampul untuk melindungi kertas-kertas di bawahnya. Tahukah apa yang aku temukan? Gambar. Ya, gambar yang hanya dibuat dengan dawat pensil. Apa ya sebutan kerennya, karikatur? Ya, karikatur. Tapi buatan Pram lebih rapi dan lebih berseni. Indah. Aku terpukau menatap gambar sebuah ruangan dimana terdapat seorang pria berdasi sedang menghisap cerutu di atas kursi bergaya Eropa. Seperti kebanyakan karikatur, bagian kepala si pria pastilah lebih lebar dari badan dan pinggangnya. Brilliant, Pram sungguh bertalenta di bidang gambar. Goresan pensilnya sungguh jenius. Ini bakat luar biasa.

Aku menoleh lagi padanya. “Buatanmu?” Pertanyaan bodoh, tentu saja buatannya, ini kamarnya. Dasar Rahman goblok. Aku mengutuk pertanyaanku sendiri. Seharusnya aku bertanya yang lebih berisi dari itu, misalnya; sudah berapa lama kamu menekuri bidang karikatur ini? Itu lebih terdengar pintar.

Pram mengangguk. Masih di pintu. Aku menatapnya sedikit lebih lama, menatapkeindahan sosoknya yang berbalut kargo selutut dan oblong putih bercorak print tak beraturan. Aku kembali ke kertas-kertas di sandaran flip-chart sesaat setelahnya. Mindaku bercelaru. Bagaimana caranya aku bisa membuatnya tersenyum? Aku ingin melihat senyum manisnya yang berlesung itu. Dan bagaimana juga caranya aku bisa menyentuh wajah perseginya? Menyentuh hidung tingginya, juga menyentuh bibirnya yang cerah? Sungguh, aku sangat ingin memilikinya.

Kembali aku membalik kertas bergambar itu hati-hati. Kudapati lembar kosong seperti yang pertama tadi di bawahnya. Ternyata tiap satu gambar harus diselang dengan satu kertas polos, untuk apakah? Agar tinta pensil pada satu gambar tidak mengotori pada kertas gambar lain? Bisa jadi. Gambar kedua adalah tumpukan buku, terlihat sangat nyata. Tiga ekor pengerat berada di dekat tumpukan buku itu, dua ekor di atasnya sedang menggigit sisi-sisi buku. Gambar sarat makna, begitulah karikatur. Aku berlanjut ke gambar ketiga, tentu setelah kertas putih polos di bawah gambar kedua. Aku terkikik, gambar ketiga ini lucu. Seorang perempuan berkebaya, berkain batik dengan sanggul luar biasa gede sedang memikul sebuah karung yang terlihat sangat berat ; perempuan yang melakukan pekerjaan laki-laki.

“Gambar ini lucu ya…” Kataku sambil menoleh pada Pram. “Wanita perkasa. Dengan kebaya dan kain batik. Seharusnya dia ke kondangan, bukan malah menjadi buruh kasar.” Dan berhasil, dia tersenyum menanggapi kalimatku. Aku bahagia melihatnya.

Pram berjalan mendekatiku. Ikut berdiri di sisiku memandang gambarnya sendiri. Dia begitu dekat, aku suka wanginya. Lembut dan melenakan. Jauh dari bau keringat yang maskulin memang, tapi aku suka bau Pram. Seperti bau udara berbaur embun saat fajar, bersih dan segar.

Aku menghirup nafas dalam-dalam, mencoba menyimpan wangi Pram di memoriku. Jika nanti aku mencium bau yang seperti ini lagi, maka aku akan langsung tahu kalau itu adalah Pram.

Aku melanjutkan melihat kertas-kertas itu, ada gambar bocah berperut buncit yang sedang menangis di tengah kerumunan, gambar pria kantoran memegang segepok uang sambil terbahak, gambar anak sekolahan dengan seragam kusut sedang menyulut rokok, gambar orang-orang di atas papan catur dimana ada dua pria berdasi dengan ukuran lebih besar dari papan catur dan orang di atasnya, sedang fokus memerhatikan papan catur itu. juga ada beberapa gambar lain yang semuanya terlihat cerdas di mataku. Lalu aku melihat sesuatu di sudut bawah kertas gambar paling akhir, seperti tanda tangan. Tanda tangan Pram? Ada huruf M.P.I di bawah tanda tangan kecil itu. Apakah itu inisial nama Pram? Aku meneliti kembali tiap lembar yang sudah kulewati, ternyata tanda tangan dan inisial serupa ada di sudut kiri bawah tiap gambar. Bagaimana aku tak memperhatikannya sejak tadi-tadi?

Aku menunjuk tanda itu sambil menoleh pada Pram. “Inisial-mu?” pertanyaan bodoh lagi.

Pram mengangguk.

“Lengkapnya?”

Pram mulai menggerak-gerakkan jarinya di udara. Keningku mulai mengernyit, aku tak paham maksudnya. Agaknya Pram menyadari ke-tak-mengertian-ku,  setengah jalan kemudian dia berhenti menggerakkan jarinya. Lengannya jatuh lemas di sisi badan sambil menghembuskan nafas putus asa untukku.

Aku tersenyum. Dia tampak lucu menggemaskan bila sedang berada dalam keadaan demikian. Ingin aku menarik hidungnya. “Sorry… aku tak mengerti bahasa isyarat tangan…”

Pram bergerak ke arah meja bukunya. Kulihat dia mengambil buku –sejenis notes- bersampul hitam, ujung pulpen menyembul di pertengahan buku itu. Pram menuliskan sesuatu. Ternyata itu caranya berkomunikasi dengan orang sekitarnya yang tak mengerti bahasa isyarat. Beruntung Pram tak buta huruf, aku yakin dia punya kecerdasan di atas rata-rata.

M. PRAMUDA INDIKA

Dia menampakkan tulisannya padaku. Namanya. Bagus. Ternyata Pramuda, bukan Pramadi seperti yang kuperkirakan. Dan tahu apa? Tulisan tangannya sangat berkarakter.

Aku tersenyum, dia balas melengkungkan bibirnya. Ternyata Pramuda tak sedingin yang kukira. “Huruf M singkatan dari Muhammad, benar?”

Kali ini Pramuda menggeleng. Selanjutnya dia menulis lagi.

MAHATIR

“Ohh… namamu bagus ya. Tahukah? Perdana Menteri Malaysia dulunya juga bernama Mahatir…”

Pramuda tersenyum. Oh tuhan, aku bisa mengatakan cinta padanya saat ini juga bila dia terus-terusan mengodaku dengan senyumnya itu. Lalu dia menunjukku, seakan bertanya balik tentang namaku.

“Namaku?”

Pramuda mengangguk antusias.

Aku mengulurkan tanganku untuknya. “Perkenalkan…” Pramuda ragu-ragu ketika menyambut tanganku. Kami berjabatan. Jabatan Pramuda hangat, tangan besarnya seakan nyaman kugenggam dalam tanganku yang tak kalah lebar. “Alkurrahman Imran Kurnia…” Aku belum mau melepaskan tangannya. Kami bertatapan. “Apakah namaku bagus?”

Pramuda seperti tertawa. Ah, andai dia punya suara… pasti aku akan bisa mendengar suara tawanya itu. Kemudian dia memberiku sebuah anggukan. Aku melepaskan tangannya. Dia langsung menulis.

NAMAMU BAGUS, SEPERTI PEMILIKNYA. SIAPA DIRIMU BIASA DIPANGGIL?

Aku senang. “Al, temanku sering manggil begitu. Keluargaku memanggil Rahman. Tapi Ibu Nur malah memanggilku Kur…” Aku tertawa. “Sungguh, Ibu Nur orang pertama yang memanggilku begitu. Kedengaran lucu ya…”

TIDAK. TAPI AKU LEBIH SUKA IMRAN, IM ATAU RAN. DUA-DUANYA AKU SUKA

Aku lebih senang setelah membaca kalimatnya itu. Dia suka nama tengahku. “Kamu boleh menyebutku begitu, Pram…” Aku diam sebentar. “Jadi, hari-harimu kamu habiskan bersama pensil dan kertas itu?”

Pramuda mengangguk.

“Gambarmu bagus. Pernah dikirim ke tabloid, Koran atau majalah? Barangkali mereka mau memuatnya. Atau penerbit? Aku rasa gambarmu sangat layak diterbitkan.” Ucapku optimis. “Hei, atau dijual saja. Aku yakin, bila gambarmu ini diberi bingkai, pasti akan dibeli banyak orang untuk dijadikan hiasan… karyamu unik…” Aku melanjutkan tak kalah semangat dari sebelumnya.

Pramuda tersenyum dan kemudian berbalik. Dia menarik kardus yang ada di bawah meja, menyeretnya ke dekat ranjang. Kardus itu dibukanya, lalu dia melambai padaku, memintaku duduk bersamanya di ranjang. Tanpa ragu, aku kini sudah berada merapat di sisinya.

Pramuda mengeluarkan sesuatu dari dalam kardus. Buku folio. Dia menyerahkan buku itu padaku, sedangkan dia sendiri mengeluarkan isi selanjutnya dari kardus itu. Tumpukan surat kabar. Dia menunjuk buku dalam pangkuanku, mengisyaratkan agar aku membukanya.

Aku membuka halaman pertama. Gambar, karikatur. Ternyata buku folio tak bergaris ini adalah kumpulan karikatur yang telah dibuat Pram. Pram mencolekku, dan menampakkan surat kabar paling atas. Aku terbelalak, di sana ada gambar yang sama dengan yang ada di halaman pertama buku ini. Lalu pram mengambil surat kabar kedua, memintaku berpindah ke halaman buku selanjutnya. Seperti halnya kertas pada sandaran flipchart tadi, gambar pada buku ini juga dipisahkan dengan satu halaman kosong. Kembali aku melihat gambar yang sama di dalam koran dan di halaman buku folio ini.

“Gambarmu dimuat di surat kabar ini?” Aku bertanya takjub.

Pramuda mengangguk, mengambil bukunya dan segera menulis.

AKU MENGISI RUBRIK KARIKATUR MEREKA DI HARI MINGGU, SUDAH SETAHUN INI. GAMBAR DALAM BUKU ITU SUDAH LAMA JADI, KORAN INI KUSUSUN BERDASARKAN URUTAN GAMBAR DALAM BUKU ITU.

Hebat. Dengan cacat yang dimilikinya, ternyata dia masih bisa mendulang prestasi. Aku bertepuk tangan. “Keren… honornya pasti besar. Kapan aku diajak mencicipinya?”

Pramuda tertawa, tanpa suara. Aku senang melihatnya.

KAPAN-KAPAN NANTI YA!

“Okey, aku setia menanti.” Ujarku setelah membaca tulisan di notesnya.

Kami melanjutkan melihat gambar. Sungguh, aku takjub dengan cowok di sampingku ini. Dia memang penyendiri. Seperti yang kufikirkan saat bicara dengan Ibu Nur kemarin. Karena bisu, Pramuda merasa malu dan minder bergaul. Tapi bila prestasinya secemerlang ini, orang sempurna indera sepertiku-lah yang seharusnya minder dan malu.

Lalu aku ingat pisau di meja bundarnya. “Pram, kamu suka menyimpan pisau di kamar ya? Saat pertama jumpa minggu lalu, kamu juga bawa-bawa pisau kan? gak ngeri?”

Lagi, dia tertawa membuat lesungnya makin menggemaskan. Kembali Pramuda menulis di notesnya.

PISAU ITU UNTUK MERAUT ALAT GAMBARKU, LEBIH MUDAH MENGGUNAKAN PISAU. AKU BISA MENGATUR LEBAR DAWAT PENSIL DENGAN MUDAH KETIMBANG PAKE PERAUT PENSIL YANG HASILNYA RUNCING SEMUA. HARI ITU AKU INGIN MENGASAHNYA DI DAPUR.

Aku ber-oh panjang. “Kirain kamu hobi debus… tau? Ilmu kebal gitu…” Aku membuat gerakan mengiris lengan dengan tapak tanganku.

Pramuda tertawa, kemudian menulis.

AKU SUKA SIFAT-MU IM, KAMU LUCU.

“Tentu, banyak kok yang bilang gitu…” Jawabku sambil nyengir. “Aku kan memang menyenangkan, suka bikin gemes orang.”

Pramuda menggeleng-geleng. Sepertinya dia istighfar dengan sifat narsisku yang tak terduga.

“Aku juga suka kamu Pram. Kamu baik, tipe most wanted untuk dijadikan kawan…”

Pramuda memandangku. Sejenak kemudian tangannya kembali menari di kertas.

KAMU ORANG PERTAMA YANG BILANG BEGITU. MAKASIH, IM.

“You’re welcome, Sir…”

***

Sejak hari itu, Pramuda lebih terbuka denganku. Aku akan selalu mengetuk pintunya lebih dulu sebelum masuk ke kamarku ketika pulang kuliah, sekedar memberi tanda kalau aku sudah pulang. Pramuda sesekali akan meminta ideku untuk karikaturnya yang kadang membuat bahunya berguncang karena ideku konyol semua. Aku pernah memberinya ide untuk menggambar orang ngantri beras, orang ngantri minyak tanah, orang ngantri LPG, bahkan satu kali pernah juga menyarankan gambar orang ngantri MCK di sungai. Dan yang membuatku senang, meskipun konyol, semua ide itu tetap dibuat gambar olehnya.

Pramuda juga mulai sering menghabiskan sore di kamarku, bercengkrama dengan ikan lohan-ku di  toples akuarium. Mengobok-obok laptopku kadang-kadang, melihat-lihat koleksi musikku yang kebanyakan adalah disc lagu barat. Dia juga sangat suka menemaniku duduk di depan jendela saat senja. Yah, meskipun kami tak bisa melihat matahari dari sini. Namun sudah cukup senang bisa melihat awan berubah kelabu.

Selain itu, Pramuda sering kupaksa ikut aku keluar. Mulanya dia menolak mati-matian ketika kuajak, tapi aku tak mau menyerah. Momen jalan-jalan pertama kami adalah ke pasar malam yang dibuat tak jauh dari rumah. Lucu ya, cowok doyan pasar malam juga, biasanya ibu-ibu sama anaknya atau remaja-remaja tanggung. Yang pastinya bukan mahasiswa tahun akhir sepertiku. Tapi begitulah kenyataannya, aku mengajak Pramuda ke pasar malam. Masih kuingat ekspresi gembiranya saat kami memenangkan game lempar kaleng. Malam itu aku berhasil memberinya topi kupluk, hadiah dari kaleng-kaleng yang berhasil aku jatuhkan. Pramuda gembira di sampingku malam itu. Sadar atau tidak, dia menggandeng tanganku sepanjang jalan pulang.

Lalu, Pramuda mulai sering minta diajak jika aku keluar, entah ke toko buku, sekedar menemaniku ke ATM saat awal bulan, ke warteg saat tanggal tua –untuk yang satu ini keseringan dia yang bayar, ke toko kaset, atau ke swalayan. Aku senang-senang saja jika dia mau menemani, seperti yang kubilang, aku menyukainya. Aku menyukai saat-saat dia duduk di boncenganku dengan tangan melingkar di pinggangku. Meskipun kami hanya diam sepanjang perjalanan, tapi waktu yang kulalui bersamanya sangat berharga buatku, walaupun dalam ke-diam-an.

Hari ini aku sedang di toko kaset. Aku ingin mencari Bruno Mars. Di sampingku, Pramuda ikut mengobok-ngobok rak kaset. Lalu dia terlihat senang, aku menoleh padanya. Di tangannya tergenggam sebuah kaset, cover lama Richard Marx. Jari-jarinya mulai bergerak-gerak cepat, dia tak membawa notesnya kemari. Aku masih belum mengerti bahasa isyarat itu. Aku menyimpulkan kalau dia ingin aku membeli kaset itu.

“Kamu suka kaset itu?”

Pramuda mengangguk.

“Ingin aku membelinya?”

Kali ini menggeleng.

Aku mengernyit. “Kalau kamu suka, aku akan beli kok. Kamu bisa mendengarnya di kamarku…” Pramuda memang tak punya perangkat musik di kamarnya sendiri.

Pramuda mengerakkan tangannya seperti bila kita mengatakan ‘tak usah’ atau ‘bukan begitu.’ Lalu dilanjutkan dengan gerakan jari-jarinya lagi. Aku tak mengerti.

Kemudian emosiku disulut. Sekelompok pemuda yang berada di dekat situ tertawa nyaring, pandangan mereka tertuju padaku dan Pramuda. Bangsat. Mereka menertawakan ke-cacat-an Pramuda. Sungguh tak ber-etika. Pramuda kontan berhenti dari bahasa isyaratnya. Aku menangkap mendung di wajahnya.

Dasar bedebah, dengan beringas aku bergerak menuju mereka.

PRRAAKK

Kaset Bruno Mars yang sedang kuteliti tadi sukses kubanting ke lantai, tepat di kaki 4 pemuda kurang ajar itu. “APA YANG BEGITU LUCU, HAH?!” Aku menatap mereka tajam. “Gak pernah belajar etika kah? Dasar manusia otak udang.”

Mereka sama sekali tak terlihat menyesal. Pramuniaga toko kaset tercengang dan memerhatikan ke arah kami. Pramuda menarik tanganku mengajak pergi setelah lebih dulu memungut kaset yang kemasannya telah retak itu dari lantai. Aku siap berbalik mengikuti Pramuda ketika mendengar salah seorang dari mereka berucap diikuti suara tawa setelahnya.

“Lucu aja sih liat orang gagu…”

PAAMM

Aku menonjok rahang Si Bedebah yang mengeluarkan ucapan. Membuatnya tersungkur ke lantai. Bibirnya berdarah. 3 kawannya langsung panas.

“Bangsat loe ya…”

“Mulut kalian yang kurang ajar…” Aku berang dan siap adu jotos dengan salah seorang dari mereka.

Pramuda menarikku kuat-kuat hingga aku menjauh dari mereka. Beberapa pria berseragam toko kaset ini ikut melerai. Sebenarnya aku sangat ingin menghajar mulut mereka satu-satu. Tapi Pramuda tak memberiku peluang. Dia menyeretku keluar setelah membayar harga kaset yang kurusakkan di kasir tanpa menghiraukan uang kembalian.

Aku mengemudi motor bagai orang kesetanan. Berkali-kali Pramuda memukul bahuku menyuruhku pelan. Dia panik di belakangku, andai dia bisa bersuara mungkin saat ini dia akan mencaciku, mencaci sikapku di toko kaset tadi, juga mencaci karena aku sama sekali tak menggubris isyaratnya untuk memelankan laju motor.

“AKU HANYA TAK INGIN MENDENGAR KAMU DIANGGAP LUCU! AKU GAK INGIN KAMU DITERTAWAKAN ORANG, PRAM…” Aku berteriak di kamar Pramuda. “Tidak di depan mataku. Akan aku hajar siapapun yang berani menyebut lucu cacatmu di depanku… Aku gak suka kamu jadi objek untuk mereka tertawakan… Aku gak suka mereka merendahkanmu…” Aku menonjok dinding kamar. Sungguh, amarahku belum meledak sepenuhnya ketika menghajar salah seorang dari mereka tadi. “Seharusnya kamu tak menarikku, Pram. Mereka pantas dibogem.”

Pramuda sepertinya marah. Dapat kulihat dari pandangan dan gerakan tangannya. Lalu dia mengambil notes, menulis cepat dengan menekan pulpen kuat-kuat hingga aku khawatir notes itu akan robek sebelum dia selesai menulis. Notes itu  dilemparkannya ke badanku setelahnya.

AKU MEMANG CACAT, AKU GAGU. MEREKA BENAR. AKU GAK SUKA DIBELA SIAPA-SIAPA, AKU GAK MAU DIKASIHANI. TINDAKANMU HANYA MEMBUATKU SEMAKIN DIPERHATIKAN UNTUK DITERTAWAKAN LEBIH BANYAK ORANG. BIARKAN MEREKA MENERTAWAKANKU, INI BUKAN KALI PERTAMA AKU MENDENGAR TERTAWAAN MERENDAHKAN, JAUH SEBELUM KAMU DATANG DI HIDUPKU AKU SUDAH SANGAT KENYANG DENGAN KALIMAT MENGHINA SEPERTI ITU. KAMU TAK PERLU MEMUKUL ORANG-ORANG HANYA KARENA AKU MEMANG CACAT. AKU CACAT!!!

Aku terhenyak. Salahkah aku membelanya? Tidak, aku yakin aku tak salah. Pemuda-pemuda di toko kaset itu yang salah. Pramuda menganggap pembelaanku untuknya adalah hal sia-sia kerena dia merasa mereka benar. Tuhan, dia pasti sangat terluka. Aku membayangkan masa-masa kecil Pramuda, dia menulis bahwa sudah cukup kenyang dengan ejekan. Seberat itukah masa lalunya hingga dia memilih mengasingkan diri di biliknya? Berlindung dari mulut-mulut yang menertawakannya? Berlindung dari ucap yang menyakitkan hati dan perasaan? Namun nyatanya, dia tak selamanya terlindungi. Hari ini dia kembali mendapatkan racun itu. begitukah yang difikirkannya sekarang? Ingin aku memeluknya, menjadi tempat dia bersandar. Namun rasanya mustahil, aku tak menemukan tatapan optimis lagi di matanya saat ini seperti hari-hari lalu ketika dia gembira bersamaku.

Pramuda menyapu matanya. Dia menangis. Lalu dia berjalan ke pintu, membukanya lebar-lebar untukku. Wajahya menunduk menekuri lantai. Tidak, aku tak ingin keluar dari kamarnya. Aku tak mau menjadi kembali asing baginya. Aku tak mau beranjak selangkah pun, masih berdiri di tempatku sambil menatap memelas padanya. Tapi Pramuda tak sedikitpun menolehku.

Aku kalah bertepatan dengan gema adzan maghrib. Perlahan aku melangkah lunglai menuju pintunya. Tak mungkin aku terus di sini menunggunya menatapku, tak akan kudapatkan.

“Aku hanya tak ingin mereka merendahkanmu… Aku hanya melakukan apa kata hatiku saat mendengar mereka tertawa…” Ujarku lirih ketika sudah melewati ambang pintu Pramuda.

Daun pintu terhempas, dia tak memandangku sedikitpun.

***

Aku sedang berdiri di depan cerminku, memperhatikan gerakan jariku sendiri di dalam pantulan cermin sambil sesekali melihat ke kertas besar yang aku tempel di sudut cermin, kertas hasil browsing-ku sebulan lalu. Begitu besarnya kertas itu hingga nyaris menutupi 40% permukaan datar di depanku ini. Ya, aku sedang belajar bahasa isyarat seperti yang dikuasai Pramuda. Aku bertekad akan menjadi bisu bila bersamanya. Aku tak peduli biarpun dia tak suka nanti, atau menganggapku bodoh. Aku tak peduli, biarpun orang-orang akan memandangku aneh di luaran bila aku pergi bersama Pramuda lagi –jika Pramuda masih bersedia pergi denganku- dan kami berbicara dengan jari-jari kami. Setidaknya dia tak akan merasa sendiri lagi menerima pandangan kurang ajar orang-orang, aku akan ada untuk berbagi pandangan sialan itu bersamanya. Pertanyaannya sekarang, maukah Pramuda membuka dirinya sekali lagi untukku masuk ke dalam dunianya? Aku ragu dia akan menerima usahaku ini dengan suka cita, bagaimana kalau dia berpikir aku malah menyindirnya dengan bahasa isyaratku ini? Tidak, aku tak mau memikirkan kemungkinan itu. Aku optimis, aku akan ikut bisu bersamanya. Karena aku tak sanggup lagi bertahan melalui hari-hari tanpa melihatnya.

Ya, semenjak insiden itu Pramuda kembali menutup pintunya. Dia kembali diam dari dunia di luar kamarnya. Aku tak pernah melihatnya lagi. Tapi kebiasaanku mengetuk pintunya ketika pulang kuliah tak sekalipun kutinggalkan. Aku masih melakukannya, juga masih menunggu beberapa saat setelah ketukan itu –berharap kalau-kalau Pramuda luluh dan mau memutar kenop pintunya untukku. Namun sudah hampir sebulan ini harapku sia-sia belaka. Pramuda tak pernah menyentuh kenop pintunya untuku.

Ibu Nur juga tak bisa membantuku lebih banyak. Selalu hanya gelengan lemah tiap aku bertanyakan Pramuda setelah Ibu Nur menemuinya di kamar. Aku juga selalu berusaha mengintip bila aku sedang di rumah saat hari minggu, berusaha dapat melihat siluet Pramuda sekilas saja saat dia membuka pintu untuk Ibu Nur masuk ketika mengantarkan surat kabar yang memuat karikaturnya. Namun nihil. Aku tak seberuntung yang aku harapkan.

Aku mengulang-ngulang gerakan jariku. Ah, begitu sulit ternyata. Aku sudah memperlajarinya nyaris sebulan penuh. Tak ada waktu luang yang terlewati begitu saja tanpa berdiri di depan cermin ini. Pagi sebelum berangkat kuliah, sore saat tiba di kamar, pun demikian saat aku bangun lebih pagi dengan sengaja, atau malam sebelum aku tidur –seperti sekarang. Namun nyatanya aku belum sepenuhya menguasai bahasa isyarat yang sering disebut ASL(*) ini. Sangat susah, sejauh ini aku baru menguasai huruf dan angka. Itupun masih belum pas, jariku masih salah letak kadang-kadang. Belum lagi isyarat-isyarat untuk kata-kata umum dalam percakapan dan benda-benda sekitar yang lazim ditemukan. Ah, melelahkan ternyata. Aku jadi berpikir bagaimana Pramuda belajar dulunya? Siapa gurunya? Apakah dia belajar sendiri juga sepertiku saat ini?

Aku menghempaskan badanku di ranjang. Menghirup udara banyak-banyak dan melepaskannya perlahan. Baru kusadari, penyegar ruanganku tak berefek lagi. Aku tak menggantinya sejak Pramuda mengikatnya di sana dulu. Aku tersenyum sendiri, mengingat bagaimana dulu aku jatuh menubruknya. Ah, seharusnya saat itu aku pura-pura limbung saja agar dapat bergulingan bersamanya di lantai. Jika itu aku lakukan, mungkin saja aku bisa memeluknya di bawah atau di atasku. Kesempatan memang tak datang dua kali, kata orang. Aku mengulet merenggangkan otot-ototku yang kaku.

Aku bangkit duduk saat mendengar suara berkeresekan, seperti berasal dari arah balkon. Aku langsung turun dari ranjang dan segera melesat ke jendela. Buru-buru kubuka jendela dan menyeberang ke balkon sempit di depan jendelaku.

Apa yang aku temukan? Aku sukses terbelalak. Di sebelah sana -di samping balkonku- kutemukan Pramuda sedang berpegangangan kuat-kuat di rangka balkonnya. Di nyaris terjatuh, kakinya bergelantungan di luar balkon. Bagaimana dia bisa hampir terjun begitu? Apa yang sedang dilakukannya sebelum dia bergelantungan demikian?

“Ya tuhan Pram… apa yang terjadi…” Aku panik.

Pramuda menatapku sekilas dengan muka memerah. Ada bayangan ketakutan di matanya. Dia takut akan jatuh. Pramuda berusaha mengangkat tubuhnya melewati rangka balkon, namun gagal. Dia tetap bergelantungan.

“Jangan Pram… tunggu aku menyeberang ke situ. Jangan bergerak… berpeganganlah kuat-kuat!”

Aku ingin berteriak minta tolong. Tapi ini nyaris tengah malam, Pramuda pasti tak ingin aku membuat kehebohan dengan dirinya yang masih bergelantungan seperti itu. Aku sangat menjaga perasaannya, bisa jadi dia akan malu bila orang-orang melihatnya begitu. Aku bingung, apa yang telah diperbuatnya hingga terjebak di rangka balkon seperti itu. Ah, ini bukan saatnya berpikir.

Aku siap-siap akan menyeberang dari balkonku menuju balkon Pramuda, jaraknya terpisah sekitar satu meter, bukan, nyaris dua meter sepertinya. Jaraknya terlalu ngeri. Bagaimana jika aku malah akan ikut bergelantungan seperti Pramuda di rangka balkonku sendiri? Tapi jarak segini sangat enteng bagi aktor-aktor laga di film action. Apa aku harus melompat saja dari sini? Bagaimana jika selangkanganku malah tersangkut di rangka balkon Pramuda gara-gara lompatanku tak semulus yang kuinginkan? Pasti rasanya sakit luluh lantak. Bisa-bisa selangkanganku berubah rata.

Lalu tiba-tiba aku ingat sesuatu. “Pram, apa pintu kamarmu saat ini tidak sedang terkunci?”

Pramuda mendongak. Lalu dia mengangguk.

Okeh, ini akan mudah. Aku segera turun dari rangka balkon kamarku. “Berpeganganlah, jangan bergerak-gerak. Aku akan masuk lewat kamarmu.” Sempat kulihat Pramuda mengernyit mendengar ucapanku sebelum aku melesat meninggalkan balkonku.

Sial. Apa Pramuda salah memahami pertanyaanku tadi? Kalau ingat kernyitannya setelah ucapanku yang bilang akan masuk lewat kamarnya beberapa detik lalu, agaknya dia memang salah memahami pertanyaanku. Pintu kamarnya kudapati dalam keadaan terkunci.

Aku mengumpat, merutuk dalam hatiku. Apa boleh buat. Aku harus menyelamatkan calon kekasihku yang dipastikan bakal kelelahan beberapa menit lagi lalu terjun bebas ke halaman samping rumah, ke perdu tanaman hias Ibu Nur. Untung bila jatuhnya cuma berakibat lecet, terkilir atau pingsan. Bagaimana bila berakibat kematian Karena kepalanya pecah? Tidak tidak tidak, aku tak mau membayangkanya.

Saatnya bertindak jadi hero bagi pujaan hati, semoga setelah ini dia akan membuka dirinya lagi untukku. Aku mundur jauh-jauh dari pintu. Ibu Nur, maafkan aku harus merusak pintu rumah Ibu. Tapi pasti Ibu akan berterima kasih untuk ini karena aku melakukannya demi menyelamatkan keponakan tampan Ibu yang kemungkinan segera akan jadi korban gaya gravitasi bumi di balkon sana.

Aku menerjang.

BRRAAAKKK

Pintu berhasil kudobrak hanya dengan sekali terjang. Bersyukur suara dobrakanku tak membahana keras. Tanpa menungu lama aku segera masuk ke kamar Pramuda, secepat kilat menuju balkonnya.

“Pram…”

Pramuda mendongak menatapku, keringat dingin memercik di keningnya.

Tanpa menunggu, aku segera mengunci lengannya dengan lenganku. “Aku akan menarikmu, semoga berat badanmu di bawahku…”

Pramuda mencekal kuat-kuat kedua lenganku.

Aku mulai berusaha menariknya. Ternyata dia berat juga. Kalau tahu begini, aku pasti akan rajin mengonsumsi minuman berenergi yang banyak diiklankan di tivi. Aku berkeringat sudah. Cara ini tak berhasil. Pramuda masih belum selamat.

“Hhhhh… Pram… pegangan di leherku…!” Aku mulai ngos-ngosan. “Pegangan dengan lengan kirimu.” Aku merunduk agar dia bisa menjangkau leherku.

Tanpa menunggu lama, lengan kiri Pramuda sudah berganyut di leherku. Sementara lengan kanannya masih saling mengunci dengan lengan kiriku. Aku melingkarkan lenganku yang bebas pada pinggang Pramuda, memegang pinggang celananya kuat-kuat.

“Okeh, siap ya!”

Lalu aku mengangkatnya sekuat tenaga. Dan berhasil. Kami ngos-ngosan. Tepatnya aku yang nyaris putus nafas sambil menyender di rangka jendela. Sementara Pramuda? Ini yang membahagiakan. Dia masih merapat padaku, lengan kirinya masih melingkar di leherku dan lengan kanannya masih menggelung lengan kiriku.

Kami bertahan beberapa detik dalam posisi seperti ini. Aku menghirup udara dalam-dalam. Setelah sekian banyak hari yang hilang, kini aku berkesempatan membauinya lagi. Membaui harum Pramuda yang segar dan bersih bagai harum embun bercampur udara fajar.

Pramuda menarik diri. Dia tampak kikuk, menunduk sambil sesekali meremas jemarinya. Dia menggemaskan.

Aku tersenyum tanpa dilihatnya. “Ehem… apa yang kamu lakukan di balkon ini sebelumnya Pram?” Aku mulai bertanya setelah nafasku kembali teratur.

Pramuda terlihat makin salah tingkah.

“Apakah kamu mencoba menyeberang ke balkon kamarku…” Aku mengutarakan pemikiranku sejak tadi. Kalimatku lebih bernada pernyataan.

Pramuda menatapku sekilas. Wajahnya merona. Lalu dia menunduk lagi.

Aku menyeringai. Dugaanku pasti benar. Pramuda berniat menyeberang ke depan jendelaku. Untuk apa? Tentu untuk melihatku sembunyi-sembunyi. Apakah dia rindu denganku? Dan terlalu gengsi bila bertemu langsung? Berpikir demikian membuatku geli sendiri. Ah, semoga saja benar begitu. Tunggu, apa ini adalah yang pertama dilakukannya? Bisa jadi dia sudah pernah berhasil menyeberang ke balkonku sebelumnya. Berpikir begini, lagi-lagi aku tersenyum geli.

“Ehem…” Kembali aku berdehem. Aku tak ingin menyiksanya dalam tingkah kikuknya lebih lama lagi. Sudah cukuplah dengan kesimpulan yang kubuat sendiri, bahwa Pramuda juga rindu aku selama ini. “Sudah terlalu larut, sebaiknya kamu tidur…” Aku masuk lebih dulu.

Pramuda mengikuti di belakangku, masih menunduk.

Aku berbalik menghadapnya. “Jangan bermain-main di balkon lagi ya… kalau jatuh bahaya.” Aku mati-matian menahan senyumku saat kembali menemukan rona merah wajahnya. “Okeh, aku balik kamar dulu…”

Pramuda tak merespon. Dia hanya menatapku sekilas lalu menunduk lagi.

Aku melangkah ke pintu. “Mmm… Pram…” Kami bertatapan. “Maaf, aku merusak pintumu…”

Dia menggerakkan tangannya. Aku tahu, itu isyarat bahwa semuanya baik-baik saja.

Aku tersenyum. “Jangan bilang Ibu Nur ya, nanti aku malah disuruh beli kenop pintu baru. Parahnya lagi malah disuruh beli pintu baru sekalian…” Aku mencoba berkelakar.

Pramuda tersenyum.

Oh, rasanya sudah berabad sejak aku melihat lesung pipinya terakhir kali. “Good nite, Pram… mimpi indah…” Aku keluar dari kamar Pramuda.

***

Aku pulang kuliah dan menemukan Pramuda sedang bergelut dengan pintunya. Dia sedang memasang kenop pintu baru. Ternyata dia punya banyak keahlian. Aku berhenti sejenak di dekat pintu memperhatikan dia memasang baut-baut dengan cekatan.

Selesai. Pramuda mendongak memandangku sambil menyapu dahinya. Aku memberinya sebuah senyum.

“Padahal aku lebih suka pintu ini rusak, biar gak bisa dikunci lagi… dan aku bebas masuk kapan saja.” Gurauku padanya.

Pramuda masuk ke dalam, sesaat kemudian keluar bersama notesnya.

MAKASIH.

Begitu dia menulis. “Untuk?” Tanyaku.

TELAH MENOLONGKU SEMALAM.

Aku menyeringai. “Jika dengan menolongmu dapat membuatku dekat lagi denganmu, aku tak keberatan menarikmu dari balkon tiap malamnya…”

Dia tertawa. Lalu kembali menulis.

AKU TAK MAU BERGELANTUNGAN DI RANGKA BALKON TIAP MALAM. SUNGGUH KEBURUNTUNGAN BAHWA SEMALAM AKU TAK MELUNCUR BEBAS KE BAWAH.

Aku terkekeh. “Aku tak harus selalu menolongmu di balkon, mungkin kamu bisa bergelantungan di tempat lain sesekali untuk kutolong kemudian. Di cabang pohon misalnya.” Ucapku

Pramuda memamerkan lesung pipinya lagi. Kemudian dia kembali mencoret-coret notesnya.

AKU HARUS MASUK

Aku mendesah. “Yah, aku juga harus mandi.”

Kami menghilang di balik pintu masing-masing.

***

Pukul 23. 32…

Aku sudah memutuskan.

Tanganku penuh benda. Music player-ku bersama perangkat sound mininya terkepit di lengan kiriku. Sementara sekeping kaset kupegang di tangan kananku. Aku menarik nafas panjang. Dengan mantap, aku mulai mengetuk pintu di depanku. Ketukan perlahan mulanya. Kutunggu, tak kudengar suara apa-apa di balik pintu ini. Kuketuk lagi perlahan, beberapa kali setelahnya dengan jeda yang sama. Seperti sebelumnya, masih begitu senyap. Aku mulai putus asa. Haruskah aku balik ke kamar lalu bergelung kembali di bawah selimut Barca-ku? Sepertinya memang harus begitu, tak ada tanda-tanda usahaku akan mendapat respon seperti yang kuharapkan.

Aku mengaruk kepala. Mendesah putus asa dan siap berbalik. Lalu daun pintu itu terkuak. Aku nyaris melompat kegirangan saking senangnya. Wajah indah Pramuda menyembul dari balik pintu. Rambutnya kusut acak-acakkan, justru dia tampak seribu kali lebih manis dan muda saat baru bangun  begini. Menggemaskan.

“Emm… bolehkah aku masuk, Pram?” Aku bertanya lirih.

Pramuda memandangku dengan mimik keheranan yang kentara. Dia menatap bingung antara wajahku dan benda-benda yang ada di tanganku.

“Pram… aku tak akan lama mengganggu jam tidurmu…” Aku diam sebentar. “Sepuluh menit… tidak, lima belas. Bisakah?”

Lalu Pramuda membuka pintu lebih lebar. Kamarnya redup, hanya cahaya lampu dari kipas di langit-langit kamar yang memijar remang-remang.

“Trims…”

Aku masuk dan segera menuju buffet kecil di samping single bed-nya. Pramuda menutup pintu kamar. Kuletakkan perangkat player-ku di atas buffet-nya dan kuhubungkan dengan stop kontak. Pramuda menyalakan lampu besar. Aku berbalik memandangnya. “Bisakah hanya lampu itu saja?” Aku menunjuk lampu kipas.

Lalu lampu besar itu dipadamkan lagi.

“Trims…”

Lalu aku menekan tombol power pada music player-ku. Setelahnya kembali menatap Pramuda. Tak menunggu lama, alunan Right Here Waiting-nya Richard Marx versi instrumental mengalun lembut dari sound mini-ku dalam volume yang kecil. Pramuda tercengang. Ya, aku membeli kaset yang hari itu ditunjukkannya padaku di toko kaset, kumpulan lagu lawas Richard Marx dalam versi instrument.

Aku berdiri sejajar dengan Pramuda. Lalu jari-jari tanganku mulai bergerak. Aku menulis namanya dengan jari-jariku. Menekuk pergelangan tangan kananku dengan telunjuk lurus dan ibu jari menunjuk ke bawah sedang jari lain tertekuk ke telapak tangan –aku membuat huruf P. Lalu dengan mudah aku juga membuat huruf R dengan telunjuk menindih perut jari tengah nyaris bersilang sementara jari manis dan kelingking kutekuk ke telapak tangan dan kukunci dengan ibu jariku. Selanjutnya aku memberinya huruf A dengan mengepalkan tanganku dimana empat jari dari kelingking hingga telunjuk kutekuk ke telapak tangan sedang ibu jari rapat mengacung ke atas. Terakhir aku membuat huruf M dengan cara menekuk semua jari kananku ke telapak tangan membentuk tinju. Aku diam tak bergerak setelah menulis namanya di udara dengan isyarat jariku.

Pramuda tercengang lama. Dia seperti tak percaya.

Aku memberinya sebuah senyum. Lalu menggerakkan jari-jariku amat cepat. Memberi isyaratku untuk kalimat AKU INGIN MEMBERITAHUMU SESUATU YANG SUDAH KUSIMPAN SEJAK LAMA.

Lagi-lagi Pramuda terbelalak dengan bahasa isyaratku.

Aku meneruskan menulis di udara. Kutulis huruf I dengan menunjukkan kelingkingku sementara semua jari lain kutekuk ke telapak tangan. Selanjutnya aku menggunakan dua tanganku membuat bentuk hati tepat di dadaku untuk mewakilkan kata LOVE. Terakhir aku membuat huruf U dengan merapatkan telunjuk dan jari tengahku mengacung tegak ke atas sedang jari lain kutekuk ke tengah telapak tangan tertahan dengan ibu jari. Aku telah selesai mengutarakan isi hatiku padanya. Aku menunggu, instrument Right Here Waiting masih mengalun lembut dari music player.

Pramuda menatapku. Diam tak bergerak, lama. Right Here Waiting mulai mengalun untuk kedua kalinya, aku telah menyetel  music player-ku pada mode repeat. Aku mulai cemas kalau Pramuda akan mempentangkan pintu kamar dan menendangku keluar pintunya. Aku juga khawatir dia akan berlari meraih pisau rautnya di meja bundar –jika saat ini benda itu ada di sana- lalu menggorok kepalaku atas bawah. Ternyata mengungkapkan perasaan tak membuatku lega, sebaliknya, membuat dadaku semakin bergemuruh dan jantungku berdetak seakan lari.

Lalu perlahan Pramuda meniti langkah mendekatiku. Dia berdiri satu langkah di depanku. Kami bertatapan dalam diam. Saling menyelami pesan dari mata masing-masing. Aku hampir berjingkrakan saat Pramuda meniru gerakanku tadi, dia menulis I LOVE U untukku dengan gerakan yang sama dan diakhiri dengan menulis angka 2 dengan telunjuk dan jari tengahnya dimana yang menghadap ke arahku adalah bagian punggung jari. I LOVE U TOO. Itu jawaban Pramuda untuk pernyataan cintaku padanya.

Aku tersenyum, dia tersenyum. Kemudian aku mempentangkan telapak tanganku di udara, setentang dadaku. Pramuda menyatukan telapak tangannya denganku. Jari-jariku langsung bertaut dengan jemarinya. Aku menutup jarak di antara kami dengan satu langkahku. Wajahku mendekat pada wajahnya. Lalu aku mengecup dahinya. Lama dan hangat. Sudah sangat lama aku ingin melakukannya.

Pramuda tak dapat menyembunyikan binar bahagia di matanya. Lalu aku mulai bergerak. Membawanya menari dalam pelukanku. Dia menyurukkan wajahnya di leherku. Pinggangku dipeluknya erat. Entah berapa lama kami bergerak dalam diam, hingga kusadari bahwa bibirku sudah menyatu bersama bibir Pramuda. Kaki-kaki kami masih bergerak perlahan, dan ciuman kami terus membuai di sela desahan.

Pramuda lalu berhenti bergerak. Menarik wajahnya dariku. Tangannya menjangkau music player. Lalu hening merajai. Aku tak mencegah saat Pramuda melepas semua pakaiannya tanpa suara. Dalam remang lampu, aku terbius akan kesempurnaan segala lekuk padat dan keras yang ada pada Pramuda. Sesuatu di tengah-tengah tubuhku mengejang ganas dan beringas.

Pramuda memandangku tanpa merasa jengah sedikitpun dengan kepolosan yang dia pampangkan di depanku sekarang. Dia berusaha menyiksaku. Lalu Pramuda bergerak mendekat. Sangat sabar ketika dia menarik lepas kausku lewat kepala. Aku tak mencegah saat jemarinya membuka pengait celana selututku yang jatuh luruh setelahnya, menumpuk di kakiku. Pun demikian ketika Pramuda membebaskanku dari kungkungan terakhir yang membatasi gerakan buasku di bawah sana. Kami menjelma dalam sosok-sosok primitif saat ini. Polos dan buas dalam saat yang bersamaan.

Pramuda merapatakan dirinya mengetat padaku. Kami beradu, sama-sama ingin tampil lebih sempurna. Lalu kaki-kaki kami bergerak, membawaku dan Pramuda menari dalam keheningan. Tanpa suara, tanpa irama, tanpa denting bunyian. Namun ini terasa begitu indah. Ragaku dan Pramuda menyatu dalam gerak yang sama-sama kami pahami, dalam tarian yang sama-sama kami mengerti. Semuanya sudah pada tempatnya, sudah berada pada sisi yang semestinya.

Aku menindih Pramuda di ranjang kecilnya. Berusaha menyelaraskan tarian hening kami dengan cara yang indah. Aku sungguh menari di atas Pramuda, dan Pramuda sungguh adalah pasangan menari terbaik bagiku. Dia bergerak seperti sepatutnya di bawahku. Aku dan dia adalah sebuah kepatutan, sebuah simpul yang telah terkait dalam wadah bernamakan cinta.

Ya, cinta. Karena cinta lah, maka aku dan Pramuda dapat menari bersama. Meskipun dalam diam. Karena cinta lah, aku dan Pramuda kini dapat bergerak seiringan. Meskipun dalam senyap. Hingga seluruh indera di tubuhku dan tubuh Pramuda menyelesaikan tariannya.

Pramuda terkulai di dadaku. Wanginya semakin memenuhi inderaku. Peluhku dan peluhnya masih berbaur, belum pupus dan belum mengering. Perlahan aku menarik selimut menutupi kami berdua. Aku bergerak menggelungnya untuk berada dalam diriku. Pramuda membawa lengannya menyusuri punggungku sebelum berhenti di pinggang. Aku bergerak menindihnya lagi, tak kuhiraukan rasa lengket di bawah sana yang baru saja kami ciptakan ketika tarian kami selesai tadi. Kubiarkan Pramuda melekat di perutku, karena aku juga telah melekat padanya. Hening malam mengantarku terlelap bersamanya.

***

Sebait epilogue…

Sudah kubuktikan, bahwa cinta tak mengenal suara. Sudah kuyakini, bahwa hati akan menuntunku ke jalan yang seharusnya. Dan sudah kugenggam erat, sekerat gambar penyempurna gambaran hidupku. Bersamanya aku bahagia, meskipun tiada suara. Bersamanya kulewati hari dalam senyum diam dan tawa tak bersuara. Bersamanya, jari-jariku berbicara dengan bahasa mereka sendiri. Jari-jari yang menari dalam diam… namun mereka berbahasa. Bahasa Pramuda Indika yang bagaimanapun rumitnya itu, akan selalu dimengerti oleh Alkurrahman Kurnia. Aku dan dia. Mengerti dan dimengerti, memahami dan dipahami. Bagai pelukis yang memahami gerak kuasnya di atas kanvas, bagai penyair yang mengerti setiap sajak gubahannya. Bagai pencinta yang tahu bagaimana cara menjaga cintanya. Dan begitulah, meski bisu… bukan halangan bagi cinta untuk tumbuh dan bersemi…

Awal Mei 2012

Dari sudut hening sebuah hati

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com

____________________________________________________________________

(*) ASL : American Sign Language; dasar bahasa isyarat tangan bagi penderita tunarungu/tunawicara yang digunakan di seluruh belahan dunia, meskipun nama istilah tehniknya berbeda di tiap Negara, seperti BIM (Bahasa Isyarat Malaysia) yang dipakai di Malaysia atau Bahasa Isyarat Indonesia yang dipakai di negara kita. Semua kaedah bahasa isyarat itu berdasar pada ASL.