an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

First, aku beritahu. Ini adalah cerpen pertamaku yang bertemakan cinta tak biasa begini. Tulisan ini adalah bentuk kerja kerasku untuk membuktikan bahwa aku juga bisa punya karya. Lalu terimakasih juga untuk jari-jari terbaik yang pernah kupunya, untuk hati yang memberi emosi dan perasaan saat aku menulis, untuk otak pas-pasanku yang memberikan ide dan inspirasi selama aku berkutat dengan pena dan kertas, rasanya sebelum menulis cerita ini ribuan kata berserakan di dalamnya. Namun setelah tulisan ini rampung, waow… tak pernah aku merasa seringan sekarang. Puji syukur untuk indera titipan tuhan ini.

Last, kepada semua yang membaca, jika tulisan ini tak bisa mengundang pujian maka aku ingin kalian mengkritiknya habis-habisan. Setidaknya aku punya kesempatan untuk tahu bagaimana rasanya direpetin. Pasti banyak yang ingin bicara, ayo! aku sudah sangat banyak bicara di tulisan kalian, kini saatnya bagi kalian bicara di tulisanku.

Meski demikian, aku tetap berharap semoga kalian bisa menikmati membaca CHOCOLATE LOVE seperti aku menikmati saat menulisnya.

Wassalam.

n.a.g

##################################################

Ada seseorang yang mengatakan padaku kalau cinta itu manis seperti coklat. Coklat gak pernah dibenci bagaimanapun bentuknya. Sampai saat aku hidup sekarang, aku belum pernah berjumpa dengan orang yang benci coklat. Bagiku, coklat itu seperti kamu. Kamu gak akan pernah dibenci oleh siapapun mereka di sekelilingmu. Kenapa? Karena manisnya coklat itu sama seperti manisnya dirimu.

Sekarang aku ingin menyatakan cintaku dengan coklat. Aneh bukan jika aku memberimu bunga, cincin atau kalung? Kamu bukan seorang gadis, demikian juga aku. Jadi aku rasa coklat bukan pilihan yang salah. I LOVE U

***

Masa sekarang……

“HEYY AWASS…!!!”

Seseorang berteriak keras. Rasanya aku tahu siapa pemilik suara bass itu. Aku bermaksud menoleh ke lapangan, darimana arah seruan itu kuperkirakan berasal. Namun…

PAAMMM

Mukaku lebih dulu dihantam benda bulat cukup besar sebelum aku sukses membawa pandanganku ke sana. Aku bisa mengenali kalau benda bulat yang menggelinding di kakiku sekarang ini adalah bola basket. Damn it. Suara gelak tawa langsung memenuhi gendang telingaku, kemudian pandanganku berkunang. Oh tuhan, kacamataku retak, lagi. Haruskah? Rasa nyeri menyerbu hidungku, seperti ada sesuatu yang mengalir di dalamnya. Mendadak pandanganku berputar lalu aku jatuh tersungkur.

Suara tawa berhenti, diganti seruan-seruan tertahan entah dari mulut siapa. Lalu telingaku masih sempat menangkap suara derap sepatu mendekat dan samar bayangan tubuh-tubuh meneduhiku dari sinar mentari menjelang siang. Pasti mereka mengerubungiku sekarang. Kemudian malam datang, semua menjadi sunyi senyap, hening di pendengaranku.

***

Rasa nyeri kembali menggelitik hidungku, rasanya seperti sulit bernapas. Lamat-lamat aku menangkap suara seseorang memanggil dan lenganku seperti disentak-sentak.

“Ri… Ari. Wake up boy! Jangan bikin aku panik.”

Itu suara Alfat. Kenapa dengan dia ya? Aku berusaha membuka mata. Pandanganku langsung membentur satu wajah. Keningku mengernyit, hei itu bukan wajah Alfat. Tapi wajah… oh, mengapa dia bisa ada disini? Pasti sekarang aku sedang diserang sindrom Pond’s Lightening Cream, taulah, wajah merah merona gitu sih katanya. Aku salah tingkah, tak tau harus bagaimana. Jadi aku hanya menunduk saja. Dia masih menatapku dengan mata elang dan wajahnya yang tanpa ekspresi sampai Alfat kembali bersuara.

“Alhamdulillah Ri, akhirnya bangun juga. Tadi aku sempat berpikir untuk pesan batu nisan jika lima menit lagi kamu gak buka mata…”

Aku menoleh ke kanan dan menemukan sosok Alfat dengan wajah khawatir bercampur lega. “Dasar gila.” Aku mengerutu. “Pesan aja buatmu sendiri.”

Alfat nyengir kuda. “Habis pingsannya lama kayak orang udah meninggal aja. Hampir satu jam tau gak?”

Alisku bertaut. Pingsan satu jam? Lalu semua ingatanku terkumpul kembali. Jalan melewati lapangan, bola basket, gelak tawa, aku terhempas di tanah, kacamataku pecah. Tunggu, dimana kacamataku? Aku meraba-raba seluruh permukaan wajahku.

“AOOWW…!!!” Pekikku ketika jari-jariku mengenai bagian hidungku. Serta merta rasa nyeri yang tadi sempat kurasakan saat pertama kali kesadaranku terkumpul kini muncul lagi dan lebih kentara. “Uhhh… sakit banget.” Aku meringis.

“Kayaknya hidungmu patah deh, Ri…” Cetus Alfat.

“HAHH!!!” Aku membelalak ke arahnya. Jariku kembali memeriksa hidungku yang cidera perlahan-lahan. Aku menemukan koyo menempel ketat di atas tulang hidungku.

Alfat mengangguk. “Miss Michibata bilang gitu sih tadi.” Katanya lagi.

“Oh tidak… Aku gak mau hidungku patah…” Ujarku putus asa.

Miss Michibata adalah Pembimbing UKS di sekolahku, masih muda dan cantik. Cerita yang kudengar dia blasteran Jawa-Jepang, selama ini analisisnya tak pernah salah. Dulu pernah ada siswa yang terkilir saat pelajaran olah raga sampai gak bisa jalan, Miss Michibata bilang kalau siswa itu gak hanya terkilir tapi ada tulangnya yang retak. Dan ternyata setelah difoto rontgen memang benar kalau tulang keringnya mengalami keretakan akibat benturan saat jatuh. Sepertinya analisis Miss Michibata kali ini terhadap hidungku juga bisa jadi benar. Oh hidung bagusku kasiannya dirimu. Bagaimana rupa wajahku nantinya dengan hidung bengkok?

Tiba-tiba Alfat tertawa keras. Aku langsung melotot padanya. “Dasar kambing, ini pasti bisa-bisa kamu aja kan.” Spontan aku bangun dan duduk menjuntai di atas ranjang, masih memberikan tatapan bengis pada Alfat. Rasanya aku ingin mencakar mukanya detik itu juga.

“Hahaaa… sorry cakep.” Alfat ikut duduk di sampingku. “Hidungmu gak patah kok, cuma tadi sempat keluar darah aja. Miss Michi bilang mungkin dua atau tiga hari udah baikan lagi.”

Thanks god.” Ucapku lega.

“Lagian kamu aneh deh, masa bola segede gitu gak bisa dihindari.”

“Itu namanya kecelakaan bodoh!!!” Dampratku.

“Lebih tepatnya, jalan bengong membawa sengsara kali ya.” Alfat hiperbola.

Aku mendengus. Percuma juga meladeni mulut usilnya. “Trus kacamataku mana? Aku buram nih kalo jauh.”

Alfat merogoh saku baju seragamnya. “Dengan berat hati aku harus mengatakan kalau bundamu harus ngeluarin duit lagi untuk bikin kacamata baru buatmu.” Alfat menyodorkan kaca mataku. “Dan yang lebih dramatis lagi adalah fakta bahwa satu harian ini kamu akan butuh tongkat saat berjalan biar gak kesandung…”

“Bisa diam gak?” Cetusku sambil mengambil kacamataku dari tangannya.

“Sayangnya gak bisa tuh.”

“Beritahu itu pada tanganku ini…” Kataku sambil menunjukkan tinjuku di depan wajahnya. Dan kemudian Alfat diam seribu bahasa.

Aku memperhatikan kondisi kacamataku. Kedua lensanya kiri kanan retak parah. Yang kiri bahkan nyaris terlepas dari bingkainya. Separah itukah hantaman bola sialan itu? Ini yang ketiga kalinya dalam dua bulan terakhir kacamataku rusak. Sebelumnya aku juga harus mengganti baru karena direbutkan Ela dan Ale, adik kembarku usia tiga tahun lebih hingga gagangnya copot. Gara-gara itu aku diomeli bunda habis-habisan karena menaruhnya sembarangan. Sebelumnya lagi, aku tersandung ketika lomba lari estafet pada jam olah raga yang membuat kacamataku jatuh dan sukses dipijak lawan di belakangku hingga gak berbentuk lagi. Aku harus ikhlas kena repet kawan se-tim-ku karena tim kami kalah.

“Udah… gak usah dipandangi terus, sampe matamu keluar juga gak akan balik bagus lagi tuh kaca. Pulang nanti minta duit sama ayah buat beli baru. Jangan lupa minta lebih ya!” Alfat bersuara kembali.

“Duit lebih? Untuk apa?” Tanyaku seraya mengenakan kacamataku, wajah Alfat jadi retak-retak di balik kaca itu.

“Ya buat traktir aku, kan aku udah jagain kamu selama pingsan tadi. Masa gak ada tanda jasanya…”

“Oh makasih… makan nih tanda jasanya…!” Tinjuku mendarat mulus di bahu Alfat. Dia meringis kesakitan. “Gak usah pura-pura, pelan aja pun. Kayak bukan anak kempo aja, baru dicuil dikit udah keok.”

Alfat memang ikut ekskul karate itu. Mendengar ucapanku dia langsung tegak kembali, malah kini bersiap-siap ingin menubrukku.

“Ehhemm…” Seseorang berdehem, membuat Alfat membatalkan gerakannya.

Ya tuhan, aku lupa kalau dia masih di sini. Tunggu, kenapa dia bisa ada di sini? Jangan bilang dia mencemaskanku. Akrab juga enggak. Aku dan Alfat menoleh ke arahnya. Sama sepertiku, Alfat sepertinya juga lupa kalau kami gak hanya berdua di ruangan ini.

Dia sudah bersandar di dinding agak jauh dari ranjang tempatku dan Alfat duduk. Masih mengenakan seragam basket yang menampakkan ke-atletisan badan jangkungnya. Dia semakin memesonaku, bahkan dengan baju lengket debu dan keringat yang dikenakannya sekarang ini. Dia terlihat sangat jantan. APA? Seragam basket??? Yang menghajar mukaku justru bola basket. Jangan-jangan…

“Aku minta maaf.” Dia buka suara. “Sama sekali gak terfikirkan kalo bola itu bakal mantul ke kamu.”

Sejenak kami bertiga terdiam dalam keheningan. Sebenarnya aku ingin marah-marah, memukul hidungnya sampai berdarah seperti hidungku atau bila perlu memasukkan bola sialan itu ke mulutnya secara paksa. Tapi melihat dia kikuk dengan wajah yang tampak amat sangat menyesal dan merasa bersalah, aku jadi urung meluapkan marahku itu. Tapi bagaimana mungkin aku marah dengannya? Dengan cowok yang lebih kurang satu tahun ini aku idam-idamkan, mengisi setiap khayalan indahku dan menyita semua waktu luangku. Bisakah aku marah? Tidak. Bahkan jika dia benar-benar membuat hidungku patah atau membuat gigiku rontok atas bawah sekalipun, aku tak akan marah.

Mungkin aku lebay ya? Tapi aku yakin kalian akan berpikiran sama denganku bila cowok yang kalian gilai tanpa sengaja memukul bola hingga membuat satu-satunya gigi emas yang kalian punya tanggal, lalu dia akan menunggui satu atau dua jam di UKS. Bukankah itu sungguh membuat bunga di hati kalian bermekaran? Pasti. Begitulah yang terjadi denganku. Jadi, amarahku menguar bersama luapan kegembiraan yang hampir membuat dadaku meledak karenanya.

“Emm, aku bersedia mengganti kacamatamu.” Dia bicara lagi, masih terlihat kikuk. Tapi matanya tak pernah lepas dari menatapku.

Jantungku langsung diserang aritmia, detakannya jadi tersendat-sendat dan membuatku seperti mau pingsan lagi.

Kemudian dia menyambung. “Tapi aku gak bisa mengembalikan hidungmu seperti sebelumnya saat ini juga. Taulah, aku gak punya tongkat Harry Potter.” Dia tersenyum canggung. “Tapi aku ingin kamu tau, aku benar-benar menyesal untuk hidungmu.”

Jujur, aku ingin tertawa mendengar kalimat polosnya barusan. “Hidungku akan baik-baik saja.” Ujarku.

“Tapi aku akan tetap mengganti kacamatamu itu.”

Aku melepas kaca jelek ini dari wajahku, sekarang aku bisa melihat wajahnya tanpa calar balar lagi seperti saat aku menatap Alfat tadi. “Ehem, kacamataku sudah pernah rusak beberapa kali…emm dua kali. Rasanya Ayah gak akan keberatan bila harus menggantinya satu kali lagi. Aku hanya tinggal mengarang alasan yang baik, dan sejauh ini, itu bukan pekerjaan yang sulit.” Aku memberinya sebuah senyum. “Jadi, santai saja…”

Dia balas tersenyum padaku lalu melangkah mendekat. “Kita belum pernah kenal secara resmi kan?” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke depanku. “Tentu saja belum, kita kan gak sekelas.” Sambungnya lagi menjawab pertanyaannya sendiri.

Hatiku menjert girang, hampir saja aku lepas kontrol dengan berjingkrakan saat itu juga. Yess!!! Finally. Aku berkesempatan mengenalnya setelah satu tahun hanya mampu menjadi pemuja setia sosoknya. Aku menyambut uluran tangannya. “Aku tau kamu, kapten tim basket yang paling dicari para cewek satu sekolahan…”

Dia tergelak. “Yah, cewek-cewek rese itu, taulah.” Dia menaik-naikkan alisnya lucu. “Tapi aku juga tau kamu kok, juara umum tahun pertama kemaren yang langsung jadi anak emas para guru.” Dia menggengam erat tanganku. “Punya rencana mengulang keberhasilan lalu di tahun kedua ini?”

“Pasti.” Jawabku mantap.

Alfat diserang batuk mendadak, benar-benar mengacaukan suasana. Tautan jemariku dengan Si Kapten Basket Keren pun terlerai. Entah kapan Alfat membuka pintu. “Time to class guys…” katanya sambil membanting pintu. What’s wrong with him???

***

Namanya Adi Mirzaq, teman-teman memanggilnya Zik. Entah bagaimana asal muasal dia mendapat panggilan demikian. Sosoknya sudah memesonaku sejak pertama kali aku melangkahkan kaki melewati gerbang SMA tempat aku menuntut sekarang. Saat itu adalah hari pertama pendaftaran siswa baru. Diantara berjubel cowok-cowok yang baru saja memuseumkan seragam putih-birunya yang saat itu berseliweran di halaman sekolah, mataku hanya melihat Mirzaq seorang. Kemanapun dia bergerak, ekor mataku tak pernah lepas dari mengikutinya. Selanjutnya, aku akan menemukan diriku sedang mengagumi setiap gerak tubuhnya, terhipnotis setiap kali dia tersenyum, merasa senang bila dapat mendengar suaranya. Yang pasti, aku memuja sosok Mirzaq yang pada pandanganku bagaikan pangeran berbaju zirah dalam negeri dongeng.

Sejak hari itu juga, semua khayalanku akan menghadirkan Mirzaq sebagai peran utamanya. Menggantikan Robert Pattinson dan Chace Crawford yang sebelumnya selalu mengisi ruang imajinasiku menjelang terlelap di malam hari. Apakah Mirzaq sehebat itu? Of course. Bahkan kalau aku tak salah hitung, sepanjang satu tahun sejak aku melihatnya aku sudah mengalami empat kali mimpi basah dengan Mirzaq sebagai partner bercinta-ku. Tidakkah itu hebat??? Rpattz atau Chace saja belum mampu membuat kolorku basah saat bangun ketika fajar datang setelah sekian lama menjadi centre semua fantasiku.

Dan sekarang, Mirzaq telah menjadi salah satu kawan akrabku selain Alfat. Mirzaq mudah bergaul, dia sama sekali tidak mengalami kesulitan berteman dengan orang yang introvert sepertiku. Dia mengubah sikap tertutupku menjadi bersahaja sebelum genap dua bulan dia mengenalku. Aku yang pendiam, dingin bahkan kadang-kadang paranoid berubah menyenangkan bila bersama Mirzaq.

Alfat kadang suka protes jika aku sudah sering mengabaikannya di sekolahan dan lebih sering bersama Mirzaq. Tapi walau bagaimanapun, Alfat selalu jadi pelipur hari-hariku. Alfat jelas punya sifat yang menyenangkan, dan dia adalah sahabat pertama yang aku temukan di SMA ini.

Sementara Mirzaq, dia membuatku lebih percaya pada diriku sendiri. Hal yang selama ini tak pernah kugubris. ‘Kamu punya banyak kelebihan Ri. Tampan, itu salah satu kelebihanmu selain punya otak Einstein. Cuma kamu gak menyadarinya. Andai kamu bisa lebih percaya diri dan membuka dirimu, aku yakin, siapapun akn berlomba menjadi pengisi hatimu. Kalau sekarang belum ada yang berani mendekati, itu semata-mata hanya karena kamu terlalu kaku dan dingin. Coba kamu angkat sedikit dagumu dari menekuri lantai, pandang sekelilingmu. Pasti kamu akan menemukan orang yang ingin masuk dalam pusaran hidupmu…’

Itu adalah kalimat Mirzaq yang selalu kuingat sampai sekarang. ‘…Pasti kamu akan menemukan orang yang ingin masuk dalam pusaran hidupmu…’ Andai dia tahu, bahwa satu-satunya orang yang aku inginkan untuk masuk dalam pusaran hidupku adalah dirinya. Tuhan, walaupun salah aku memohon padamu, hadirkanlah perasaan yang sama dalam relung hatinya seperti perasaan yang ada dalam hatiku untuknya. Walau sekali saja, izinkan aku mencintainya bukan hanya sepihak.

***

“ARI… temanmu di depan Nak. Temui dulu sana…!!!” Bundaku memanggil dari pintu dapur.

Aku mendongak dari aktivitas soreku menyiangi rumput di kebun tomat Ayah yang berada di halaman belakang. “Alfat?” Tanyaku pada Bunda. Biasanya Alfat memang sering datang sabtu sore.

“Bukan. Yang dulu pernah ngantar. Yang pake motor gede itu…” Balas Bundaku.

Mirzaq? Ya pasti dia. Dulu waktu insiden basket ball dia memang bersikeras mengantarkan aku pulang dengan menggunakan sepeda motornya. Saat itu dia sempat bertemu Bunda dan juga Ayahku yang baru pulang dari sekolah tempatnya menjadi guru SD. Aku masih ingat bagaimana santunnya Mirzaq menyalami orang tuaku. Bunda sampai menyeretnya ke meja makan untuk makan siang bersama kami dan menunda repetannya atas kacamataku yang rusak lagi sampai Mirzaq pulang. Kalau Mirzaq lebih sering datang ke rumah, Bunda pasti akan hapal namanya. Selama ini Bunda hanya tahu nama Alfat saja karena hanya dia satu-satunya sahabatku paling akrab sebelum Mirzaq, dan Alfat sering datang ke rumah.

“Itu Mirzaq, Bunda…” Jawabku sambil masuk lewat pintu dapur. Kulihat Ela sedang berusaha keras mencongkel mata boneka beruang dengan menggunakan sendok, boneka itu dibelikan Ayah kemarin di pasar malam. Tak kulihat Ale, biasanya mereka akan saling bantu membantu dalam momen-momen pengrusakan seperti ini.

“Ela, nanti ayah marah loh kalo bonekanya dibikin rusak. Maen bagus-bagus.” Kataku sambil membersihkan tanganku. Ela mengacungkan sendok ke arahku seperti perampok cilik yang menodongkan pistol pada mangsanya yang tak berdaya. Matanya membeliak, dia bermaksud meng-intimidasi-ku dengan gaya psikopatnya yang kira-kira kalau diartikan mungkin begini ‘APA KAMU SUDAH BOSAN HIDUP SEHINGGA BERANINYA MENGATUR-NGATUR HIDUPKU???’

Aku mencubit gemas pipi tembemnya. “Biar matamu sampe keluar juga Kakak gak takut.” Ujarku yang langsung disambut dengan sambitan sendok di lenganku.

“Udah, jangan kacau adikmu. Temui Mirzaq sana, kelamaan nunggu.” Kata bundaku yang tengah memasukkan gula dalam poci teh yang sedang dibuatnya.

Aku berjalan ke depan. ASTAGA! Apa yang sedang terjadi dengan Ale? Pria kembaran Ela ini kulihat asik loncat sana loncat sini tanpa celana. Grasak grusuk di atas kursi panjang tempat Mirzaq duduk sambil tersenyum-senyum sendiri. Ale sesekali memegang-megang tititnya tanpa malu di depan Mirzaq. Entah apa maksud bocah aneh yang dengan berat hati harus kusebut adik ini, dia seperti hendak menawari tititnya untuk Mirzaq. ‘Maksih… udah punya.’ Mungkin gitu kali ya jawaban yang ingin diutarakan Mirzaq untuk menolak tawaran titit Ale. Huh, benar-benar bikin malu tingkah Ale sore ini. Bagaimana kalau Mirzaq punya pikiran kalau masa kecilku juga suka pamer titit kayak Ale? Sangat menjatuhkan harkat dan martabatku tentunya jika dia sampai berpikiran demikian. Aku harus menghentikan atraksi gila nan memalukan dari Ale.

“ALE… GAK BOLEH GITU!” Seruku begitu sampai di teras. “Mana celananya? Gak malu apa bugil-bugilan depan orang. Ayo masuk sana. Minta mandiin sama Bunda, udah sore juga.” Sebagai respon, Ale hanya mengedip-ngedipkan matanya memandangku tanpa beranjak dari tempatnya berdiri di atas kursi. “Ale, dengar gak Kak Ayi bilang apa?” Tanyaku gusar.

“Hey, gak boleh galak-galak sama anak kecil, lucu gini juga. Iya kan Ale?” Ucap Mirzaq. Lalu mudah saja dia mengangkat badan montok Ale tinggi-tinggi sampai membuat adikku tergelak sebelum menurunkannya di lantai. “Nah, tadi Kak Ayi bilang apa?” Tanyanya lembut pada Ale.

“Kak Ayi suyuh mandi…” Jawab Ale cadal.

“Berarti sekarang Ale harus mandi ya, ajak Ela juga.”

Ale mengangguk dan berbalik hendak masuk.

“E…e… cup Kak Zik dulu sini.”

HAH! Segampang itu Ale bisa mencium Mirzaq. Ingin rasanya aku bertukar tempat dengan Ale atau mewakilinya mencium Mirzaq.

“MMUUAACCHHH.” Bibir basah Ale sukses mendarat di pipi Mirzaq dan membuat dia terkekeh.

Huhuuuu… aku iri pada Ale.

“Makasih. Sekarang Ale masuk ya!” Ucap Zik sambil mengacak rambut ikal Ale. Adikku melangkahkan kaki mungilnya masuk ke rumah.

Mirzaq memandangiku dari ujung kaki sampe ujung kepala. Saat ini aku hanya memakai celana kargo lusuh selutut dan kaos usang longgar. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ck… ck… ck… salah satu contoh buruk kakak yang pernah ada sepanjang sejarah jagat raya. Adiknya disuruh mandi, lhaa dia sendiri masih jorok gini.”

Mendengar kalimatnya membuat aku berfikir kalau Mirzaq sebenarnya ingin mengajakku jalan tapi ternyata aku berada dalam keadaan tak mungkin diajak keluar. Seperti katanya, aku jorok dan belum mandi, hahahaa.

Aku mengambil posisi yang ditinggalkan Ale di kursi panjang. “Tadi lagi ada kerja di belakang, belum selesai pun. Kalo gak sibuk di kebun biasa jam segini juga aku udah wangi.”

Bundaku datang menatang nampan berisi cangkir teh serta dua toples berisi keripik dan biskuit. Bunda meletakkan nampannya di atas meja teras. “Diminum Nak Mirzaq.” Ujar Bunda mempersilakan.

“Wahh, saya ngerepotin Bunda aja nih sore-sore.”

Bunda tertawa, “Cuma teh saja kok Nak, ayo silakan. Bunda tinggal ke dalam dulu, mau ngurus si kembar.”

“Iya Bunda, makasih…”

Setelah bundaku masuk, Mirzaq menyesap tehnya. “Bundamu super baik ya, Ri. Kayak aku ini tamu terhormat aja.” Mirzaq membuka toples berisi keripik.

“Semua ibu tentu baik lah, Zik.” Ujarku

“Di tipi banyak tuh ibu yang jahat.” Timpalnya.

“Itu ibu tiri.” Balasku. “Kalo udah keseringan datang juga gak bakalan disuguhin minum. Kayak Alfat, pertama datang dulu sering dibuatin minum juga. Kalo udah keseringan mana ada lagi, haus ambil aja sendiri…”

“Alfat sering kemari?” Tanyanya. Entah mengapa aku menangkap nada kecemburuan dalam ucapannya barusan.

Aku mengangguk.

“Tiap hari?”

Aku tertawa. “Gak ada kerjaan lain apa kalo tiap hari ke rumahku. Palingan sebulan dia ada berkunjung dua atau tiga kali.”

“Kalo dia datang biasanya kalian ngapain aja?” Nada kecemburuan lagi.

Keningku mengernyit, heran dengan pertanyaannya. Kulihat dia jadi salah tingkah.

“Yah, maksudku mungkin dia datang untuk buat tugas atau belajar apa gitu.” Jelasnya.

Aku tersenyum, semoga yang aku tangkap benar-benar rasa kecemburuan. Tapi apakah mungkin? Selama ini toh Mirzaq tak pernah menelisik persahabatanku dengan Alfat, mereka memang tidak terlalu akrab meski sama-sama berteman denganku. Atau jangan-jangan Mirzaq beneran sepertiku tetapi dia sukanya sama Alfat, terus dia ingin mencari tahu seberapa dekat Alfat denganku sebelum memutuskan apakah dia akan merebut pacar orang bila nantinya mengambil keputusan untuk menembak Alfat. Oh tuhan, semoga tidak begitu.

“Ri…”

“Heeh…” Aku tersadar dari pemikiran konyolku. “Ya kalo dia datang, buat tugas ada, belajar juga iya, cerita-cerita gak jelas juga sering. Sesekali kalo sempat mutar-mutar pake motornya.”

“Selalu gitu? Pernah ngerasa bosan gak?”

Lagi-lagi aku merasa aneh dengan pertanyaannya. “Kawan akrabku kan cuma Alfat, jadi…”

“Jadi kamu belum anggap aku kawan akrabmu ya?” Potong Mirzaq cepat. Sepertinya dia tersinggung dengan jawabanku barusan.

“Hahaa… aneh banget kamu sore ini Zik.” Kulihat mukanya merah, marahkah dia atau malu? “Ehemm, maksudku gini… dulu yea kawanku yang paling akrab cuma Alfat, jadi walaupun bosan ya dibawa hepi aja. Kalo sekarang kan udah nambah kamu.”

“Trus, kalo lagi sama aku kamu pernah ngerasa bosan gak?” Tanyanya lagi semakin aneh.

‘Aku gak akan pernah merasa jenuh denganmu Zik, andai kamu tau betapa rasa ini semakin membara dari waktu ke waktu dan hampir membakar diriku sendiri.’ Ingin rasanya aku menyuarakan demikian tapi jawabanku atas tanyanya tadi hanya sebuah gelengan lemah.

Mirzaq tersenyum, “Makasih…” Lalu dia menghabiskan isi cangkirnya. “Tadi katanya lagi ada kerja di belakang ya? Apa itu?”

“Kerja ringan, nyiangi kebun tomat Ayah. Rumput udah ngalahin suburnya tomat. Perasaan cepat banget nyebarnya.”

“Ya udah, ayo lanjut lagi.” Dia bangun dari kursi.

“Besok aja aku lanjut, udah sore juga trus sepertinya mendung juga tuh.” Aku menunjuk ke awan mendung di kaki langit.

“Sekarang aja, aku pengen liat.” Dia tidak peduli dengan penolakanku.

“Jangan. Kamu kan udah mandi.”

“AYOO!!!” Dia menarikku berdiri. Aku bertahan tetap duduk. “KAK AYI, AYOO…” Sekarang dia malah memanggil seperti Ale dan Ela memanggilku.

“Hhrrggg… keras kepala banget!” Aku bangun juga akhirnya.

Dia nyengir, membuat aku gemas ingin melumat bibirnya. Aku membawanya melintasi samping rumah menuju kebun di belakang. Dia takjub melihat kebun tomat ayahku yang sudah berumur tiga minggu. Mirzaq menggulung celananya sampai pertengahan betis, menarik lengan kaos panjangnya sampai siku lalu tanpa canggung langsung duduk dan mulai menyabuti rumput di sekeliling batang tomat.

“Zik, gak usah deh. Apa-apaan sih kamu.” Aku berusaha mencegahnya.

“Udah, gak apa-apa. Ini pengalaman baru untukku, ayo kamu duduk sini. Kita kasi pelajaran sopan santun pada rumput nakal ini agar gak tumbuh di sembarang tempat.” Dia menarikku duduk di sisinya.

Jadilah sisa sore ini kuhabiskan bercengkerama bersama Mirzaq sambil menarik rumpu-rumput di antara batang tomat. Berada sedekat ini dengan cowok setampan Mirzaq membuat rongga dadaku sesak dengan perasaan bahagia yang tiada tara. Aku dapat menatap wajah perseginya tepat di depan mataku, dapat melihat hidung tinggi dan bibirnya yang mengundang. Dapat melihat pergerakan rambut lebatnya yang ditiup angin sore, bahkan aku dapat mengenal bau segar tubuhnya. Semua itu akan kusimpan sebagai hal terindah yang pernah kunikmati. Aku ingin sore ini tidak cepat berlalu. Namun sayang…

“WAHH… HUJAN!!!” Seruku.

Langit memang sedikit mendung tadi, tapi aku tak menduga hujan bakal turun mendadak selebat ini tanpa gerimis lebih dulu. Aku sontak bangun dan siap berlari melintasi kebun menuju rumah. Tapi mirzaq malah menarikku padanya. Aku urung pergi. Hujan langsung mengguyur kami sampai basah. Hatiku ketar-ketir, bagaimana tidak? Aku kini berdiri berhadap-hadapan dengan Mirzaq yang hanya berjarak satu jengkal di depanku. Kedua tanganku berada dalam genggamannya. Hangat, ya, itu yang aku rasa. Tanganku hangat dalam tangannya, hembusan nafasnya juga menghangat di kulit wajahku yang basah. Kami saling bertatapan, dadaku bergemuruh. Kenapa rasanya wajah Mirzaq semakin dekat ya? Tuhan, apakah saatnya sekarang? Apakah ini saatnya aku akan mendapatkan ciuman pertamaku? Tapi mungkinkah itu…

“Ri…” Panggilnya lirih.

“ARIII!!! Jangan hujan-hujanan. Lekas masuk!” Itu suara Bunda yang memanggilku dari dalam rumah.

Aku tersentak, kulihat Mirzaq juga begitu. Aku memberinya sebuah senyum sambil mundur satu langkah. “Demam karena hujan amat sangat tidak enak.” Aku melirik saku jeans-nya, lalu melanjutkan, kalimatku. “Hujan juga bisa bikin hape basah dan rusak…”

“OH SHIT! hapeku basah!” Serunya kelagapan sambil merogoh sakunya.

Aku tertawa lalu menariknya berlari menuju rumah.

***

Mirzaq menginap. Aku tidak bohong, dia benar-benar menginap. Kalian harus percaya. Apa yang kalian pikirkan sekarang ketika tahu aku akan seranjang dengan Mirzaq? Biar kuterka, kalian akan berpikir kalau kami akan tidur tanpa busana di bawah selimut sambil berpelukan seperti di film-film drama romance Hollywood? Atau Mirzaq akan pura-pura tertidur sementara aku sibuk me-maju-mundur-kan mulutku pada organ penghasil spermanya seperti roman-roman gay picisan itu? Damn, jangan terlalu berharap oke. Karena terus terang aku belum tau apa yang Mirzaq rasakan saat di kebun tomat tadi. Kita lihat saja apa yang akan terjadi. Jika kalian masih sanggup, teruslah melotot membaca tulisan jelek ini.

“Bajumu sempit di badanku…” Katanya ketika kami bersiap-siap tidur. “Apa aku boleh melepasnya? Badanku seperti di-press.” Dia cukup sopan dengan meminta izinku sebelum membuka pakaiannya. Sangat manis bukan?

Aku memberi perhatianku padanya. Yah, dia memang tampak tersiksa dengan kaos itu, padahal itu adalah kaos terlebar yang ku punya. Bukan berarti aku kurus atau Mirzaq yang gemuk. Tapi massa otot Mirzaq memang di atasku, dan dia lebih tinggi beberapa senti dariku. “Boleh, buka aja. maaf ya aku gak punya yang lebih gede.”

It’s okey.” Dia menarik lepas kaos itu melewati kepalanya.

Aku sampai menelan ludah melihat dia shirtless demikian. Badannya gak terlalu berotot, perutnya juga gak berbonggol sixpack. Tapi untuk ukuran cowok kelas XI SMA, Mirzaq amat menggiurkan. Aku melirik pada celana selutut yang kupinjamkan, dan berdoa dalam hati semoga Mirzaq akan mengatakan kalau celana itu juga kekecilan dan meminta persetujuanku untuk melepasnya -yang pasti akan dengan senang hati kuizinkan. Hihihii…

Diluar masih hujan, tapi tidak sederas beberapa jam lalu. Sore tadi setelah satu jam menunggu belum juga ada tanda-tanda akan berhenti, Mirzaq langsung mengambil hapenya yang aku letakkan dalam baskom berisi beras -dia bilang kalau hape basah akan cepat kering bila dimasukkan dalam beras. Katanya sih karena molekul air sangat mudah ditarik sama zat hidrat yang ada pada beras. Tau deh bener apa gak, tapi hape Mirzaq memang baik-baik saja tanpa lembab begitu diambil dari sana. Dia menelepon mamanya minta izin untuk menginap di rumahku. Aku sampai kaget mendengar ucapannya, dia tidak meminta persetujuanku sebelum mengabari mamanya. Tapi sedetik kemudian rasa kaget hilang berganti lonjakan girang hatiku membayangkan akan tidur satu ranjang dengan Mirzaq. Membuat aku ingin agar waktu tidur segera tiba. Jadilah sore tadi Bunda memasak menu sedikit istimewa untuk makan malam. Dan kalian tahu apa yang dilakukan Ale dan Ela selepas makan malam? Hal yang lagi-lagi membuat aku ingin jadi balita kembali. Mau kuberi tahu? Ale dan Ela bermanja-manja di pangkuan Mirzaq di ruang tengah. Ale asik berganyut di leher Mirzaq dengan kaki mengangkang di punggungnya, sementara Ela sibuk dengan jari dan anggota badan Mirzaq yang lain, memeriksa wajah Mirzaq dengan jari mungilnya sambil sesekali menempelkan mulutnya di pipi Mirzaq. Sepertinya Ela sudah punya bakat ganjen dari kecil.

Mirzaq menghempaskan dirinya di ranjang. “Belum berenti juga ya ujannya. Dari sore juga…”

“Hujan kan rahmat.” Ujarku sambil menyusulnya menyusup di bawah selimut.

Dia menguap. “Uhhh, dingin juga lama-lama.” Dia menarik selimut kami sampai ke dagu kemudian memejamkan matanya.

Kalau dingin mengapa dia minta buka baju tadi? Dasar orang yang aneh. Aku mengikutinya memejamkan mata. Rasa kantuk memang cepat menyerang bila kondisi hujan seperti ini.

Detak weker di atas nakas mengiringiku ke alam tidur. Rasanya aku akan benar benar lelap ketika kudengar Mirzaq berbisik dekat telingaku.

“Ri… Ari.”

“Hemm…” Gumamku sambil berbalik mengahadapnya.

“Kamu dingin gak?” Tanyanya.

“Dikit.”

“Aku banyak…” Ujarnya yang membuat aku hampir tertawa. “Sepertinya aku harus memeluk sesuatu…” Sambungnya lagi.

Belum sempat aku menjawab, dia sudah lebih dulu menyentuh pinggangku dan menarikku merapat padanya. Sebelah pahanya menindih sisi tubuhku. Satu pahaku menelusup ditengah tungkainya. Dadaku langsung seperti bedug yang ditabuh saat lebaran tiba.

“Zik…”

“He eh.”

Aku merasakan nafasnya tepat menghembus di puncak kepalaku. Aku bingung ingin berkata apa setelah menyebut namanya tadi. Tingkahnya sungguh tak terduga. “Good nite…” Bisikku akhirnya sambil melingkarkan lengan di pinggangnya. Dia tidak menolak.

“Yaa… tapi bisakah kamu berhenti menghentak-hentakkan genderang di dadaku? Rasanya seperti berada di konser full dangdut.” Balasnya tak kuduga.

Aku tertawa kecil. Ternyata dia merasakan debaran abnormal jantungku yang saat ini menempel di dada telanjangnya. “Akan kuusahakan…” Aku menyurukkan wajahku ke lekuk lehernya. Pagi, sekali ini bisakah kau muncul agak terlambat dari biasanya?

***

Waktu berlalu seakan berlari, persahabatanku dengan Mirzaq semakin erat. Banyak hal yang kami lalui bersama. Aktivitas-aktivitas kecil yang menyenangkan. Memancing di sungai, melihat sunset dari bangunan tinggi –karena di daerah kami tak ada laut yang dekat, bersepeda di hari minggu dengan sepedaku, mengajariku melempar bola ke keranjang basket, memanen tomat di kebun Ayah dan hal lainnya yang membuatku menikmati setiap detik yang kuhabiskan bersamanya. Kadang aku suka bertanya pada diriku sendiri, apakah Mirzaq sepertiku? Apakah dia juga punya rasa seperti rasaku? Sampai sekarang ini, aku memang tidak pernah mendengar kalau Mirzaq punya pacar di sekolahan, tapi itu bukan jaminan kalau dia punya rasa cinta yang tak biasa kan? Mungkin saja dia punya kekasih yang tidak satu sekolahan dengan kami. Dia kan sering bertandang ke SMA lain juga untuk tanding basket. Tapi aku sudah cukup bahagia bila masih bisa berteman dengannya.

Kalian pasti bertanya-tanya tentang Alfat kan? Aku masih tetap dekat dengannya. Kabar bahagia justru datang dari dia. Alfat sudah punya pacar, empat hari lalu dia melakukan adegan super romantis untuk menembak Zakiyah Suraya, siswi kelas satu. Ironis memang, dulu aku sempat menangkap kecemburuan Alfat ketika awal-awal aku dekat dengan Mirzaq yang membuat aku berfikir jika Alfat punya rasa tertentu padaku atau pada Mirzaq. Sempat juga aku berpikir Mirzaq yang punya rasa pada Alfat. Namun ternyata salah dugaanku, Alfat sudah punya tambatan hati. Semoga Zakiyah Suraya adalah cinta sejatinya.

***

Aku menemukan sebuah kotak di laci mejaku ketika sedang membereskan buku-buku saat jam pulang. Kotak kecil itu dibalut kertas kado warna coklat mengkilap. Sementara kawan-kawanku berdesakan di pintu untuk berebut keluar lebih dulu aku masih di kursiku dan membuka kotak kecil misterius ini. Pernahkah di negeri kita ini bom meledak di sekolah? Terus terang aku punya pikiran kalau kotak ini berisi bom.  Aku melepaskan kacamataku dan meletakkannya di meja lalu mulai mempreteli kotak mungil ini sambil terus berdoa semoga isinya emas 24 karat, ahahay…

COKLAT??? Ternyata isinya sesuatu yang manis itu. Coklat. Seseorang memberiku sekotak coklat. Apakah sekarang valentines day? Biasanya orang-orang akan saling memberi kado di hari yang kabarnya hari paling sakral untuk menunjukkan kasih sayang bagi seluruh makhluk di jagat raya. Bener gak sih? Apakah Laila dan Majnun dulunya ada merayakan hari valentine ya? Bukan, ini bukan hari kasih sayang itu, valentine baru akan tiba dua bulan lagi. Dan aku tidak sedang berulang tahun.

Aku mengamati isi kotak tersebut. Mata indah-ku (maaf sodara-sodara, biar lebih real dibaca, kata indah ganti dengan kata rabun) segera menemukan kalau ada sesuatu yang terselip di antara batang-batang coklat. Aku menariknya, sebuah kartu. Kubuka lipatannya, kartu itu berbentuk hati. Ditulis dengan tulisan tangan yang indah, tintanya yang berwarna coklat terlihat manis di atas kartu warna putih itu. Kado romantis, jariku sampai bergetar saat mulai membacanya.

“Kadang kita berusaha terlalu keras mencari jawaban dari satu pertanyaan yang sebenarnya jawaban itu tepat di depan mata. Begitu pula, kadang kita juga berusaha terlalu keras mencari cinta yang sebenarnya malah sudah berada di depan hidung kita….”

 

Aku bingung dengan kalimat awal yang tertulis dalam kartu itu.

“Aku tau dan sepenuhnya sadar kalau ini salah. Tapi kita memang tak pernah tahu kan kapan dan dengan siapa kita akan jatuh dan mencinta? Adakah defenisi yang salah untuk sebuah kata seperti cinta? Atau adakah orang yang membenci kata itu, kecuali mereka yang tak punya hati…”

 

Kerutan di keningku bertambah. Apa sih maksud tulisan ini. Siapa yang jatuh cinta pada siapa? Mungkin coklat ini salah alamat. Mungkin coklat ini untuk Alfat yang satu meja denganku. Bisa jadi Zakiyah Suraya yang ingin memberi kejutan buat Alfat eh malah nyasar ke laciku. Aku melirik keluar jendela, mencari apakah sosok Alfat masih ada. Tadi dia termasuk salah satu dari yang paling beringas berebut pintu keluar.

“Ada seseorang yang mengatakan padaku kalau cinta itu manis seperti coklat. Coklat gak pernah dibenci bagaimanapun bentuknya. Sampai saat aku hidup sekarang, aku belum pernah berjumpa dengan orang yang benci coklat. Bagiku, coklat itu seperti kamu. Kamu gak akan pernah dibenci oleh siapapun mereka di sekelilingmu. Kenapa? Karena manisnya coklat itu sama seperti manisnya dirimu…”

 

Wahh, gombal juga nih yang punya tulisan. Ternyata cewek seperti Zakiyah Suraya pinter ngegombal juga ya… Sorry Alfat, kepalang tanggung, kartumu terpaksa aku baca. Kalimat selanjutnya malah membuat aku panas dingin. Kakiku sampai ke pinggang dingin bagai berada dalam kolam es batu sedangkan kepalaku sampai dada panas seperti masuk cerobong asap. Penasaran bagaimana rasanya? Silakan kalian masuk cerobong asap dengan mengganduli sekarung es batu di pinggang kalian. Mataku kembali tertuju pada kartu manis itu.

“Sekarang aku ingin menyatakan cintaku dengan coklat. Aneh bukan jika aku memberimu bunga, cincin atau kalung? Kamu bukan seorang gadis, demikian juga aku. Jadi aku rasa coklat bukan pilihan yang salah. I LOVE U……”

Ya tuhan, aku terbelalak. Kalimat di atas membuat aku sadar dengan keadaan yang sebenarnya, kartu ini ditulis oleh seorang cowok buat cowok yang disukainya. Bukan dari cowok buat cewek atau sebaliknya. Sedangkan kalimat berikutnya sukses meledakkan hatiku. Ada namaku dalam paragraf akhir kartu ini. Coklat ini tidak salah alamat. Ini bukan cinta nyasar, bukan juga kalimat gombal Zakiyah entah siapa itu. Ini chocolate love-ku. Seseorang menyatakan cintanya untukku. Segera kuselesaikan isi kartu di tanganku.

“ARIAN FARISI… berkenankah kamu menerima coklat ini dan menjadi matahari hidupku hari ini, esok dan seterusnya…?

Ya atau tidak, aku menunggumu di kebun belakang sekolah.”

Oh my gosh! Ada yang mencintaiku. But who??? Mirzaq kah? Bukan mustahil malah Alfat. Yang jelas dia adalah seorang cowok, kalimat dalam kartunya menyatakan demikian. Aku melupakan tas dan kacamataku berikut kotak yang masih berisi coklat di atas meja. Aku segera berlari menuju kebun di belakang pekarangan sekolah dengan kartu di tangan kiriku. Melompati apa saja yang bisa kulompati sambil hatiku terus menggaungkan ‘ada yang mencintaiku-ada yang mencintaiku’ berkali-kali sampai kakiku berhenti begitu tiba di kebun belakang sekolah yang dipenuhi ilalang dengan bunga seputih salju. Di sanalah dia, insan yang mencintaiku. Berdiri gagah di tengah-tengah ilalang yang bergerak dipermainkan angin, membelakangi arah kedatanganku. Bahkan dari punggungnya aku tau itu dia, sahabatku yang akan jadi kekasihku sebentar lagi. Mengapa dulu aku begitu buta tidak dapat membaca kecemburuan dan bahasa tubuhnya yang jelas-jelas mencintaiku.

Seperti menyadari kehadiranku, perlahan dia berbalik. Angin mengacak-ngacak rambut ikalnya yang mulai panjang dan membuat dasi abu-abunya berkibar. Alfathurrahman nampak menawan di tengah-tengah bunga ilalang duapuluh meter di hadapanku. Dia tersenyum cerah untukku.

Aku membalas senyumnya sambil mengacungkan kartu putih beraroma coklat di tanganku. Kulihat Alfat membuka lengannya, seakan menyuruhku untuk segera menghambur ke pelukannya. Aku segera berlari.

“WHOAA…” Alfat berseru saat tubuhku menabrak dirinya. “Aku seperti ditabrak banteng liar.” Katanya. Kurasakan bibirnya menyentuh keningku.

“Bagaimana mungkin….” Desisku diantara nafas yang memburu dengan wajah masih berada di dadanya.

“Apanya?”

“Bagaimana mungkin aku tak mengetahuinya.” Ujarku lirih sambil mengencangkan lingkar lenganku di punggungnya.

Alfat menarik napas dalam. “Kamu memang tak tahu.” Ucapnya. “Bahkan saat kekasih sejatimu melihatmu berpelukan dengan cowok ganteng lain di depan hidungnya sendiri, kamu masih tidak tahu.”

Hah!!! Aku menarik kepalaku dari dada Alfat. Keningku berkerut. Apa maksud ucapannya barusan? Sialan Alfat. Dia malah tersenyum. “Jangan permainkan aku.” Bentakku gusar. Apa dia mengerjaiku lagi? Untuk masalah seperti ini? Aku bisa mati berdiri saking malu bila ternyata dia hanya main-main mengatakan cinta padaku, jati diriku terkuak sudah sekarang.

Kini dia malah tertawa. “Ehemm, baiklah, mari kuperkenalkan pada seseorang.” Kata Alfat sambil memutar tubuhku berbalik lebih ke samping.

Mataku terbelalak begitu melihat siapa yang tegak berdiri lima langkah di sana dengan dua tangan berada di saku celana. Mirzaq.

“Hai…” Sapanya diikuti sebuah seringai di bibirnya. Sedang meyeringai pun dia tampak sangat tampan. Dasi abu-abunya longgar dan berkibar pelan dihembus angin. Kancing atas seragamnya terbuka. Mirzaq nampak berantakan, dan… manis.

Aku masih diam. Tak bergerak tak bersuara, masih tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sini. Aku memandang mereka bergantian, meminta penjelasan untuk semua keanehan di depan mata.

“Oke, izinkan aku bicara.” Kata Alfat. “Zik memintaku meletakkan kotak itu di lacimu. Kotak penuh cinta untuk orang yang dicintainya. Kami juga berada di sini untuk sama-sama menunggumu.” Alfat diam sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya. “Aku tau kamu mencintainya, Ri… Aku tau itu sejak kamu sering melintasi lapangan basket, sejak kamu selalu bersikeras untuk jadi supporter tiap dia ada pertandingan dimanapun itu. Aku tau kamu mencintainya dari cara kamu menatapnya. Tidak sama seperti saat kamu menatapku.”

Alfat diam lagi. Mirzaq masih berdiri di sana. Aku menatap Alfat dalam-dalam, mencoba menerka-nerka apa yang akan diucapkan selanjutnya. Jujur, aku shock berat saat ini.

“Aku bahagia asal kamu bahagia Ri, kamu tau bagaimana gembiranya aku setiap melihat kamu tertawa? Rasanya bagai naik balon udara, semua beban hilang. Yang ada hanya perasaan takjub tak terperi. Yah, aneh memang sih… Aku belum pernah naik balon udara, kenapa aku bisa mengumpamakan demikian ya? Gak apalah, yang jelas kira-kira gitu deh rasanya.”

Detik itu rasanya ingin aku tertawa mendengar kalimat konyol Alfat, dia memang selalu menggelikan.

“Aku mencintaimu, Ri…” Terusnya. “Tapi kemudian aku sadar satu hal, jika ada orang lain yang bisa mencintai dan membuatmu bahagia melebihi diriku, maka aku akan jadi orang paling bodoh jika tidak membuatmu dapat bersatu dengan dia yang lebih itu. Aku benar-benar mencintaimu, dulu. Tapi ada yang lebih lagi mencintaimu sekarang, Adi Mirzaq… Kami sudah bicara banyak sebelum ini. Aku iri dengannya, cintanya buatmu begitu hebat.”

Aku menoleh pada Mirza, tatapan kami bertemu. Lalu aku kembali menatap Alfat. Sedikit banyak aku mulai tahu keadaan yang sebenarnya.

“Aku mau kamu tau satu hal, jika hari ini kamu melihatku mendapatkan cinta yang lain, Zakiyah. Ketahuilah, itu bukan pelarianku karena tak bisa mendapatkan cintamu. Bukan juga aku hanya main-main dengan Zakiyah atau sekedar untuk mencari status sebagai laki-laki. Bagiku kamu tetap cinta sejatiku, Ri. Tapi aku juga ingin mendapatkan cinta sejati lain bersama Zakiyah.” Alfat menghela nafas. “Kamu tidak mendengar bagaimana dia memanggilku Abah dan memintaku memanggilnya Ummi…” Alfat tertawa. “Rasanya aku rela lari marathon di siang bolong untuk sampai ke tempatnya bila dia memanggilku begitu…”

Kali ini aku tak bisa menahan tawaku. Tapi tetap, keharuan akan sejatinya cinta Alfat untukku dulu membuat mataku berkaca. How can I be so blind?

“Sekarang, pergilah ke cintamu, Ri… Ambil dan genggamlah dia…” Alfat Menyentuh pundakku. “Tapi sebelumnya, bolehkah aku mengatakan satu hal terakhir?”

Huh, dari tadi satu hal terus yang ada di kepalanya. Tapi aku mengangguk juga. “Apa itu?”

“ JANGAN LUPA SIKAT GIGI DUA KALI SEHARI PAGI DAN MALAM…” Tawa Alfat tersembur.

“Iklan banget…” Cetus Mirzaq.

“Sialan…” gerutuku.

Alfat tertawa. “Menyikat gigi itu penting loh bagi orang pacaran, Zakiyah yang bilang padaku. Jadi kalo kita sering menyikat gigi, maka nikmatnya ciuman itu dua kali lebih dahsyat tanpa diganggu bau mulut…”

“ANJRIIITT….!”

Alfat mendekat padaku, kemudian menoleh sebentar pada Mirzaq. “Izinkan aku mengecup kening pacarmu untuk terakhir kali…” Katanya pada Mirzaq. Lalu Alfat menyambung. “Untuk hari ini…”

“Sialan…” Umpat Mirzaq. “Awas aja Fat kalo kamu berani menciumnya di hari yang lain.” Ancam Mirzaq yang membuatku merasa sangat berarti baginya.

Alfat terkekeh dan…

CUPP…

Bibir Alfat mendarat mulus di dahiku. “Udah, pergi sana ke pacarmu.” Usirnya padaku sambil mendorong pelan badanku.

Aku dan Mirzaq masih sama-sama berdiri, tak ada yang berani bergerak lebih dulu. Kami hanya saling menatap. Jujur, aku masih merasa ini bagai mimpi.

“HEYY, kalian ini kenapa!!!” Teriak Alfat saat aku dan Mirzaq masih mematung. “Okeh, aku akan berambus dari sini. Detik ini juga, Ummi Zakiyah menungguku. Ayo, jangan malu-malu. Kayak anak kecil aja pake disuruh-suruh. Buruaaan… aku gak akan mengintip kok.” Lalu dia berbalik dan secepat kilat hilang di balik pagar sekolah.

Dan tanpa menunggu lebih lama aku segera menghambur dalam pelukan Mirzaq yang sudah membuka. Memeluknya seerat yang kubisa, membenamkan diriku sedalam-dalamnya di sana sambil mengganyutkan kedua lenganku di lehernya.

“Oouugghh…” Mirzaq melenguh ketika bibirku merapat ke bibirnya, hal yang sangat kuinginkan dari dulu. Lengannya melingkar di pinggangku. Dapat kurasakan bagian tengah tubuhnya menekanku, cukup keras. Kami berciuman lumayan lama. Seakan berusaha membahasakan rasa yang telah terpendam sekian lama hingga nyaris berkarat.

Aku terengah-engah sambil menarik wajahku. Kami saling menatap.

“Apa itu tadi artinya, YA?” Tanya Mirzaq sambil tersenyum. Aku tau dia menanyakan jawabanku atas pertanyaannya di kartu putih itu.

“Jangan tanya lagi…”

Dia tertawa Lalu kembali menciumku, lama dan panas hingga aku hampir meleleh. Lututku seakan tak sanggup menopang bobot tubuhku lagi. Bibir Mirzaq terlalu manis. Setelah ciuman yang berapi-api tadi aku menarik diri darinya.

“Ohh, Ri… Aku gak bisa puas hanya dengan ciuman. Aku butuh lebih banyak lagi. Please, gimme more sweetheart… kamu menyiksaku di bawah sini.” ujarnya memelas sambil melirik ke bawah sabuknya.

Aku menggeleng sambil tersenyum jahil.

Just, one more kiss…?” Pintanya dngan wajah memelas yang membuatku gemas.

“Akan ada saatnya untuk membuatmu puas hanya dengan ciuman.” Kataku yang kini malah membuatnya cemberut lucu. “Saatnya pulang, aku gak mau Bunda khawatir mendapati anaknya belum pulang sekolah sudah sesore ini.”

“Okeh. Kita pulang Sweetheart.” Sahutnya.

Mirzaq berjalan mendahuluiku kembali menuju sekolah, sepertinya dia ngambek karena permintaan satu ciuman lagi-nya tak kutunaikan. Aku tersenyum geli, segera bergerak menyusul dan melompat ke belakangnya. Kulingkarkan kedua tangan di lehernya serta dua kakiku di pinggangnya. Mirzaq reflek memposisikan kedua lengannya menahan pahaku.

“Manja…” Cetusnya sambil tertawa lirih. Lalu dia menoleh kebelakang hanya untuk menyentuhkan pipinya dengan wajahku, sedikit menggeseknya.

“Biar aja manja… Sama pacar sendiri juga kan.”

Mirzaq tersenyum sambil terus melangkah tanpa merasa berat mendukungku di punggungnya. Bunga-bunga ilalang beterbangan di sekitar kami, kicau burung sayup terdengar di kejauhan. Sore yang damai untuk permulaan hari-hari berwarna selanjutnya. Ternyata cinta memang seindah ini ya…

***

Sepenggal Epilog…

Setiap nafas yang dihembus, setiap degupan jantung

Aku selalu memikirkanmu

Dalam sadar dibuai angan, dalam tidur dan hayalan

Aku selalu memikirkanmu

Ternyata kuperlukan cinta dari dirimu sayang

Barulah terasa kubernyawa.

Kasihku, ku amat mencintai kamu

Karna kau beri arti hidup, kukan terus mencinta seditik lebih

Selepas selamanya.

Di kala penuh ketakutan dengan badai kehidupan

Kubersyukur adanya kamu

Biarlah kehilangan semua yang dimiliki di dunia

Asal masih adanya kamu……

(Anuar Zain, Sedetik Lebih Lyrics)

Kisahku memang bukan roman cinta yang indah, bukan pula prosa yang mengharu biru. Tidak ada orang-orang hebat dalam kisah ini. Tapi aku bangga memiliki insan istimewa seperti Adi Mirzaq, kekasihku yang mencintai dengan sepenuh jiwa. Yang memandangku seperti akulah satu-satunya lelaki pada siapa dia akan memberikan seluruh cinta yang dia punya. Yang memandang seperti akulah satu-satunya lelaki dengan siapa dia akan menghabiskan hari-harinya. Aku dan Mirzaq hanya perlu saling menatap untuk meyakinkan diri, bahwa kami memang telah jatuh cinta dengan begitu dalamnya satu sama lain. Kamu hanya perlu jatuh cinta pada orang yang sama berkali-kali dalam hidupmu. Maka saat itulah kamu akan sadar betapa setiap hari adalah hari dimana pikiranmu membisikkan ‘Dia adalah belahan jiwaku untuk selamanya’ sama seperti saat pertama kali kamu melihatnya dan saling jatuh cinta. Tidak sulit bukan, just fell in love with same guy every day

Ohh ya, Alfat. Selamanya dia akan jadi sahabatku dan Mirzaq. Semoga cinta dan persahabatan kami akan tetap semanis coklat terbaik di dunia…

Awal Desember 2011

di kamar jelek di negeri antah berantah

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

nay.algibran@gmail.com