an AL GIBRAN NAYAKA story

#####################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Awalnya aku sempat ragu saat mulai menuangkan ide cerita ini dalam tulisan. Aku tak yakin aku mampu. Lebih tak yakin lagi jika ide ini akan disambut baik oleh para sahabat. Jujur, aku tak mengada-ada. Saat sudah menulis sebanyak 6 lembar, aku sempat memikirkan dan menimbang-nimbang kembali konsep yang sudah aku buat. Sempat terlintas untuk membelokan konsep awalku dan menggantinya dengan jalan cerita baru, begitu tak yakinnya aku akan ide tulisan ini. Aku juga sempat mengeluhkan begitu pada seorang kawan, mengeluh jika ideku mentok dan berhenti di lembar ke enam. Tapi kawan baik ini menyemangatiku. Katanya… Semangat!!!’ (Ya iyalah semangat, masa semangka… Kekekeke. Gila aja Nay) yah, nyatanya aku memang gila karena memilih tema ini untuk tulisanku.

Aku ingat pernah baca sebuah kalimat, jangan berkata tak mampu jika kamu belum pernah mencobanya. Itu kalimatnya. Bermodalkan ‘semangka’ dari kawan baik tadi dan kalimat dahsyat itu, akhirnya terseok-seok aku berusaha melanjutkan ide asal. Namun menjelang akhir, aku didera cobaan. Tulisan ini tertunda dua hari dari jadwal dimana dia seharusnya siap karena aku harus bolak-balik RS.

Tapi pada akhirnya aku menang. Yess…!!! Aku berhasil membuat konsepku bertekuk lutut saat mengetik alamat gmail-ku di akhir tinta. Leganyaaaa… pasti dunk.

Itu saja kali ini. Seperti lazimnya mantraku selama ini. Aku masih memakai mantra yang sama. Semoga kalian menikmati membaca MAN AND BOY seperti aku menikmati saat menulisnya.

Silakan cantumkan kekurangannya di kolom balasan. Aku tak sabar ingin membaca cuap-cuap kalian kali ini. Sangat tidak sabar. Untuk sepuluh sahabat yang bersuara pertama (apakah itu manis bak gula aren atau seasam bau ketek tanpa deodorant), aku sudah niatkan memberi mereka selusin ciuman. Kekekekeke… beneran, satu lusin. Serius.

Wassalam

n.a.g

#####################################################

Berjalanlah pada garis yang telah ditentukan untukmu

Pada garis yang telah digariskan di bawah kakimu

Bawa langkahmu menyusurinya

Dengan dada lapang dan tangan terbuka

Dengan ikhlas yang menggunung di hati

Bila mungkin…

Dengan senyum yang tak pudar dari wajah

Hidup adalah percaturan nasib

Tak selalunya indah

Seperti halnya langit yang tak selalu cerah

Menangislah hari ini dan terbahaklah esok hari

Karena demikianlah hidup

Kamu kehilangan hari ini

Lalu mendapat ganti keesokannya

Kamu berduka sekarang

Namun ada masa untuk bersuka ria kemudian

Berjalanlah pada garis yang telah ditentukan untukmu

Pada garis yang telah digariskan di bawah kakimu

Dan iringi langkahmu dengan ikhlas yang menggunung

Bila mungkin…

Juga dengan cinta…

Meski itu bukan cinta biasa sekalipun…

***

Surabaya, Five years ago…

Dua gundukan itu masih merah, kelopak-kelopak di atasnya masih tampak segar dan berwarna. Tentu saja, kelopak-kelopak itu baru saja dijatuhkan dari tangan yang bergetar. Dari tangan pemilik wajah sarat nestapa. Air mata masih setia meleleh di wajahnya. Seharusnya dia pulang lebih awal malam tadi. Seharusnya dia tak melembur. Seharusnya dia tak pergi terlalu lama. Seharusnya dia bisa menemani istri dan anak lelakinya. Dia yakin dapat menyetir lebih baik dari Sang Istri, mereka tak perlu terguling di jalan.

Dia sangat menyayangi puteranya, teramat sangat. Juga menyayangi istrinya yang memahami kondisinya dengan sepenuh hati. Dia sayang istrinya, dan masih berusaha untuk bisa mencintainya hingga malapetaka itu memisahkan dunia mereka. Dia sayang puteranya, anak lelaki semata wayangnya. Tapi kini tiada lagi, anak lelakinya telah diambil pulang.

Tangannya mencengkeram kuat papan nisan di depannya. Papan nisan puteranya. Kini dia sendiri, sangat sendiri. Kesempurnaan hidup yang dimiliki sosok tak sempurnanya tidak bertahan hingga dia tua dan mati seperti yang pernah dibayangkannya. Kehilangan ini menguak kembali siapa dirinya dulu. Tak ada lagi sosok istri dan sosok anak yang menguatkan statusnya sebagai lelaki. Hatinya luluh lantak, dia berusaha ternyata hanya untuk kehilangan. Dia berusaha untuk puteranya, pembuktiannya. Namun kini semua itu pupus sudah.

Dia terisak, jatuh merangkul gundukan merah di depannya. Dia sendiri. Langit berubah kelabu, gelap turun menyelimuti bumi. Dia masih belum beranjak hingga sore berakhir…

***

Jakarta, today

Mobil klasik Bayu terseok-seok di Jalan Thamrin. Petang begini memang waktu macet gila-gilaan di ruas jalan ini. Warga kota yang baru saja selesai dari aktivitas pekerjaan mereka berlomba-lomba untuk segera sampai ke rumah. Inilah masalah kota ini, perkembangan jumlah kendaraan dengan jumlah jalan sangat timpang. Jumlah mobil terus meningkat sedang ruas jalan tidak makin lebar dan tidak bertambah. Bayu mengumpat saat mendapati bahwa sudah lebih setengah jam dia belum bebas dari kemacetan yang menjebak mobil tuanya di dalam antrean panjang berderet. Seharusnya aku tak membelok ke jalan sialan ini. Entah berapa kali sudah dia mengerutu kalimat serupa dalam hati. Beginilah Jakarta. Bukan Jakarta kalau bebas macet, bukan Jakarta kalau tidak banjir. Persepsi yang sudah mendarah daging, tentunya selain tindak kriminalitas dan prostitusi yang luar biasa tinggi.

Lebih satu jam kemudian barulah mobil Bayu bisa melaju mulus kembali membelah kepadatan lalu lintas Jakarta yang tak pernah lengang. Bayu sadar kalau dia akan direpetin Mahesa karena tak memenuhi janji untuk pulang cepat hari ini. Jujur, dia telah berusaha untuk mendapatkan izin pulang lebih awal. Tapi izinnya tak diluluskan Sang Atasan. Hanya karena ini hari spesialmu, bukan berarti kamu harus diperlakukan lebih istimewa dari yang lain. Tidak. Bayu yakin, kalimat seperti itulah yang tersirat dalam tatapan atasannya ketika menolak izinnya tadi.

Bayu tiba di rumahnya di kawasan Kebayoran Baru sangat terlambat dari janjinya. Lampu teras rumah mungilnya sudah berpijar terang, malam sudah berkuasa lebih satu jam lalu. Setelah menyimpan mobilnya di garasi, Bayu menuju pintu depan dengan perasaan bersalah. Mahesa pasti sudah menunggunya sejak awal sore tadi.

Assalamualaikum…”

Bayu menguak daun pintu dan mendapati wajah keruh Mahesa sedang terpekur pada buku yang terbuka di depannya. Tak menoleh dan tak menjawab salamnya. Bayu membuka sepatu dan menutup pintu kembali. Dia berdehem. “Assalamualaikum…” Kembali dia mengucap salam sambil memperhatikan sosok yang masih duduk di sofa ruang depan dengan tangan terlipat di dada. Bayu merasa diacuhkan. “Jawab salam itu wajib loh, semarah apapun kita…”

Dia berhasil mendapatkan perhatian Mahesa. “Papa ingkar janji…” Setelah berkata demikian Mahesa kembali menekuri bukunya. “Waalaikumsalam…”

Bayu tersenyum lalu berjalan menuju sofa. “Maafkan Papa, boss Papa sungguh jahat. Ulang tahun bawahannya sangat tidak penting baginya…” Bayu duduk di samping Mahesa.

“Seharusnya Papa ngikutin saranku tadi pagi, bolos kerja.”

Bayu tertawa. “Kalau Papa dipecat?”

“Papa gak akan dipecat hanya karena libur sehari. Papa terlalu keras bekerja…”

Bayu termenung seketika. Ya, dia terlalu keras memforsir dirinya untuk bekerja hingga keluarganya terabaikan. Sekilas bayangan kepedihan masa lalu memenuhi penglihatannya. Sanggup membuat wajahnya pias beberapa saat lamanya.

Mahesa menutup buku yang sedang dibacanya. Wajahnya masih keruh. “Aku sudah berkemas sejak pulang ekskul tadi. Padahal di telepon Papa bilang akan segera pulang, nyatanya hingga lampu rumah aku nyalakan Papa belum tiba juga.” Mahesa menumpahkan kekesalannya. “Seharusnya Papa gak pernah menjanjikan apapun…”

Bayu menghela nafas. Dia memang sudah membayangkan akan mendapatkan reaksi seperti ini dari Mahesa. Ditatapnya Mahesa, masih rapi. Nyatanya dia memang benar-benar telah susah payah bersiap-siap. Denim dan kemejanya membuktikan itu, masih rapi membalut sosok remajanya dengan sangat pas.

Bayu bangun dari duduknya. “Ayo…!”

Mahesa mendongak. “Kemana?”

“Belum terlalu larut untuk merayakan hari jadi Papa kan?”

“Aku ada ulangan besok…”

“Kita akan pulang sebelum tengah malam.” Bayu melirik jamnya, mendekati pukul sembilan. “Lagipula Papa juga harus masuk kerja besok kan? Ayo!” Dia menarik tangan Mahesa agar berdiri.

Sedikit enggan, Mahesa berdiri juga. “Kita gak akan sempat memilih kue tart paling bagus seperti yang kita rencanakan tadi pagi…”

“Kalau begitu kita abaikan kue tart paling bagus itu…” Bayu tersenyum sambil menarik Mahesa untuk berjalan.

Mobil tua Bayu kembali melaju di jalanan. Tujannya adalah Grand Indonesia Mall –mall terluas dan paling prestisius di Jakarta bahkan juga di Indonesia. Dia dan Mahesa pasti akan menikmati berada di sana. Untuk itu, Bayu harus kembali lagi membelah kepadatan Jalan Thamrin.

Benar saja, Mahesa langsung berseru girang begitu Bayu membelokkan mobilnya ke sana. “Papa Bay, kita gak akan pulang cepat malam ini…!” Ujar Mahesa begitu turun dari mobil. Bayu hanya tersenyum.

Mahesa menggila. Dia menarik lengan Bayu kesana kemari, sibuk memilih kado buat Sang Papa. Bayu yakin Mahesa baru saja memecahkan celengannya.

“Seharusnya kamu belinya dari kemarin-kemarin, jadi surprise…” Ucap Bayu ketika Mahesa mengukur kemeja ke badannya. Mereka langsung menuju gerai baju begitu Bayu menjawab pertanyaan Mahesa mengenai kado apa yang diinginkannya.

“Kado gak selalu harus mengejutkan. Lagian, aku udah niat jauh-jauh hari pengen beli kado apa yang Papa inginkan. Lebih bermanfaat kan, daripada kejutan yang isinya belum tentu Papa sukai.” Mahesa terus mencomot kemeja-kemeja yang tampak bagus dalam pandangannya dari gantungan. “Yang penting belinya pake uang sendiri.”

Bayu tertawa. Tangannya sudah penuh beberapa kemeja pilihan Mahesa. Anak itu terlalu bersemangat. Beberapa saat kemudian dihabiskan Bayu untuk keluar masuk kamar pas mencoba semua kemeja itu. Bayu merasa jadi remaja lagi bila bersama Mahesa.

Okey, aku pilih warna marun sama abu-abu yang ini.” Mahesa menarik dua kemeja dari tangan Bayu. Warna marun bercorak garis-garis hitam dan warna abu-abu polos. Kemeja yang manis.

Nice choice… Papa suka.”

“Tentu.” Mahesa berjalan ke kassa.

“Kamu tak ingin Papa belikan sesuatu?” Bayu menyusul sambil mengancing kemejanya.

Mahesa menggeleng tanpa menoleh. “Tidak kali ini.”

“Jaket baru mungkin…” Bayu masih berusaha.

“Tunggu sampai tanggal lahirku tiba.” Mahesa masih tak menoleh. Bayu kalah.

Setengah jam kemudian mereka sudah duduk berhadap-hadapan di meja resto yang bertebaran di bagian bawah mall. Kue tart kecil dimana angka 37 bertengger manis di atasnya baru saja diletakkan pelayan di meja mereka. Mahesa berdecak, memandang takjub pada kue manis di depannya.

“Papa semakin tua, ya…” Bayu menggumam.

“Tidak setua itu.” Tukas Mahesa. “Percaya? Papa Bay tampak seperti baru dua delapan atau paling tua awal tiga puluh-an. Begitu kelihatannya, dan pasti begitu orang-orang akan mengira.”

Bayu tertawa. Dia tahu Mahesa ingin menghibur. Dia sama sekali tidak tampak seperti pria muda, tidak dengan helai uban yang akhir-akhir ini mulai menyita perhatiannya. Juga kerut halus di bawah matanya. Bila berdiri di cermin lebih lama, Bayu juga akan menemukan gurat halus di sekitar bibirnya, garis tawanya lebih jelas kelihatan sekarang. Dia tak muda lagi.

“Aku jujur, Papa Bay masih terlihat muda. Tau? Teman-teman juga bilang begitu, mereka mengira yang mengantarku tiap hari ke sekolah adalah saudara paling tua…” Mahesa terkekeh. “Mereka melongo bego saat aku bilang kalau itu adalah papaku. Lalu mereka bilang… Mahes, rasanya lebih enak melihat papamu ketimbang Attalarick Syach…” Mahesa tertawa diikuti Bayu yang terbahak setelahnya. “Ayo, make a wish dan tiup lilinnya.” Dia kembali fokus ke kue.

Bayu menurut, menadahkan dua tangan berdoa nyaring untuknya sendiri dan Mahesa lalu memadamkan lilin. Selanjutnya mereka melahap cake mini itu sambil sesekali bercanda.

Bersama Mahesa, kadang Bayu lupa kalau dia pernah kehilangan bertahun yang lalu. Bersama Mahesa, Bayu seperti kembali ke masa-masa mudanya dulu sebelum berakhir karena pernikahannya di usia yang masih sangat muda. Ya, dia dipaksa menikah untuk mengekangnya dari rasa yang salah. Dan walau berhasil, pernikahan itu akhirnya membawa Bayu pada sebuah kenyatan. Kenyataan bahwa tak ada yang utuh lagi bila kita kehilangan. Tak ada yang utuh sampai kita mendapatkan gantinya.

***

Mahesa tertidur bersandar pada Bayu. Dia kelelahan. Rencana semula hanya keluar sebentar saja nyatanya mereka baru tiba di rumah jauh melewati angka dua dini hari. Keluar dari Grand Indonesia, atas permintaan mahesa, Mobil Bayu melaju lambat di jalanan kota Jakarta. Mereka berkeliling kota yang berpijar dalam gemerlap lampu. Melewati Bundaran HI yang tak pernah mati, lewat di depan mall-mal megah, menyusuri jalan-jalan sibuk dan berakhir di pinggiran Lapangan Merdeka. Tanpa keluar dari mobil mereka memandang kemegahan Monumen Nasional yang berdiri congkak di tengah-tengah lapangan sambil mengupas kacang rebus kesukaan Mahesa. Emas di pucuk Monas selalu bisa membuat Mahesa mengkhayalkan jika mereka punya emas sebesar itu di rumah. Lalu dengan bodohnya Bayu akan ikut masuk dalam khayalan anak itu. Mereka baru pergi dari sana ketika bungkus kacang Mahesa kosong. Langsung menuju ruamah.

“Mahes… hey…” Bayu menepuk pelan pipi Mahesa tapi yang ditepuk tak kunjung membuka mata. Mahesa hanya menggumam sambil mengeliat.

Bayu mendesah. Dia membuka pintu mobil lalu keluar lebih dulu. Hati-hati menjangkau Mahesa dari dalam untuk kemudian dibopong di depannya. Mahesa lumayan berat, itu yang dirasa Bayu. Tentu saja, Mahesa bukan remaja SMP lagi.  Setelah menutup pintu mobil dengan kakinya, Bayu berjalan menuju pintu. Perlu waktu ekstra untuk membuka pintu itu dengan Mahesa dalam gendongannya. Bayu menutup pintu rumah dan kembali bergelut dengan lubang kuncinya untuk beberapa lama.

Mahesa dibaringkan di tempat tidurnya. Setelah kembali menggumam tak jelas dan mengeliat beberapa kali, Mahesa kembali lena. Bayu masih duduk di pinggir ranjang, menatap wajah polos Mahesa yang disinari lampu tidur redup. Wajah itu damai. Bayu mendesah. Entah mengapa setiap menatap Mahesa saat sedang tidur seperti sekarang dia selalu merasa bersalah. Merasa salah karena mendapati kenyataan bahwa akhir-akhir ini dia tak tulus menganggap sosok ini sebagai anak. Rasa yang salah itu masih mengikutinya hingga kini.

Ingatan Bayu kembali mengembara ke masa-masa awal dia menerima Mahesa. Menerima karena dia sendiri menginginkannya. Dia butuh kawan untuk menemani hari-hari sepinya setelah ditinggalkan. Butuh kawan dalam pengasingan dirinya sendiri dari keluarganya. Dia tak ingin menikah lagi, tak ada yang boleh mendikte hidupnya lagi sejak anak istrinya pergi. Bayu meninggalkan hidupnya yang dulu dan hijrah kemari. Di sinilah dia menemukan Mahesa, tidak lama setelah dia memulai hidup barunya. Sejak pertama kali membayar lagu yang dinyanyikan anak itu suatu ketika dulu, Bayu telah jatuh cinta padanya. Dia baru saja bangkit dari keterpurukan saat itu, baru saja selesai menata hatinya kembali. Sosok kecil Mahesa membuatnya ingat anaknya. Dan sejak itu dia mulai sering berhenti di simpang-simpang tempat biasa anak-anak jalanan beroperasi. Dari sanalah dia kenal hidup Mahesa, bahkan mengenal terlalu jauh.

Anak itu punya kisah hidup yang berat, jika tak ingin dikatakan suram. Dia lahir tanpa mengenal siapa ayah biologisnya. Ya, ibunya seorang wanita malam. Mariah wanita yang baik. Dia teramat sangat menyayangi anaknya. Di saat lingkungannya menganggap anak-anak adalah aset bagi orang tua untuk mendapatkan uang, tidak begitu dengan Mariah. Dia peduli dengan anaknya, dia memberi Mahesa pendidikan di saat anak-anak lain jadi tulang punggung keluarganya. Menyekolahkan Mahesa di saat anak-anak lain menadahkan tangan di lampu-lampu merah atau menunggu kelengahan orang-orang di pasar. Mariah memberi Mahesa kasih berlimpah sementara anak-anak lain kerap dihajar orang tua sendiri bila setoran mereka dianggap kurang. Mariah tak pernah menyuruh Mahesa jadi pengamen, dia akan marah besar bila tahu.

Namun begitulah adanya seorang anak yang baik. Mahesa mengamen sembunyi-sembunyi untuk membantu ibunya –wanita yang semakin tertinggalkan seiring gurat kecantikan yang memudar karena usia yang terus meningkat. Pelacur tua –begitu lingkungan menjulukinya. Tapi kehadiran Bayu membuka rahasia Mahesa kepada Sang Ibu. Bayu bertemu Mariah bersama seorang pria gaek ketika dia membawa Mahesa jalan-jalan ke mall. Tepatnya, Mariah yang menemukannya dan Mahesa. Dari situlah awal dia mengenal kehidupan Mahesa dan gang kumuh tempat orang-orang terpinggirkan Kota Jakarta mengais hidup. Mahesa dan Sang Ibu hidup di tengah-tengah masyarakat urban. Orang-orang pinggiran. Lingkungannya tak bisa dikatakan nyaman di sana.

Mariah wanita yang baik, tapi sayang peruntungannya tak sebaik sifatnya. Mahesa siap akan lulus sekolah dasar ketika Mariah meninggal. Tak ada yang benar-benar bebas infeksi jika kita melakoni pekerjaan seperti itu. Begitu juga halnya dengan Mariah, dia bertekuk lutut dengan virus tak berpenawar yang menggerogotinya. Saat tahu bahwa dirinya tak bisa menang, dengan berurai air mata dia menitipkan puteranya pada Bayu. Ruang rawatnya yang serba putih jadi saksi betapa saat itu Mahesa meraung keras di atas jasad ibunya yang kaku. Bayu meringis tika itu. Dia pernah merasakan betapa sakitnya kehilangan. Tak ada kehilangan yang tak menyakitkan, itu adalah pasti.

Kemudian Bayu membawa Mahesa bersamanya. Menghormati Mariah dengan memberinya penguburan yang layak. Hanya itu tanda terima kasih yang bisa dibayarnya buat Mariah yang ikhlas memberi Mahesa untuknya. Mariah tak pernah tahu kalau saat itu Bayu baru kehilangan anaknya berbulan sebelumnya. Tapi Bayu percaya… Mahesa diserahkan padanya sebagai pengganti anaknya terdahulu.

Bayu mendesah, mengusir kabut di matanya. Kini dia telah menghabiskan hampir lima tahun bersama Mahesa. Mulai merasakan sebentuk kebanggaan setiap melihat Mahesa dengan seragam putih-abu-abunya. Dia bangga memiliki Mahesa. Namun akhir-akhir ini, perasaan salah itu kerap menghantamnya dari segala penjuru. Hasrat lama yang berusaha dikuburnya dalam-dalam. Bayu mulai takut jika dirinya tak cukup kuat.

Mahesa tidur dengan denim dan Kemejanya, dia tampak payah. Bayu tak ingin membuat Mahesa terjaga dengan membuka kemejanya. Jadi dia membiarkan Mahesa lelap dengan pakaian lengkap. Perlahan Bayu membungkuk dan mencium kening Mahesa. “Papa sayang kamu…” Ucapnya lirih. Mahesa kembali menggumam. Bayu beranjak dari ranjang, tanpa bersuara menutup pintu kamar Mahesa lalu berjalan menuju kamarnya.

***

“Papa kangen dia?”

Bayu mendongak dari album usang yang terbuka di tangannya. Hanya itu satu-satunya benda yang dibawanya dari rumahnya terdahulu. Dia mendesah, menutup album itu dan memasukkannya kembali ke laci nakasnya.

“Kenapa belum tidur?” Bayu menatap Mahesa yang hanya bercelana pendek. Dia tak menyadari saat Mahesa membuka pintu kamarnya.

“Hujan sungguh menggila, dan petir membuat keributan yang luar biasa. Aku gak bisa nyenyak.”

Ya, tentu saja. Bayu juga sangat terganggu dengan hujan di luar sana. Tak ada yang terdengar selain gemuruhnya yang diselingi gelegar petir.

Mahesa membuka laci yang baru saja ditutup Bayu, mengambil album itu kembali. “Udah lama aku gak dengar Papa bercerita.” Mahesa naik ke ranjang, menyusun bantal dan menyandarkan punggungnya di sana. Bayu tak melarang. “Aku sudah sering melihat album ini, tapi aku tak pernah tahu cerita semua foto di sini… Aku hanya tahu cerita Abay. Padahal album ini gak hanya berisi foto Abay saja.”

Bayu mendesah berat. “Gak ada cerita yang begitu menarik dari tiap foto itu…” Bayu ikut bersandar bersama Mahesa.

“Tapi aku mau tahu…” Mahesa mulai membuka album. “Ceritakan tentang Abay saja lagi. Itu yang paling menarik bagi Papa, kan?” Mahesa berhenti di foto seorang anak dalam balutan merah-putihnya, sedang tertawa saat kamera menangkap gambarnya. Anak itu tampak bahagia dan lepas.

“Bukankah Papa juga sudah pernah bercerita tentang Abay?” Bayu ikut menatap album.

Mahesa diam beberapa saat, dia tak bermaksud untuk membalik halaman album itu lagi. “Apa dia suka kacang juga?” Mahesa melirik Bayu. “Ayo! Papa belum pernah menceritakan hal-hal yang dia sukai… selalunya Papa menceritakan waktu yang Papa habiskan dengannya. Kali ini ceritakan itu, Pa… Apa saja yang dia sukai?”

Bayu terpekur menatap foto yang dibuka Mahesa. Seragam merah putih itu hanya sempat dipakai Abay hingga tahun keduaya. Kenangan Bayu mengingatkannya. Dia mendesah lagi. Apa yang dia sukai? Bayu memejamkan matanya, mencoba membayangkan Anak Kucing pertama di rumahnya, Romeo. “Dia suka Romeo…” Ujarnya setelah diam dalam pejamnya yang lumayan lama.

“Apa Romeo itu? Boneka beruangnya?” Mahesa menukas.

Bayu tersenyum. “Anak Kucing yang ditemukannya sepulang sekolah…” Bayu tertawa pelan. “Mamanya marah besar saat dia bilang akan memelihara Romeo di rumah. Alasan mamanya, Kucing terlalu berbahaya untuk anak-anak.”

“Tidak sebahaya itu, banyak kan anak-anak yang malah punya Anjing.” Mahesa kembali bersuara.

“Juga karena Kucing punya sifat buruk bila berhadapan dengan makanan.” Bayu melanjutkan tanpa merespon kalimat Mahesa. “Dan mamanya benci tahi Kucing…”

Mahesa tertawa. “Tak ada orang di dunia yang suka tahi, apalagi tahi Kucing. Secakep apapun rupa Si Tom tersebut, tahinya tetap tak bakal disukai.” Mahesa mengganti menyebut Kucing dengan tokoh kartun sorenya, Tom Si Kucing.

“Nah, itu… mamanya tak mengizinkan Romeo diadopsi Abay.” Bayu kembali mendesah, rasanya selalu menyesakkan bila mengingat masa lalunya di sana dulu. “Tapi Abay punya seorang papa, sekutunya paling baik…”

“Aku juga punya seorang papa, papaku juga sekutuku paling hebat…” Mahesa menukas lagi. “Meski aku tak punya rival di sini.”

Bayu tersenyum merespon kalimat Mahesa, lalu melanjutkan penuturannya. “Abay langsung merengek-rengek  begitu papanya pulang. Dan alhasil, Romeo sukses jadi warga baru di rumah. Papanya tak pernah berkata tidak untuknya…”

“Abay selalu beruntung…”

“Tidak selalu begitu…” Bayu menghela nafas. “Romeo ditabrak pengendara motor tepat di depan rumah sebelum genap satu bulan dimiliki Abay.”

“Oh tuhan… Abay pasti sangat sedih.”

“Dia menangis semalam suntuk. Membuat mama dan papanya kehabisan akal membujuknya. Bahkan usul membeli Anak Kucing baru sama sekali tak menghiburnya.”

“Apa akhirnya dia dapat ganti?”

Bayu mengangguk. “Setelah debat kecil dengan Sang Mama yang belum merubah pandangannya tentang Kucing, papanya pulang membawa sepasang Hamster. Kata pramuniaga pet shop, yang berbulu belang putih oranye itu jantan dan yang putih bintik coklat betina. Papanya menjelaskan hal itu padanya saat dia ingin memberi nama buat sepasang Hamster itu. Dan Romeo seakan tak pernah hadir dalam hidup Abay. Bahkan Romeo sudah langsung terlupakan sejak sangkar Hamster itu dibawa masuk ke kamarnya. Kehilangan Romeo tergantian. Tak ada waktu Abay yang bersisa untuk mengingat Romeo, semuanya sudah disita oleh Nobita dan Shizuka… Hamster-hamster itu.”

Mahesa tertawa. “Poor Romeo…” Dia mengelus album. “Dia suka kartun Doraemon juga?”

“Tak ada anak yang tak suka kartun. Abay tak pernah absen nonton Doraemon di hari minggu.”

Mahesa mengangguk beberapa kali, lalu dia mendongak menatap Bayu. “Papa masih sering ingat dia?”

“Kadang-kadang…”

“Apa Papa juga akan mengingatku seperti mengingat Abay jika misalnya aku gak ada lagi?”

Bayu menoleh. “Itu kalimat yang gak mau Papa dengar lagi…” Bayu mengambil album dari pangkuan Mahesa dan memasukkannya kembali ke dalam laci.

Ya, dia tidak ingin merasakan kehilangan seperti dulu lagi. Amat menyakitkan. Hingga saat ini bayangan mobil yang terguling di jalan dan nyaris hancur masih membuntutinya. Dia masih ingat detil itu, bagaimana jasad orang-orang yang disayanginya bersimbah darah di dalam mobil itu. Hingga dia tiba di sana, jasad mereka belum bisa dikeluarkan. Bayu merutuki dirinya habis-habisan malam itu, merutuki dirinya yang tak ada untuk menjaga keluarganya

Meninggalkan rumahnya terdahulu tidak serta merta membuatnya bebas dari kenangan pedih yang memburu. Nyatanya kita memang tak mudah melupakan masa lalu. Dan Bayu akan terus ingat selama dia masih sering membuka-buka album yang menjadi satu-satunya bukti sejarah hidupnya lima tahun lalu. Dia tak bisa tahan untuk tidak membuka album itu lagi walau sudah bertekad berkali-kali untuk menyimpannya rapat-rapat.

“Pa…”

Bayu mengerjap. Sial, matanya nyaris basah.

“Papa nangis?” Mahesa beringsut pada Bayu. “Maafkan aku, seharusnya aku tak meminta Papa bercerita.”

Bayu membuang nafas perlahan. “Semuanya baik-baik saja. Tidurlah, sudah terlalu larut untuk terjaga…”

Tanpa berkata lagi, Mahesa menelentang dan menarik selimut hingga ke dagunya. Dia langsung memejamkan matanya. Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya, menyalakan lampu tidur di atas nakasnya lalu turun dari ranjang dan memadamkan lampu kamar. Tanpa bersuara lagi, dia menelusup ke bawah selimut dan membaringkan dirinya di samping Mahesa. Bayu urung menutup mata saat Mahesa berbalik menghadapnya. Mahesa langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Bayu.  Sebelah kaki Mahesa ikut disampirkan ke atas papanya. Bayu berpaling menatap Mahesa, tapi wajah polos itu damai dalam pejamnya. Mahesa tak membuka matanya lagi, sebaliknya merangkul pinggang Bayu semakin erat.

Bayu seakan dilemma kini. Hasrat lama yang salah itu membuat nafasnya menyesak. Dadanya bergemuruh, sudah sangat lama sejak terakhir kali dia dipeluk seperti ini di atas ranjangnya. Bayu merasa mulutnya kering. Dia serba salah. Satu sisi, dia sangat ingin balas memeluk tubuh remaja Mahesa yang melekat di sampingnya. Tapi satu sisi lainnya, akal sehatnya menghalanginya untuk tidak berbuat demikian. Bayu nyaris terengah.

“Mahes…” Bayu mendesah. Dia masih tak bergerak.

“Hemmm…” Mahesa malah menyurukkan wajahnya ke pundak Bayu.

Dan Bayu terdiam. Tak ada kalimat yang menyusul keluar dari bibirnya. Perlahan dia berbalik menghadap Mahesa, merengkuhnya dalam satu dekapan hangat mendamaikan. Mendekap. Hanya itu yang mampu dilakukan Bayu. Tangan Mahesa terkulai di pinggang Bayu, dia merasa terlindungi dalam dekapan Sang Papa. Di luar, hujan masih menggila menyerang malam. Membuat sang malam yang dingin semakin menggigil kedinginan.

***

Bayu dihantam rasa bersalah. Rasa bersalahnya kepada Mariah, rasa bersalahnya kepada almarhumah istrinya, dan rasa bersalahnya kepada Abay –puteranya. Bayu merasa jadi orang paling jahat jika tak bisa mengekang hasratnya terhadap Mahesa. Hasrat yang kian membuncah akhir-akhir ini. Berhari setelah malam hujan itu, Bayu mendapati dirinya tak pernah alpa dari mengingat Mahesa yang terlelap dalam dekapnya saat itu.

Kesibukannya di kantor hanya mampu memupus itu sementara saja. Begitu dia senggang, Mahesa akan hadir kembali memenuhi fikirnya. Sedang apa Mahesa saat ini? Sudahkah dia di rumah? Sudahkan dia makan? Apa Mahesa ingat dia? Apa Mahesa masih terjaga saat dia tiba di rumah nanti? Apa Mahesa akan tertidur lagi di sofa ruang tamu seperti semalam? Apa dia bisa menggendong Mahesa yang tertidur ke kamarnya? Apa dia bisa mengecup dahi Mahesa sebelum keluar dan menutup pintu kamar? Apa dia bisa begitu lagi malam ini?

Beberapa malam terakhir ini, Bayu sering mendapati Mahesa tertidur di sofa. Tertidur karena menunggunya pulang. Dan menunggu ini… Bayu tahu, adalah rutinitas baru Mahesa setelah malam mereka berpelukan di satu ranjang. Namun anehnya, Bayu menikmati kebiasaan barunya mengangkat Mahesa yang tertidur ke kamarnya dan mengecup dahi Mahesa sebelum pergi ke kamarnya sendiri. Dan itu menumbuhkan harapan baru baginya, harapan bahwa kebiasaan baru Mahesa ini akan tetap berkelanjutan. Malam-malam belakangan ini, Bayu selalu berharap jika akan menemukan Mahesa pulas di atas sofa begitu dia membuka pintu depan. Dan sejauh ini harapan itu selalu terkabul.

Pria macam apa dirimu? Bedebah, dia lebih layak jadi puteramu. Dia masih terlalu muda untuk menjadi pusat fantasimu, masih terlalu hijau untuk memenuhi khayalan busukmu. Inikah tujuanmu membesarkannya? Untuk memenuhi hasratmu yang salah? Inikah yang menjadi niat awalmu dulu? Kamu sangat malang Bayu, tidakkah kamu bisa menemukan seseorang yang setimpal denganmu? Seseorang yang cukup dewasa dari dia?

Pikiran Bayu meradang. Akal sehatnya murka. Lalu gelombang rasa bersalah itu kian menghantamnya. Bayu membereskan lembar kerjanya, dia batal lembur. Pikirannya perlu dirilekskan. Tergesa, dia menuju lift. Tak lama kemudian dia sudah berada di dalam mobil tuanya, berputar-putar tanpa tujuan di jalanan ibukota. Bayu buntu, entah apa yang mendorongnya untuk membelokkan mobil ke area parkir sebuah bar. Entahlah, dia hanya merasa bahwa bar adalah tempat yang tepat untuk merilekskan pikirannya saat ini. Satu seloki alkohol pasti bisa membuatnya tenang.

Bayu turun, berbasa-basi sebentar dengan pria-pria bertampang sangar di pintu masuk lalu segera berbaur dengan mereka di dalam kehiruk-pikuk-an bar. Sudah sangat lama dia tak pernah ke tempat seperti ini lagi. Sejak dia kehilangan masa lajangnya.

“Aku Gay!” Bayu berteriak pada dua wanita yang berusaha memepetkan diri padanya. Nyatanya teriakannya kalah kencang dengan musik yang menghentak luar biasa kencang di dalam sini. Salah seorang dari wanita itu bahkan dengan berani mulai menggerayangi bagian tengah dirinya. Bayu mendengus kasar. “Hey mam… cari pria lain, okey! I’m a gay!!!”  Kekalutan fikiran membuatnya mengeluarkan kalimat demikian. Persetan. Bayu menepis tangan Si Wanita dari selangkangannya.

Bersungut-sungut, kedua wanita itu berjalan menjauh. Bayu mengedarkan pandangan pada orang-orang yang berjingkrakan di lantai disco. Kebanyakan adalah muda-mudi. Hanya sebagian kecil saja yang seusia dengannya, dan sebagian kecil lain adalah pria-pria berumur yang sedang mengalami pubertas yang entah ke berapa.

Bayu melangkah ke meja bar. “Berikan apapun yang kau punya…” Dia berseru pada Si Bartender.

Tanpa menunggu lama, gelasnya langsung terhidang. Bayu lupa niatnya semula yang hanya akan minum satu seloki saja. kini, dia sedang meneguk seloki yang entah ke berapa. Bayu tak ingat lagi. Sudah sangat lama lidahnya tak bertemu dengan sensasi ini. Dan sekarang, semakin dia minum semakin bertambah dahaganya. Dia lupa bahwa selama ini dia telah berhasil merubah dirinya menjadi pribadi yang baik. Dia berhasil melewati masa-masa kritis saat kehilangan dulu tanpa alkohol. Tapi nyatanya dia kalah oleh rasa bersalahnya karena memendam rasa kepada Mahesa.

Bayu memutar pandangannya. Matanya langsung bertubrukan dengan seorang lelaki yang sedang berdiri di ujung lain meja. Lelaki itu tersenyum penuh arti padanya. Bayu menaksir usianya tak lebih dari dua puluh lima. Cukup dewasa bukan? Fikirannya membisikkan. Bayu meneguk lagi gelasnya sementara Si Lelaki mulai bergerak mendekat menghampirinya.

“Aku lebih suka di bawah…”

Bayu masih ingat kalimat seperti itu. Sandi. Nyatanya dia masih mengerti ‘dunia’ yang telah ditinggalkannya bertahun lalu. Lelaki itu merapat, dalam keremangan tangannya berhasil menyentuh gundukan di bawah sabuk Bayu.

Untukmu, free…” Lelaki itu berbisik lirih. Bayu langsung tahu kalau dia sedang berhadapan dengan gigolo. Diskotik-diskotik di Jakarta memang seperti yang difikirkannya dulu. Bebas dan terbuka.

Bayu mengosongkan gelas terakhirnya lalu mengeluarkan dompetnya. Setelah membayar untuk gelas-gelas yang telah dikosongkannya, dia segera menuju pintu keluar. Si Lelaki mengekor di belakangnya. Bayu berpapasan dengan salah satu wanita yang tadi sempat ‘menyerang’ ketika dia baru masuk. Wanita itu sedang asik meliuk-liukkan badannya di depan seorang pria yang berdiri sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Wanita itu melirik Bayu dan lelaki yang mengikuti di belakangnya sekilas, lalu kembali asik dengan aksinya. Dasar gay…! Mungkin demikian arti lirikan itu.

Bayu nyaris kehilangan kendali saat menyetir menuju rumahnya. Betapa tidak, lelaki di sampingnya tak henti merangsangnya. Keadaannya yang memang sudah diperparah alkohol menjadi semakin tak terkendali oleh aksi lelaki di sampingnya. Bayu berusaha keras untuk fokus pada jalan sementara tangan Si Lelaki bergerak liar diantara selangkangannya.

“Tak bisakah kamu menunggu hingga tiba di rumah?” Suara bayu lebih terdengar sebagai desahan.

Tanpa merespon ucapan Bayu, lelaki itu makin menggila. Dengan berani dia mulai membuka kancing atas kemeja Bayu lalu menyapu ceruk leher pasangannya malam ini dengan gaya gigolo profesional. Sementara itu tangannya masih terus beraksi di bawah sana, di antara paha Bayu. Bayu mengejang. Dia menambah kecepatan laju mobilnya, tak sabar untuk segera sampai di rumah. Semuanya terlupakan kini, yang ada hanya hasrat yang membara dan membakar.

Lelaki itu merangkul Bayu saat sudah melewati ambang pintu, dia terkekeh sambil kembali mencumbu leher Bayu. Bayu tak sempat memperhatikan apakah Mahesa tertidur di sofa malam ini atau tidak. Terlalu gelap, lampu utama sudah dipadamkan. Dia yakin Mahesa sudah terlelap di kamarnya sendiri dini hari begini. Setelah menutup pintu, dia segera menarik lengan Si Lelaki untuk menuju kamarnya.

“Papa…”

Bayu bagai disiram air es. Langkahnya terhenti, juga lelaki yang masih merangkul pinggangnya. Bayu menoleh ke arah pintu kamar Mahesa. Dalam keremangan, di sana dia menemukan Mahesa berdiri dengan rambut acak-acakan. Anak itu baru saja terbangun dari tidurnya. Mahesa bertelanjang dada.

“Dia anakmu? Waow… badanya bagus, dan tampangnya sangat manis.” Lelaki di samping Bayu berdecak.

“Mahes…” Bayu bersuara kikuk.

Mahesa beranjak meninggalkan ambang pintu kamarnya dengan tampang bengis. Dia membanting pintu kamarnya sangat keras lalu berjalan cepat menuju sakelar lampur utama. Rumah langsung terang benderang. Firasat Bayu langsung buruk.

Mahesa menuju pintu depan, dengan kasar memutar kunci lalu menyentak daun pintu hingga menganga lebar. “Keluar!” Dia berucap dingin. Tatapannya menusuk pada sosok yang sampai sekarang belum memindahkan tangan dari pinggang papanya.

Lelaki Asing itu menatap bergantian antara Bayu dan Mahesa di ambang pintu. “Hey, aku tidak ikut denganmu kemari untuk diusir anak ingusan…” Dia berkata pada Bayu.

Bayu hanya diam. Dia pucat di bawah tatapan Mahesa yang penuh marah dan kecewa. Segala hasrat yang tadinya menggebu sejak dari bar kini padam sudah. Bayu ketakutan, ya… dia takut akan reaksi Mahesa setelah ini. Dia takut akan dibenci Mahesa.

Tak mendapat respon Bayu, Si Lelaki naik pitam. “Dungu, lakukan sesuatu! Atur anakmu!” Dia menyalak di depan Bayu.

Mahesa murka. Satu jambangan berhasil dijangkaunya dari meja di depan sofa dan berikutnya melayang menghantam dinding hingga hancur berderai. Belingnya berhamburan di lantai di antara sofa.

“KELUAR BANGSAT? SEKARANG!!!” Mahesa berteriak.

Bayu ternganga.

Si Lelaki mematung dengan mulut terbuka. Dia telah renggang beberapa jengkal dari sisi Bayu. Wajah Si Lelaki yang pucat semakin memutih ketika Mahesa meraih pemukul baseball-nya dari atas buffet kecil di dekat sofa.

“AKU BILANG SEKARANG, BANGSAT!!!” Mahesa kembali berteriak sambil mengacungkan tongkat baseball pada lelaki di samping Papanya.

Bayu semakin merasa takut. Dia kaku di tempatnya.

Okey! Aku keluar…” Lelaki itu menyerah, mengangkat dua tangannya pada Mahesa yang mulai berjalan mendekat. Dia tak ingin barisan giginya dihajar tongkat keras di tangan Mahesa. Takut-takut, Si Lelaki beranjak menuju pintu yang terbuka lebar. “Dasar Pria lemah…” Dia masih sempat mendesiskan kalimat itu untuk Bayu diiringi tatapan meremehkan.

“KAU YANG BANCI, BEDEBAH!”

Tongkat Mahesa melayang, nyaris menghantam pelipis Si Lelaki jika dia tidak segera bergerak melewati ambang pintu. Mahesa berang, dia masih mengeluarkan sumpah serapah saat membanting daun pintu hingga menutup dengan bunyi berdentum. Kini dia menatap sosok Bayu sangat lekat. Matanya masih menunjukkan amarah, juga kekecewaan. Mereka bertatapan beberapa saat lamanya.

Mahesa mendengus. Lalu dia bergerak mendekati Bayu. Tanpa bicara Mahesa segera menarik lengan papanya, kasar dan jelas penuh marah. Bayu menurut bagai terpidana di kursi pesakitan saat Mahesa menyeretnya ke kamarnya sendiri. Masih tanpa bicara, Mahesa menyalakan lampu kamar lalu melanjutkan menyeret Bayu ke kamar mandi.

“Mahes…”

Bayu kaget saat Mahesa mulai menyiramkan bergayung-gayung air ke badannya. Bertubi-tubi air mengguyurnya dari kepala. Bayu sampai kesulitan bernafas. Tapi Mahesa tak kunjung berhenti. Dan Bayu juga mulai pasrah, dia sadar sepenuhnya jika dia sungguh salah. Sadar juga bahwa Mahesa sedang menumpahkan kekesalan, kekecewaan dan kemarahannya. Bayu sedang dihukum Mahesa. Keadaan seperti dibalik. Bayu seperti remaja yang pulang larut dalam keadaan mabuk berat setelah pesta drugs, sedang Mahesa bertindak sebagai seorang ayah untuk menghukum anaknya yang berandalan. Bayu basah kuyup dengan masih memakai pakaian lengkap. Mahesa juga nyaris sama basahnya. Mereka diam, tak ada yang bersuara.

Setelah merasa cukup, Mahesa membanting gayung ke lantai kamar mandi hingga retak. Prosesi hukuman selesai sudah. Bayu mulai menggigil kedinginan. Dia menatap sayu penuh sesal pada Mahesa.

“Papa bukan Papa Bay yang kukenal dulu…!” Mahesa keluar dari kamar mandi.

Dan Bayu mulai mengisak. Ya, dia memang lemah. Air mata itu membuktikan kelemahannya. Lelaki tadi benar. Dia lemah untuk dirinya sendiri. Dia kalah dengan batinnya sendiri. Mengapa dia melupakan Mahesa? Bukankah dulu dia menganggap Mahesa adalah teman dalam pengasingan dirinya? Seharusnya dia berkeluh kesah langsung pada remaja itu. Bukan pada gelas-gelas jahanam yang meracuni akal sehatnya. Seberapapun salahnya perasaan yang dia pendam kepada Mahesa, tidak seharusnya dia lari darinya. Mahesa pasti akan mengerti dia. Mahesa akan selalu mengerti. Seperti saat malam mereka tidur bersama, itu adalah bentuk pengertian Mahesa buatnya. Bayu terpuruk, kepalanya terbenam di antara lututnya.

Entah berapa lama Bayu terbenam di lututnya. Cukup lama rasanya. Lalu dia merasakan satu tangan menyentuh kepalanya, meremas perlahan rambut basahnya. Bayu semakin merasa buruk.

“Aku minta maaf…”

Bayu mendongak dari lututnya. Mahesa berdiri sambil memegang handuk pada satu tangan. Kemudian dengan cekatan, dia mulai mengeringkan kepala Sang Papa. Bayu bangkit berdiri ketika Mahesa menarik lengannya. Dia membiarkan Mahesa membuka kancing kemejanya, melepaskan bajunya dan mengeringkan badannya kemudian. Bayu juga membiarkan Mahesa melepaskan pengait sabuknya dan menurunkan celananya setelah itu. Kini dia hanya bercelana dalam di depan Mahesa. Handuk diserahkan Mahesa ke tangan Bayu yang diterima dengan jari bergetar. Bergetar bukan karena kedinginan, tapi tak lain karena Bayu merasa amat rendah sekarang.

“Aku minta maaf…” Mahesa mengulang kalimatnya. “Aku gak ingin Papa memilih pelarian seperti ini. Papa bisa menumpahkan segalanya padaku, apa saja… Pria-pria di luar sana bukan orang yang bisa Papa mintai tolong untuk memahami perasan Papa. Mereka tak akan pernah paham…” Mahesa menatap ke dalam mata Bayu. “Aku sangat menyayangi Papa, dari dulu. Jangan kecewakan aku lagi dengan hal seperti tadi… Aku sayang Papa…” Mahesa menghela nafas dalam. “Datanglah padaku kapan Papa ingin, berkeluh kesahlah padaku. Aku mengerti Papa…” Selesai berucap seperti itu, Mahesa beranjak pergi.

Bayu termangu lama. Kalimat-kalimat Mahesa meresap jauh ke dalam kepalanya. Seperti yang diyakininya, Mahesa mengerti. Bayu masih berdiri di tempatnya hingga bulir-bulir air pupus dengan sendirinya dari kulitnya. Dingin tak lagi dirasakannya. Pikiran dan sarafnya hanya berpusaran pada satu nama. Mahesa.

***

Bayu pulang cepat hari ini. Atasannya tak masuk. Dia ingin mengakrabkan diri kembali dengan Mahesa. Sudah beberapa hari ini dia selalu kikuk bila berhadapan dengan anak itu. Padahal sikap Mahesa sudah kembali seperti sebelum kejadian beberapa malam lalu. Namun tetap saja Bayu merasa kikuk. Rasa malu masih bersisa di dirinya tiap bertatapan dengan Mahesa. Mereka jadi jarang bicara, tapi rutinitas hari-hari masih berjalan seperti biasa. Sarapan bersama di meja makan –walau hanya roti selai, keluar sama-sama, bersebelahan di jok, berpisah di gerbang sekolah, bertemu lagi malamnya -bila Bayu cepat pulang dan Mahesa belum tidur. Rutinitas itu masih berlanjut. Satu yang tak lagi terjadi, Mahesa tak pernah tertidur lagi di sofa, kebiasaan itu tak bertahan lama ternyata. Penyebabnya tentu insiden ‘tongkat baseball’ itu.

Bayu menjenguk ke kamar Mahesa, anak itu sedang mengutak-atik senar gitarnya. Dia tak menyadari kehadiran Bayu yang masih berdiri di pintu. Pasti dia juga tak mendengar deru mobil tua Bayu ketika memasuki halaman tadinya.

Bayu berdehem. “Apa Papa bisa mengganggu sebentar?”

Mahesa mendongak, gerakan jari-jarinya di senar gitar terhenti. Kamarnya jadi hening tanpa suara petikannya lagi. “Tentu, Aku punya banyak waktu. Papa bisa menggangguku selama yang Papa mau…”

Bibir Bayu melengkung, sambutan yang baik. Mahesa memang tak pernah membencinya. Bayu saja yang masih merasa tak nyaman hari-hari belakangan ini. Setelah menutup pintu kamar, Bayu bergerak masuk dan ikut duduk di lantai di samping Mahesa. Mereka menyandar di dekat jendela kamar.

“Boss Papa mendadak baik?” Ucap Mahesa begitu Bayu bersandar di sampingnya.

“Dia tak masuk…”

Mahesa mengangguk-angguk. “I see…” Lalu hening beberapa saat. Mahesa menoleh pada Bayu, menatap sosok itu sedikit lama. “Kemeja itu sangat pas dipakai Papa…”

Bayu menunduk melihat dirinya sendiri. Baru sadar kalau kemeja yang dipakainya sekarang adalah kemeja hadiah ulang tahunnya dari Mahesa. Kemeja warna abu-abu pilihan Mahesa dulu. Bayu tersenyum. “Pilihanmu yang membuatnya pas…”

Mahesa menyandarkan gitar di sampingnya. “Aku senang Papa pulang cepat, lebih senang lagi karena Papa kemari…”

“Papa sengaja pulang cepat…” Bayu menegakkan punggungnya. “Berkemaslah, kita akan keluar…”

Mahesa mengernyit. “Kemana?”

“Kemana saja. Taman Monas, kita sudah jarang ke sana saat sore kan? Atau Taman Suropati saja, kita juga jarang ke sana. Kemana saja bisa, Papa dengar di Lapangan Banteng juga sedang ada pertunjukan seni, pasti menyenangkan berada di sana.” Bayu menyebutkan tempat-tempat itu dengan bersemangat. “Atau ke mall, kamu mau ke sana? Sebutkan mall apa saja, Plaza Senayan? Plaza Indonesia? Masih cukup waktu juga bila kamu mau ke Pondok Indah atau Kelapa gading. Hey, mungkin ke Cilandak Town, barangkali ada orang tivi yang sedang manggung di sana. Ayo…!” Kata-kata berhamburan cepat dari mulut Bayu, dia mulai menarik tangan Mahesa agar ikut berdiri bersamanya.

“Bagaimana jika memasak saja?”

Bayu melongo. Dia tahu Mahesa memang sering membuat makan malamnya sendiri. Mahesa tak suka bila Bayu terlalu kerap membawa menu jadi di hari kerja jika kebetulan pulang sebelum jam makan malam, juga selalu enggan bila Bayu mengajaknya makan di luar saat hari libur. Mahesa benci pemborosan. Hanya jam makan siang saja yang biasanya dilalui Mahesa di luar –itupun hanya di hari jadwal ekskulnya. Jika tidak, pulang sekolah dia pasti akan menghabiskan beberapa menit di depan gas untuk membuat makan siangnya.

“Sudah lama kan kita gak sama-sama di dapur. Aku kangen liat Papa memegang wajan…” Lanjut Mahesa.

Bayu tertawa. “Kamu yang selalu memegang wajan.” Ujarnya kemudian. “Papa gak yakin, apakah masih ada yang bisa kita masak di freezer? Terakhir kita beli bahan mentah, itu hampir sebulan lalu.”

“Kita akan lihat…” Mahesa menarik lengan Bayu dan segera keluar dari kamar.

Mereka punya beberapa kentang, wortel yang mulai mengerut ujungnya, buncis sedikit layu dan brokoli yang tak segar lagi di keranjang sayur dalam freezer. Mahesa mengeluarkan semuanya dari sana.

“Apa yang akan kita lakukan dengan sayur kadaluarsa itu?” Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Mungkin kita harus berbelanja dulu, kita bisa memasak besok. Malam ini makan di luar saja.”

Mahesa tersenyum. “Dulu, kami tak pernah membuang sekerat roti pun. Ibu mengajarkan begitu…” Mahesa mengambil talenan dari rak. “Lagipula, sayur-sayur ini masih cukup bergizi untuk dikonsumsi. Percayalah…”

Bayu terdiam. Tentu saja. Mariah pasti menanamkan sifat baik itu selama masa kanak-kanak Mahesa. Semua sifat bersahaja itu, semua kedewasaan Mahesa, tentu saja diperolehnya dari Sang Ibu. Dan juga beberapa sifat lain yang diajarkan lingkungan padanya. Bayu ingat malam saat Mahesa membentak lelaki yang dibawanya dengan kata-kata mengejutkan bagi remaja seusianya. Juga keberanian tak terduga yang ditunjukkannya hingga jambangan bunga berhamburan dan tongkat baseball  melayang. Pasti Mahesa belajar itu dari lingkungannya dulu.

“Ibumu mengajarkan yang seharusnya buatmu… Itu sifat baik.” Bayu mulai menggulung kemejanya. “Apa kamu punya rencana juga dengan telur-telur ini?” Bayu mengeluarkan pack telur dari freezer.

Mahesa mengangguk di sela kesibukannya dengan pisau, dia sedang membersihkan isi keranjangnya. “Papa suka telur orak-arik kan?”

“Apapun yang akan kamu buat, Papa suka.”

“Kita yang akan membuatnya bersama-sama.” Cetus Mahesa.

Bayu mengacak kepala anak itu penuh sayang. Mahesa hanya menyeringai sambil menggoyang-goyangkan kepalanya. Selanjutnya mereka sama-sama sibuk. Mahesa tampak mahir di depan pancinya saat membuat kuah sayur sederhana sementara Bayu asik membaui asap yang mengepul tiap kali tutup panci dibuka, sesekali tangannya bermain lagi di kepala Mahesa. Pun begitu ketika Mahesa mulai memanaskan wajan ceper untuk mematangkan telur, Bayu tak henti mengangkat jempolnya memuji ketangkasan memasak Mahesa yang nyaris menyamai tukang masak di tivi.

Begitulah, mereka selalu terlihat sebaya bila sedang menghabiskan waktu berdua seperti ini. Pria dan anak lelaki yang akrab.

***

Saat ini hari minggu, mereka baru saja selesai mengepel seluruh rumah dan sekarang terkapar di atas sofa ruang depan. Berselonjor bersisian. Tivi kabel di depan mereka baru saja menayangkan Eat Pray and Love, Julia Roberts sedang bersepeda di Bali.

“Mahes… Papa ingin jujur…” Bayu berucap lirih. Dia sudah memutuskan untuk bicara sejujurnya pada Mahesa. Bayu yakin Mahesa pasti sudah tahu semua, tapi dia ingin mengungkapkan secara nyata tentang itu. dia ingin tahu respon Mahesa langsung jika dia bicara terbuka tentang ganjalan hatinya.

Mahesa menoleh pada sosok di sampingnya. “Apakah yang akan Papa bicarakan sama seperti yang aku fikirkan?”

Nyatanya Mahesa cukup dewasa untuk ukuran remaja kelas dua sekolah menengah, kedewasaan itu tercermin dalam bahasanya. Kening Bayu berkerut. Dia saling menatap dengan anak itu. Mata gelap mahesa mengunci tatapannya. Seperti selalu, hati Bayu berdesir bila memandang wajah berkarakter di depannya ini sedikit lebih lama. Tak habis dia mengagumi kesempurnaan wajah Mahesa. Bayu suka garis rahang Mahesa yang tegas, selain juga sangat menyukai mata tajamnya di bawah naungan alis lebat menghitam. Siapapun ayah biologis Mahesa, pasti dia adalah pria brengsek yang sangat tampan. Bayu membatin. Bayu diam cukup lama, hatinya percaya bahwa Mahesa sedang memikirkan hal yang sama yang ingin dibicarakannya.

Mahesa beringsut lebih rapat ke sisi Bayu. “Apakah sama seperti yang sedang kufikirkan, Pa…?” Dia mengulang kalimatnya setelah menunggu cukup lama dan Bayu masih diam.

“Apa yang sedang kamu fikirkan?” Bayu balik bertanya lirih.

“Aku memikirkan apa yang sedang Papa fikirkan…” Jelas Mahesa sangat pintar bicara.

Bayu berpaling, kembali menatap lurus. Mendesah berat sebelum berkata. “Papa memendam rasa yang salah padamu…” Kalimat itu seakan menggantung begitu saja di udara. Bayu sudah membuka simpul dirinya.

Tak ada suara lain yang terdengar selain percakapan-percakapan Julia Roberts dengan lawan mainnya di tivi. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa ketika. Lalu tangan Mahesa menyentuh sisi wajah Bayu, mengarahkan wajah Bayu kembali berhadapan dengannya. Kembali mereka saling menatap. Bayu tak mampu menantang tatapan Mahesa lebih lama lagi. Dia nyaris menundukkan pandangannya ketika Mahesa bersuara.

“Katakan kalau Papa mencintaiku…”

Bayu terpana. Mahesa mengucapkan itu sangat mulus. Tak ada getar dalam suaranya yang sangat jelas di dengar Bayu.

“Apakah Papa mencintaiku? Cinta dalam arti yang lebih dalam lagi. Apakah iya?” Mahesa semakin mendekat pada Bayu. Wajahnya hanya berjarak satu jengkal saja lagi dari puncak hidung Bayu.

Bayu menunduk dan mengangguk satu kali.

“Katakan Pa… aku ingin dengar.” Jemari Mahesa mencengkeram rahang Bayu yang kasar bekas cukuran.

“Ya… Papa mencintaimu…” Bayu sudah mengatakan yang ingin dikatakannya. Dia mengangkat wajahnya kembali dan langsung disambut senyum yang menyeruak di wajah Mahesa. Amat dekat.

“Berjanjilah jika Papa hanya akan mencintaiku selamanya, tak ada seorang lain pun yang akan ikut Papa lagi ke rumah. Tak ada pria maniak seperti malam dulu yang akan pulang bersama Papa.” Mahesa mendekatkan wajahnya lebih rapat lagi. Hidungnya nyaris bersentuhan dengan Hidung Bayu. “Janjilah padaku…”

Bayu bergetar. Mengapa Mahesa bisa merangsangnya sehebat ini? Suaranya bergetar saat mengucap janjinya. “Papa janji… selamanya hanya kamu… sampai Papa menutup mata…”

Mahesa menggeleng. “Aku tak suka ucapan Papa yang terakhir…”

“Hemm…”

Mahesa bergerak. Bibir mereka langsung bersentuhan. Sedikit ragu, dengan dada bergemuruh Bayu menyapu bibir di depannya untuk pertama kalinya. Mahesa hanya menerima, dia mengikuti rentak yang diciptakan Bayu di bibirnya. Matanya terpejam, rapat dan meresapi. Bayu menarik Mahesa kedalam dadanya, mendekap Mahesa dalam dekapannya.

Ciuman itu tak lama. Bayu tak ingin mendominasi Mahesa. Kini dia hanya merangkul sosok itu yang sudah bersandar nyaman di dadanya. Bayu mencium puncak kepala Mahesa, mengecupnya dalam-dalam untuk beberapa saat lamanya. Dia mencintai Mahesa –anak angkatnya, tapi dia telah bertekad bahwa tak boleh ada nafsu atau hasrat meledak-ledak yang akan mengiringi cinta itu. Sejauh ini, Bayu berhasil menjaga cintanya. Jika tidak, tentu dia sudah menggagahi Mahesa jauh sebelum ini. Tapi tidak, dia tak ingin mengotori cintanya pada Mahesa, juga tak mau membuat keruh dalam jernih cinta Mahesa buatnya. Dia ingin cinta mereka suci. Hanya itu. Cinta sedemikan sudah lebih dari cukup buat Bayu.

Namun, cukup jugakah buat Mahesa? Bayu mulai disaput ragu. Bagaimana jika Mahesa menginginkannya lebih? Siapkah dia bertindak selayak yang Mahesa inginkan darinya? Hasratnya memang menggebu pada Mahesa, Bayu sadar itu. Tapi tekadnya sudah bulat kini, dia hanya ingin mencintai Mahesa sesuci yang dia bisa dan dia ingini. Apakah begitu juga yang Mahesa yakini tentang cintanya buat Sang Papa? Bayu melirik satu tangan Mahesa yang terkulai tepat di pangkuannya. Mulai bertanya-tanya, apakah sesaat lagi Mahesa akan membuka sabuk dan menurunkan zipper-nya? Bayu gelisah. Mahesa masih menyandarkan Kepalanya di dada bayu, tangannya juga belum berpindah.

“Mahes…”

“Hemm…”

“Boleh Papa bicara lagi?”

“Aku akan mendengarkan.” Posisi Mahesa tak bergeser.

Bayu berdehem. “Sejujurnya… Papa tidak mencintaimu demi menyalurkan ego laki-laki Papa… tidak.”

“Aku juga tidak mencintai Papa hanya untuk mendapatkan orgasmeku…” Mahesa menukas cepat. “Tidak juga untuk menikmati kelelakian Papa atau sebaliknya.”

“Mahes…!” Suara Bayu hampir menyerupai teriakan. Dia kaget dengan ucapan Mahesa.

Tapi Mahesa malah tertawa, lalu dia merangkul pinggang Bayu dengan satu tangannya sementara tangan yang lain menekan di pangkuan bayu. Dia mendongak dan menyusuri rahang Bayu dengan bibirnya. Mengecupnya ringan dan perlahan. Bayu mengelinjang, nyaris luluh diperlakukan seperti itu oleh Mahesa.

“Mahesa…” Bayu mendesiskan nama Mahesa saat tangan anak itu menggenggamnya dari luar. Benar-benar menggenggamnya untuk yang pertama kalinya. Bayu mengeras di bawah sana dalam genggaman Mahesa.

Mahesa tertawa, sedetik kemudian berhenti dari pekerjaannya. Dia suka melihat wajah Bayu yang merona merah. “Aku gak yakin Papa Bay sanggup menjaga ucapan yang tadi…” Mahesa mendekatkan lagi wajahnya pada Bayu. “Selama apa sih Papa sanggup bertahan?” Kalimat terakhir sengaja dibisikkan Mahesa dengan suara parau.

“Tapi kamu juga bilang begitu kan? Maksud kamu sama seperti maksud Papa kan?” Bayu gusar.

“Tentu, aku memang bilang begitu. Dan aku pasti akan begitu. Yang aku ragukan itu justru Papa, bila aku baru merangsang seringan ini aja Papa udah terbakar bagaimana jika aku naik ke atas Papa tanpa pakai baju? Aku tak yakin Papa sanggup bertahan tanpa meledak.”

“Mahesa…” Bayu menelan liur. Dia sulit bernafas. Di kepalanya seketika membayang sosok polos Mahesa sedang bergerak di atasnya. Membayangkan jika dia juga sama polosnya dengan Mahesa, saling memagut dan bertindihan. Ya tuhan, sanggupkah dia menjaga tekadnya? Tidak jika apa yang dibayangkannya benar-benar terjadi.

“Pa…” Mahesa memanggil. “Aku tak yakin Papa sanggup…”

Bayu tersadar. “Tentunya jika kamu bisa, maka Papa juga pasti bisa…” Ucapnya tegas.

Great… berarti Papa tak perlu ragu lagi.” Mahesa menyeringai.

“Papa gak akan pernah ragu, Mahes. Papa yakin selama kita mau, maka kita bisa.”

“Bagaimana jika kelak aku bersama orang lain?” Todong Mahesa kemudian.

Bayu terhenyak. Ya, bagaimana jika kelak ada orang lain yang masuk dalam hidup Mahesa? Dia tak mungkin bisa terus mengikat Mahesa dengan cintanya, dengan sosoknya yang kian menua. Sementara dia kian renta dan rapuh, rambutnya kian bak kapas, Mahesa pasti berubah menjadi lebih sempurna, menjadi pemuda tampan dan kokoh. Dia akan terbungkuk bersama osteophorosis-nya sementara Mahesa akan menjulang dengan otot-otot lelakinya. Mahesa pasti akan memberikan perhatiannya kepada orang-orang muda sesusianya kelak. Bayu melupakan kata ‘kelak’ yang pasti bakal mereka lalui –jika umur juga menyertai mereka berdua. Dia mulai takut.

Sangat sulit ketika Bayu berucap. “Papa pasti akan bahagia… siapapun yang bersamamu kelak, pasti…” Dia merangkul Mahesa semakin erat ke dadanya.

Sedetik kemudian Mahesa bergerak naik dan duduk di pangkuan Bayu, pria itu mendesah dan membelai kepala Mahesa dengan dua tangannya sekaligus. Jemarinya bergerak di antara helai rambut Mahesa. Bayu semakin menyadari kalau dia teramat mencintai remaja ini, matanya berkaca saat Mahesa menciumi seluruh wajahnya dengan sayang. Menggesekkan puncak hidungnya pada hidung Bayu sebelum menyurukkan wajahnya di lekuk leher Sang Papa.

“Aku akan selamanya mencintai Papa. Andaipun suatu ketika nanti aku punya seseorang lain, namun yakinlah… cintaku buat Papa Bay tak akan tergantikan oleh sosok manapun itu. Aku mau Papa yakini kata-kata ini… Aku tak punya rasa cinta buat seseorang lain sebesar rasa cintaku buat Papa. Tak akan pernah punya. Cintaku paling utama hanya buat Papa, first, best… and only…”

Bayu berkaca, pandangannya mengabut. Keharuan menyesak dalam rongga dadanya. Lagi, dia mengecup puncak kepala Mahesa. Penuh sayang tangannya memeluk sosok yang melekat di dadanya lebih kuat. Selama nafasnya masih menghembus memberi hidup buatnya, dia hanya akan mencintai anak ini. itu tekadnya…

***

Taman Monas, ten years later…

Mereka duduk di kaki Monas. Mereka, seorang Pria Paruh Baya diapit seorang Pemuda Jangkung di kanannya dan seorang Gadis Mungil di kirinya. Angin sore membuat rambut kelabu di kepala Pria Paruh Baya bergerak riap-riapan, pun begitu dengan helai-helai hitam legam lurus panjang milik Si Gadis Mungil. Angin juga mengibarkan dasi di leher Si Pemuda Jangkung, kerah kemejanya telah dilonggarkan, lengan kemejanya berkumpul di bawah sikunya –lengannya terlihat kuat. Mereka diam, larut dalam suasana sore di taman ini. Sore yang damai, matahari siap membuat cakrawala Jakarta berubah warna dari biru cerah menjadi biru gelap berhias semburat jingga.

“Papa bahagia…” Si Pria Paruh baya berucap lirih. “Papa bahagia memiliki kalian berdua.”

Gadis Mungil di kiri Pria Paruh Baya tersenyum. Perlahan dia merebahkan kepalanya ke bahu kiri Si Pria lalu menggamit lengan kirinya. “Aku bahagia memiliki Papa…” Ya, tentu dia bahagia punya papa, sesuatu yang tak dimilikinya saat melewati masa remajanya di panti asuhan tujuh tahun lalu. Si Gadis Mungil menggenggam tangan Pria Paruh Baya, keriput mulai kentara menghias di sana. Dibawanya tangan itu ke pipinya. “Aku sayang Papa.”

Pria Paruh Baya tertawa pelan. Dia sudah yakin kalau puteranya telah membuat pilihan yang tepat ketika membawa Gadis Mungil ini berjumpa dengannya pertama kali di satu malam dua tahun lalu. Dia langsung yakin kalau Gadis Mungil inilah seseorang yang pernah dia dan puteranya singgung suatu ketika dulu. Keyakinannya bertambah saat Si Gadis Mungil memasak makan malam mereka di malam pertama dia menginjakkan kaki di rumahnya dan puteranya. Sang Putera –Pemuda Jangkung dengan lengan kuat yang sekarang sedang duduk di kanannya- telah membuat pilihan, sekaligus membuktikan ucapannya bahwa cintanya paling utama masih tetap buat Sang Papa. Si Pria Paruh Baya masih melihat bukti itu dalam mata puteranya tiap kali mereka bertatapan, masih mendengar dalam suara puteranya tiap kali mereka bicara, masih juga dirasakannya lewat sentuhan puteranya tiap kali lengannya digenggam. Dia tahu bukti itu masih ada, cinta itu masih untuknya. Dan kini dia punya dua sosok yang sungguh menyayangi dan mencintainya tanpa pamrih, Pemuda Jangkung dan istrinya –Si Gadis Mungil. Mereka baru menikah tujuh hari lalu. Dan seperti yang dulu pernah diucapkannya, dia bahagia untuk puteranya. Bahagia yang tulus.

Pria Paruh Baya itu mengecup dahi gadis yang masih menyandar di bahu kirinya. “Papa juga sayang kamu, Nak… lebih dari yang kamu tahu…”

Gadis Mungil itu tersenyum cerah lalu mencium takzim tangan dalam genggamannya. Kepalanya masih bersandar di bahu Pria Paruh Baya.

“Apa kita bisa kembali ke rumah sekarang?” Si Pemuda Jangkung bersuara.

“Kamu selalu terburu-buru.” Pria Paruh Baya mengacak kepala Si Pemuda, kebiasaannya itu tak akan pernah hilang meski Si Pemuda kian dewasa dan dia kian renta.

“Aku cuma gak mau Papa kelelahan kalau tiap sore jadi sandaran kami berdua.” Ujar Si Pemuda sambil nyengir. Dia meraih tangan Pria Paruh Baya dari kepalanya dan mendekapkan di dadanya. Sedetik kemudian dia ikut merebahkan kepalanya ke bahu kanan Pria Paruh Baya –papanya.

“Papa menikmati kebiasaan baru kita ini. membuat hari-hari tua Papa lebih berarti…”

“Papa tidak setua itu, okey! Rekan-rekan sekantorku masih suka mengira kalau Papa adalah saudaraku paling tua… tidak ada yang langsung mengira bahwa Papa adalah papaku.”

Mereka tertawa. “Kamu tak pernah berubah…” Ujar Pria Paruh Baya sambil mencium kepala yang bersandar di bahu kanannya itu.

“Untuk Papa, aku tak akan pernah berubah…” Si Pemuda mengecup lama tangan papanya. Tak puas, dia kini memeluk Sang Papa dalam bahu lebarnya.

“Papa mencintaimu, Nak… sungguh mencintaimu…” Pria Paruh Baya menepuk-nepuk punggung kokoh Si Pemuda, dia hampir menangis.

“Aku tahu bagaimana cinta papa untukku… aku tahu.”

Gadis Mungil di sebelah kiri juga melakukan hal yang sama, tangan kecilnya melingkari bahu Pria Paruh Baya. Senyum tak pernah pupus dari wajahnya yang ayu.

Si Pemuda melerai pelukannya. “Baiklah, saatnya pulang. Angin makin dingin.” Dia bangun dari duduknya sambil menggamit lengan Pria Paruh Baya untuk berdiri. Si Gadis Mungil ikut bangun dan melakukan hal yang sama seperti Si Pemuda –memegang lengan kiri Pria Paruh Baya.

Lalu mereka mulai melangkah di antara kehijauan Taman Monas, amat jauh untuk sampai ke pinggirannya. Namun mereka menikmati jarak itu, saling berpegangan tangan dalam hangatnya cinta kasih. Mereka tampak serasi. Bergerak beriringan seakan saling melengkapi kekurangan masing-masing. Si Pria Paruh Baya yang pernah kehilangan, Si Pemuda Jangkung yang juga pernah kehilangan, dan Gadis Mungil yang bahkan tak pernah memiliki. Mereka telah dipertemukan kemudian disatukan untuk saling melengkapi.

Berjalanlah pada garis yang telah ditentukan untukmu. Pada garis yang telah digariskan di bawah kakimu. Dan iringi langkahmu dengan ikhlas yang menggunung. Dengan cinta yang memahadaya. Percayalah, hanya cinta yang dapat menyatukan setiap kepingan hidupmu yang berserakan. Dan cinta juga yang akan menjaganya untuk tetap utuh…

Awal Juli 2012

From me with love

-n.a.g-

dekdie_ishaque@yahoo.com

                nay.algibran@gmail.com