THE LAST 7 HOURS OF DECEMBER

35 Komentar

an Al Gibran Nayaka story

###############################################

CUAP2 NAYAKA

Maaf karena terlalu lama vakum. Ini bukan cerita baru, sudah pernah muncul di Facebook, sekarang muncul lagi di blog. Semoga kalian menikmati membaca the Last 7 Hours of December seperti aku menikmati ketika menulisnya.

###############################################

 

Desember tidak akan pernah jadi begitu berarti buatku, jika bukan karena tujuh jam yang kuhabiskan dengannya Desember itu, berbagi secangkir kopi pekat dan berbagi rintik hujan…

– Dawai

*

Satu-satunya hal yang ingin kulakukan jika aku bisa menjelajah waktu, adalah mengunjungi kembali tujuh jam yang pernah terjadi pada hujung Desember itu, hanya agar aku bisa menenggelamkan diriku dalam suaranya, lagi dan lagi…

– Rakai

.

Ini adalah alur, tentang bagaimana semesta mempertemukan dua anak manusia pada satu ruang dan waktu. Ini adalah jalan cerita, bagaimana alam menempatkan segala sesuatu pada tempatnya secara akurat, tanpa keliru sedikit pun dan tidak mungkin salah.

Ketika hujan yang satu disusul hujan-hujan yang lain di hari selanjutnya di bulan Desember, ketika parit-parit tidak lagi kelihatan dan sungai-sungai meluap, ketika langit siang selalu gelap dan bulan enggan muncul di langit malam─konon lagi gemintang, ketika alam berkonspirasi dengan Desember bahkan hingga ke milidetik terakhirnya, tangan tak terlihat semesta mengatur pertemuan itu, tepat tujuh jam sebelum Desember dilengserkan Januari.

*

Hadirmu mengubah susunan udara

Merampas semua fokus dan konsentrasi

Dan semua yang kulakukan hanyalah…

terpesona pada boot karetmu yang berair

December 31st, 05.59 p.m.

Hari yang sudah gelap sejak pagi kini makin kelam saja di posko medis itu. Angin dingin yang tidak henti berembus masih meriap-riapkan terpal usang yang jadi dinding posko, membuat sosok-sosok di dalamnya menggigil berkali-kali. Suara bersin terdengar hampir setiap menit sekali. Udara seakan basah, dan hujan kembali menimbulkan gelembung di beberapa bagian atap tenda.

Menyadari adanya gelembung yang siap merobek atap tenda posko beberapa menit lagi itu, Rakai meninggalkan kotak P3K yang sedang diisinya dan meraih tiang besi yang salah satu ujungnya berbentuk T, lalu mulai menyodok gelembung air di atap tenda. Setelah ditinggal pulang dengan terpaksa oleh dua rekan tugasnya sekitar lima menit yang lalu, kini Rakai baru tahu ternyata menyodok gelembung air di atap tenda juga butuh teknik khusus, dan juga tenaga. Seharian tadi, dia hanya berkutat dengan peralatan medis dan obat-obatan, dua perawat laki-laki rekan kerjanyalah yang bergantian menyodok atap. Lagi

Iklan

Tetanggaku

12 Komentar

Nayaka says

Ini cerita baru dari sahabatku, Suchi. Layak baca, sungguh, layak baca. Jujur, menurutku malah tulisannya lebih bagus dari tulisanku, lebih rapi juga. Tidak heran sih, beliau ini jam terbangnya sudah lumayan, punya akun Wattpad juga yang keren abis (meskipun belum pernah liat :D). Kalau kalian tertarik ingin tahu lebih banyak tulisan temenku ini, silakan saja cari d’Rythem24 di Wattpad. Menurut pengakuannya, di sana juga ada Aidil dkk.

Selamat membaca, dan… selamat tegang!

 

See you guys

Nayaka

____________________________________

TETANGGAKU

.

.

.

Ditulis oleh d’Rythem24.

.

.

.

Sinopsis:

 

Satu-satunya hal yang kutahu tentangnya, adalah bahwa ia sering dipanggil Zack. Dia tetanggaku. Memiliki paras yang tampan; mata biru terang, rahang tegas berhiaskan brewok tipis, alis lebat dengan hidung mancung yang pas. Tubuhnya tinggi. Setidaknya lebih tinggi dariku. Badannya berisi. Tidak kurus sepertiku. Setiap Minggu, akan ada satu atau dua wanita yang bolak-balik masuk ke dalam ruang apartemennya yang berada di sebelah kamarku. Membuatku bertanya-tanya, apa hal yang mereka lakukan di dalam? Memunculkan berbagai macam pemikiran yang justru merusak isi kepalaku sendiri.
Sejak saat itu, aku jadi terlalu sering memikirkan dan membayangkan Zack. Suaranya, paras tampannya, hingga memfantasikan tubuh telanjangnya. Tanpa sadar, aku sudah jatuh suka pada Zack. Pada tetanggaku. Padahal aku dan dia berjenis kelamin sama, laki-laki.

Adakah kegilaan yang lebih dari ini?

Jawabannya, bahwa aku sangat ingin Zack menindih dan menggagahiku sepanjang malam. Aku harap, Tuhan tidak mengutukku atas rasa yang salah ini. Lagi

KOMA,

50 Komentar

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Tidak ingin banyak berkata-kata, hanya, terima kasih kepada kamu yang mengunjungi dan membaca kolom postingan ini secara sengaja, juga terima kasih kepada siapa saja yang mengunjunginya karena tersesat. Dan, terima kasih yang sangat besar dariku buat Dayudhistira Akhtar yang telah mengalirkan imajinasi di dalam kepalaku begitu derasnya sampai tulisan ini jadi dan publish.

Tidak ingin berkomentar panjang tentang ceritaku kali ini, toh covernya sudah mendeskripsikan isinya dengan begitu gamblang. Hanya, semoga kalian──yang mampir karena sengaja ataupun yang tersesat──dapat menikmati membaca KOMA, seperti aku menikmati ketika menulisnya.

 

Wassalam.

n.a.g

##################################################

 

Aku tak habis pikir dengan cinta. Cinta benar-benar aneh. Oh, baiklah… cinta adalah keanehan mahabesar yang pernah tercipta di muka bumi. Tak ada kompromi. Mungkin kalian akan terheran-heran ketika melihat anak sapi berkaki enam, atau pisang berbuah daun, atau telur bertangkai, atau orang makan beling, atau kuda beranak kambing──sebut lainnya, tapi menurutku, cinta ternyata lebih mengherankan lagi. Tidak percaya? Tidak mengapa, tapi mungkin kalian ingin duduk sejenak, mengopi sambil merokok, atau sambil melakukan apa saja, sementara mendengar temanku, Nayaka Al Gibran, bercerita buat kalian. Setelah itu, terserah kalian mau setuju denganku atau tidak. Namun tolong jangan kesal dengan Gibran seandainya kalian tak menyukai ceritanya, dia tidak salah apa-apa, dia hanya menulis apa yang kuinginkan untuk ditulisnya. Jika ingin protes, protes saja padaku, hanya padaku. Seharusnya kalian bisa protes juga pada Fikar──yang telah lancang jatuh cinta padaku tanpa ijin dulu, tapi sayangnya, kalian tidak bisa protes pada Fikar lagi…

***

Dayu yakin sudah melakukan hal yang benar, bahkan sangat yakin. Seharusnya, jika sudah seyakin itu, pikirannya tidak perlu lagi tertuju ke sana, ke tempat yang baru saja ditinggalkannya beberapa menit lalu itu, di mana di sana dia juga turut meninggalkan seorang bocah sok tua. Seharusnya, jika sudah seyakin itu, hatinya sudah boleh merasa ringan, tapi sialnya, perasaan bahwa dia telah melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukannya malah merongrong hatinya. Kalau demikian, bukankah seharusnya dia tidak yakin? Konon lagi ‘sangat yakin’, kan?

Dayu memukul setir. Tidak jelas apakah dia kesal atau marah, bukan pada setir, tapi pada dirinya sendiri. Diliriknya arloji di pergelangan tangan kirinya sekilas. Padahal tanpa melihat penunjuk waktu pun, dia bisa mengira-ngira dengan tepat sudah berapa lama waktu berlalu sejak dia masuk ke mobilnya dan mengemudi pergi──yang menurutnya pasti diikuti pandangan sayu si bocah sok tua yang ditinggalkannya itu.

Apa sebenarnya Dayu telah salah berpikir? Dia mengira kalau langkah yang diambilnya sudah benar, bagaimana kalau ternyata dia salah? Dayu mendadak digempur kebimbangan mahabimbang.

Oh, for God’s sake, Dayu… Dia cuma kenal loe sebagai satu-satunya orang yang sudah seperti kerabat buatnya di sini, dan loe begitu saja menjauhkannya? Apa loe sudah kehilangan kewarasan loe? Bagaimana kalau dia sakit lagi seperti waktu itu, atau sedang ditimpa kesulitan semisal ATMnya kosong lagi? Setiap anggota keluarga yang bisa membantunya di dua masa sulit itu berada bermil-mil jauhnya dari sini. Loe memang bukan anggota keluarganya langsung, tapi di sini cuma ada loe. Cuma loe! Bagaimana loe bisa mengasingkan diri darinya begitu saja?

Sial!” Sekali lagi setir itu kena pukul. “Anjar berengsek!” Jika makhluk hidup, setir itu bisa jadi sudah menangis tersedu-sedu karena dipukul Dayu bertubi-tubi. “Sialan loe, Fik!”

Dayu membanting setir ke kanan begitu saja, tanpa lebih dulu memeriksa posisi kendaraannya di jalanan. Dan detik itu juga klakson menjerit mengerikan dari depan dan dari belakang mobilnya. Decit ban menggesek aspal dari kendaraan-kedaraan di belakangnya mengikuti kemudian. Bunyi decit ban ini terdengar lebih mengerikan lagi dari jerit panjang klakson-klakson itu.

Lalu…

BRAAKKK

Lagi

1001 Samsara: Immortal Ascencion

10 Komentar

Act 2/2 : We can hurt together, Cori!

Oleh : Pandu Wiratama

=================================================================

“Cori, ini Siv, pacar gue… Siv, ini Cori…eh?” Aku terdiam kebingungan. “Ummm?”

Aku memperkenalkan Cori pada pacarku. Sebetulnya aku masih tidak yakin ini pilihan bijak, mempertemukan cewekku yang tukang gelisah dan sedikit penakut dengan bocah gila yang suka bicara seenaknya. Maksudku, Cori mungkin saja homo dan suka padaku. Gimana kalau bocah itu tiba-tiba mengamuk dan menyerang Siv, lalu mereka cakar-cakaran? Oke, mungkin tidak. Cori terlalu gagah buat cakar-cakaran sama cewek. Dia sinting. Bukan kemayu.

Masalahnya aku terlalu terpaku pada kecemasanku hingga melupakan satu poin penting. Cori harus kuperkenalkan sebagai siapa? Sialnya, aku baru sadar itu sekarang.

Siv menatapku kebingungan.

“Cori itu…” Dahiku mulai bercucuran keringat. Cori itu siapa? Ayolah Agra, putar otak loe! Buat loe, Cori itu emang siapa?

Temanku? Itu sedikit maksa. Cori empat tahun lebih muda dan aku tak merasa kami berteman. Dia cuma bocah kesepian yang suka mengikutiku seperti anak bebek. Haruskah kuperkenalkan dia sebagai adikku? Well, itu tidak benar dan aku tak mau membuat Siv salah paham. Nanti bisa runyam urusannya. Dan tidak, dia bukan abangku! Terima kasih.

Yang paling masuk akal adalah memperkenalkan Cori sebagai bocah gila yang suka padaku. Itu separuh fakta! Tapi… tidak, tidak! Nanti kesannya aku kegeeran. Lagian apa benar Cori suka padaku, ehm, maksudku apa benar dia itu homo?

Sial! Belum apa-apa bocah sinting ini kembali membuatku sakit kepala.

“Gue Cori… Corilus Deva Sanjaya, abangnya Scipio.” Cori memutuskan untuk memperkenalkan dirinya sendiri.

Aku menatapnya horor. Habis sudah! Apa yang bakal dipikirkan Siv kalau tahu ada bocah sarap yang mengaku-ngaku sebagai abangku dan suka mengikutiku kemana-mana seperti benalu? Apa Siv akan minta putus denganku?

Kulirik Cori dengan tatapan bengis. Bocah satu ini minta kumutilasi! Jangan salahkan aku, Bun! Pulang dari sini, anak jadi-jadian kesayangan Bunda ini bakal kugorok dan kubuang ke sungai! Aku menolak tinggal di langit yang sama dengannya!

Siv menutup mulut dengan sikap berlebihan. Matanya terbelalak. “Agra, dia kembaran kamu?” pekiknya tertahan.

Kuputar-putar mataku. “Siv, sweetheart, coba liat yang bener! Kamu gak liat seragamnya? Dia gak mungkin kembaranku, kecuali dia sebego itu dan empat tahun gak naek kelas!” Lagi

SEXY, NAUGHTY, DIRTY [Chapter XIV]

38 Komentar

“Gue paling ingat kata-kata Dewa yang ini, mungkin sekilas terdengar lucu dan konyol, tapi maksudnya serius sekali, bahkan menyedihkan…”

“Apa katanya?” tanya Arya penasaran.

“Katanya, kalau cintanya ke loe gak akan kesampaian, dia akan merasa bagai dikebiri. Dan dia sama sekali gak terlihat bercanda saat mengatakannya, Bro…”

Arya tercengang di kursinya. Setelah mendengar penuturan Ibra, dia merasa dirinya bagaikan sedang berdiri di tengah-tengah labirin, dan di depannya menunggu lorong-lorong untuk dimasuki, salah satu dari lorong itu akan membawanya ke jalan keluar yang terang benderang, sedang sisanya adalah lorong-lorong yang akan membuatnya tersesat semakin jauh ke dalam labirin yang gelap pekat. Sekali dirinya salah memilih lorong untuk dimasuki, maka dia akan menyesali pilihannya itu selamanya. Arya tidak tahu, apakah Rauf, apakah Theo, atau malah Dewa, lorong labirin yang benar-benar akan menyelamatkannya dari tersesat selamanya. Karena, hingga detik ini, Arya masih suka membayangkan dirinya sedang mengoral Rauf, masih sering mengingat apa yang terjadi antara dirinya dan Theo di dalam mobil pria itu, dan kini… dia tahu kalau cinta Dewa buatnya ternyata sungguhan.

“Menurut loe, apa maho bisa mendapatkan petunjuk tentang siapa pria maho yang harus dipilihnya untuk jadi pasangan dengan melakukan shalat istikharah?”

Ibra terpegun sejenak. “Fix, loe bakal jadi puntung neraka kelak, Bro.”

“Gue juga sudah dipastikan bakal jadi puntung neraka kalau beneran jadi botnya Dewa. Loe kira, loe bisa masuk surga dan bercinta sama bidara-bidara cakep di sana kalau selama di muka bumi loe sibuk ngangkangin kontol aja? Maaf sekali harus ngerusak khayalan loe, Bra, karena kita, loe dan gue, bakal dibakar sampai gosong di neraka.”

“Seenggaknya gue udah ngerasain nikmatnya dulu,” ujar Ibra santai. “Apa gue udah pernah ngasih tahu gimana rasanya saat silit gue ditusuk-tusuk sama kontol loe?”

Arya melengos.

“Oke, kalau loe gak mau tahu gimana efek yang terjadi sama gue saat ditusuk loe, loe bisa nyari tahu efek loe sendiri dari Dewa. Tuh laki pasti punya kontol gede.” Ibra berdeham. “Sorry, perkiraan gue punya dia bisa jadi lebih gede dari punya loe.”

“Sialan loe!” rutuk Arya.

Ibra tertawa. “Lagian, loe sendiri udah pernah ngeliat isi celana dalam Dewa, kan?”

Arya serta merta terbayangkan saat dia memergoki Dewa sedang coli di ruang kerjanya yang transparan itu. Ibra benar, Dewa punya penis yang bagus, tapi Ibra juga keliru dengan mengatakan penis Arya lebih kecil, karena Arya sangat bangga dengan ukurannya sendiri. Toh Ibra juga selalu bilang penisnya gede saat dia masih aktif jadi top maho fleksible itu.

“Kira-kira, kalau suatu saat nanti loe dan Dewa betulan punya hubungan khusus, menurut loe, dia keberatan gak threesome sama gue? Loe berdua bisa ngefuck gue, double.” Lagi

Older Entries

ceritasolitude

kumpulan cerita sederhana dari seorang yang berhati rumit.