SEXY, NAUGHTY, DIRTY [Chapter X]

60 Komentar

sexy-naughty-dirty-cover

 

“DAMN IT, DAMN IT, DAMN IT…!!!” Dewa mengumpat kencang. “Loe cari gara-gara dengan orang yang salah, Bangsat!” maki Dewa sendirian, wajahnya mengelam. Diremasnya sesuatu yang dikeluarkannya dari dalam dompet sesaat tadi lalu dibanting ke atas meja. Selanjutnya, Dewa menyambar kunci mobilnya dari atas meja lalu beranjak keluar ruangan dengan langkah-langkah lebar.

Fix, Dewa sudah menemukan seseorang kepada siapa dirinya akan melampiaskan akumulasi semua ketidaksenangannya sepanjang hari ini. Dan mengingat betapa tidak senangnya dia hari ini, sepertinya pelampiasan itu akan berlangsung dramatis.

Di atas meja, sesuatu yang baru saja dibanting Dewa teronggok sendirian. Itu adalah keratan kertas foto, sudah penyok-penyok tak keruan rupa akibat diremas tangan Dewa. Meski demikian, ada satu bagiannya yang masih dalam kondisi rapi dan jelas. Di sana, wajah Rauf jelas terlihat sedang bahagia, tindik di telinganya juga tampak sama jelas dengan bahagia yang terpancar dari senyumnya.

***

Saat gelap mulai turun di apartemen, Arya tiba-tiba saja menjadi gelisah. Ditambah dengan Rauf yang sedang bertelanjang dada di balkon, merokok sambil mengopi, gelisah itu malah membuat Arya tidak bisa duduk diam di satu tempat. Dia menyalakan tivi, tapi pintu kamar utama yang terbuka memperlihatkan pemandangan balkon yang lumayan jelas, membuat perhatian Arya terpecah antara layar tivi dan balkon dimana Rauf sedang shirtless. Setelah mengganti-ganti saluran selama tujuh menit tanpa hasrat untuk benar-benar memperhatikan tayangan, Arya menutup tivi dan mulai bergerak mondar-mandir dari ruang depan ke dapur yang kosong, lalu kembali ke ruang depan lagi dan lalu ke dapur lagi. Begitu seterusnya untuk beberapa saat lamanya.

Gelisah ini, muncul karena ingatan akan kejadian semalam, karena Rauf sedang di apartemen bersama badannya yang tak berbaju, karena mereka hanya berdua saja di TKP. Padahal kalau dipikir-pikir, sepanjang siang dan sore tadi, sudah tak ada lagi kecanggungan apapun yang mengganggu Arya terkait kejadian tadi malam. Interaksinya dengan Rauf sudah mencair dan hangat sejak mereka sama-sama kembali dari pekerjaan masing-masing, makin hangat saat perjalanan pulang pergi ke rumahnya. Tapi kini, Arya malah didera gelisah yang lagi-lagi membuatnya tidak nyaman. Setelah dipikir-pikir dalam mondar-mandirnya, Arya memutuskan kalau gelisahnya juga dipicu oleh waktu : malam. Bukankah kejadian dimana Rauf dioral olehnya juga terjadi saat malam? Yeah, secara teknis memang dini hari, tapi tetap saja dihitung malam, kan? Mengingat kalau beberapa jam lagi dia dan Rauf akan berangkat tidur, gelisah Arya tiba-tiba saja naik level sampai keringat dingin mulai muncul di keningnya.

‘Apa sekarang dia sedang memikirkan hal yang sama?’

Mereka hampir saja bertabrakan. Arya yang tidak fokus berjalan nyaris menubruk Rauf yang hendak ke dapur untuk mengembalikan cangkir kopinya yang kosong. Saat Rauf menyisi dan melewatinya untuk ke dapur, Arya bisa membaui aroma parfum pria itu yang tertinggal di belakang. Parfum bercampur keringat. Rasanya Arya mulai akrab dengan bau Rauf hingga yakin kalau dirinya pasti akan langsung tahu kalau pria itu ada di sekitarnya hanya dengan mencium aromanya, meski sosoknya belum terlihat. Arya merasa, kalau aroma Rauf dan indera penciumannya sudah terikat sedemikian rupa. Kalau hubungannya dengan pria itu sudah sampai pada tahap mampu mengenal aroma tubuh, bukankah itu sangat berarti sesuatu?

Lagi

Brian dan Key (9)

2 Komentar

fix

Brian dan Key

By : Levi

Lembar Sembilan

Cahaya yang masuk dari tiap sela yang ada di jendela kamar mulai mengganggu tidurku. Aku membuka mata kemudian memicing karena cahaya yang masuk benar-benar membuat silau.

Aku melirik jam di atas nakas, sudah jam enam lewat lima belas. Aku harus bergegas supaya tidak datang terlambat ke sekolah. Aku bangkit dari tidurku, duduk di tepi ranjang, mengucek kedua mata, lalu menguap sekali.

Warna biru pada salah satu tanggal di kalender membuat mataku melebar. Delapan Februari jelas yang berada di dalam lingkaran dari spidol biru itu. sedangkan tanggal di sebelahnya diberi lingkaran merah. Aku yang membuatnya, jadi tak mungkin lupa dengan dua tanggal itu. hari ini pra-ulang-tahunku!

Dan Ibu serta Dad tak ada. Great.

Rasanya aku jadi malas melakukan apa pun hari ini. Eh, tapi hari ini aku bisa menyiapkan segala sesuatu untuk ulang tahunku. Seperti menghias ruang tamu, memberi balon-balon di kamarku, atau apa saja yang mungkin bisa aku lakukan di hari yang indah ini. Jadi, aku segera beranjak untuk ke kamar mandi dan memikirkan hal apa saja yang harus aku lakukan hari ini. Lagi

SEXY, NAUGHTY, DIRTY [Chapter IX]

45 Komentar

sexy-naughty-dirty-cover

Dewa masuk ke teras. Saat hendak memasukkan kunci ke lubang di pintu, ekor matanya menangkap keberadaan amplop di meja teras. Dewa memang tidak memperhatikan keadaan terasnya tadi saat keluar, tapi dia yakin kalau tadinya amplop itu tidak ada di meja terasnya yang biasa hanya ditempati satu vas bunga plastik. Bagaimana Dewa bisa yakin? Tentu saja karena keadaan terasnya selalu sama setiap hari, meja dan kursinya tidak pernah diubah letak, vas bunga di atas meja pun sudah berabu karena jarang dipindahkan. Segala sesuatu di terasnya selama ini selalu statis. Jadi, jika ada satu saja benda asing di sana, Dewa pasti akan segera tahu. Dia tidak mendapati kejanggalan di terasnya tadi saat keluar, maka kesimpulannya, amplop itu pasti diletakkan setelah dia pergi.

Dewa urung memutar kunci. Diraihnya amplop coklat itu dan dijenguknya isi di dalamnya. Darah Dewa langsung tersirap detik itu juga saat tahu apa isi amplop yang kemunculannya misterius itu.

“KEPARAT…!!!”

Setelah sempat tersirap habis, darah Dewa kini malah menggelegak. Dia ingin langsung merobek-robek amplop beserta semua isinya itu, tapi secarik kertas di dalamnya mau tidak mau membuat Dewa harus menunda niat untuk sementara waktu.

‘Mengingat gue masih punya banyak, gak ada salahnya loe mulai mempertimbangkan belajar buat mencintai gue. Loe tentu gak pengen, kan, foto-foto ‘keharmonisan rumah tangga’ kita selama ini tiba-tiba bertebaran di bengkel loe dan diliatin montir-montir loe? Wait, bagaimana ya kalau tiba-tiba nih foto malah nyasar ke kantor atau rumah bonyok loe? Atau… tersebar di internet? Ini bukan ancaman, tapi pondasi rencana jangka panjang gue bareng loe.’

Salam CINTA :*

R

Dewa sekarang benar-benar merobek-robek. Amplop, foto-foto ranjangnya bersama Ren dan tentu saja surat jahanam itu, semuanya lumat jadi serpihan-serpihan mahakecil di tangannya. Keharmonisan rumah tangga? Dewa ingin muntah memikirkan kalimat yang ditulis Ren itu. Dulu di ranjang, mungkin dia pernah begitu berhasrat pada Ren, tapi kini Dewa jadi tak habis pikir terhadap dirinya sendiri. Bagaimana dirinya mau-mau saja jadi top buat Ren, kini jadi misteri tak terpecahkan buat Dewa sendiri. Dan sekarang, Ren memanfaatkan misteri tak terpecahkan itu untuk memperbudaknya. Oh, ya, memperbudak. Tentu saja itu tujuan Ren. Rencana jangka panjang yang disebut Ren dalam surat biadabnya itu adalah istilah lain dari ‘menjadikan Dewa sebagai pemuas seksnya’.

“Keparat, keparat, keparat, keparat, keparat…!!!” Dewa meninju dinding. “Seharusnya gue bunuh tuh banci…!!!”

Kenyataannya adalah, Ren sama sekali tidak ngondek untuk dapat disebut bences. Dan dengan berani mengintimidasi Dewa lewat ‘amplop ancaman’ itu, bisa dikatakan kalau Ren itu benar-benar pemberani. Pemberani itu identik ke pria, kan? Jarang, kan, ada banci yang pemberani, yang lebay banyak. Dewa benar-benar telah keliru menilai mantan teman ngeseknya itu. Dikiranya, Ren benar-benar sudah merelakan hubungan mereka tamat, nyatanya tidak. Seharusnya Dewa menyadari sejak awal kalau orang seperti Ren tidak akan melepaskan orang seperti dirinya begitu saja. Ren itu pure gay, dan, biarlah terkesan takabur, Dewa sangat menyadari semua potensi yang ada pada dirinya. Dia adalah tipe pria yang bisa jadi definisi semua pria pure gay seperti Ren tentang pasangan idaman ditinjau dari segi fisik, dan finansial tentu saja.

Lagi

Gemini Tales

9 Komentar

8959503_f520

Gemini Tales

Act 4 – Orion dan Gemini, season 2?

Oleh : Pandu Wiratama

Setelah jam sembilan, Arkan menyeretku pulang. Sebetulnya aku ingin menolak. Karena aku masih ingin memelototi air mancur dan meratapi nasib di bawah tatapan bintang-bintang. Tapi apa boleh buat, aku tidak pernah tahan mendengar rengekan Arkan. Dia kan adikku, meski ketemu gede. Mungkin aku terlalu memanjakannya.

Sampai di rumah Ayah menanyakan keadaanku. Wajahnya berkerut melihat kondisiku yang berantakan.

“Abis ditolak sama Lana?” tanya Ayah tidak peka.

Rasanya aku ingin memaki justru aku lah yang nolak Lana. Dan sebagai balasan, aku ditolak sama abangnya! Aku cuma di-PHP. Apa ini karma? Mungkin buat Kak Baran, rasanya lucu melihat cowok idiot sepertiku terbang ke langit ketujuh, cuma untuk dihempaskan kemudian. Jangan tanya! Rasanya sakit, pake banget.

“Enggak kok, Om.” Arkan menjawab untukku. “Mana ada sih cewek tega nolak Pandu!”

Dahiku berkerut melirik Arkan yang cengengesan.

“Terus?” Ayah kembali mencecar.

Arkan melirikku kebingungan. Jantungku nyaris berhenti berdetak karena takut Arkan bakal salah ngomong. Berbohong yang membutuhkan improvisasi bukan lah keahlian cowok itu. Jadi aku terpaksa memutar otak dengan kecepatan quad core.

“Aku kehilangan editor,” jawabku dengan wajah kusut. “Jadi untuk sementara aku gak bisa nerima donasi karena kecepatan terjemahanku jadi jauh berkurang. Soalnya harus merangkap jadi editor segala. Kenapa sih OMA malah ngelirik proyek laen sementara kita udah komit buat ngerjain WMW sampe selesai!?” Aku pura-pura mengeluh.

Kulihat dari sudut mata, Arkan melongo seperti ikan mas koki. Lagi

Brian dan Key (8)

Tinggalkan komentar

fix

Brian dan Key

By : Levi

Lembar Delapan

“Braga, tante minta tolong jagain Brian, ya? Kalau Key mah gak perlu dijagain, preman aja kakinya di patahin sama dia,” dan kami semua tertawa, sedangkan Key menanggapi ucapan Ibu dengan cemberut dan memajukan bibirnya.

“Siap, Tante!” Braga memberi hormat dengan kelima jarinya di pelipis kemudian merangkulku. Aku memucat kemudian merona. Aduh, semoga Ibu dan Dad tidak berpikiran yang macam-macam atas tingkah kami.

Tapi aku lega saat Ibu dan Dad menanggapi sikap Braga barusan dengan tawa. “Malah kalian yang keliatan kayak saudara,” kata Ibu dengan senyum yang masih mengembang.

“Terus aku apaan?!” pekik Key, lalu melipat tangan di depan dada dengan tampangnya yang masih saja cemberut.

“Kamu anak Ibu juga kok,” Ibu merangkul Key dengan sayang, barulah Key memberi cengirannya pada kami semua.

Pengumuman tanda pesawat akan take off sudah terdengar dua kali. Dad meraih pegangan koper di sampingnya, sedangkan Ibu memperbaiki tas jinjing yang ia sandang di bahu kirinya. Suasana mulai agak canggung, karena rasanya sedih sekali untuk berpisah dengan Ibu dan Dad. Ya, meski kami memang sering ditinggal pergi ke luar kota atau luar negeri sih, tapi rasanya tetap saja menyedihkan. Kau tahu, berpisah dengan orang tua itu sangat mengerikan. Lagi

Older Entries

ceritasolitude

kumpulan cerita sederhana dari seseorang yang berhati rumit.