SEXY, NAUGHTY, DIRTY [Chapter VIII]

33 Komentar

Sexy, Naughty, Dirty cover

“Kenapa? Apa ranjangnya kurang lebar?”
“Iya, kurang lebar buat nyegah loe meluk gue.”

Rauf sontak saja tersedak. Dia batuk-batuk lagi hari ini. Sarapan bersama Arya sepertinya memang rawan membuatnya tersedak. Ini kali kedua ucapan Arya membuat mogok kinerja kerongkongannya, kali ketiga jika tersedak di coffee shop ikut dihitung.

Benarkah dia meluk Arya?

Meluk?

Arya?

Meluk laki-laki?

Sambil tidur?

Sempurna. Yang dilakukannya persis seperti pasangan gay yang sedang dimabuk asmara: tidur berpelukan.

‘Shit. Ada yang salah dalam diri gue!’

Tapi… selalu ada kemungkinan kalau Arya setan itu hanya mengada-ada, kan?

“Gue gak mengada-ada. Itu kenyataan…”

“Loe ngebaca pikiran gue?”

“Gue ngebaca ekspresi loe.”

Rauf mendiamkan diri. Sepertinya Arya memang serius, dan apa yang dikatakannya tentang dirinya yang telah memeluk Arya sepertinya memang betulan kejadian. “Mulai nanti malam biar gue yang tidur di sofa.”

Arya tercengang sejenak. “Wow…”

Rauf menyudahi sarapannya lalu bangun membawa piring dan gelas miliknya ke sinky.

“Kenapa loe bisa sebaik itu ke gue?”

Pertanyaan Arya menikam punggung Rauf, terasa seperti tikaman belati yang terbuat dari inti es di Kutub Selatan. Kenapa dia sebaik itu pada Arya? Sepertinya pertanyaan Arya itu adalah juga pertanyaan dirinya sendiri. “Gak tahu,” jawab Rauf singkat sambil membilas piringnya di bawah keran.

“Padahal kita enggak temenan. Bukan sodara. Gak saling kenal juga sebelumnya, dan gak pacaran juga…”

Rauf mengeringkan tangan ke kain lap. Kata pacaran yang diucapkan Arya menggema jauh ke dalam dirinya. “Gue mau ke gym, sebaiknya loe bergegas kalau mau ikut.”

“Apa gak bakal gangguin agenda loe sebagai gigolo setelahnya?”

Rauf ingin menjawab kalau dia bukan gigolo, tapi menurutnya itu tak penting lagi kini. “Sepanjang minggu ini gue libur jadi pelacur.”

“Wow again…,” sahut Arya sedatar cermin.

Arya bangun dari kursi, meninggalkan gelas dan piring bekas sarapannya terbengkalai begitu saja di meja. Dibuntuti tatapan Rauf di punggungnya, Arya berjalan menuju kamar untuk kemudian sekali lagi mengubek-ubek isi lemari Rauf, lalu mengurangi gel rambutnya, deodorant-nya, cologne-nya yang beraroma jantan, dan parfumnya yang tak kalah jantan tentu saja.

***

“Mas Dewa ini temennya Mas Arya, ya?”

“Bukan, Mas Dewa pacarnya Mas Arya.”

Bocah di depan Dewa membundarkan matanya, sepertinya dia belum begitu mengerti kata ‘pacar’ yang diucapkan lawan bicaranya.

Dewa tertawa. “Ya bukanlah, masa laki-laki pacarnya laki-laki juga. Mas Dewa ini temennya Mas Arya, iya.”

“Ooohhh…” Bocah di depan Dewa tersenyum lebar menampilkan gigi susunya yang belum tanggal satu pun.

Lagi

Brian dan Key (7)

3 Komentar

fix

Brian dan Key

By : Levi

Lembar Tujuh

Dan pagi ini ternyata sama saja dengan kemarin, aku susah banget buat dibangunin. Bahkan Ibu mesti teriak-teriak di kuping aku gara-gara aku gak bangun-bangun juga, dan akhirnya aku disiram sama air dingin dari kulkas. Ibu bener-bener jahat deh sama aku.

Terus Ibu ngoceh-ngoceh selama aku mandi, dan baru selesai lalu keluar kamar saat aku bilang aku mau pakai baju. Honestly, aku masih ngantuk. Semua ini gara-gara aku estafet nonton Paper Towns, The Fault in Our Stars, Begin Again, dan ditutup sama The Perks of Being a Wallflower. Sumpah deh, semua film itu bikin aku haru biru hari ini. Apa lagi film yang terakhir, aku tonton dari jam dua sampai jam empatan itu ngebuat aku jadi inget sama Brian, soalnya dia itu kayak Patrick sedangkan aku kayak Sam yang diperanin oleh Emma Watson di film The Perks of Being a Wallflower. Tapi aku gak selabil Sam, ya! Dan Brian—mungkin—gak semenyedihkan Patrick yang gak diakui hubungannya dengan Brad si bajingan.

Terkutuklah Juju yang udah ngebuat aku begadang dan mengantuk kayak begini. Belum lagi, hampir semua cerita itu sad ending, bikin aku mewek berkali-kali sampai tisu di kamar habis. Sekarang aja rasanya aku masih pengen nangis pas inget betapa kuatnya Gretta pas dihianati Dave yang juga si bajingan. Lagi

SEXY, NAUGHTY, DIRTY [Chapter VII]

61 Komentar

Sexy, Naughty, Dirty cover

 

Rauf mengancingi lagi jinsnya yang lembab lalu mulai menggali-gali di dalam lemarinya, berusaha menemukan pakaian untuk Arya. Setelah mandi mungkin anak itu akan langsung tidur, pikir Rauf. Ditariknya secarik boxer dari dalam lemari dan diletakkannya di atas ranjang. Arya juga pasti butuh celana dalam. Rauf tidak tahu apakah Arya bisa pas dengan ukurannya, tapi tetap saja diletakkannya satu boks celana dalam baru berdampingan dengan boxer yang sudah lebih dulu ditaruhnya di atas ranjang.

Setelah semua itu, Rauf berdiri bersidekap lengan di dada di tengah-tengah kamar, tidak bisa mencegah dirinya untuk merasa senang dan lega. Arya sudah aman di tempatnya. Rasa bersalahnya pada anak itu sudah hampir tertebus semuanya.

Ini aneh dan tidak masuk logika… tapi Rauf benar-benar tidak ingin Arya meninggalkannya lagi.

***

Dewa terbangun di kamar Audrey, kepala Audrey di atas dadanya dan sebelah kaki Audrey membelit di perutnya. Dewa tidur hanya mengenakan celana dalam. Linu samar-sama masih terasa membekas di sekitar pangkal penisnya. Audrey terlalu bersemangat ketika memberikan Dewa blow job kedua sebelum mereka tidur. Dewa mengangkat lengan kirinya yang bebas, jam di tangannya menunjukkan pukul tiga dini hari.

Pukul tiga dini hari, ketika semesta sedang berada pada fase paling sunyi dalam satu harian. Dewa terjaga dari tidurnya tepat di sana, di tengah-tengah sunyi semesta. Entah dari mana perasaan itu datang, tiba-tiba Dewa merasa sedang berada di tempat yang tidak seharusnya. Berada di ranjang Audrey, nyaris telanjang, mendadak terasa salah. Bukan hanya perihal tempat, perasaan itu meluas lebih kompleks lagi. Dewa merasa apa yang dilakukannya bersama Audrey selama ini adalah hal yang tidak seharusnya dia lakukan.

Lalu Dewa serta-merta teringat Ren. Apa yang diperbuatnya pada Ren, melampiaskan hasrat sampai bosan lalu mendepak Ren keluar dari hidupnya, juga adalah hal yang seharusnya tidak dia lakukan.

Apa yang sudah diperbuatnya selama ini? Berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia karena dia menurutkan nafsunya? Sampai kapan hal ini akan terus berlangsung sebelum dia berhenti, katakanlah karena menemukan sesuatu yang lebih pantas untuk mendapatkan seluruh waktunya, sesuatu seperti perasaannya pada Arya, Sesuatu seperti… cinta, kapan?

Lagi

Good Side of Bad Karma

16 Komentar

8959503_f520

Oleh : Pandu Wiratama

“Aku benci padamu, kuharap kamu gak pernah ada! Kamu selalu cari perhatian, dan aku tahu kamu sengaja supaya semua orang lupa padaku!” Arjuna menuding dengan telunjuknya, lalu keluar membanting pintu kamarku.

Sepanjang yang bisa kuingat, aku dan Juna, adik kembarku, tidak pernah bertengkar karena alasan apapun. Oke, kami terkadang emang rebutan mobil-mobilan Hot Wheels yang baru dibelikan Bunda, atau berdebat soal siapa yang lebih hebat antara Naruto si rubah ekor sembilan atau Luffy si topi jerami, yang tentu saja hebatan Luffy karena dia kan terbuat dari karet dan jelas tidak ada ninja bodoh manapun yang bisa mengalahkannya! Dan ya, cuma bocah idiot macam Juna yang bisa tidak setuju denganku.

Lihat kan, ini lah sulitnya punya kembaran idiot! Apakah salahku jika aku terserang asma saat Ayah dan Bunda hendak membawa kami ke Pizza Hut di Lotus untuk merayakan kemenangan Juna di kumite perorangan pada kejuaraan karate yang diadakan di sekolah tadi pagi?

Emang dia pikir siapa yang bersorak paling kencang menyemangatinya? Tidak sadarkah dia napasku tadi habis untuknya? Juna pikir aku senang megap-megap kehabisan oksigen sampai harus diasapi di UGD Rumah Sakit?

Lagipula seharusnya aku yang benci padanya. Aku lah yang harusnya mengeluh kalau selama ini dia selalu mencuri semua perhatian Ayah dan Bunda dengan tingkahnya yang sulit diatur! Dan ya, meskipun aku tidak pernah menyuarakan isi hatiku, terkadang aku pikir aku benar-benar benci sama kembaranku. Kenapa sih Bunda selalu datang ke sekolah karena Juna berkelahi dengan anak kelas empat yang badannya dua kali lebih besar, atau karena dia mengatai guru bahasa Inggris kelas tiga kami Gorila Gila setelah Bu Asna menghukumnya karena Juna tidak membuat PR, dan kebetulan ibu guruku itu emang sedikit jumbo! Lagi

Brian dan Key (6)

7 Komentar

fix

Brian dan Key

By : Levi

Lembar Enam

Aku mengalihkan pandanganku ke jendela kamar Key. Bingung apa yang harus aku lakukan sekarang. Dan tanpa sadar, Key daritadi ternyata sudah menjengukkan kepalanya untuk membaca pesan Braga di layar ponselku.

“Ya elah, keluar aja lagi Bri,” katanya tiba-tiba saat aku masih melamun menatap jendela.

“Ha? apanya? Shit! Lo baca pesan di hape gue ya?!”

Calm, calm, calm. Gue gak liat, layarnya aja yang manggil-manggil dari tadi.”

Fuck!

“Udah deh, mending lo liat dulu Bri. Kasian loh, dia udah dateng jauh-jauh ke sini. Urusannya gak bakal selesai kalo kalian nggak saling ketemu.”

Key benar. Mungkin sebaiknya aku lihat dulu dari sini, memastikan apa yang sebenarnya dia mau. “Oke, oke,” jawabku sambil turun dari kasur.

Aku berjalan gontai menuju pintu kaca berkusen kayu di sana, lalu menyingkap tirainya sebelum membuka lebar-lebar pintu kecil yang menghubungkan kamar Key dengan balkon sederhana di depan pintu ini. Kamar aku juga ada balkonnya kok, kalau kamar Dad dan Ibu sih di lantai bawah jadi tak ada balkon di sana.

Aku sedikit terkejut ketika mendapati Braga sudah berdiri di bawah sana dari tadi. Maksudku bukan terkejut karena dia bisa sampai masuk ke perkarangan rumahku yang padahal jam segini sudah dikunci Dad—itu karena aku sudah mengajarinya untuk lewat pagar semak yang membatasi antara rumahku dengan rumah Bang Nandra di  sebelah. Aku juga tidaklah terkejut karena dia sudah berdiri di sana dengan gaya klasik remaja-remaja yang ingin meminta maaf, maksudku, ayolah, siapa yang masih mau minta maaf dengan cara bernyanyi di halaman rumah orang, dan orang yang sedang ingin dimintai maaf berdiri menunggu di balkon kamarnya seperti saat ini. Aku tau itu akan terjadi karena itu sudah pernah terjadi beberapa kali, dan aku hapal itu. Lagipula, lihat saja gitar yang tegantung di depan Braga. That’s so cliché. Lagi

Older Entries

ceritasolitude

kumpulan cerita sederhana dari seseorang yang berhati rumit.