THE UNICORN AND HIS BROTHER

30 Komentar

image

CUAP2 NAYAKA

Untuk kedua kalinya, aku kasih DISCLAIMER!

“Cerita ini tidak layak dibaca oleh siapapun yang berusia di bawah 18 tahun. Mengandung perasan lemon sepohon penuh, jeruk nipis sekebun luas, dan jeruk purut sepemakaman. Harap untuk tidak mengabaikan peringatan ini. Segera enyah jika kalian belum berusia 18 tahun. Segala resiko yang terjadi pada setiap individu atau kelompok setelah membaca tulisan ini seperti celana dalam sempit, iritasi di sekitar organ vital, atau harus mandi besar, sepenuhnya di luar tanggung jawab penulis!”

Tulisan ini kuposting eksklusif buat pembacaku yang berusia di atas 18 tahun (I mean it!!!) dan sekali lagi, tolong jangan menikmati ketika membacanya, karena aku juga berusaha untuk tidak menikmati ketika menulisnya.

Wassalam
Nayaka Al Gibran

################################################

Mansion ini sama terkutuknya seperti hidupku. Penuh skandal. Penyelewengan. Wajah-wajah bertopeng. Dan aroma permusuhan. Aku tidak percaya diriku kembali lagi ke sini, ke tempat dan ke orang-orang yang dua tahun dulu kutinggalkan dengan tidak sabar. Baru seminggu di sini, keinginan untuk segera angkat kaki dan keluar dari pintu gerbang mansion kian mendesak-desakku seiring bertambahnya hari.

Aku ingin jujur pada kalian. Sebenarnya, bukan skandal, bukan penyelewengan, bukan orang-orang yang tidak pernah menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya–yang diam-diam menebar jaring permusuhan–di mansion ini yang membuatku kian hari kian ingin pergi. Tapi adalah, ketiadaan siapa saja yang bisa mengangkangiku dalam kondisi telanjang sambil menabrak-nabrakkan dirinya berkali-kali di belakangku. Tujuh puluh lima persennya karena itu, dan sisanya karena keluargaku memang sudah dikutuk sejak kakek-kakek buyutku dulu, dikutuk untuk menjalani hidup bersama skandal dan berpura-pura bahwa kehidupan kami baik-baik saja dari segi moral dan sama terhormatnya dengan orang-orang berdarah biru lainnya di lingkungan ini.

Lagi

HERO (Still Road to the Sequel)

41 Komentar

image

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Aku lagi suka ngulik-ngulik App WordPress di tab murahan milikku. Ternyata menulis sambil tidur enak juga, selain terhindar dari tekanan di sekitar pundak dan pegal di sekitar pinggang hingga punggung yang sering kudapatkan jika menulis sambil duduk di depan Toshi-kun, menulis di tab sambil tidur juga ternyata bikin selangkanganku lega (jangan negatif dulu), kenapa? Karena aku bebas ngangkat-ngangkat kakiku–yang masih agak-agak gengsi dibawa naik-turun tangga–ke dinding kamar, atau diluruskan hingga mentok kerangka tempat tidur, atau ya… seperti kata dasar yang sudah kusebutkan di atas… bebas ngangkang selebar-lebarnya di kasur empuk :D

Ini tulisan iseng berikutnya. Semoga kalian menikmati membaca HERO (Still Road to the Sequel) seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam
Nayaka Al Gibran

############################################

Dua tahun. Dua kali dua belas purnama. Selama itulah Zamhur Nawawi sudah merelakan sadel motornya buat kududuki saat pulang pergi sekolah–kadang juga saat kami pergi nongkrong kayak remaja normal lainnya di luaran sana. Selama dua kali dua belas purnama juga dia mengizinkan pinggangnya jadi tempatku menaruh tangan–kadang juga melingkarkan lengan–sepanjang perjalanan pulang dan pergi sekolah atau tempat manapun yang kami datangi berdua. Selama dua kali dua belas purnama pula dia tidak keberatan punggung atau bahunya jadi tempatku menyandarkan pipi–kadang juga jadi objek kejahilanku setelah mengupil jika sedang kesal karena ekskul basketnya membuatku menunggu terlalu lama–kalau mengantuk sementara kami menuju rumah.

Lagi

THE UNICORN AND HIS HUNTER

47 Komentar

image

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Untuk pertama kalinya, aku kasih DISCLAIMER!

“Cerita ini tidak layak dibaca oleh siapapun yang berusia di bawah 18 tahun. Mengandung perasan lemon sepohon penuh, jeruk nipis sekebun luas, dan jeruk purut sepemakaman. Harap untuk tidak mengabaikan amaran ini. Segera tinggalkan laman ini jika kalian belum berusia 18 tahun. Segala resiko yang terjadi pada setiap individu atau kelompok setelah membaca tulisan ini, sepenuhnya di luar tanggung jawab penulis!”

Tulisan ini kutulis eksklusif bagi pembacaku yang berusia di atas 18 tahun (i mean it!!!) dan, untuk pertama kalinya, tolong jangan menikmati ketika membacanya, karena aku juga berusaha untuk tidak menikmati ketika menulisnya.

Wassalam
Nayaka Al Gibran

#################################################

Namanya Hunter. Usianya barangkali sepuluh tahun lebih tua dariku. Seorang pekerja konstruksi yang sudah seminggu mengebor atau memalu atau membalok atau apapun tugasnya di lokasi baru pekerjaannya. Kurasa aku tak perlu menjelaskan seperti apa fisik dan tampangnya. Kalau kalian ingin tahu, datang saja ke lokasi pembangunan gedung atau pertokoan, kalian akan menemukan orang-orang seperti Hunter di sana. Tapi aku ingin kalian tahu satu hal tentang Hunter yang tidak bisa kalian ketahui dengan hanya mendatangi lokasi pembangunan gedung atau pertokoan itu tanpa melakukan riset mendalam yang melibatkan diri kalian secara langsung, Hunter punya batang kemaluan yang ditindik dengan bentuk serta ukuran yang akan membuat siapapun yang sebelumnya tidak possesif menjadi possesif secara absolut, jika tidak bertentangan dengan idealisme pribadi. Aku mengatakan ini didasarkan pada pengalaman, tapi jika kalian ingin meragukanku, silakan saja, karena aku juga sempat meragukan diriku sendiri.

Lagi

HERO (Road to the Sequel)

51 Komentar

image

CUAP2 NAYAKA

Ini aku sedang usil, gegara gak ada kerjaan ketika sedang menunggu. Langsung kuketik via App WordPress, jadi maaf kalau kurang rapi.

Semoga kalian menikmati membaca Hero (Road to the Sequel) seperti aku menikmati ketika menulisnya.

Wassalam.
Nayaka Al Gibran
###############################

Aku kebingungan sepanjang minggu ini. Penyebabnya, tentu saja cowok yang duduk di bangku seberang tak jauh dari mejaku dan Khiar. Aku dan Hero boleh saja sudah berdamai satu sama lain dan tidak mempermasalahkan apapun yang terjadi selama kami berpisah, tapi di kelas, kami tetaplah dua orang asing yang tidak banyak berinteraksi, nyaris tidak pernah bahkan. Kalau saja aku adalah anak kepala sekolah, atau ayah atau ibuku adalah salah satu guru paling berpengaruh di SMA ini, aku akan merengek-rengek persis balita agar dudukku dipindahkan ke meja Hero, mengusir Fatahul yang meski  hampir genap dua semester duduk semeja dengan Hero namun masih terlalu enggan untuk menjadi temannya, atau sebaliknya Hero yang terlalu tidak peduli dan tak acuh pada teman sebangkunya–yang ini lebih mungkin. Sayangnya, aku bukan anak kepsek dan ayah-ibuku tidak mengajar di SMA.

Lagi

SEKERAT DASI UNTUK ORLANDO

127 Komentar

Dasi Untuk Orlando

an AL GIBRAN NAYAKA story

##################################################

CUAP2 NAYAKA

Salam…

Aku merasa chapter ini aneh. Mungkin ada beberapa bagian yang akan kalian skip saat membacanya, tapi, aku sangat menikmati saat-saat diriku menulis Sekerat Dasi Untuk Orlando ini, dan kuharap kalian juga bisa menikmati ketika membacanya.

Wassalam

n.a.g

##################################################

 

Sebelumnya,

aku adalah sosok primitif,

tanpa baju,

buta,

dan terbelakang

Lalu cinta menyentuhku,

mengubahku jadi manusia beradab

berbaju,

berwawasan,

dan berperasaan

***

Waktu aku kecil dulu, saat masih mengenakan warna merah dan putih untuk ke sekolah, aku punya cinta monyet. Bukan mauku, sebenarnya. Bahkan, aku sama sekali tidak mengerti apapun saat itu. Dan kurasa, pasangan yang dipasangkan oleh teman-temanku untukku juga tidak mengerti apa-apa. Hubungan yang diciptakan oleh lingkungan, bukan oleh kesadaran perasaan dan kemauan hati, kurasa itulah yang disebut cinta monyet. Omong-omong, pasangan cinta monyetku itu seorang cewek yang kebetulan peringkat di rapornya selalu kejar-kejaran denganku. Aku menduga-duga, alasan teman-temanku menjodoh-jodohkan dan memasang-masangkan nama kami setiap ada kesempatan dan menuliskannya di beberapa tempat yang tidak semestinya itu adalah karena peringkat kami yang kejar-kejaran. Padahal, kami berdua─aku dan cewek itu─bisa jadi sama sekali tidak tertarik satu sama lain. Namun lingkungan tidak mau tahu itu. Maka begitulah, kami jadi sepasang pacar yang masih ingusan.

Saat sudah dewasa sekarang, ketika aku telah menanggalkan banyak warna seragam, aku memiliki cinta yang bukan cinta monyet. Cinta yang datang sebagai wujud kesadaran perasaan, dan terlebih penting adalah kemauan hati sendiri. Pasanganku tidak lagi ditentukan oleh lingkungan, tidak dipilih oleh teman-temanku, tapi kutentukan dan kupilih sendiri. Dunia mungkin menganggap pilihanku salah. Terserah dengan dunia. Kalau saja dunia mau lebih memahami makna pilihan, mungkin dunia akan mengerti dan sadar. Bahwa apa yang disebut sebagai pilihan pada dasarnya tidak berkaitan dengan konsep benar atau salah, itu lebih berhubungan dengan kebebasan dan tanggung jawab. Saat seseorang sudah memilih, apapun resiko dari pilihan yang diambilnya akan di-per-tanggung-jawab-kan-nya sendiri. Aku sudah memilih, dan aku akan bertanggung jawab dengan pilihanku. Sesederhana itu, dunia harusnya tidak terlalu sukar untuk memahami.
Lagi

Older Entries

ceritasolitude

kumpulan cerita sederhana dari seseorang yang berhati rumit.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 273 pengikut lainnya