SEXY, NAUGHTY, DIRTY [Chapter XIII]

65 Komentar

Ketika Arya sudah menggenggam kejantanannya yang keras di bawah sana, Theo sadar bahwa sudah terlambat bagi mereka berdua untuk berbalik. Jadi, dia mendorong Arya, mengisyaratkan agar cowok itu bangun dari pangkuannya, kemudian sambil memegang lengan kanan Arya, Theo bergerak untuk pindah ke jok belakang, dengan pinggang celana yang sudah tersibak dan batang penis membentuk sudut siku-siku dengan perutnya yang datar.

Arya mengikuti Theo, saat sudah tiba di jok belakang, dia membuka sendiri kancing pinggang jinsnya. Arya tak perlu buang waktu untuk membuka kancing-kancing pengganti ritsleting di bawah kancing pinggang jinsnya, karena memang sudah terbuka entah sejak kapan. Dia hanya langsung menurunkan pinggang celana dalam berikut pinggang jinsnya setelah kancing itu berhasil dipecundangi, untuk mempertontonkan kejantanannya buat Theo. Kemudian, seakan bisa saling membaca pikiran satu sama lain, keduanya sama mendekat, berciuman, dan saling menggenggam kejantanan satu sama lain.

Di luar mobil, hujan turun bagai murka, menghujam bumi tanpa belas kasihan, seperti bumi adalah seorang penzina dan langit bertindak sebagai penghukum rajam baginya. Sementara di dalam mobil di bawah guyuran hujan itu, dua lelaki sedang mendaki birahi, seakan itu adalah pendakian birahi pertama bagi keduanya.

*

Rauf bangun dari sofa setelah mengosongkan botol di tangannya. Dia baru saja memutuskan kalau dirinya sudah terlalu teler untuk membuka botol selanjutnya, jadi kemudian dia melangkah setengah sempoyongan menuju kamarnya, hampir terjerembab di muka pintu karena tersandung kakinya sendiri. “Fuck!” umpatnya sambil berpegangan di kusen pintu yang terbuka. “Goodnite, Asshole,” gumamnya parau sambil melambai tanpa menoleh ke arah sofa, lalu meneruskan langkah sempoyongannya ke kamar. Asshole yang dimaksud tentu saja Dewa, yang sampai saat ini masih menggeletak nyaris tak sadarkan diri di satu ujung sofa.

“Oke. Sebaiknya loe ngunci diri loe sendiri dari gue…” Dewa tertawa serak. “karena sepertinya kontol gue sedang keras sekarang.” Ucapan Dewa agaknya hanya mampu didengar kupingnya sendiri saking pelannya. Sebenarnya, pria itu lebih tepat disebut sedang menggumam ketimbang bicara. Kalimatnya tidak jelas sama sekali.

Dan Rauf yang sudah terlalu pusing hanya tahu kalau Dewa sedang meracau entah apa di sofa. Setelah menutup pintu, dia bergerak ke ranjang, berhenti sebentar di dekat ranjang untuk melepaskan celana pendeknya, lalu menjatuhkan diri tertelungkup di atas ranjang. Rauf sudah setengah terjaga setengah tertidur. Sisa kesadarannya masih bisa membaui aroma alkohol dalam napasnya sendiri.

Tak sampai lima menit setelah Rauf meninggalkannya, Dewa bangun dari posisi menggeletaknya dan duduk di sofa. Bagaimanapun, dia jujur ketika berkata pada Rauf kalau penisnya sedang ereksi. Jika kalian ada di sana, kalian akan melihat kalau bagian depan celana Dewa sudah membentuk apa yang sering kita sebut sebagai bulge dengan begitu jelasnya.

Lagi

Gemini Tales

15 Komentar

Gemini Tales

Act 5 – First Kiss

Oleh : Pandu Wiratama

 

Seperti halnya aku menatap bolak-balik antara Kak Baran dan Koh Stephen, Kak Baran pun bergantian melirik padaku dan Arkan. Kening cowok itu berkerut. Perlahan rahangnya yang mengeras saat memelototi Arkan kini mengendur. Malah, sorot kesal di matanya kini hilang, digantikan ekspresi bingung. Dan sedikit rasa sesal? Entah lah.

“Arkan?” tanya Kak Baran padaku sambil melirik Arkan yang masih melotot dengan tangan terkepal.

Aku mengangguk tanpa suara.

“Orion!” sela Arkan berapi-api. Dia tidak pernah suka dipanggil dengan nama tengah, kecuali olehku.

Kak Baran menghela napas sambil garuk-garuk kepala. “Pan, gua pengen ngomong sama lu…” Cowok itu terlihat ragu, melirik Arkan dan Panji di kanan kiriku, lalu menambahkan, “… berdua aja, oke?”

Sebelum aku sempat menjawab, Kak Baran tahu-tahu sudah berdiri tepat di depanku, satu tangan hendak merangkul bahuku dan, kupikir, bakal menyeretku pergi entah kemana, yang pasti menjauh dari tiga pasang mata penasaran yang memandang kami bergantian. Namun satu dari tiga pasang mata itu menepis tangan Kak Baran dari pundakku.

“Pandu gak bakal kemana-mana!” tukas Arkan.

Kak Baran mengernyit, tapi tidak terlihat marah oleh sikap Arkan yang kurang ajar. Dia cuma menoleh padaku dan memberiku tatapan memohon. “Plis, Pan…” gumamnya. “Kita perlu bicara. Gua dari kemaren nyariin lu, tapi lu kayak ngilang diculik alien.“ Kak Baran melirik Arkan dengan tatapan menuduh.

Arkan mendengus. Cowok itu memposisikan dirinya sebagai penghalang antara aku dan Kak Baran, seolah dia induk bison yang menjadikan tubuhnya sebagai tameng, melindungi anak bison dari tatapan lapar singa jantan. Aku tidak yakin sikapnya ini romantis atau malah bikin sebal? Maksudku, aku kan laki-laki. Aku tidak selembek itu! Lagi

SEXY, NAUGHTY, DIRTY [Chapter XII]

55 Komentar

Rauf mengangguk untuk menjawab pertanyaan pria di depannya. “Sebenarnya, itu apartemen kakak perempuan gue.”

“Kalau dia tinggal di gedung yang sama, seharusnya hari itu dia tidak terlambat…”

Pria di depan Rauf seperti sedang bicara pada diri sendiri. Rauf memilih untuk tidak menanggapi. Kemudian Rauf mendapati pria itu kembali fokus menatapnya, seakan sedang meneliti.

“Dia ada di dalam, kamu mau masuk atau kupanggilkan dia ke sini?”

‘Pria ini agaknya orang baik.’

“Sebaiknya gue nunggu di sini.”

“Oke.”

Si pria menghilang ke dalam, membiarkan pintu terbuka. Rauf mendadak merasa kepercayaan dirinya menguap. Sebentar lagi Arya akan menemuinya, lantas apa yang akan dikatakannya? Interaksi terakhir mereka tidak berlangsung bagus. Bisa dibilang, Arya meninggalkan apartemennya dengan kesal, atau bahkan marah.

Jadi, apa yang akan dikatakannya kalau Arya muncul sebentar lagi? Karena sepertinya mengajak Arya pulang bersamanya sangat tidak mungkin terjadi. Bagaimana Arya mau ikut dia kalau di sini ada pria tampan lain yang kalau dinilai dari segala sisi lebih dewasa dan lebih mapan darinya?

Oh, hell… sepertinya ada yang cemburu di sini.

Rauf bergerak menuruni undakan beranda rumah Theo dan lalu mendudukkan dirinya di dasar undakan, membelakangi arah pintu. Tadinya dia ingin duduk di kursi yang ada di beranda, tapi pikiran kalau jarak kursi itu ke pintu terlalu dekat yang mana bisa membuat siapapun yang berada di baliknya akan mendengar percakapannya dengan Arya nanti, maka Rauf memilih menjauh, walau itu tak cukup jauh untuk menutup kemungkinan percakapan mereka nanti akan didengar, setidaknya dia sudah meminimalisirnya. Tapi kalau dipikir-pikir, mengapa pikirannya bisa sampai ke sana? Apa dia khawatir Theo akan mencuri dengar percakapannya dengan Arya? Atas dasar apa dia perlu khawatir? Memangnya apa yang akan dikatakannya pada Arya nanti? Rauf bahkan tidak yakin mengapa dia datang mencari Arya hingga ke sini.

“Dari mana loe tahu gue ada di sini?”

Rauf menoleh melewati bahunya, Arya sedang berdiri di undakan beranda yang paling atas, sendirian, tak ada siapa-siapa bersamanya, lebih tepatnya, tak ada pria berpenampilan elegan bernama Theo di dekat Arya. Rauf memanjangkan leher agar posisi matanya bisa mengalahkan tinggi undakan beranda, lalu mencoba melihat lebih ke belakang, ke pintu yang terbuka sedikit. Theo juga tak ada di sana. Tapi selalu ada kemungkinan kalau pria itu bersembunyi di balik pintu, kan? Selalu ada kemungkinan kalau pria itu mengawasinya dan Arya dari suatu tempat yang tidak terlihat.

“Buat apa loe nyari gue?”

Rauf sadar kalau dia belum menjawab satu pun pertanyaan cowok itu. Pertanyaan pertama jawabannya mudah sekali, Rauf hanya perlu jujur mengatakan kalau dia menemukan alamat Theo di saku jins yang pernah dipakai Arya. Yang sulit adalah pertanyaan kedua. Buat apa dia mencari Arya? Damn it, sebenarnya itu juga pertanyaan Rauf buat dirinya sendiri. Buat apa dia nyari Arya? Diajak pulang untuk kemudian disodomi? Apa dia harus menjawab begitu? Yang benar saja.

Lagi

SEXY, NAUGHTY, DIRTY [Chapter XI]

72 Komentar

sexy-naughty-dirty-cover

 

Arya tercenung di gerbang. Dia tidak yakin sudah datang ke alamat yang benar. tapi taksi itu sudah pergi dan gelap sudah mulai turun. Tak ada yang berjaga di pos satpam, mungkin satpamnya sudah pulang atau rumah ini memang tidak dijaga satpam dari awal.

Ransel di punggung, gitar di tangan kiri, Arya melangkah ragu-ragu melintasi pekarangan luas rumah itu. Kata Theo──jika benar ini rumah pria itu, Arya diminta mengenalkan diri sebagai teman jika yang menyambutnya adalah orang tua Theo. Pertanyaannya, apa benar ini rumah Theo? Arya tidak lagi membekali kertas notes Theo, kemungkinan besar kertas itu berada di saku celana Rauf yang sempat dipakainya, mungkin pun sudah lumat.

Di beranda, sekali lagi Arya tercenung. Keraguan menguasainya. Seharusnya dia memikirkan masak-masak sebelum membuat keputusan. Apakah tidak memalukan, memanfaatkan kebaikan orang yang baru dikenal hitungan hari? Sebentar. Memalukan? Mengapa baru sekarang dia teringat malu? Lucu sekali, padahal akhir-akhir ini dia sangat sering memanfaatkan kebaikan orang-orang yang ditemui dalam perjalanannya kabur dari rumah. Pertama Dewa, lalu Rauf, lalu Kemal, lalu Rauf lagi, lalu sekarang Theo──sekali lagi! Jika betulan ini rumah Theo.

Tahu-tahu saja telunjuk Arya sudah menekan bel. Cowok itu sampai kaget sendiri dan nyaris menjatuhkan gitarnya.

Tak sampai semenit, pintu membuka. Seraut wajah teduh wanita paruh baya muncul di ambang pintu. Entah Arya yang salah melihat atau wanita paruh baya itu memang betulan kaget. Saat Arya menemukan raut wajah wanita paruh baya itu sedikit pias, Arya yakin kalau sosok di depannya memang betulan kaget.

“Ganes…,” desis wanita di depan Arya.

Arya mengernyit, “Emm… maaf, Tante… apa betul ini tempat tinggalnya Pak Theo?”

“Ganes…” Kini wanita itu berusaha menyentuhkan jemarinya ke wajah Arya.

“Ibu, itu bukan Den Ganes…” Seorang wanita yang sepertinya adalah pembantu di rumah itu tergopoh-gopoh menghampiri.

Jemari itu urung menyentuh wajah Arya. Dia bisa melihat kalau mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. “Maaf,” katanya.” Sepertinya saya salah rumah.”

Arya hendak berbalik ketika ibu-ibu yang dikiranya sebagai pembantu itu berujar sambil menatapnya lekat-lekat dengan kening berkerut. “Den Theo biasanya pulang ke rumah agak larut kalau sedang tidak libur. Kenapa Den Bagus tidak masuk saja dulu?”

Ternyata Arya datang ke rumah yang benar. Dia menatap bergantian dua wanita yang terlihat seusia di depannya, yang satu dengan raut wajah sendu di balik riasan tipis, dan satunya lagi wajah sederhana yang terlihat begitu baik hati──tipe yang tidak akan pernah memarahimu meski kau memecahkan selusin koleksi piring antiknya dengan sengaja. Arya masih bimbang antara masuk atau pergi saja.

Seperti tahu kalau tamunya sedang bimbang, wanita yang menawarkan Arya untuk masuk kembali berujar. “Kalau Pak Theo yang Den Bagus maksud adalah Den Theo kami yang punya kedai kopi, ini memang beneran rumahnya.” Si wanita tersenyum. “Ini Ibu Selian, mamanya Den Theo…”

Arya kembali memfokuskan pandangannya ke wanita dengan wajah sendu yang masih menatapnya tanpa berkedip itu. Arya mengira-ngira kalau si wanita sesaat lagi masih akan memanggilnya dengan nama Ganes. Setelah merasa cukup memandang wajah orang, Arya menyimpulkan kalau dia sama sekali tidak menemukan secuil pun kemiripan wajah antara Theo dan Ibu Selian ini.

Lagi

Brian dan Key (10)

9 Komentar

fix

Brian dan Key

By : Levi

Lembar Sepuluh

I started a joke
Which started the whole world crying
But I didn’t see
That the joke was on me, oh no.

Ada tiga jenis orang di dunia ini ketika dihadapkan dengan masalah, 1) Mereka yang selalu happy di segala situasi; 2) mereka yang selalu worry di segala situasi; 3)Mereka yang menjalaninya dengan biasa saja.

Sedangkan Brian dan Key saat ini sedang berusaha untuk menjadi ketiganya.

-*-

Aku berusaha mengabaikan cewek berjilbab yang duduk di sebelah Braga. “Ini kamu yang buat?” tanyaku pada Braga sambil menunjuk kue dengan cream putih yang membalut seluruh bagiannya.

Braga mengangguk antusias. “Dengan dibantu Azkia sedikit sih.” Dan benar dugaanku. Tenang, mereka hanya membuat kue dengan bersama, pasti tak ada colet-coletan tepung waktu pembuatannya, juga pasti nggak ada ketawa-ketawa akrab antara mereka, dan pastinya tak akan pernah ada rasa suka antara keduanya. I wish that’s just my prejudice.

Sekarang kembali pada kue ini. Well, semoga rasanya tidak seburuk penampilannya. Yang benar saja, aku tadi bingung yang diletakkan Braga di depanku ini adalah kue atau batu karang putih dari samudera Hindia. Dengan bolong-bolong tak jelas, dan dengan lilin yang sudah dihidupkan dari tadi sampai-sampai mencair dan mengenai hampir setengah bagian atas kue.

“Kamu nggak suka?” tanya Braga yang duduk disebelahku.

“Ha?” aku menengok sebentar pada Braga, lalu kembali menatap kue itu. “Suka kok, keliatannya aja bagus gitu. Makasih ya, udah mau repot-repot gini.” Lagi

Older Entries

ceritasolitude

kumpulan cerita sederhana dari seorang yang berhati rumit.