Bidadari-Bidadari Surga

Novel ini tentang kasih sayang keluarga, tentang pengorbanan seorang kakak. Kapan terakhir kali kita memeluk adik-adik kita dan berlinang air mata bilang, meski mereka menyebalkan, kita sungguh sayang pada mereka. Dan sebaliknya, kapan terakhir kali kita memeluk kakak-kakak kita, dan bilang, meski mereka cerewet, suka menyuruh-nyuruh, kita sungguh menghargai mereka.

Novel ini adalah karangan Tere liye kedua yang saya punya, setelah Hafalan Sholat Delisa, sebelum Berjuta Rasanya dan Ayahku (Bukan) Pembohong. Jujur, sebelumnya saya nggak pernah dengan sengaja membeli karya Tere liye. Hafalan Sholat Delisa saya pilih karena waktu itu saya bingung mau beli buku apa. Saya jadi tertarik setelah melihat ringkasan ceritanya yang ternyata bertema keluarga dengan setting Tsunami Aceh. Dan ternyata saya sama sekali nggak merasa salah pilih setelah membaca habis buku itu. Demikian juga dengan yang satu ini, setelah mondar-mandir di toko buku dan nggak ngerti mau pilih yang mana, akhirnya buku setebal 363 halaman ini saya ambil dari raknya. Waktu itu saya pikir, toh ini punya Tere liye, nggak akan mengecewakan, dan saya benar.

Laisa adalah sulung dari lima bersaudara. Sejak kecil dia terlatih untuk menghadapi sulitnya kehidupan, membantu mamak untuk membesarkan dan merawat tiga orang adik laki-lakinya – Dalimunte, Wibisana, Ikanuri – dan si bungsu yang cantik jelita, Yashinta. Laisa sangat tegas dalam mendidik adik-adiknya, dia yang mengajarkan keberanian, disiplin dan tanggung jawab yang akhirnya mengakar kuat hingga mereka dewasa. Laisa juga penuh kasih sayang, meski tidak selalu ditunjukkan dengan pelukan ataupun belaian, tapi dia tidak ingin mereka kekurangan suatu apapun. Dia rela mengorbankan haknya melanjutkan sekolah demi bisa membantu mamak bekerja untuk membiayai sekolah mereka. Dia rela mengorbankan jiwa dan raganya demi menjaga keselamatan mereka. Pendek kata, Laisa mengorbankan seluruh hidupnya demi bisa mengentaskan adik-adiknya menjadi orang-orang yang hebat.

Laisa bukan kakak kandung mereka, begitu cerita yang beredar di masyarakat. Laisa adalah anak yang dibawa oleh suami mamak terdahulu, sebelum mamak menikah dengan babak. Itu menjelaskan kenapa rupa Laisa berbeda dengan mereka. Wibisana dan Ikanuri bahkan pernah mengolok-oloknya “Gendut! Pendek! Hitam! Kau bukan kakak kami!” saat Laisa hendak menghukum mereka karena terlalu sering membolos sekolah. Yashinta pernah mogok sekolah karena tidak terima saat petugas pendaftaran di sekolah itu mengira Laisa adalah pembantunya, dia tidak mau kakaknya dihina. Tapi apalah artinya ikatan darah, mereka besar bersama, merasakan kepedihan hidup bersama. Laisa tetap seorang kakak yang teladan di mata mereka, sebaliknya bagi Laisa, Dalimunte, Wibisana, Ikanuri dan Yashinta adalah adik-adik tersayangnya, harapan baginya dan mamak.

Perjuangan Laisa bekerja membanting tulang merintis usaha perkebunan stroberi demi membiayai adik-adiknya berbuah manis ketika mereka beranjak dewasa, mengenyam pendidikan yang baik, memperoleh pekerjaan yang layak, dan menjalani kehidupan yang sejahtera. Setapak demi setapak fase kehidupan yang mereka jalani, tidak pernah lepas dari peranan dan bimbingan Laisa, tanpa dia mempedulikan keadaannya sendiri. Keterbatasan fisik membuat Laisa susah mendapat jodoh, dan mulai digunjingkan masyarakat sekitar sebagai “Gadis Tua”. Tapi itu tidak menghalangi Laisa untuk mengantar adik-adiknya menempuh kehidupan baru, kehidupan berkeluarga, hingga kemudian berlangsung pernikahan pertama milik Dalimunte, pernikahan kedua dan ketiga milik Wibisana dan Ikanuri. Ya, ketiga adik lelakinya akhirnya dengan berat hati meloloskan permintaan Laisa untuk “melintas” dirinya.

Dalimunte, seorang profesor di bidang fisika. Wibisana dan Ikanuri, wirasusahawan sukses spare part otomotif. Dan Yashinta, seorang ahli dan peneliti di bidang biologi dan konservasi. Profesi-profesi hebat yang mereka peroleh berkat Kak Laisa, berkat pengorbanannya, berkat didikannya, berkat kerja kerasnya. Kak Laisa yang selalu ada kapanpun mereka butuh, Kak Laisa yang tidak pernah mengeluh, Kak Laisa yang tidak pernah sekalipun membebani mereka dengan permintaan apapun. Lalu bagaimana, ketika suatu hari mamak berkirim kabar, meminta mereka berempat untuk segera pulang, dan berkata bahwa untuk pertama kali sekaligus terakhir kalinya, Kak Laisa membutuhkan mereka?

Saya nangis. Itu yang terjadi berkali-kali selama membaca buku ini. Pengorbanan yang dilakukan Laisa demi keempat adiknya sungguh sangat mengharukan. Bagaimana semua hal yang dia tanamkan sejak kecil berbekas di hati keempat adiknya, itu juga sangat mengharukan. Saya sesenggukan ketika Wibisana dan Ikanuri meminta maaf untuk kesalahan 25 tahun sebelumnya – saat mereka mengata-ngatai Laisa bukan kakak mereka – di hadapan Laisa yang tergolek lemah karena sakit. Tokoh Laisa dalam novel ini sangat teladan, seandainya saya punya setengah aja keikhlasan dan kebesaran hati seperti Laisa.. :cry:

Alur yang digunakan dalam novel ini maju – mundur. Alur majunya adalah perjalanan pulang keempat adik dari masing-masing tempat yang berbeda, bagaimana mereka mencemaskan kesehatan Laisa yang makin kritis. Dan alur mundurnya adalah potongan-potongan peristiwa saat mereka kanak-kanak hingga dewasa.

Ini adalah sepenggal kalimat Laisa di saat terakhir hidupnya, di hadapan mamak dan semua adiknya, sebelum dia meminta Yashinta untuk menikah di hadapannya,

“Ya Allah, Lais sungguh ikhlas dengan segala keterbatasan ini, dengan segala takdirMu, karena Kau telah menggantinya dengan adik-adik yang baik…”

Epilog :

Dengarkanlah kabar bahagia ini.

Wahai, wanita-wanita yang hingga usia tiga puluh, empat puluh, atau lebih dari itu, tapi belum juga menikah (mungkin karena keterbatasan fisik, kesempatan, atau tidak pernah ‘terpilih’ di dunia yang amat keterlaluan mencintai materi dan tampilan wajah). Yakinlah, wanita-wanita salehah yang sendiri, namun tetap mengisi hidupnya dengan indah, berbagi, berbuat baik, dan bersyukur. Kelak di hari akhir sungguh akan menjadi bidadari-bidadari surga. Dan kabar baik itu pastilah benar, bidadari surga parasnya cantik luar biasa.

Dear Olief, yang rela nggak jadi nitip oleh-oleh dari Jepang demi bisa hunting buku-buku Tere liye… Nggak akan rugi kok Olief, tenang aja, bisa jadi buku-buku Tere liye bernilai berkali lipat lebih besar daripada oleh-oleh dari Jepang itu, kecuali kalo Olief nitip dibeliin Tokyo Tower ya, kekeke… Semoga suatu hari Olief bisa kesana langsung ya.. bareng kita semua, hehehe…

About these ads

Tentang afni sutrisna

I am Me
Tulisan ini dipublikasikan di Book Review, Review dan tag , . Tandai permalink.

17 Balasan ke Bidadari-Bidadari Surga

  1. Yuuki berkata:

    Woah…
    Epilognya ntu loh
    Heheh…

  2. Javas berkata:

    Orang ini produktifnya benar2 pooolll.. Abang Tere, pengen deh kayak kamu. Hihi #ngimpi

  3. olief berkata:

    Baru baca reviewnya aja udah nangis aku mbak..sumpah..

    sepertinya ini buku pertama yang akan kubeli deh, (kemarin dikasih referensi pingin beli yang rembulan dulu).

    Kata-kata Tere Liye SELALU. Selalu menggugah hatiku.

  4. olief berkata:

    Bener kok mbak…pikiran mbak sama denganku…Buku Tere Liye lebih berharga berkali lipat dari oleh-oleh dari Jepang. Disaat aku memutuskan untuk tidak titip, temenku bilang akan membelikan apa yang kuminta tanpa aku titip uang. Hahahaha….alhamdulillahh.. hehehe.. #ga penting ya#

    Mbaaakk afffff pokoknyaaaa aku mau mau mauuuuuu~ mau beli buku Tere Liyeeee!!

    • afni sutrisna berkata:

      hm, alhamdulillah.. bisa dapet buku Tere liye, dapet oleh2 gratis juga, hihihi..
      iya Olief, yg mana aja boleh, bagus kok. ntar aku ada budget juga pengen beli yg Angpao Merah, tp kayanya itu genre romance.. hm, liat ntar deh, sediain budget dulu, kikikig..

  5. al gibran nayaka berkata:

    assalamualaikum…

    mbak, aku merinding baca reviewmu kali ini, sungguh, merinding. hiks, jadi ingat keluarga besarku.
    suka sosok laisa. ya tuhan, hatinya benar2 putih. pengen nangis rasanya baca review ini, bakal kejer beneran kalau baca novelnya.
    epilognya luar biasa.

    mbak ingat saat aku cerita tentang bazaar buku yg harganya bukan harga bazaar? nah, buku tereliye jg banyak, aku ingat judul ini ikut ada, delisa, angpao merah, yang bapakku itu jg ada, hmm, banyak ya bukunya.

    nice review mbak. aku selalu suka cara mbak mengulas.

    love

    • afni sutrisna berkata:

      kumsalam..
      merinding ya? aku juga pas baca jd inget.. bapak sm mama, hehehe..
      aku prnh kasih tau epilog itu 6 bln yg lalu pas kita msh suka email-an, pas aku baru selesai baca.. lupa ya? :)
      iya, inget, kan waktu itu jun-chan nanya yg buat dewasa kan? aku nangkepnya brarti yg bukan genre family.. tp kayanya buku ini aku sebutin juga deh..

  6. RIAN berkata:

    Aku pernah baca novel ini Mbak, tapi belum selesai karena gk tertarik lihat alurnya. Dan setelah baca postingan ini jadi tertarik lagi buat liat tumpukan bukuku yang lama nggak terjamah.

    Buat novel rembulan tenggelam di wajahmu, itu keren banget Mbak. Kisah hidup Reyhan to kalo gk salah.

    Dan saranku Mbak (kalo boleh ngasih saran), jangan beli yang Angpao Merah. Karena itu cukup mengecewakan. Klimaksnya nggak jeDERRRR….

    Lebih baik beli yang “moga bunda di sayang allah”, atau yang menjadi favoritku “Sunset Bersama Rossie” kisah keluarga yang di angkat dari tragedi bom bali.

    Di jamin gk nyesel, karena disana juga ada haikal versi cewek, Lili. si bungsu dari pernikahan Rossie dan Nathan.

    • afni sutrisna berkata:

      Terima kasih ya Rian, udh mau baca review ini..
      Kayanya Rian suka banget sm Tere liye ya? Sampe udah baca semua novelnya, terima kasih krn udah di-rekom juga. :)
      Saya belum beli Angpao Merah, kayanya ntar saya jadi beli yg Rian rekom aja deh, semoga ada budget buat beli semuanya ya, huhuhu..
      Saya suka tulisan Tere liye soalnya selalu bertema keluarga.
      Jangan kapok main kesini ya.. :)

      • RIAN berkata:

        Sama-sama Mbak.
        Tere liye dan Habiburrahman adalah penulis yang paling saya sukai Mbak, karya-karyanya selalu bisa ngasih pembelajaran hidup gk cuma buat mewek aja.

        Dan untuk novel yang saya rekom, mudah-mudahan Mbak Afni nggak kecewa. Kalo boleh ngasih saran lagi, enakkan beli yang Sunset dulu Mbak. :)

  7. al gibran nayaka berkata:

    weh… ada haikal yah. eh, aku juga punya LILI loh, di LA.
    mbak afni kayaknya udah terlanjur punya tuh angpao merah, rian telaaaat.

    • RIAN berkata:

      Saya memang selalu telat disegala bidang kak. huh :(

      untuk Lili, hehehehehe aku lupa kalo di LA juga ada Lala, Lili.
      Tapi usia mereka beda kak, Lili di novel Sunset baru 4 tahun kalo gk salah.
      Dan kayaknya walaupun beda umur si Lili ini punya kesamaan, sama-sama ngegemesin.
      :)

  8. Harga bukunya berapaan ya, Kak? Aku selama ini bisa dikatakan sangat jarang baca buku karya penulis dalam negeri *dihajar…tapi review-mu sukses membuatku penasaran. Jadi, sapa tahu bulan depan ini buku masuk dalam daftar barang-barang wajib beli-ku, hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s